Istri Sang Pemimpin

Istri Sang Pemimpin
Chapt.18. Terdampar Di Sebuah Pulau (1)


__ADS_3

Mereka berdua akhirnya tertidur di atas perahu karet karena kelelahan setelah hampir 1 jam lama nya mencoba mendayung pakai tangan. Terombang ambing di tengah lautan tanpa arah yang di tuju.


Malam semakin berlalu dan pagi sudah datang, cahaya mentari mulai terlihat dari ufuk timur, namun kedua anak manusia di atas perahu karet masih lelap dalam mimpinya masing - masing.


Lorena terbangun dari tidur nya ketika Ia sudah merasakan sebelah kaki nya sudah berjuntai ke dalam air laut. Ia kaget langsung duduk dan baru menyadari bahwa Ia masih berada di tengah laut.


Ia menepuk kaki Devilito beberapa kali, namun tidak ada reaksi..


Pulas banget tidurnya ? dia pikir sedang tidur di atas spring bed kali yah


Kemudian Ia memukul paha lebih keras, Devilito kaget dan reflek melayangkan kakinya melakukan gerakan menggunting pinggang hingga Lorena terbanting ke arah kiri, tangan dan rambutnya basah kena air laut.


"Hehh !!..ini akuuu" Lorena syok mendapat serangan seperti itu. Dan Ia memukul paha Devilito sangat keras.


"Ehh maaf..maaf saya refleks, saya kira ada orang yang menyerang" Devilito bangun dan melepaskan kuncian kaki di pinggang Lorena. Ia meraih tangan Lorena untuk duduk.


"Kamu ngga apa - apa?" katanya melihat muka Lorena menekuk cemberut.


"Waaah..kita di mana ini?" sambungnya sambil melihat sekeliling.


Lorena tidak menjawab, Ia tetap diam masih kesal.


"Disana kayaknya ada pulau, mudah-mudahan ada orang" Ia bergumam sendiri dan mencoba mendayung pakai tangan mengarahkan perahu ke arah itu.


Lorena melihat ke arah pandangan Devilito, mukanya sedikit berubah gembira terbersit ada harapan.


"Maafin saya ngga sengaja, cuma reflek. Saya kalau di kagetkan bangun seperti itu" Devilito meminta maaf sambil tetap mendayung pakai tangan.


"Kamu ngambek gitu keliatan jelek"


Lorena walaupun tetap diam tapi tersenyum di belakang, dan ikut membantu mengayuh pakai tangannya.


1 jam kemudian....


Matahari sudah mulai naik ketika perahu karet mendekati pulau terpencil. Tenaga mereka terkuras setelah hampir 1 jam lamanya mencoba mengarahkan laju perahu ke arah pulau.


Mereka baru bernafas lega begitu ombak laut menuju pinggir pantai membantu mendorong perahu ke tepi.


Ombak makin lama makin besar menyeret mendorong, makin ke pinggir perahu makin tidak bisa di kendalikan karena dorongan ombak yang besar.


Devilito mencoba mengendalikan perahu yang mengarah ke sebuah batu karang.


Lorena keliatan sedikit panik tetapi Devilito masih terlihat tenang, Ia terus berusaha agar perahu tidak menghantam langsung batu karang.


Ia melihat celah di antara karang lalu mencoba sekuat tenaganya mengarah ke celah tersebut, sampai akhirnya perahu menghantam pinggir celah karang, perahu terbalik tubuh Lorena dan Devilito terpelanting keluar perahu.


Devilito meraih tubuh Lorena dan mengapitnya ke badan agar terlindungi dari goresan batu. Mereka mengikuti arus air yang deras. Sampai akhirnya mereka selamat sampai di pinggir pantai yang berpasir.


Devilito melepaskan pegangan pada tubuh Lorena yang masih di peluknya, lalu berjalan ke arah pasir dan telentang melepaskan lelah.

__ADS_1


Ia melirik Lorena yang sudah basah, Ia membuka jas nya lalu menghampiri dan menutupi tubuh Lorena yang mengenakan dress selutut.


Lorena hanya diam duduk bersila di atas pasir tidak bereaksi, Ia sudah tak punya tenaga.


"Kita dimana ini?" katanya dengan lemah.


"Kita terdampar di pulau tengah lautan" Devilito melihat ke arah lautan lepas kalau - kalau ada nelayan yang lewat.


Lorena mengambil Hp nya dalam tas kecil , lalu mencoba menelpon, namun sinyal kosong.


"Ck ...ngga ada sinyal disini, coba pake Hp kamu"


"Hp saya rusak, mati" Devilito melihatkan Hp nya pada Lorena.


"Yaahh gimana caranya cari bantuan dong?" Lorena merenggut.


"Yang penting kita cari sesuatu yang bisa dimakan dulu, kamu lapar kan?, ayo..." Devilito berjalan masuk ke arah hutan, Ia melihat pohon pisang.


"Tungguin.." katanya buru-buru bangun dan sedikit berlari mengejar Devilito yang sudah menjauh meninggalkannya.


Devilito memilih buah pisang yang sudah keliatan matang, lalu mengumpulnya dan menghampiri Lorena yang duduk disampingnya.


"Makanlah pisang ini, lumayan buat ganjel perut"


Lorena meraih beberapa buah dan memakan seperti orang yang belum makan tiga hari, Ia lapar.


"Kok kamu tau namaku?" Lorena menatap Devilito terkejut karena tahu namanya.


"Ya... tau laah, kan waktu itu teman kamu manggil kamu Rena"


"Oo iya yah, waktu kakak aku pingsan, ehh btw ceritain apa hubungan kamu dengan kakak ku?, kok kamu tau nama aslinya ?" Lorena baru ingat tentang kejadian Donita pingsan di butik kemarin.


"Ahh ngga ada apa - apa, yuk kita cari jalan keluar, mudah-mudahan ada penduduk di sekitar sini" katanya menghindari pertanyaan dan mengibaskan pantatnya lalu berjalan.


"Aiishh..tungguin Devilito Arkansa !"


Devilito terhenti dan gantian Ia yang terkejut...


"Dari mana kamu tau nama saya?"


"Ada deeh, Lorena gitu loh..udah jalan" Lorena menyuruh Devilito untuk berbalik badan melanjutkan perjalanan.


Mereka berjalan menyusuri hutan yang sepertinya belum pernah di lalui orang, sepanjang perjalanan mereka ngobrol ringan, terkadang terlihat memukul punggung Devilito karena mencoba menakutinya bahwa ada binatang buas di sekitar situ.


Tanpa mereka ketahui, nun jauh di daratan sana sedang terjadi kehebohan tentang hilangnya dua orang yang tercantum dalam daftar tamu undangan serta penemuan dua orang mayat di geladak kapal.


Setelah hampir 2 jam berjalan, mereka sampai di ujung hutan, namun mereka kecewa ketika melihat hamparan pasir dan lautan luas di hadapannya.


Lorena duduk di atas pasir, memandangi lautan lepas, begitu pun Devilito yang duduk di sampingnya. Mereka berdoa mudah-mudahan kali ini ada kapal nelayan yang lewat. Tapi sekian lamanya yang di tunggu tidak ada.

__ADS_1


"Trus, kita harus ngapain sekarang?, disini tidak ada manusia yang kita temui sepanjang jalan tadi" Lorena berbicara namun matanya masih menatap lurus ke arah laut.


"Apa kita coba lagi dengan jalan yang berbeda?"


"Tapi aku capek, haus" Lorena merengek karena dia sudah lelah berjalan selama 2 jam.


"Kalo gitu kita istirahat sebentar disini", Lalu Ia menoleh ke belakang dan di samping kanannya ada banyak pohon kelapa, sebagian sudah ada yang berbuah.


"Kita ke sebelah situ, yuk" lalu menarik tangan Lorena menuju pepohonan kelapa yang tidak begitu tinggi.


"Pelan - pelan, ihh.." tapi Ia tak menepis tangan Devilito.


Devilito memanjat pohon kelapa dan menurunkan yang masih muda kebawah, lalu Ia mencari batu yang lumayan besar dan memecahkannya, dan memilih batu yang paling runcing.


Ia kemudian mengupas dua buah kelapa, walau membutuhkan waktu yang agak lama.


"Segernyaaa.." Lorena meminum air kelapa sampai dua buah sekaligus.


Sementara Devilito kembali mengupas tiga buah kelapa lagi, keringat bercucuran di wajahnya. Dan, Mereka meminum dan memakan buah kelapa sampai habis.


Hari sudah menjelang sore, namun bantuan masih belum ada tanda - tanda mau datang, nelayan pun juga tidak ada yang lewat.


"Yuk... kita cari jalan lain" Devilito mengajak Lorena yang sempat tertidur terkena hembusan angin yang bertiup sepoi - sepoi. Tak lupa Ia membawa batu runcing beberapa buah untuk berjaga-jaga.


Lorena tersentak lalu mengikuti Devilito yang mencari jalan dengan arah yang berbeda.


Setelah sekian lama, mereka melihat sebuah pondok kecil yang kelihatan sudah kumuh dan kusam seperti sudah lama tidak di tempati, tidak jauh dari pinggir pantai. Devilito memeriksa sekeliling pondok yang kayu penyanggahnya masih kelihatan kokoh.


"Kita istirahat disini aja, seperti nya tidak ada yang menempati" ujar Devilito sambil naik ke atas pondok.


Tiba - tiba Lorena menjerit ketakutan dan berlari ke dalam pondok sembunyi di punggung Devilito. Ia melihat lima meter dari tempat dia berdiri tadi melihat seonggok tulang belulang dan tengkorak kepala.


"Ada apa sih teriak - teriak?" Devilito berjalan keluar waspada kalau - kalau ada binatang buas. Lorena mengikuti masih menempel di punggung Devilito.


"Ituuu..." tangannya menunjuk ke arah tumpukan tulang belulang.


"Ya ampun...kamu ini, itu tulang tengkorak orang yang sudah mati, mungkin penghuni pondok ini dulu, udah ngga usah takut nanti kita kuburi yang layak" Devilito berusaha menenangkan Lorena sambil mengusap - usap kepalanya tanpa sadar.


Lorena terdiam mendapat perlakuan seperti itu. Ia melirik wajah Devilito dari samping..


Kok jantung gue jadi deg deg an ya?


"Saya kuburi dulu tulang belulang itu, kamu coba bersihkan pondok ini, nanti saya bantu setelah saya selesai " Devilito berkata sambil turun dari pondok dan mengambil batu runcing yang Ia pecahkan tadi.


-


-


Dan, bersambung lagi...

__ADS_1


__ADS_2