
Di Rumah Sakit...
Hensly duduk di kursi menatap wajah Donita yang terbaring tak berdaya. Ia merasa bersalah, Ia merasa gagal melindungi Donita. Ia merasa sedih dengan nasib yang harus di tanggung wanita ini. Namun, Ia bersyukur Donita sudah hampir melewati masa kritisnya, Ia sudah bisa membuka matanya, dan mulai menggerakkan tangan.
Ia memandang wajah wanita yang tertidur lelap di depannya ini, wajah yang memiliki banyak kemiripan dengan Lorena, istri ketuanya. Ada desiran aneh di rongga dada, desiran yang mulai Ia rasakan sejak dirinya berjaga di samping nona nya ini beberapa hari yang lalu. Ia berusaha menampik rasa tersebut, karena hal itu tak mungkin menurut nalarnya. Ia merasa tak sebanding, walau dari segi wajah Ia cukup bersaing, Ia gagah. Bukankah Lidah Api kumpulan orang - orang gagah? pikirnya.
Hensly masih sibuk dengan perang pemikirannya sendiri, pertarungan antara perasaan dan logika. Dari segi finansial, ini sebenarnya yang buat rasa di pukul mundur oleh logika. Walau pendapatannya di Lidah Api tidak kalah dengan gaji seorang manager perusahaan, dan toh gue juga ada tiga usaha coffee shop yang cukup mampu menghasilkan income yang lumayan besar?.
"Nona, maafkan saya yang lancang bicara di saat Anda tertidur ini," Hensly mencoba mengungkapkan perasaannya, Ia menunduk, memainkan jarinya kemudian melanjutkan kalimat, "Maafkan juga saya yang merasa gagal melindungi Nona dan tuan Alex hingga harus berakhir seperti ini...", Hensly menjeda kalimatnya, Ia kehilangan kata - kata, lalu menarik nafas dalam - dalam, "Saya berharap, Nona segera pulih kembali seperti sedia kala, dan saya berjanji...bersumpah jika di ijinkan, akan menyerahkan hidup saya untuk menjaga dan melindungi Nona sampai kapanpun", kembali Hensly menarik nafas dan membuangnya perlahan, tak mudah baginya menyusun kalimat seperti ini, kalimat hati. "Dan, saya berjanji, tidak akan membiarkan siapapun untuk menyakiti kehidupan Nona lagi, Nona sudah cukup menderita, Nona harus bahagia setelah ini. Saya akan memastikan itu!", Hensly kembali menjeda kalimatnya, "Jika Nona bersedia, saya akan menikahi Nona", Hensly meneguk saliva nya berulang kali, terasa berat ungkapkan kumpulan kata barusan, satu - dua detik Ia terdiam, kemudian... "Karena saya mencintai Nona".
Ada perasaan takut tetapi lega secara bersamaan dalam rongga dada Hensly usai ungkapkan kalimat ini, Ia berdiri bermaksud ingin keluar dari ruangan itu sebentar, melepaskan beban, mungkin dengan segelas kopi di kantin bisa menetralkannya, pikirnya.
Tanpa Ia sadari, ada tetesan air mata mengalir dari kedua kelopak mata Donita yang tertutup. Dan terbuka perlahan ketika mengiringi punggung Hensly yang membuka pintu beranjak pergi keluar.
***
Di Rumah Devilito...
Lorena menghampiri suaminya yang sedang duduk santai di sofa dekat jendela kamar, sambil memainkan iPad nya, sepertinya sedang mengecek sesuatu tentang perusahaan.
"Udah minum susu?", tanya Devilito ketika Lorena tiba - tiba ikut duduk di sebelahnya dan bergelayut manja sambil memeluk pinggang, Ia memperhatikan kerjaan suaminya. "Udah, udah minum susu, udah minum vitamin, udah mandi, tinggal pijitnya yang belum", ucapnya sambil mengecup pipi sang suami. Devilito melirik Lorena sebentar, dia lihat sang istri sudah berganti busana rutin menjelang tidur, kemeja putih panjang, hanya itu.
"Owhh..berarti vitamin batinnya yang belum yah?.. aww sakit yank", ucapan Devilito disambut cubitan di pinggangnya. "Aku bilang pijit...p-i-j-i-t", Lorena mengeja huruf, "Yaa, kan ujung - ujungnya kesana yank", Devilito tersenyum nakal. "Auk ah..", Lorena lalu merubah posisinya, Ia tiduran di paha sang suami dan mengangkup wajahnya sesekali di perut kotak sang suami, Ia punya mainan baru sejak kehamilannya itu.
"Eh..iya yank, kamu sepertinya mau narik mbak Dessy untuk gantiin Hendra yah?". Devilito berhentiin jarinya di iPad, lalu melirik ke bawah, "rencananya sih, tapi harus di seleksi lagi, itu pun kalo kamu ijinkan, kenapa?", Devilito lalu meletakkan iPadnya di samping. "Emang perusahaan tempatnya dulu, kamu tahu kapabilitasnya?", tanya Lorena, Ia ingin tahu track record Dessy ini bagaimana. "Tau, dulu pernah waktu seminar di hotel Sah** Ja**, aku ngeliat dia sebagai salah satu pembicara, aku liat dia cukup berpengalaman, paparannya Ok".
__ADS_1
"Trus, ada lagi kandidat lain?".
"Ada, orang ini pasti kamu kenal".
"Siapa?", tanya Lorena mengernyitkan dahinya. "Sagara, ya..pak Sagara", jawab Devilito pendek, tadinya ingin surprise pada istrinya, tapi entah kenapa dia tak pernah bisa menutup sesuatu pada ratunya ini.
"Hah..?, pak Sagara dosen pembimbing II skripsi aku?, kok bisa ?", Lorena kemudian bangun dari paha suaminya. "Ngga tau, insting aku aja, soalnya aku liat orangnya tegas, memang harus aku seleksi lagi sih". "Kan dia dari akademis yank, bukan karir", jawab Lorena, dia sedikit tak setuju dengan suaminya, dan Lorena kemudian berpindah rebahan, kakinya di letakkan di paha suaminya. "Justru itu, makanya harus di tes lagi, nah..kan ada Dessy masuk sebagai kandidat lain, kita liat aja siapa yang mumpuni", Devilito kemudian mengarahkan tangan memijit kaki istrinya. "Kalo menurut kamu, gimana yank?", tanya Devilito minta pendapat istrinya.
"Kalo menurut aku sih, sebaiknya mbak Dessy, di samping dia berpengalaman di bidangnya, juga menurutku dia ngga potensi berkhianat".
"Kok kamu mikir begitu?".
"Yaa..karena wanita dalam bekerja biasanya lebih memakai hati, sense of belongs nya lebih tinggi dari pria loh!, dan ngga punya kepentingan selain hanya mencari nafkah, apa lagi khusus mbak Dessy ini, aku liat dia orang jujur, dia menyayangi anaknya, dan ngga mungkin berkhianat dan mengorbankan anaknya itu".
Devilito manggut - manggut, Ia kagum dengan jabaran dan pandangan istrinya ini. Ia sependapat. Tak salah dia menikahi, dan berjuang untuk istrinya ini dulu.
"Makanya, jangan terlalu percaya dengan orang lain, biasanya pengkhianat itu datang dari orang terdekat atau orang yang di percaya loh. Coba kamu lihat Indri, dia profesionalkan di bidangnya?, tapi kamu harus tetap kontrol, jangan sampai bablas".
"Ceritanya, aku di nasehati niiih..?", ucap Devilito kemudian tersenyum.
"Loh, walau kamu seorang penguasa, tak tersentuh kata anak buah kamu, tapi kamu juga manusia kan?, perlu pandangan orang lain. Itu guna nya istri, ya kan ?, istri itu bukan hanya status, Ia bisa berperan sebagai tandem suaminya, tempat suaminya bercerita, pun sebaliknya. Istri itu teman hidup, bukan pajangan di rumah...ehhh", Lorena menghentikan kalimatnya, ada perbedaan pijatan suaminya dari yang awal tadi, ini lain pikirnya. "Nahh..itu kenapa pijitannya lain yaankk", suara Lorena tercekat, tangan suami sudah bukan menekan tapi mengelus paha dan keatas.
Devilito nyengir kuda, Ia sengaja merubah pijitannya.
"Yaankk...hhhh, yankkkk", Lorena menggelinjang, menggeliat, sensasi lain merasukinya. Tangan Devilito sudah sampai di pangkal pahanya, dan menurunkan pengamannya, serta bermain lembut di area sensitif itu.
__ADS_1
Devilito kemudian beringsut, berpindah ke samping istrinya. Mencium lembut bibir istri dan berpindah ke leher dan belakang cuping telinga. Tak hanya itu, Devilito membuka kemeja putih itu, dan miringkan tubuh Lorena, lalu mengecup pundak putih bersih itu, menjilat tipis dan mengecup lembut.
Kecupan bergerak terus ke dada, bermain sebentar di situ, serta di perut yang sudah keliatan membuncit, teruss..turun ke bawah.
Lorena, sang istri terpekik...Ia bergerak sedikit liar, meremas rambut suaminya. "Yannkkk..udaah..hhh, ayookkk", Ia sudah tak tahan lagi.
Deru nafas suami istri akhirnya berakhir setelah mereka melepaskan semuanya tiga puluh menit kemudian.
***
"Sob, pagi nanti gue berangkat ke Jakarta, berikut Cerlotta..ju", Ucapan Giring di potong langsung oleh Devilito, "Disini udah pagi B**o!", Devilito terbangun dari tidurnya, diliat baru jam 4 pagi, "udah jam 4 pagi inii, siapa aja yang berangkat?", tanyanya kesal.
"Hehe..sori sob, disini baru jam 10 malam. Nanti paman Ludwig, paman Luigi dan mama lo juga ikut!, pake pesawat pribadi".
"Owh, papa Luigi dan mama ikut?", Devilito tersentak, Ia bangun dari tidurnya.
"Iya, tadinya paman Luigi dan mama lo ngga ikut, cuma beliau berubah pikiran, dia ingin ke Jakarta mau nungguin lahiran cucunya, katanya".
"Ooh, tempo hari beliau bilang ngga bisa pergi, yaudah nanti gue suruh siap jemput di terminal III, hubungi Marcel sekalian".
"Okay ketua, siap!". jawab Giring, walau sambungan sudah terputus oleh Devilito.
-
-
__ADS_1
Bersambung...