
"Hendra Wijaya ??", Devilito berulang kali membaca percakapan itu, berharap itu bukan Hendra wakilnya di perusahaan. Walau dengan nomor yang berbeda, tetapi lampiran data yang terselit di lembaran tersebut cukup menguatkan keterlibatannya. "Apa hubungannya dengan kejadian ini?", gumamnya pelan, tangannya berkacak pinggang, seolah tak percaya dengan fakta yang ada di depannya tersebut. Tapi dia masih ingin memastikannya lagi. Devilito meraih ponsel dan menghubungi nomor Hendra tapi tidak aktif, walau di ulang beberapa kali.
Devilito membuang nafasnya dengan kasar, lalu mengusap wajahnya sambil gelengkan kepala. Hendra adalah orang kepercayaan yang sudah bertahun - tahun bergabung dengannya, dan baru di angkat sebagai wakil direktur dan memegang cabang baru.
Tiba - tiba Tito bersuara, "ijin ketua..." ucapnya sambil melirik muka Devilito yang masih terlihat tak percaya dan geram. Devilito menoleh dan mengangguk menunggu kalimat Tito selanjutnya.
"Kami sudah mendeteksi keberadaan mereka melalui pelacakan GPS, bahwa mereka berkumpul di sebuah tempat di kaki gunung S*l*k dekat kota B", Tito menjeda kalimatnya, "dan info mata - mata yang dikirim, terlihat sekitar sepuluh orang bayaran dari negeri g*jah", ucapnya melanjutkan kalimat.
"Hmmm...keterangan kamu akurat?", Devilito maju dengan bertopang kedua tangan di meja, wajahnya kembali dingin.
"Sangat akurat ketua, tinggal perintah!".
"Kalo gitu, habisi semua!", Devilito kembali tegakkan badannya, berganti dengan menyilangkan tangan di dada, "kirim orang - orang terbaik kamu!", sambungnya kemudian sambil melirik Dasmond, Melvin dan Donny.
"Gue yang pimpin !", ujar Marcel ambil pelan ke telinga Devilito bagian, karena dia sudah geram dari tadi.
"Jangan, lo mau nikah bro, biar Tito yang pimpin, udah saatnya Tito unjuk gigi buktiin kepemimpinannya, bisa ?", timpal sang ketua pada Tito kemudian.
"Terima kasih ketua, siap !", sambut Tito mantab.
"Tapi, kalo ada Hendra disitu, tangkap dan seret ke hadapan saya hidup - hidup!", perintah sang pemimpin selanjutnya.
Ternyata orang yang berpenampilan lugu, belum tentu berkelakuan baik !, gumamnya pelan tapi masih terdengan oleh yang lain.
***
"Udah selesai yank?", tanya Lorena ketika Devilito membuka pintu kamar. Setelah membubarkan anggotanya yang kemudian segera melakukan operasi, Devilito berbincang sebentar dengan Marcel di ruang tamu bawah, lalu pamit pada sahabatnya ke kamar melihat istri.
"Ren, gue keluar dulu ya, kak Marcel manggil gue di bawah". Dita, kemudian pamit keluar kamar karena dapat pesan singkat dari Marcel yang sedang berada di ruang tamu dengan David.
Setelah Dita meninggalkan kamar, Devilito menghampiri istrinya yang masih tiduran di sofa, dan duduk di sisi perut Lorena. Kemudian membelai rambut istrinya itu yang terlihat sedikit lebih fresh , "ngomongin apa sama Dita yank?".
"Ngomongin masalah persiapan nikahnya dia, trus dia cerita tentang makalah skripsinya, udah gitu doang", Lorena kemudian memilin - milin ujung baju Devilito dan sesekali memainkan jemari suaminya itu, "trus gimana itu, masalah insiden papa dan kak Nita?".
Devilito kemudian mengecup kening istrinya, "ada pengkhianat, trus dalangnya ternyata Aksan".
Lorena terbelalak mendengar itu, lalu Ia bangkit duduk masih berselonjor kaki, "Hahh..!?, kok bisa ?", ucapnya tak percaya, sejenak Ia terpana, melongo.
"Ya begitu, apa sih yang ngga bisa?, kenyataannya seperti itu, tapi kamu tenang aja, akan aku berantas semuanya!", lalu Devilito mencium bibir istrinya lembut sedikit lama, dan kemudian mengusap perut yang sudah keliatan membuncit. "Kamu sudah bisa nengok papa dan Kira ?" ucapan yang dibalas anggukan oleh istrinya tersebut.
"Yaudah, nanti agak sore kita ke rumah sakit ya". Devilito kembali mendekatkan wajah, untuk memeluk istrinya erat, "kamu jangan bersedih terus, semua biar aku yang beresin, mudah - mudahan papa dan Kira selamat dan cepat pulih".
Lorena terharu, Ia menitikkan air matanya haru, Ia bangga dengan suaminya ini.
"Apa sebaiknya, papa dan kak Nita kita bawa ke Singapura aja yank?, biar di tangani dokter terbaik?", usulnya masih dalam pelukan suaminya.
__ADS_1
"Kita coba disini dulu, aku yakin dokter kita tidak kalah dengan luar negeri, dokter kita juga terbaik kok!".
***
Di Markas Lidah Api
Tito, Dasmond, Melvin dan Donny sedang berkumpul dengan beberapa orang terbaiknya, sekitar tiga puluh orang.
Dibawah komando Tito, memimpin rapat untuk melakukan penyerangan ke arah kaki gunung salak, menyusun strategi.
"Strategi kita hampir sama dengan penyerbuan di Melbourne, jepit udang! cuma ini skala kecil, kita akan bagi empat tim yang masing - masing grup di pimpin Saya, Dasmond, Melvin dan Donny", Tito menjeda kalimatnya, lalu
"Kekuatan lawan sekitar dua puluh orang cuma, dan kita akan mulai dari sini", lanjutnya sambil menunjuk titik - titik garis di peta.
"Kekuatan lawan sedikit tetapi sepertinya cukup terlatih, karena mereka orang - orang bayaran, bukan loyalis, jadi berhati - hati, persiapkan fisik kita semua", timpal Dasmond menambahkan.
"Kita akan bergerak malam ini, alat komunikasi pake handy talk, karena sinyal mungkin susah di area gunung", sahut Tito kemudian mengarah pada ke empat rekannya yang akan memimpin grup.
"Siap!" anggota lain menjawab serempak.
***
Sore harinya, Devilito berangkat ke rumah sakit tempat papa dan kakaknya di rawat. Hanya berdua, karena Marcel dan Dita sudah pamit dari siang hari. Sedangkan David kembali ke markas siber nya di dalam kota.
Lalu Tito membeberkan strategi yang sudah di rancangnya. Beberapa kali terlihat Devilito menganggukan kepala tanda menyetujui rencana itu.
"Trus, persiapan...senjata apa yang dibawa?".
"Kami cuma bawa hand gun ketua, itu hanya terbatas oleh saya, Dasmond, Melvin dan Donny aja, pakai peredam. Sedangkan yang lain pakai senjata jarak dekat".
"Hmm..usahakan hindari kontak senjata, tapi kalo mereka memulai, ngga apa - apa ladeni. Tapi kalo mereka hanya mengandalkan bela diri, kamu jangan gunakan senjata api".
"Siap ketua!", kemudian Devilito berpesan hati - hati dan menutup percakapan.
Lorena yang sedari tadi menyimak percakapan suaminya, bertanya "kamu tetap temani aku kan yank?, malam ini?".
Devilito mengulum senyumnya, "Iya sayang, hanya Tito yang memimpin", katanya sambil mengusap kepala istrinya.
***
Tepat jam 20.00, terlihat satu persatu mobil jeep Wrangler dan dua buah mobil Van hitam meninggalkan area markas Lidah Api di perbatasan menuju luar kota mengarah ke kota B. Sengaja tidak melakukan konvoi agar tidak menarik perhatian warga dan di ketahui pihak lawan.
Kira - kira hampir dua jam perjalanan, semua anggota sudah sampai di kawasan kaki gunung, dan berkumpul di titik yang di tentukan. Cuaca malam itu lembab karena sore harinya turun hujan, dan biasanya kawasan tersebut akan terlihat ramai oleh para pendaki gunung, namun kali ini terlihat sepi, cuaca hujan serta bukan hari libur.
Setelah Tito melakukan briefing , menyamakan frekwensi HT dan membagi kelompok, kemudian satu persatu dari mereka meninggalkan lokasi mengikuti kelompoknya.
__ADS_1
Pakaian yang mereka pun seperti pendaki gunung dengan rangsel di punggung, memakai tongkat, tetapi bukan kayu, ini besi baja yang sekaligus adalah senjata. Setelah menyebar, Tito yang bertugas sebagai tim pendobrak bagian depan berjalan terlebih dahulu, mereka sengaja tidak mengambil jalan utama.
Hampir satu jam lamanya mereka menyusuri jalan setapak yang licin dan semak belukar untuk sampai di sebuah rumah, tepatnya ada empat buah rumah yang berisi anggota bayaran Aksan. Terlihat beberapa orang pada setiap rumah tersebut ada beberapa orang yang mengobrol. Tito berhenti di jarak kira - kira 50 meter, dan menunggu kode dari grup lain jika mereka juga sudah siap di tempat mereka.
Dasmond yang kebagian di titik paling belakang segera memberikan kode nya melalui HT berupa bunyi empat kali pada Tito, sesuai dengan grupnya yang ke empat. Berturut kemudian terdengar bunyi tiga, dan dua kode di HT Tito. Pertanda semua grup standby menunggu perintah.
Baik tim, gue segera masuk, lihat jam...lima menit dari sekarang grup dua dan tiga menyerang dari arah samping, dan Dasmond paling akhir, tujuh menit dari sekarang, mulai !! , perintah Tito dengan suara pelan di HT, kemudian langsung bergerak dan menyebar.
Dari rumah panggung, salah seorang dari tiga orang anggota Aksan yang sedang mengobrol sambil menikmati kopi, berdiri melihat dua orang menghampiri mereka, sepertinya pendaki gunung batinnya, "Ada apa mas?, maaf tempat kami sudah penuh!", ujarnya sambil mengangkat tangan menyuruh berhenti, Ia perlahan menghampiri kedua orang tersebut turun dari rumah panggung. Sedangkan dua temannya, ikut berdiri di tempatnya dan hanya diam dengan menatap tajam dari arah beranda panggung.
Dua orang tersebut tetap melangkah maju sambil menurunkan rangselnya, seperti mengambil sesuatu, "maaf bang, saya kehabisan air panas, boleh minta sedikit airnya kalo ada", katanya sambil tetap maju.
"Maaf, kami juga sed...akhhh!", anggota Aksan belum selesai bicara, tiba - tiba lehernya kena hantam sebuah benda. Serangan kilat yang di barengi dengan tangkapan lehernya diputar dan dibanting ala jiujitsu. Ia terkapar tanpa suara kemudian, pingsan dengan leher terkulai.
Dua anggota Aksan yang lain, terkejut dan meloncati meja kopi untuk membantu, namun Tito yang naik dari arah bawah teras arah belakang menghantamnya dengan double stick besi pada leher orang pertama, dan tangannya yang bertumpu pada leher yang menjepit dengan double stick tersebut untuk melambungkan badannya untuk melakukan kuncian leher pada orang kedua. Itu dilakukan dengan sangat cepat dan terukur.
Terdengar bunyi patahan leher berbarengan, dua - dua nya tumbang. Tito segera bangun ketika dari arah dalam rumah muncul beberapa orang menyerang, sepertinya terbangun dari tidur.
Tito merangsek maju ke dalam di ikuti oleh anggota Lidah Api lainnya. Terjadi baku hantam dalam rumah panggung tersebut. Tak cukup sulit bagi Tito cs menaklukan orang - orang bayaran itu, hanya ada sedikit perlawanan ketika muncul orang dari arah kamar paling belakang, salah seorang melakukan tendangan double kick ke arah leher Tito.
Tito sudah siap untuk itu, Ia melakukan counter attack dengan tendangan memutar melingkarnya menghantam perut, tetapi lawan cukup gesit, Ia meng-cover perutnya dengan tangan walau harus terjajar ke belakang.
Sedangkan lawan yang satu lagi, keburu di hadang oleh anggota Tito ketika hendak menyerangnya.
Lawan Tito segera bersiap kembali menyerang. Tito baru menyadari kali ini lawannya adalah orang asing. Orang bayaran dari Thailand. Lawan kemudian menyerang dengan gaya thai boxing, uppercut dan kaki serta lutut berturut-turut. Tito hanya meng-counter serangan itu sambil mengukur kecepatan lawan. Setelah dia merasa kecepatan lawan belum di atasnya, Ia melakukan serangan balik dengan kombinasi tendangan caapoera serta tendangan taekwondo dengan iringan mainan double stick nya yang mumpuni.
Lawan tak siap, Ia terkapar dengan mulut pecah serta kepalanya yang bocor. Kemudian Tito kembali menyerang lawan yang lain, yang sudah makin banyak.
Tak hanya di bagian Tito diatas panggung rumah, Melvin dan Donny yang menyerang pada rumah yang lain dari samping tak kalah gesitnya. Mereka berjibaku habis - habisan.
Aksan dan Hendra yang berada di rumah paling ujung, segera bersiap lari ketika terjadi keributan pada bagian depan. Aksan sudah prediksi, itu anggota Lidah Api. Ia mengajak lari Hendra. Tetapi langkahnya terhenti ketika tendangan terbang Dasmond yang berada di bagian akhir menghantam leher Hendra yang kemudian terjengkang menghantam kursi kayu. Benturan pada kepala belakang membuatnya pingsan.
Aksan punya sedikit mainan bela diri, Ia langsung menyerang Dasmond dengan lutut terbangnya, namun itu mudah bagi seorang Dasmond, Ia hanya perlu bergerak sedikit ke samping, dan melakukan tendangan loncat melingkar dan memutar menyambut serangan Aksan, tepat mengenai kepala belakang.
Aksan jatuh tengkurap, Ia segera berdiri. Tetapi pandangannya tiba - tiba berubah gelap ketika sekilas Ia lihat sebuah hantaman dengkul mengenai rahangnya, persis seperti tendangan yang Ia lakukan tadi, tapi ini tepat mengenainya. Ia pun pingsan.
Hampir dua jam jibaku ini terjadi, dan kemudian semua usai ketika Tito meniup peluit pramukanya, tanda berkumpul. Dengan hasil, Aksan dan Hendra tertangkap dalam keadaan pingsan.
Anggota Lidah Api kemudian segera pergi setelah dengan gerakan cepat membersihkan area, beberapa orang yang entah mati atau pingsan, di kumpulkan dan dibawa pergi.
-
-
Bersambung
__ADS_1