Istri Sang Pemimpin

Istri Sang Pemimpin
Chapt.37. Dunia Itu Sempit


__ADS_3

Tok..tok..tok


Indri membuka pintu ruangan dan masuk membawa beberapa berkas untuk di tanda tangani Devilito. "Oh ya pak Dev, hari ini ada jadwal pertemuan dengan perwakilan dari Silver Corp jam 11.00 siang ini di ruang meeting" kata Indri setelah bosnya menanda tangani berkas untuk pembelian bahan² garmen.


Devilito melirik jam tangannya, "Masih ada satu jam lagi, kamu panggil pak Hendra kesini habis ini ya In..".


"Baik pak Dev..", Indri lalu undur diri meninggalkan ruangan itu.


Selang berapa lama, Hendra Wijaya sang wakil itu pun memasuki ruangannya di temani oleh Indri. "Pak Hendra, perusahaan Silver Corp ini mau bahas apa datang kesini?" tanya Devilito, karna dia belum familiar dengan namanya.


"Ini perusahaan sebenarnya masih baru pak Dev, baru berkiprah kira² 1,5 tahun belakangan ini, sebuah perusahaan properti", jawab Hendra sambil membuka iPad nya memperlihatkan proposal yang di kirimkan oleh calon mitra tersebut. Devilito memperhatikan background dan proposal perusahaan yang di sampaikan Hendra.


"Hm..trus maksudnya kerja sama seperti apa?" Devilito mengernyitkan dahi nya.


"Mereka ingin menggandeng perusahaan kita untuk ikut investasi properti yang di dapat oleh pemenang tender PT. Golden Mas di Australia untuk tahun depan" Hendra kembali membuka iPad memperlihatkan background Golden Mas, sebuah perusahaan yang berkedudukan di Australia.


"Berapa nilai investasi properti itu?.." tanya Devilito kemudian.


"Totalnya 55 trilyun, untuk pembangunan kondominium dan apartemen diatas lahan lima hektar, di daerah Melbourne" jawab pak Hendra.


"Kalo gitu, kita tunggu aja penjelasannya bagaimana nanti, kamu tau orang itu siapa?" tanya Devilito selanjutnya.


"Yang datang nanti owner nya langsung pak Dev, namanya Linggar Saragih, masih muda, umur 27 tahun, tamatan sekolah bisnis London, masih single" jawab Hendra lengkap.


"Lah..kenapa single nya kamu sebutin juga?, emang kita lagi pencarian jodoh, pencarian bakat atau lagi pencarian mitra bisnis sih ?" ujar Devilito menyipitkan matanya melihat Hendra Wijaya yang gugup.


Pfftt...Indriana sang sekretaris tertawa menutup mulutnya. Mata Hendra melotot padanya.


"Sekalian aja, kamu sebutkan ciri² fisiknya, tinggi sekian, muka cakep, masih muda, ganteng, ingin mencari jodoh! , hm..?" Devilito mencibir meledek Hendra. Dan yang di ledek mukanya seperti kepiting rebus, malu. Hendra garuk² kepalanya yang tidak gatal.


Xixixi...Indri tidak bisa menahan ketawanya, joke bos nya dalam membahas hal yang serius ini sungguh menggelitik perutnya. "Naah, nanti jodohin sekalian sama Indri, ya kan ndri..kamu masih single juga kan?" Devilito meneruskan joke nya yang nanggung. Indri pun kaget kena tembakan bosnya, " Ih ngga mau bapaak". Gantian Hendra yang tertawa meledek Indri.


Tiba - tiba telepon meja Indri berdering, Indri permisi berjalan cepat untuk menerima panggilan.


Beberapa menit kemudian, Ia mengetuk pintu, "Maaf pak Dev, pak Hendra..tamunya sudah ada di lobi, saya suruh langsung ke ruang meeting?" Indri bertanya dari pintu.


Devilito mengangkat jempolnya, lalu menyuruh Hendra duluan menyambut tamu di ruang meeting.


"Sekalian kamu tanyain nanti, dia masih perjaka atau ngga ya.." bisik Devilito masih meledek Hendra yang muka nya makin memerah.


hanya satu kata yang salah urusan jadi panjang, katanya dalam hati sambil pamit berlalu dari situ.


--Di ruang meeting--


Devilito sedang serius mendengarkan penjelasan dari Linggar Saragih pemilik Silver Corp, yang menerangkan tentang permintaan pemerintah Australia untuk menggaet 4 perusahaan properti di bawah pemenang tender PT. Golden Mas. Nanti akan ada total 5 perusahaan yang akan membangun kondominium dan apartemen disana. Dengan persediaan modal setiap perusahaan 10% dari nilai total investasi pembangunan yang berjumlah 55 trilyun. Tidak berbeda jauh dengan penjelasan Hendra tadi, Devilito cukup mengerti.


"Trus, komposisi investasi yang pak Linggar tawarkan nanti seperti apa?" tanya Devilito kemudian.


"Baik pak Devi, sesuai dengan proposal yang sudah kami sampaikan, kami menawarkan komposisi modal 70% dari pihak Cakra Gurita Buana pak Devi dan 30% modal dari Silver Corp..dengan pembagian keuntungan 55 - 45".


Devilito terdiam sejenak, Ia berpandangan dengan Hendra Wijaya asistennya. Licin juga ini orang..Devilito membatin.


"Cuma ini baru penawaran saya kan pak Dev? karena info keikutsertaan perusahaan kami langsung A1, dari Golden Mas langsung, sementara sudah ada tiga perusahaan yang fix ikut serta. Jadi begini, saya masih di Jakarta selama 10 hari ini, mungkin kita bisa negosiasikan dalam pertemuan selanjutnya" Linggar membaca ketidaksetujuan dari muka Devilito dan Hendra, tapi dia ingin menunjukkan bahwa perusahaan nya merupakan cukup kuat untuk mempengaruhi Golden Mas.


Tapi Linggar lupa, Ia belum mengetahui siapa Devilito ini. Devilito mulai membaca watak dan karakter lawan bicara nya tersebut...Hmm, licin dan licik kau, mencoba menekan perusahaan gue, oh noo !. Devilito manggut², lalu berkata, "Begini saja, nanti saya membahas dengan tim saya, kami bukan pemain baru dalam bidang properti. Kita akan bicarakan lagi selanjutnya nanti, pak Hendra akan mengaturnya..saya permisi dulu", Devilito undur diri, proposal Linggar Ia pegang.

__ADS_1


Di dalam ruangannya, Devilito langsung menghubungi seseorang,


R. (Halo tuan Klabang Mentari.., apa kabar tuan?).


D. (Baik...Robert, saya tidak bicara basa basi, selamat atas perusahaan kamu menangkan tender pembangunan kondominium dan apartemen di Melbourne ya).


R (Terima kasih tuan, suatu kehormatan bagi kami dapat ucapan selamat dari tuan Mentari langsung hehe).


D (Begini, apa benar Silver Corp ikut mendampingi Golden Mas dalam proyek itu?).


R (Ooh...saya dapat info dari kepala proyek saya, kalau perusahaan Silver Corp ingin ikut andil tuan, sudah ada tiga perusahaan yang fix saya setujui untuk di ajukan, Silver Corp belum, ada apa tuan?).


D (Hmm...begini, Silver Corp mengajak perusahaan saya untuk join maju.).


R (Loh..kenapa dengan Silver Corp tuan?, kenapa bukan dengan Golden Mas langsung, kita join fifty-fifty modal dan keuntungan, atau terserah tuan gimana ngaturnya..).


D (Nanti aja, saya mau lihat kekuatan Silver Corp ini, saya ingin main² sebentar).


R (Hati² tuan, personal ownernya cukup di kenal licik dan kejam).


D (Klabang Mentari jauh lebih kejam, bukan begitu Robert..?).


R (Hahaha..benar tuan).


D (Sementara, begini dulu nanti kamu siap² saya hubungi lagi).


R (Siap..tuan).


Percakapan terputus.


Robert Tanjaya adalah CEO PT. Golden Mas, Ia juga merupakan anggota jaringan Lidah Api dan perwakilan Devilito untuk memimpin wilayah Australia dan Selandia Baru.


Tiba² pintu ruangannya terbuka, wajah cantik istri nya masuk,


"Sayaaang..."


"Ehh..istriku yang cantik, kok ngga ngabarin mau kesini?" tanya Devilito sambil mengusap kepala istrinya yang begitu datang langsung memeluknya.


"Aku naik taksi kesini, males nyetir. Aku mau ambil diktat yang tempo hari ketinggalan di kamar.." Lorena mencari - cari sesuatu di kamar dalam ruangan belakang.


"Ada..?" Lorena mengangguk mengangkat diktatnya.


"Trus, apa gunanya di beliin mobil kalo ke kampus masih naik taksi?"


"Biar di antar jemput ama suami" jawab Lorena enteng, Ia kemudian bersiap pergi ke kampus lagi.


"Aku langsung berangkat lagi ya, naik taksi!"


"Biar aku antar aja".


"Tuh kan, bener suamiku nganterin jadinya..?, cinta banget deh ama suami aku inii" Ia mencubit perut Devilito, dan dapat balasan ciuman lembut di bibirnya.


Mereka keluar dan berhenti sebentar di meja Indri, "Ndri, saya keluar kantor ya, nanti balik lagi, kalau ada apa² kabari Hendra aja".


"Baik pak Dev" jawab Indri melihat punggung kedua suami istri itu. Duh..kapan ya, gue bisa ngerasain kayak gitu, ngenes banget liatnya..padahal kan gue juga cantik, tapi kenapa susah nyari pasangan yah? Indri bermonolog sendiri, matanya menerawang ke atas.

__ADS_1


"Yank..aku pengen coba rasain bawa Hammer dong, aku yang nyetir ya?" Lorena memasang muka imutnya ke muka Devilito.


"Ho oh.." jawab Devilito pendek, Ia gemes pengen nyium liat muka istrinya, tapi keburu lift terbuka, mereka sampai lobi.


Di lobi, ternyata Linggar masih ada, Ia di temani Hendra. Mereka ngobrol sambil berdiri. Devilito melihat mereka berdua dari pas keluar lift, "Yank..Aku mau temuin Hendra sebentar ya". ucap Devilito. Lorena menengok ke arah pandangan suaminya, dilihat nya Hendra sedang ngobrol dengan seseorang yang Ia ngga kenal, orang itu membelakangi mereka.


"O yaudah, aku duluan aja ke mobil ya, mobilnya di tempat biasa kan?". Lorena mengambil jalan terpisah.


"Pak Dev, mau pergi keluarkah..?" Hendra melihat bos nya berjalan mengarah ke arahnya. Spontan, Linggar pun menengok ke belakang, dia tersenyum mengangguk menyambut Devilito. Tapi, dia tertegun ketika melihat Lorena yang sedang berjalan sudah mendekati pintu lobi.


"Lorena..??" Ia bergumam pelan, tapi masih terdengar oleh Hendra, Hendra melirik ke arah Linggar lalu mengarah ke Devilito, muka nya menyiratkan sesuatu, kaget.


Devilito yang juga dengar, hanya mengedipkan kedua matanya pada Hendra, Ia menghampiri kedua orang itu.


"Pak Linggar masih disini?" tanya Devilito memutus pandangan Linggar yang sedang menatap ke arah istrinya yang sedang buka pintu mobil.


"Ehh..Iya pak Devi, tadi ada yang masih ingin di bahas dengan pak Hendra, tapi sudah selesai sih..pak Devi sudah mau pulang?" tanya balik Linggar berusaha mengatasi gugupnya.


"Ngga, saya ada urusan di luar kantor, sedang ngeliatin siapa pak Linggar?" tanya Devilito kemudian.


"Itu seperti mantan pacar saya, tapi saya ragu...namanya Lorena, apa karyawan pak Devi?". Linggar bertanya tapi dia sebenarnya tidak yakin seorang karyawan, pake baju casual soalnya.


"Yang mana, pak Linggar?"


"Yang pake blouse ungu muda, kayaknya yang masuk mobil Hammer itu deh" katanya menunjuk sebuah mobil.


Hendra ingin menginterupsi omongan Linggar, tapi telunjuk bos bergoyang di bawah memberi kode untuk diam. Hendra berkeringat dingin. Yaah..Linggar bangunin singa tidur!, kacau kalo begini, hanya dalam hati Hendra berani bicara seperti itu.


"Oh pacarnya dulu Lorena..sekarang, masih?" selisik Devilito bertanya.


"Dulu waktu dia awal kuliah, saya mau melamarnya, cuma dia sok jual mahal sama saya, yaudah saya tinggal, saya berangkat ke Inggris..ehh maaf saya bercerita jadi seperti teman sudah lama kenal, maaf pak Dev hehe"


"Oh ngga apa² pak Linggar, kan nanti juga jadi teman" jawab Devilito melemparkan senyum misteriusnya. smirk!


"Saya permisi dulu pak Devi, kapan² bolehlah kita makan² di luar, sambil mengobrol biar lebih akrab" ujar Linggar kemudian, lalu berjabat tangan dengan Devilito dan Hendra.


"Boleh, kabari aja kapan pak Linggar ada waktu ya", jawab Devilito sambil menepuk bahunya pelan.


Hendra hanya berdiri mematung, Ia tertegun melihat cara bos nya menghadapi situasi seperti itu. Terlihat tenang, namun aura nya terlihat mematikan. Ia sangat paham dengan bos nya ini.


"Kamu kok lama sih yank?, aku jadi telat kayaknya" tanya Lorena dengan muka cembetut. Ia menstarter mobil kemudian perlahan meninggalkan area kantor.


"Maaf..Aku tadi ngobrol sama rekan bisnis sebentar" katanya mengusap - usap nakal puser dan perut Lorena.


"Tolong pak, tangannya di kondisikan ya" Lorena menggelinjang geli, sang suami sedang mengganggu konsentrasi.


"Iihh ..aku lagi nyetir, jangan mancing² deh!, ntar kamu yang repot loh" Lorena geram, tangan suaminya makin nakal.


"Aku parkir disini ya" Lorena berpura-pura pinggirkan mobilnya.


"Hahaha...bar bar sekali istri kesayangan aku" Devilito menarik tangannya dari perut istrinya, lalu menyandarkan kepala berpura - pura tidur seketika.


Plakk..pahanya di pukul Lorena, "Enak aja tidur, emang aku sopir apa?, bangun!".


Suaminya malah pura² ngorok. "Nyebelin!" Lorena merenggut.

__ADS_1


-


Lanjut terus...


__ADS_2