Istri Sang Pemimpin

Istri Sang Pemimpin
Chapt.71 Devilito Sang Supreme Commander


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, satu buah mobil Caravan hitam memasuki pekarangan rumah papa Luigi. Beberapa anggota jaringan Lidah Api yang mengawal Devilito di rumah Luigi terlihat berbaris menyambut kedatangan mobil tersebut. Beberapa saat, munculah empat orang dari dalam mobil itu, yang berpakaian serba hitam. Cerlotta, Giring dan di ikuti kemudian Dominique dan Hernandez, duo pengawal Cerlotta turun dan langsung masuk ke dalam rumah.


"Hai paman, tante...", Cerlotta memeluk kedua orang tua Devilito yang menyambut mereka, di ikuti kemudian oleh Giring. Sedangkan Dominique dan Hernandez, setelah bersalaman dengan Luigi, mengambil posisi duduk di teras depan.


"Silahkan Cerry, Geri...Devi tengah bersiap di kamarnya" ucap papa Luigi mempersilahkan keduanya menuju ruang tengah. Lorena kemudian muncul dari kamar, dan terlihat sudah rapi, berjalan menyongsong kedatangan Cerlotta. Sejenak, keduanya bertatapan. Lorena sedikit ragu untuk mengulurkan tangannya. Cerlotta membaca itu, Ia berinisiatif untuk memecah kecanggungan, Ia mengulurkan tangannya pada Lorena kemudian memeluknya erat, "Apa kabar kakak ipar?, lama tak berjumpa..". Walaupun Lorena lebih muda darinya, toh sekarang sudah menjadi kakak iparnya, bukan?.


Lorena agak kaget dengan sikap Cerlotta yang mencair, tak ada kesan dingin di wajahnya, lebih bersahabat. "Baik Cerry, kamu terlihat fresh hari ini dan cantik" balas Lorena menyambut pelukan gadis itu.


Cerlotta merenggangkan pelukannya, kemudian mengusap kedua lengan istri Devilito yang sedikit lebih pendek darinya. "Bagaimana perjalanan kesini, lancar?", sahutnya dengan nada bersahabat. "Semua berjalan lancar", jawab Lorena tersenyum, "ayo kita duduk", sambungnya kemudian.


"Halo kak Giring, betah amat disini sekarang?", ucapnya kemudian mengulurkan tangannya pada Giring yang menyambutnya dengan tersenyum.


Hal yang di takutkan pun tidak terjadi, baik oleh papa Luigi, mama dan Giring. Tadinya mereka was - was, takut Cerlotta akan bertindak atau bersikap tak bersahabat terhadap seterunya itu. Terpatahkan dengan sikapnya yang hangat terhadap Lorena.


Selang berapa lama kemudian, Devilito pun ikut bergabung di ruangan itu. Bercengkrama sebentar, sebelum melanjutkan perjalanan mereka ke Sisilia.


...--Kepulauan Sisilia--...


Menempuh perjalanan laut selama satu jam dengan kapal super cepat untuk sampai di kepulauan Sisilia tidak membuat Lorena mual atau pusing. Mungkin hatinya yang senang melihat sikap Cerlotta yang bersahabat, apalagi Cerlotta selalu di dekatnya, seperti sekarang ini dalam perjalanan menuju Catania tempat kediaman Mr. Ludwig Smith. Cerlotta duduk berdampingan, sementara Devilito harus mengalah, duduk di bangku bagian paling belakang dengan Giring.


Setelah tiga puluh menit berselang, mereka tiba di kota Catania. Iring-iringan mobil akhirnya sampai di area perbukitan dan memasuki gerbang mansion kediaman Mr. Ludwig Smith dan langsung disambut sang empu nya rumah sendiri dengan barisan pengawal di kiri kanannya.


Tapi,


Berbeda dengan Cerlotta, sikap Ludwig Smith terlihat sangat dingin menyambut kedatangan rombongan Devilito. Tak ada senyum atau keramahan yang dia perlihatkan. Tatapan matanya tajam ketika Devilito turun dari mobilnya.


Melihat itu, Devilito pun tak kalah angkuhnya, sifat asli nya keluar. Ia tersenyum sedikit lalu mengulurkan tangannya pada pemimpin tertinggi Lidah Api tersebut, sementara Lorena hanya mengangguk hormat dengan posisi tetap berdiri di sebelah Cerlotta.


Ludwig Smith hanya melirik sekilas pada Lorena dan mengalihkan pandangan menatap tajam pada Devilito.


"Apa kabar uncle ?", sapa Devilito berbasa basi. Dia sudah mengetahui sifat paman angkatnya ini. "Baik...", jawab Mr Smith pendek kemudian berbalik badan menuju ruangan tempat biasa mereka berkumpul. Devilito serta merta mengikutinya tanpa bersuara, dan berjalan beriringan.


"Kamu ngga usah takut, papaku memang berkarakter seperti itu, beliau orang yang dingin, tak ada basa basi dalam hidupnya, kecuali hanya sama aku", Cerlotta mengetahui keraguan Lorena melihat sikap papanya. Sambil berjalan perlahan mengantarkan Lorena menuju kamarnya, Cerlotta menceritakan pribadi papanya yang memang angkuh, aura kejam terlihat di wajahnya, seperti tak berperasaan. "Tetapi beliau sebenarnya orang yang baik, hanya situasi dan kehidupan masa lalu beliau yang menempanya seperti itu, sama halnya dengan kak Devi, suamimu...", Cerlotta menjeda kalimatnya karena memberi kode pada Devilito dan papa nya untuk mengantarkan Lorena menuju kamar, untuk beristirahat. "Suamimu, sifat aslinya hampir mirip dengan papaku, itulah kenapa papa sangat menyukainya. Dingin dan kejam".


Lorena menerawang mendengar kalimat Cerlotta ini. Memang, sikap suaminya disini sangat berbeda. Aura dingin seakan mengungkung dirinya. Bukankah suaminya di didik dan di latih oleh papa Cerlotta?. Seakan punya kepribadian ganda. Terlihat penyayang, karena didikan papa Luigi dan kelembutan mama, tetapi akan terlihat sadis dan kejam, karena didikan papa Cerlotta.

__ADS_1


Luar biasa suamiku ini...Lorena menggelengkan kepalanya, bermonolog sendiri.


"Jadi, kamu ngga usah takut, itulah mereka berdua", ucap Cerlotta menepuk-nepuk bahu Lorena. "Ini kamar kamu, istirahatlah dulu nanti aku yang menemani kamu, karena kak Devi akan terlihat sibuk disini, bukan mengabaikan kamu ya...", sambung Cerlotta kemudian.


***


Di sebuah ruangan khusus, terlihat Ludwig Smith dan Devilito berbicara empat mata. Devilito menceritakan kenapa dia harus menikahi Lorena, serta menceritakan kejadian dirinya yang harus menghancurkan elPaso milik Alexander serta Rumble Squad nya Ruiz Hernandez dari Meksiko.


Mr.Ludwig menyimak hanya dengan manggut-manggut mendengar cerita Devilito, tetapi mukanya berubah murka ketika Devilito berkata,


"Setelah melalui itu semua, saya akan mengundurkan diri dari keanggotaan Lidah Api, uncle", sambil menghela nafas berat.


Brakkk...!!! Mr.Ludwig menggebrak meja.


"Apa kamu bilang ??, kamu mau mengundurkan diri ??", tanya nya sambil bangkit dari duduknya, telunjuknya mengarah ke muka Devilito yang duduk di seberang meja.


Devilito mengangguk, "Iya..". Devilito sudah menduga, Mr.Smith tidak akan mengizinkannya.


"Saya tidak akan mengizinkan!".


"Karena saya tidak mengizinkan !, paham..., siapa yang akan memimpin Lidah Api menggantikan kamu hah !?".


"Masih ada Giring paman, dia orangnya juga tangguh dan pintar dalam leadership !".


"Dia belum cukup mampu, dan aku tahu itu!", jawab Mr.Smith sengit.


"Tapi, Gery akan di dampingi oleh Cerry paman, dan itu akan membuat Lidah Api semakin solid!", Devilito tetap tenang menyampaikan kata-kata nya.


Mr.Smith menggelengkan kepalanya, "Saya tau karakter Gery, ada satu hal yang menjadi kekurangannya, sifat ragu - ragu dan tidak enakkan!, dan kamu pun pasti tahu itu".


Devilito terdiam, Ia membenarkan kalimat pamannya itu, sahabatnya ini memang kurang dalam hal itu, ragu dalam mengambil tindakan. "Tapi dengan di sokong Cerry, dia akan bisa paman, karena Cerry bisa menjadi memberi masukan dalam mengambil keputusan", ucap Devilito masih berusaha mencari celah.


"Tidak, justru karena akan di dampingi Cerry, Gery akan semakin terlihat ragu, karena dia selalu akan mempertimbangkan perasaan Cerry!, tidak, dia belum sanggup".


"Untuk menjadi pimpinan, terkadang dalam situasi rumit dan apalagi darurat, karakter seseorang akan terlihat disitu, Geri belum mampu untuk mengambil keputusan yang tegas!", Mr.Smith melanjutkan kalimatnya, kembali sambil menggelengkan kepala, tangannya berkacak pinggang.

__ADS_1


Devilito diam sesaat, Mr.Smith sangat keras dengan pendapatnya, tidak mengizinkannya untuk mundur. "Tapi saya ingin istirahat paman, istriku sedang hamil".


Mr. Smith menghela nafasnya, "Saya tau siapa kamu, saya yang mendidik kamu dengan keras sejak usia remaja, mengajarkan kamu bagaimana menjadi seorang petarung, bagaimana menjadi kan kamu seorang pebisnis yang handal, menjadi seorang pemimpin", Mr.Smith menjeda kalimatnya, kata-katanya mulai melunak, matanya menerawang keatas.


Ini sisi lain paman, ini bukan dia... Devilito membatin melihat perubahan sikap pamannya yang terlihat sedih.


"Aku sudah tua, aku ingin menikmati masa tua ku dengan ketenangan, aku sudah menyuruh Cerlotta untuk segera menikah dengan Giring, yang tadinya berharap dengan kamu, aku ingin meminang cucu, bercanda dengan cucu", guratan kesedihan terlihat dimata sang penguasa Lidah Api ini.


Devilito tertegun, dia membenarkan semua perkataan pamannya ini, dia lah yang mendidiknya untuk tangguh menantang dunia. Menjadi pemimpin.


"Sebenarnya, apa maksud dibalik perkataan paman ?" Devilito menelisik muka pamannya yang perlahan berjalan menghampirinya, Ia masih duduk di kursi menatap.


"Aku ingin pensiun, justru aku yang ingin mengundurkan diri sebenarnya, hanya kamu yang aku percaya", kalimat yang keluar dari mulut Mr. Smith makin melemah, Ia berdiri dihadapan Devilito dan memegang kedua pundak keponakannya ini.


"Aku akan mengangkatmu menjadi supreme commander Lidah Api yang sesungguhnya !".


"Kamu jangan menolaknya, aku mohon!".


Devilito tertegun kembali, Ia tak menyangka, inilah misi yang di maksud papa Luigi pada nya, Ludwig Smith akan menyerahkan tongkat komando pimpinan tertinggi jaringan Lidah Api, kepadanya.


Devilito mengangguk-anggukan kepalanya tanda berpikir, "Aku akan berbicara dengan istriku dulu paman, jika dia mengizinkan, aku akan terima kekuasaan ini, tapi kalo tidak, mohon maaf. Istriku adalah segalanya buatku paman" jawab Devilito tegas, Ia menghembuskan nafas berat nya.


Mr.Smith menepuk-nepuk bahu Devilito perlahan dan mengangguk, "Baik, paman rasa istrimu tidak akan keberatan, bukankah dia menemukanmu setelah kamu menjadi seorang pemimpin?".


"Dan untuk pelaksaan hariannya, kamu bisa menunjuk Gery, hm..?".


Devilito hanya diam mempertimbangkannya.


"Tapi, kamu tetap akan melewati proses, malam ini kamu akan bertarung menghadapi beberapa orang yang akan paman tunjuk, persiapkan dirimu untuk itu".


Dan, Ludwig Smith pun berlalu dari ruangan itu meninggalkan Devilito yang termenung.


-


-

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2