
Dita melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Di sampingnya Lorena diam mengarahkan pandangan keluar kaca mobil. Isak tangis sudah tidak kedengaran namun air mata masih mengalir, sesekali air mata itu di hapusnya pakai tisu.
Arus lalu lintas siang itu lumayan lancar, tapi sebaliknya arah berlawanan sangat padat merayap karena adanya galian perbaikan pipa saluran air jalan menjelang lampu merah.
Dita membelokkan kendaraan masuk ke parkiran sebuah butik yang terbilang cukup mewah
Di seberang jalan, di antara antrian mobil yang macet, seorang pria yang duduk di posisi belakang tiba - tiba tersentak ketika Ia melihat ke arah kanan ada seorang wanita yang familiar di matanya baru turun dari mobil Fortuner hitam.
Wanita itu !
"Ehh bro, buka pintu dong... gue turun disini aja, ada perlu sebentar" pria yang ternyata Devilito meminta Marcel membuka central lock pintu.
"Hah?"
"Loh..mau kemana lo?", Marcel dan Giring serentak bersuara.
"Gpp..tenang aja, gue ada urusan pribadi sebentar, nanti malam kita ketemu", Devilito langsung turun dan menyebrang jalan.
"Haisss...ini orang yah?" Marcel dan Giring geleng-geleng kepala. Lalu Giring menelpon Devilito.
"Kalau ada apa-apa kabari gue!"
"Iya, nanti gue kabari", Devilito menutup telepon sambil jalan memperhatikan gadis masuk butik. Sejenak, Ia masih diam, masih ragu apakah ikut masuk atau menunggu gadis itu di luar.
Setelah beberapa menit, Ia akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam butik.
Di dalam butik, Ia berlagak seolah - olah sebagai customer yang ingin membeli baju tetapi matanya liar memperhatikan keberadaan orang - orang yang berseliweran lalu lalang seperti mencari seseorang.
"Selamat siang bapak, bisa kami bantu?", seorang SPG datang menghampirinya.
Ya ampuuun ganteng banget... SPG tersebut terpesona melihat wajah Devilito.
"Saya mau lihat - lihat aja dulu, untuk busana pria dimana?" Ia bertanya pada SPG yang sedang terpana.
"Halo mbak ?..haloo", Sambil mengibas - ngibas tangannya di depan muka SPG.
"M-maaf pak, untuk busana pria ada di lantai dua ya, lewat tangga itu.." katanya menunjukkan jalan.
Ketika Ia melangkah menuju tangga yang di tunjukan SPG tadi, ekor mata nya tidak sengaja melihat ke sebuah ruangan seperti kantor di ujung belakang butik. Dari kaca besar yang tertutup transparan tersebut Ia melihat tiga bayangan wanita, yang dua sedang berpelukan dan yang satu lagi berdiri menutup tirai horden.
Ia melangkahkan kakinya, kemudian mengetuk pintu...
Tok..tok..tokk
"Siapa..?, saya sedang tidak terima tamu dulu", terdengar suara seseorang dari dalam yang menyangka itu salah satu karyawannya.
Degg...?
Devilito seperti mengenal suara itu...
Ia membuka pintu tanpa ijin
"Kira...???" Devilito kaget, kaki terpaku di depan pintu menatap wanita di depannya yang sedang memeluk seorang gadis yang terisak - isak.
Dita melongo sambil menutup mulut.
Lorena terlonjak menarik diri dari pelukan kakaknya, Ia kaget mendengar ada suara yang memanggil Kira dan membalikkan badannya.
__ADS_1
"Kamu..??" Lorena tak menyangka, Ia tertegun melihat Devilito yang tatapan matanya mengarah memandang kakaknya Donita.
Sedangkan Donita terdiam dan bergetar berdiri, mulutnya terkunci, tidak tahu apa yang harus di perbuat dan apa yang mau di katakan. Detak jantungnya seolah berpacu. Di depannya berdiri seorang pria yang sangat di kenalnya.
Lorena sendiri berfirasat pasti ada sesuatu antara mereka berdua, karena nama Kirana sudah di hapus dan tidak ada yang tahu dengan nama itu selain keluarganya.
Dita makin bingung, Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi sekarang.
Ada apa ini ?
"Kakak mengenalnya..?", Lorena bertanya pada Donita sambil menunjuk Devilito.
Namun Donita masih terdiam, matanya tetap memandang dalam ke arah mata Devilito, ada kerinduan di situ tetapi juga ada ketakutan.
Duukkk....!
Tiba - tiba Donita terjatuh lemas, pingsan...
Devilito langsung berlari untuk menolong, Dita menutup pintu agar karyawan butik dan pelanggan tidak panik.
Devilito mengangkat tubuh Donita dan mengikuti Lorena menuju kamar yang terhubung dengan ruangan kantor dan membaringkannya di atas tempat tidur perlahan. Lalu memberi kode dengan tangan pada Dita untuk mengambil minum.
"Kira...kira..", Ia menepuk pelan pipi Donita membangunkan.
Melihat hal tersebut, Lorena langsung menggeser tubuh Devilito dan gantian dia yang menepuk pipi kakaknya.
Dita datang membawa air minum mineral yang Ia ambil dari ruangan kantor.
"Rena..apa kita perlu membawa kak Nita ke dokter aja?", Dita mencoba memberi usul.
"Ngga perlu, ini hanya syok, sebentar lagi akan sadar sendiri", yang menjawab Devilito sambil matanya melirik Lorena.
"Gue udah kabari pak Aksan Ren" Dita kembali bersuara karena dia memang orang yang tanggap, tetapi perkataannya di sambut dengan pelototan mata dari Lorena seolah bilang...diam.
"Siapa pak Aksan?" Devilito bertanya curiga.
"Dita, tolong jaga kakak gue", Lorena minta tolong pada Dita lalu mengajak Devilito untuk berbicara di ruangan kantor.
"Siapa pak Aksan ?" Devilito kembali mengulangi pertanyaannya setelah sampai di ruang kantor.
Lorena menarik nafas nya sejenak, lalu..
"Itu suaminya kakakku, Donita" Lorena berkata hati - hati karena Ia merasa di antara mereka itu pasti ada sesuatu misteri, karena menyangkut nama..Kirana. Sejenak Ia lupa dengan masalahnya sendiri.
Devilito terkesima mendengar penuturan Lorena, wajahnya sedikit berubah sendu..
Owhh...sudah menikah?
"Sebentar...berarti Kirana berganti nama menjadi Donita hm?, karena menikah?" Devilito bertanya karena dia mencoba mengurai sesuatu.
"Aku ngga tau ada apa sebenarnya yang terjadi antara kamu dengan kakakku, tapi ..please, sekarang kamu pergi dulu dari sini, kak Aksan pasti datang, aku ngga mau ada kesalah pahaman nanti" Lorena mencoba memberi pengertian pada Devilito, walaupun sebenarnya banyak yang ingin di tanyakannya pada pria tampan ini.
Devilito diam sejenak, Ia mengusap muka beberapa kali dan menarik nafas panjang,
"Yaudah kalo gitu saya pergi", katanya sambil balik badan dan berlalu dari situ tanpa menghiraukan lagi. Ia mengambil Hp di kantong dan menelpon seseorang.
"Ihh..." Lorena mendesis kesal tanpa Ia tau kenapa, lalu kembali kedalam kamar.
__ADS_1
Donita sudah sadar namun masih tiduran, begitu Lorena masuk, Ia langsung duduk dan bertanya,
"Sudah pergi dek ?" wajahnya ada guratan sedih.
"Udah kak" Lorena menjawab pendek.
"Lo usir yah ?" Dita yang bertanya.
"Ngga, gue suruh pergi aja"
"Sama aja dodol"
"Lagian lo ngabari kak Aksan" Lorena sewot.
"Yaa, kan suami kak Donita harus di kasih tau, Rena" Dita yang tidak mengerti apa - apa tetap menjawab semestinya.
"Udah..udah, kenapa kalian jadi debat sih?", Donita heran dengan mereka berdua ini.
"Dita, Rena...nanti kalau Aksan datang, kalian ngga usah bahas tentang pria tadi yah?" sambung Donita mengarah ke Dita.
"Iya kak", Dita dan Lorena mengangguk mengerti, Dita ingin bertanya sesuatu tapi tidak berani.
"Rena, itu pria yang kamu ceritain tempo hari? yang menolong kamu dari penculikan?" Donita bertanya ke Lorena.
"Dan nginep di tempatnya kak", Dita yang menyambung kata dengan cekikikan.
"Haelah...diem lo ah" Lorena mengangkat tangan ingin memukul tangan Dita.
"Nanti kakak ceritain sebuah rahasia sama kamu yah, tapi jangan sekarang"
Tiba - tiba Aksan masuk,
"Mih, kamu ngga apa-apa?" katanya menggenggam tangan Donita dengan nafas tak teratur seperti habis lari.
"Gpp bee, tadi lupa sarapan jadi pusing" Donita menatap mata suami nya sendu.
"Trus sekarang masih pusing? makan dulu yah" Aksan lalu mengusap-usap punggung tangan Donita
Lorena yang melihat adegan itu menoleh ke Dita yang membuang muka, dan berbisik...
"Mereka mesra banget yah.." lalu menjulurkan lidahnya meledek Dita.
"Apa lo !!", Dita kesal dengan suara tertahan, ingin rasanya menjambak rambut Lorena.
"Kalian ini berdua bener - bener deh, Tom & Jerry ", Donita tersenyum ke arah mereka.
"Rena, nanti kita bicara di rumah aja ya tentang masalah kamu" Donita bicara hati - hati dengan adiknya ini.
Donita berdiri menghampiri lalu memeluk erat - erat Lorena.
Lorena yang kembali ingat dengan masalahnya, tak mampu membendung air mata, Ia menangis dalam pelukan kakaknya.
Dita pun ikut meneteskan air mata merasakan apa yang ada dalam pikiran sahabatnya ini.
"Kamu disini aja dulu, tiduran gih...tenangin dulu pikiranmu, dan Dita temenin disini ya", Donita membujuk adiknya lalu mengajak Aksan keluar menuju ruangan kantor.
-
__ADS_1
-
Masih bersambung...