
"Yank, kamu kenapa dari tadi cemberut aja, hm?" setelah menyelesaikan ritual mandi sepulang kerja, Devilito mengajak istri nya berbincang di balkon lantai dua. "Sini geser kesini" Devilito menepuk tempat disampingnya agar merapatkan tubuhnya, mau di peluk.
Lorena beringsut ke dalam pangkuan suaminya, Ia merebahkan kepala di bahu. Menatap pemandangan lepas menjelang malam "Ibu Shania itu,...siapa kamu dulu?", Ia menjeda pertanyaan tanpa mengalihkan pandangan lurus ke depan.
"Owh, jadi dari tadi cemberut itu kamu masih mikirin kejadian siang tadi?", Ia menoel pipi istrinya dengan jari kirinya. "Menurut ngana..?" Lorena menjawab malas.
"Shania itu dulu pacar aku waktu di Italia..di..",
"Loh, bukannya pacar kamu itu Donita, dan Cerlotta waktu di Italia ya?..Issh banyak banget sih?", Lorena memotong omongan suaminya, Ia memukul paha suaminya sambil menegakkan kepala. Pasang muka cemberut.
"Maaf nona?, boleh saya lanjutkan cerita saya dulu, baru nanti nona memberikan sanggahan, biar ngga salah paham, gimana..?" Devilito bergaya ala² hakim yang memimpin sidang terdakwa.
"Dihh...garing !" Lorena menepuk bahu suaminya, lagi. "Yaudah, terusiin..!"
Akhir² ini, istri gue mood nya berubah-ubah, sensian, kenapa yah..?
"Yee, malah bengong deh, terusiin..ih". "Iyaa, sabar dikit napa nona..?"
"Shania itu dulu pacar aku sebelum kenal sama Kira, kakak kamu. Nah, dia itu pergi meninggalkan aku tanpa kabar"
"Alasannya pergi, kenapa..?" tanya Lorena kembali memotong cerita suaminya.
"Aku denger² dia ngga tahan dengan kehidupan aku dulu, jiwa nya sering terancam katanya, trus Cerlotta beberapa kali pergokin dia selingkuh dengan pria bule, orang Inggris, lalu Shania pergi meneruskan kuliahnya di London, setelah itu aku ngga denger lagi kabarnya gimana, gitu cerita.."
"Kamu ngga berusaha nyari? atau kamu ngga serius kali dulu sama dia?"
"Serius dong, aku ngga pernah ngga serius jalin hubungan, aku komitmen orangnya. Tapi kalo dia pergi, yaudah..silahkan, kalo aku prinsipnya begitu, ngapain berjuang menahan orang yang ingin pergi dari hidup kita"
"Bener juga sih..trus tadi perasaan kamu ketemu lagi sama Shania, gimana..?"
"Kan kamu nguping tadi yank?, kamu tau gimana aku nya", muka istri menahan malu, waktu itu Ia ingin melabrak, tapi lihat cara suaminya menghadapi masa lalu nya itu, Ia kagum juga, tegas.
"Yakin ngga pengen balikan?"
"Haqqul yaqin yank.." jawab Devilito mantab.
"Nah, kalo sama kakakku..? Donita?, gimana?" tanya Lorena menyipitkan matanya, walaupun Ia sudah tau jawaban suaminya, tapi apa salahnya dong, iseng nanya.
"Gimana apanya?" tanya Devilito tak mengerti.
"Masih cinta ngga?, ayooo...jujur deh jawabnya"
"Ya, ngga laah yank, ya ampuun, kakak sendiri masih di curigai juga" jawab Devilito menyentil pelan kening istrinya. "Yaa kan itu masalah hati yank?, aku ngga mau kalo hati kamu masih terikat dengan masa lalu kamu, walaupun itu kakak aku sendiri"
"Hati aku udah selesai dengan semua masa lalu, sekarang masa depan, itu kamu"
"Ciee..ngegombal ni yeee" muka Lorena tersipu, merona sebenarnya, hingga Ia tak sadar mencium pipinya.
"Oh ya, tau ngga yank, satu hal yang paling menyempurnakan cinta nya aku sama kamu?"
"Apaan emang..?" jawab Lorena, walaupun mereka sudah suami istri, tapi baru kali ini jantungnya dag dig dug dipuji suaminya.
"Kamu sangat ekspresif, terbuka kalau ada apa², itu yang belum pernah aku temukan dari yang lain, aku bukan dukun, aku ngga suka ribet², ngga tau apa yang kamu rasakan" jawab Devilito mencium kepala istrinya.
"Kan suami istri harus saling terbuka yank, kalo ada apa² harus di bicarain, komunikasi kunci nya kan?, bukan begitu bapak Devilito?"
"Sayang deh sama istri aku ini.." Lorena Ia peluk. Sang istri pun mencium pipinya.
***
"Kamu masih lama dok..?" Dita hari ini janji makan malam dengan Lorena sekalian mau perkenalkan pasangan barunya, yang di kenalkan orang tuanya.
__ADS_1
(Aku udah otewe dek, ngga sampe lima menit lagi udah nyampe, tunggu bentar ya..) jawab seorang pria di seberang sana. Pria yang berprofesi seorang dokter dan pemilik sebuah rumah sakit swasta, baru beberapa hari ini dekat lewat perkenalan orang tua yang pernah Ia rawat dulu.
Benar, tak sampai lima menit sebuah mobil jeep Rubicon hitam memasuki gerbang rumah Dita yang minimalis, namun asri jika di lihat pada waktu siang hari.
Dita sudah menunggu di teras rumahnya di temani kedua orang tuanya. Dita sudah ijin malam ini akan pergi ke rumah temannya makan malam, di temani sang dokter.
Pria ini turun, menghampiri kedua orang tua calon istrinya, sang dokter tak ingin lama² pacaran, katanya itu nanti tidak baik, sependapat dengan kedua orang tua Dita, itulah kenapa Ia di jodohkan.
"Malam Yah, Ibu..saya ijin bawa Dita untuk menemaninya ke rumah teman kampusnya ya" sang dokter meraih tangan kedua nya dan menciumnya bergantian.
"Iya, dok..saya titip jagain anak saya ya" jawab sang ayah, yang di aminin ibunya.
"Yaudah yuk Dok, kita langsung berangkat aja..Ayah, Ibu Dita pamit ya, takut kemalaman"
--Dirumah Devilito--
"Yank, teman kamu jadi datang?" tanya Devilito melirik jam nya. "Jadi yank, bentar lagi nyampe katanya lagi otewe, kenapa..? kamu ada rencana pergi malam ini?".
"Ngg..bentar deh, aku hubungi dulu teman aku, rencananya aku mau bahas proyek yang di Australia" Devilito mengambil gawai nya di kantong, lalu menghubungi seseorang.
(Bro, malam ini ngga jadi ya, lusa deh kita meeting, nanti gue kabari jamnya?) tanyanya begitu sambungan terhubung.
(Wahh kebetulan Sob, gue malam ini juga lagi ribet, masih di RS) jawab Marcel.
(Yaudah, kalo gitu lusa ya..lo kabari Giring skalian)
(Siap bos..!)
"Yank, aku udah batalin, jadi lusa aja aku meeting ama Marcel dan Giring" ujar Devilito pada istrinya. "Emang ada proyek di Australia yank?..nanti kamu pergi dong, ngga ngajak aku..?" Lorena memasang wajah seimut mungkin.
"Kalo deal, paling bulan depan aku survey ke Melbourne, ntar kalo jadi, kamu ikut aja, sekalian bikin anak disana" jawab Devilito tanpa filter.
"Heh..!, cabein nih mulut, bahasanya ihh!" Lorena mau mencubit mulut suaminya yang kabur ke dalam ambil air minum.
***
Matik gue ! Ia menepuk jidatnya tanpa sadar. Untung Dita tidak melihatnya.
"Nah, itu di depan sebelah kanan dok!" Dita menunjuk sebuah rumah yang pagar tinggi.
Perasaan gue udah ngga enak ini, mati gue !!, ini temannya pasti Lorena..hadeeehhh, Ia membatin dalam hati.
"Yank, itu kayaknya Dita deh.." Lorena dari balkon menunjuk sebuah mobil berhenti depan gerbang masuk.
Devilito ikut melongok, "loh..itu Rubiconnya Marcel??, kamu janjian ama Marcel yank?..waaahhh jangan² xixixi" Ia tertawa sendiri, Lorena pun baru 'ngeh' apa yang di maksud suaminya.
"Waahh..Ahahahaha" Lorena justru ngakak. "Shutt ..diem aja ,pura² ngga tau" katanya kemudian.
"Maaf, tuan, ada tuan Marcel sepertinya, Ia mengedipkan lampu 3x soalnya" si bibi naik ke atas melaporkan.
"Iya bi, buka aja, suruh ke atas sekalian ya, kita makannya di ruang atas aja" jawab Lorena.
Mereka berdua ngakak menutup mulutnya di balkon membayangkan apa yang akan terjadi.
"Renaaa..i'm cominggg" Dita dari tangga langsung berteriak, lupa kalau di sampingnya calon yang akan di kenalkannya, Ia harus jaga image. "Ehh maaf dok, kawan akrab soalnya hehe" Ia langsung berubah se kalem mungkin.
"Oh gpp dek, santai aja" padahal bukan itu yang terpikir oleh Marcel, Ia siap² di bully.
"Ditaa, akhirnya lo sampe juga..hihi" Lorena pelukan dengan Dita. Ia masih kaget bersalaman dengan suaminya karibnya ini, karna pernah punya sejarah sebelumnya.
"Halo, apa kabar, mudah²an masih ingat saya" jawab Devilito berusaha tenang. Ia juga tidak menyangka ternyata temannya Lorena itu, Dita. "Masih dong, yang nabrak mobil saya dulu kan?" Ia menutup mulutnya dan berbisik ke telinga Lorena, " ketulaan kan lo, benerkan jodoh jadinya xixixi"
__ADS_1
"Hussh..diem" bisik Lorena kemudian.
"Kenalin dong calonnya?" ucap Devilito melirik Marcel, Ia sekuat tenaga menahan ketawanya.
"Ehh..iya, Rena kenalin ini calon gue, dokter" Dita sedikit berbangga dengan profesi calonnya ini. "Halo..saya Rena, ini suami saya Devilito"
"Halo pak Dokter." Devilito mengulurkan tangannya ke Marcel, tapi tangannya menekan kuat ketika berjabat, adu kekuatan keduanya. Tentu, Marcel yang meringis disini.
Lorena mau ketawa sebenarnya melihat tingkah kedua pria ini, sedangkan Dita tidak tau situasi apa² disini.
"Oh ya, kita langsung makan atau ngobrol² dulu enaknya?, menurut pak dokter .?" Devilito mengerlingkan matanya ke arah Marcel, dijawab dengan pelototan mata oleh sang dokter.
"Kita makan aja dulu, karna kalo ngobrol nanti lupa waktu makan, benerkan pak dokter..?" giliran Lorena mengerlingkan matanya, meledek Marcel.
Sampai disini, Dita masih belum tau apa².
"Oh ya yank, teman kamu tadi lagi ribet di kerjaannya ya? ngga jadi meeting ama kamu?" tanya Lorena berpura² serius sama suaminya.
"Iya, dia emang sibuk banget orangnya biarin ajalah, dia mau nikah soalnya, harus nyari duit yang banyak, bener ngga dok?"
Habis guee ! gerutu Marcel dalam hati.
"Saya permisi, mau ke toilet dulu" jawab Marcel, Ia tak tahan dengan tingkah suami istri koplak ini.
"Oh, silahkan dok, mari saya anter" jawab Devilito berdiri mengikuti langkah temannya.
"Lo laki bini parah dah, koplak !" Marcel meluapkan kekesalannya pada Devilito.
"Ahahahaha" Devilito justru ketawa ngakak, terdengar sampai ke balkon.
"Ada apa sih ?, gue merasa aneh liat suami lo ama calon gue dari tadi deh?, itu laki lo kenapa ketawa ngakak begitu?".
Lorena mengedikkan kedua bahunya, tanda ngga ngerti.
"Ren..kok lo bisa nikah sih ama dia?, bukannya lo anti banget dulu, songong kan orangnya?" ujar Dita berbisik. Lorena ketawa pelan, Ia masih ingat dulu kesal banget sama pria yang sekarang jadi suaminya ini.
"Iya yah, gue juga ngga ngerti. Tapi dia baik banget Dit, jagoan lagi hehe ..pokoknya cinta banget deh gue"
"Nah, lo kenapa bisa ketemu ama Ma..ehh dokter itu?, oh ya yang waktu lo bilang acara keluarga yah?" lanjut Lorena kemudian.
"Namanya Marcel.Iya, dia yang merawat ayah gue waktu sakit, dia owner nya" jawab Dita membanggakan.
Tiba - tiba si bibi datang, "Nyonya, makan malam sudah siap",
"Oh yaudah bi, makasih ya.." Lorena berjalan mau memanggil suaminya dan Marcel.
"Itu orang berdua kenapa lama di toilet yah?" gumam Dita pelan.
Ternyata, suaminya dan Marcel malah asyik ngobrol di balkon belakang.
"Eh kak, itu calon istrinya lagi kebingungan itu, malah ngobrol disini, ayo kita makan dulu"
"Sob, gue roman²nya dapat istri sifatnya ngga jauh beda dari Lorena deh, galak!"
"Kayaknya, pria² model kita ini sudah di takdir kan Tuhan dapat jodoh model gitu bro hahaha, ayo ah, makan dulu" ajak Devilito melangkah ke ruang makan atas.
"Sob, udah ya nanti jangan ledek² lagi, mati gaya gueee..tega amat lo berdua"
Devilito malah tertawa, "Iya, sensi banget sih lo"
-
__ADS_1
-
Bersambung