Istri Sang Pemimpin

Istri Sang Pemimpin
Chapt.77 Misteri Yang Terungkap


__ADS_3

Hendra hanya tertunduk memucat di hadapan Devilito dengan tangan terikat di kursi, wajahnya tak hanya lusuh tetapi lebih menggambarkan ketakutan yang amat sangat. Ia sadar, telah melakukan kesalahan fatal yang tidak akan di tolerir oleh seorang Devilito. Sementara Ia tahu siapa pria ini, pria yang sangat kejam jika di khianati. Namun, dendam membutakan segalanya.


"Kenapa Hendra?, hmm?", Devilito mengangkat dagu Hendra dengan ujung Magnum 44 nya yang memakai peredam. Hendra masih terdiam, sorot matanya seolah tak bernyawa, menatap kosong.


"Kalo masalah kekurangan materi, saya yakin kamu tidak akan melakukan ini, kamu sudah lebih dari cukup yang saya berikan, kalo masalah jabatan, juga tidak mungkin, karna posisi kamu ada di bawah saya", Devilito menjeda kalimatnya, kemudian, "Ada dendam disitu, benar ?".


Dagu Hendra terangkat sedikit, tanda membenarkannya, sorot matanya berubah menantang mata bos nya ini, mungkin sekarang sudah berubah, mantan bos. Ia pikir sudah terlanjur.


"Bicaralah, saya masih sabar menunggu omongan kamu, mengingat jasa kamu terhadap perusahaan!".


Satu detik, dua detik berlalu, namun Hendra masih bungkam, hanya matanya yang menantang mata Devilito, ketakutannya berubah jadi sebuah keberanian.


Devilito menepuk kedua pahanya, lalu berdiri, "Baiklah, kalo begitu...waktumu habis untuk diberi kesempatan, sepertinya kamu tidak bisa di ajak bicara baik-baik".


Tess..!!!


Arrrggghh....


Sebuah tembakan berperedam menembus lutut yang di iringi dengan teriakan kesakitan dari mulut Hendra.


"Masih bungkamkah?", ucap Devilito dingin, Ia memutari tubuh Hendra yang mengeluarkan air mata menahan sakit. Ia kembali mengangkat senjatanya.


"A..Andre !, ya..Andre, Anda masih ingat pak Dev?", akhirnya Hendra bicara dengan meringis. Devilito berhenti dan menurunkan senjatanya, Ia berpikir sejenak, "Andre ?", Devilito ingat salah satu stafnya yang melakukan korupsi dan kemudian dia hukum dengan mematahkan tangannya serta mendekam di penjara.


"Kenapa? ada hubungan apa kamu dengan Andre, hm?".


"Dia kakak saya!, dan baru meninggal sebulan yang lalu di penjara".


"Wow, hebat kamu, saya bisa ngga tau, ckckck...terus, kamu menyalahkan saya atas kematiannya, begitu?", Devilito menyipitkan matanya, menatap tajam ke arah Hendra yang belum menjawab, tapi sorot matanya membenarkan.


"Dia saudara satu mama lain papa dengan saya, dia dibesarkan oleh papanya".


Devilito manggut - manggut beberapa kali, sekali lagi dia kecolongan, tak mengetahui fakta tentang Hendra yang punya hubungan saudara dengan Andre.


"Tetapi kamu ikut bantu saya untuk mengungkap konspirasi korupsi Andre?, terus...masih untung bukan? saya hanya mematahkan tangannya?" pernyataan Devilito membuat Hendra menunduk, dia membenarkan perkataan mantan bosnya ini. Tadinya, dia belum mengetahui sisi lain Devilito, dan berharap hukuman hanya pemecatan terhadap saudara tirinya itu, tetapi mantan bosnya ini bisa menekan pengadilan untuk hukuman penjara dalam jangka waktu yang lama, serta mematahkan lengan dan penyitaan aset yang membuat saudaranya stres dan bunuh diri dalam penjara.


"Tadinya saya menduga Lutfi yang korup, tapi auditor ternyata mengarah pada saudara saya", jawab Hendra yang makin merasa kaki kirinya mulai mati rasa, karena mengeluarkan darah banyak.

__ADS_1


Devilito tersenyum mengejek, "baik, sekarang pertanyaan ini, kenapa harus mertua saya yang menjadi sasaran dendam kamu?".


Hendra mengangkat wajahnya yang tertunduk, "Aksan, Aksan memiliki dendam yang sama dan dia mengajak saya untuk bantu dia balaskan dendam ke pak Alex, kemudian balaskan dendam pada pak Dev".


"Caranya ?...", Devilito tertarik dengan cara yang akan dilakukan terhadap dirinya.


"Membunuh nyonya Lorena, karena pak Dev tak tersentuh". Darah Devilito seketika mendidih. Istrinya masuk dalam daftar pembunuhan, Ia meradang.


Tess..!! Magnum 44 kembali menyalak, menembus lutut kanan Hendra.


Arrrghhh...Hendra menjerit, "sakit pak Dev, ampuni saya, maafkan saya!", dengan suara lirih, Hendra memohon.


Namun, Devilito hanya menatap dingin, Ia tak akan mentolerir siapa pun yang mengganggu istrinya, apa lagi masuk dalam rencana pembunuhan. Ia tak peduli permohonan Hendra yang menangis memohon sambil menahan sakit.


Devilito baru ingat, hal yang ingin dia ketahui dari awal, dari fakta baru yang dia dapat sekarang, ada benang merah dari dugaannya, "pertanyaan terakhir, apa hubungan kamu dengan Aksan?, hm?".


Hendra kembali menunduk, tak berani menjawab pertanyaan ini, Aksan juga bernasib sama dengannya, tertangkap.


Devilito mencengkram rahang Hendra dengan kuat, "dia kakak tiri kamu?, kakak kandung Andre, dan Raymond adalah papa kamu, benar ?". Seketika, Hendra mengangguk kepalanya, membenarkan.


Lalu, Devilito meraih ponselnya, dan mematikan recorder. Dan kemudian, "dari pada kamu di hukum mati, lebih baik kamu merasakan penderitaan seumur hidup".


Dia menendang kursi tempat duduk Hendra, yang membuat pria tersebut terjungkal ke lantai. Dan, kemudian menembak tulang ekornya, untuk melumpuhkan.


Hendra tak bersuara lagi, Ia sudah jatuh pingsan ketika kursi itu di tendang dan bergerak sedikit ketika peluru menembus tulang ekornya.


Devilito menyuruh anak buahnya untuk membawa Hendra keluar dari situ.


"Jika dia mati, kuburkan, dan jika masih hidup rawat lukanya", hanya itu perintah yang terselip, kemudian menyuruh untuk membawa Aksan ke hadapannya.


***


Kali ini giliran Aksan yang berada di kursi pesakitan itu, tetapi berbeda dengan Hendra, Ia tak menunjukkan muka ketakutan sama sekali. Wajah bak model itu justru menantang mata Devilito dengan penuh kebencian.


Devilito mengambil ponsel, dan membuka rekaman percakapannya dengan Hendra. Aksan tak bergeming, sorot matanya tak lepas menatap gerak gerik pria yang di juluki Klabang Mentari itu.


"Aksan, baru kali ini kita bertemu setelah posisi bersebrangan", ujar Devilito setelah rekaman omongan Hendra selesai di putar, dan meletakkan ponsel tersebut di meja. Aksan hanya diam, tetap tak bersuara.

__ADS_1


"Hendra, Raymond dan Aksan, ckckck...", Devilito geleng-geleng kepala, sekian lamanya baru Ia menemukan benang merah dari sebagian besar masalah yang terjadi. "Di luar dugaan saya", katanya kemudian.


"Saya mencoba menebak, Anda bersama Raymond adalah otak dari kecelakaan yang menyebabkan meninggalnya mama Kirana..ehh, Donita, dan kemudian mengawininya Donita, ckckck...betul tidak?" Devilito menjeda kata-katanya menunggu kalimat yang keluar dari mulut Aksan, namun pria itu tetap tak bicara matanya bergerak mengikuti gerak gerik Devilito dengan penuh kebencian. "Dan, Anda pun berniat untuk membunuh istri saya, luar biasa", Devilito mengejek Aksan dengan memujinya.


"Alexander dan keturunannya harus mati, termasuk Rena, berikut Anda !", akhirnya Aksan buka suara sambil menghentakkan kakinya ke lantai, berlaku seperti menginjak dan mematikan binatang. "Dan saya tertawa begitu puas, ketika berhasil membunuh mamanya Donita, mengawininya anaknya, dan tertawa terbahak ketika berhasil membunuh Alexander dan Donita, dan...lebih membahana tertawa saya ketika nanti berhasil membunuh Anda dan Istri Anda", Aksan berkata sambil melemparkan senyum mengejek Devilito.


Devilito sendiri bersikap tenang dengan raut wajah dingin. Ia tak terpengaruh intimidasi pancingan emosi Aksan padanya. "Donita...kenapa Anda ingin membunuhnya?, bukankah selama ini dia yang membantu Anda bersembunyi?, saya tau...Anda sering menemuinya diam - diam bukan?, dia istri Anda, Anda tidak mencintainya?".


Aksan tertawa sambil membuang ludah ke samping, "Cihh...cinta ?, apa Anda tidak sadar? tiga tahun perkawinan saya dengannya, Donita tidak pernah hamil ?".


"Karena Anda atau Donita mandul?", tanya Devilito sambil mengetuk - ngetuk meja.


Aksan kembali tertawa, "Karena saya memang tidak pernah menginginkan anak darinya, yang nanti akan menghambat rencana saya untuk membunuhnya, dan saya selalu memakai pengaman ketika berhubungan badan".


"Kenapa ?, kalau hanya ingin membunuhnya, itu mudah bukan, tiga tahun Anda dalam satu rumah, tapi tidak melakukannya?", selisik Devilito kemudian dengan heran.


"Saya ingin melihatnya menderita dengan menguasai eLPaso dan membunuh Alexander, Lorena baru kemudian Donita".


Devilito tak bergeming mendengar keterangan Aksan, Ia menatap tajam, kembali nama istrinya di seret, tapi Ia tak menunjukkan muka marah. Devilito berdiri dan memegang ponselnya sebentar, lalu menghampiri Aksan, "Baik, Anda manusia psikopat, tetapi pengecut!, dan saya akan tunjukkan psikopat yang sesungguhnya seperti apa. Saya akan luluskan permintaan Anda untuk membunuh seluruh keturunan Alexander, termasuk saya", Devilito kemudian membuka ikatan tangan Aksan.


Aksan sudah tahu maksud Devilito itu, Ia sudah kepalang tanggung, Ia harus menghadapi pria penguasa ini. Ia berdiri dan tiba - tiba langsung menerjang Devilito dengan tendangan mengarah kepala, maksudnya ingin menjatuhkan dengan satu serangan, mumpung Devilito dalam posisi tidak siap.


Devilito justru sengaja, orang licik tidak akan pernah berani berhadapan man to man, pasti selalu membokong.


Secepat apa Aksan melakukan serangan, Devilito selalu lebih cepat bukan ?. Ketika kaki kanan Aksan terangkat, Devilito memutar melakukan guntingan mengarah ke pinggang.


Tubuh keduanya jatuh dengan posisi tangan Aksan di pegang serta leher Aksan terkunci kaki, lalu Devilito memutar melakukan submission , kuncian tangan dengan kaki menyilang di leher. Lalu, terdengar bunyi,


Krraggh !!!.., pergelangan tangan Aksan patah, Arrgghhh...!!!, di susul dengan jerit kesakitan.


Devilito berguling kesamping, dan kedua tangannya meraih leher dan kepala Aksan. Persis seperti Khabib mengalahkan Mc.Gregor, Devilito melakukan kuncian leher rear naked choke, sampai Aksan tidak bergerak, kehabisan nafas.


Beberapa menit lamanya Devilito memperhatikan Aksan yang tergeletak, entah mati atau masih hidup. Lalu, Ia perintahkan anak buahnya untuk membawa tubuh pria itu keluar dari ruangan, "bereskan!", perintahnya kemudian dan mendahului anak buahnya meninggalkan ruangan itu.


-


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2