Istri Sang Pemimpin

Istri Sang Pemimpin
Chapt.69 Dokter Hanna Pratiwi


__ADS_3

...****Tiga bulan kemudian****...


"Usia kehamilan nyonya Rena sudah memasuki bulan ke empat, tepatnya usia kandungan pada minggu ke 17, perkembangan janin terlihat bagus dan sehat", dokter Hanna Pratiwi memperlihatkan pergerakan sang janin dari layar monitor pada Devilito dan Lorena.


"Ini wajahnya sudah mulai terbentuk, alis dan bulu mata sudah mulai terlihat tumbuh, bola mata juga sudah bisa bergerak walaupun kelopak matanya masih tertutup", Dr. Hanna menjeda kalimatnya sambil jari-jarinya masih menari menggerakkan mouse, kemudian melanjutkan kalimat kembali,"kepala yang tersusun dari tulang rawan, juga sudah mulai mengeras, juga jari-jari dan sidik jarinya sudah mulai terbentuk".


Dr. Hanna selanjutnya menghentikan kegiatannya, lalu berdiri menghadap Lorena yang dalam posisi tiduran di ranjang, sedangkan Devilito berdiri di posisi kepala istrinya. "Pada usia kandungan empat bulan ini, sang janin sudah bisa mendengar dan merespon suara-suara dari luar, misalnya bacaan ayat-ayat suci, suara musik, jadi disarankan untuk sering-sering mengajak bicara si janin, karena di masa ini, sistem saraf janin sudah mulai berfungsi dan organ reproduksinya juga sudah mulai berkembang", Dr. Hanna kemudian menyudahi penjelasannya dan menyilangkan tangan di dada.


Devilito manggutkan kepala mendengar penjelasan Hanna, "trus, kira - kira di usia kandungan sekarang ini, sudah boleh pergi jarak jauh belum dok?".


"Kalo diliat, kondisi kandungan nyonya Rena sehat, oh ya...mual-mualnya gimana nyonya Rena, masih terasa ngga?", tanya Hanna mengarah ke Lorena yang di jawab cepat, "ngga ada mual-mual aku dok, awal-awal kehamilan doang cuma merasa capek aja, tapi sekarang ngga lagi sih", ujarnya sambil mengambil posisi duduk bersandar di ranjang.


"Emosi dan mood nya aja yang masih suka berubah-ubah, dok", timpal Devilito sambil tersenyum konyol. Sang istri langsung melototkan matanya, "gimana ngga emosi dok, mantannya yang dulu-dulu nongol lagi!", ucapnya kemudian dengan tatapan tajam ke arah suaminya.


Blushh..


Muka Dr. Hanna langsung berubah merah, salah tingkah, sekilas Ia melirik ke arah Devilito. "Tapi, usia kehamilan 4 sampai 6 bulan itu, usia yang di sarankan untuk bepergian jauh jika memang mau pergi", Dr. Hanna mengalihkan pembicaraan absurd tadi, "tapi, juga disarankan, jika naik penerbangan tidak lebih dari 8 atau 10 jam, kalo lebih dari itu sebaiknya pake sistem transit", ucapnya kemudian menegaskan.


Ya, hari ini adalah jadwal rutin pemeriksaan kandungan Lorena. Awalnya, seperti biasa Lorena ingin pergi sendiri tanpa di temani suaminya itu jika berhubungan dengan konsultasi kehamilan di rumah sakit, entah kenapa. Tetapi sang suami tetap memaksa ingin menemani, "Apa perlu aku suruh pindahin peralatan medis pemeriksaan itu ke rumah yank?", ucap Devilito ketika istrinya tetap bersikeras tanpa dirinya ke dokter.


Dari pada suaminya bertindak menggunakan kekuasaannya, lebih baik Ia menurut, asal sang suami tidak boleh dekat-dekat dokter Hanna.


Dokter Hanna...ahh, Lorena sendiri tak habis pikir kenapa dia tidak menyukai sang dokter itu jika berdekatan dengan suaminya sampai saat ini. Padahal, dokter itu sangat baik sekali. Feeling Ibu hamil kah ini? Ia juga bingung. Mungkin karena tatapan bu dokter itu, jika memandang suaminya yang terlihat berbeda. Menurut perasaannya seperti itu.

__ADS_1


Marcel masuk ke ruangan itu, ketika Lorena sudah selesai periksa dan tengah bersiap menunggu tulisan dokter Hanna di kertas, menulis vitamin tambahan sepertinya. "Udah beres sob?", tanya Marcel pada Devilito. "Udah..", Devilito menjawab pendek ketika Lorena menyerahkan kertas resep padanya.


"Kalo udah selesai, yuk ke ruangan gue aja", Marcel berjalan ke pintu. "Gue tebus obatnya dulu deh. Yank..kamu duluan ke ruangan Marcel ya", Lorena mengangguk dan melangkah ikuti Marcel, sedangkan dokter Hanna masih membereskan peralatan yang terpakai.


Devilito tak perlu antrian untuk memberikan resep obat di apotik rumah sakit tersebut, Ia bisa langsung karena sebagian suster itu sudah sangat mengenalnya. Beberapa lama kemudian, suster mengantarkan dan menyerahkan plastik khusus berisi obat-obatan dan vitamin tambahan untuk kehamilan ketika Ia masih dalam posisi duduknya. Wajahnya mendongak,"Loh, kok di anterin?, ngga di panggil?", tanya nya heran. Ia tak ingin di perlakukan istimewa sebenarnya. "Ngga apa-apa pak, tadi juga sudah di pesan direktur seperti itu, dan menjadi tanggungan beliau juga mengenai biaya - biayanya", ucap suster tersebut membungkuk hormat. "Owalah, ya sudah kalo begitu, trima kasih suster", Devilito mengangguk, tersenyum ramah.


Ya ampun, senyumnya itu looh...suster terpana, kagum.


Devilito berdiri dan berbalik badan, melangkah pergi dari situ, tiba - tiba dari arah depan dokter Hanna sedang berjalan seperti mengarah padanya, Ia ingin mengelak tapi Hanna sudah mencegat langkahnya.


"Hai kak, emang ada rencana mau pergi jarak jauh bawa Lorena?", tanyanya tanpa basa basi lagi melihat Devilito seperti terburu pergi menghindarinya. Langkah pria ini terhenti, dan mengarahkan tubuhnya, " Iya, rencana mau ke eropa, kenapa dok?", tanyanya kemudian. "Oh ngga apa-apa, aku cuma mau nyaranin, kalo pergi sejauh itu sebaiknya jangan penerbangan langsung, sebaiknya Lorena harus ada waktu istirahat, estafet".


Devilito berpikir sejenak mendengar usul dokter Hanna itu, dia pikir benar juga, mungkin dengan cara estafet sebelum sampai ke negara tujuan, hitung-hitung liburan. Devilito manggut-manggut, kemudian menyetujuinya.


Devilito sedikit kaget, "tidak, dan sebaiknya jangan!, kamu tetaplah profesional menjalankan profesi kamu, istriku orang yang sangat jeli". Dokter Hanna menatap manik mata pria yang pernah membuatnya patah arang ini, Ia lalu memasukan kedua tangannya ke jubah dokternya, "Karna itu aku nanya, sepertinya dia curiga terhadap aku".


Devilito menarik nafasnya perlahan, lalu membuangnya, "Seperti yang aku bilang tadi, istriku itu orang yang jeli, jaga sikap kamu terhadap aku, pun sebaliknya", Devilito berkata datar, tetap dengan wajah dinginnya.


"Tapi kenapa sih kak?, emang ngga bisa kita hanya sekedar,...teman?", ucap Hanna dengan tatapan sulit di artikan. Devilito menghembuskan nafasnya sedikit kasar, "bisa aja, tapi mungkin saat ini lebih baik seperti ini, karena semua tergantung kamu nantinya", Devilito menjeda kalimatnya, menghembuskan nafas perlahan, lalu.."jika perasaan kamu sudah bisa menerima aku sebagai teman, dengan sebenarnya teman", ucap Devilito kemudian meninggalkan Hanna yang terpaku merenungi makna kalimat itu.


Bisakah dia menganggap Devilito memang sebagai teman?, sementara jika berdekatan saja jantungnya masih berdebar? dokter Hanna memperhatikan punggung Devilito yang perlahan menghilang dari pandangannya.


"Kok lama ambil obatnya yank?", selidik Lorena ketika Devilito sudah berada dalam ruangan Marcel, alis mata istrinya bertaut pertanda itu bukan pertanyaan basa basi. "Tadi antriannya banyak yank, banyak yang nebus obat", Devilito tak yakin apakah istrinya akan percaya begitu saja dengan jawabannya itu, buktinya istrinya hanya diam tanpa suara, hanya matanya mengekori dirinya bergerak, tak berkedip.

__ADS_1


Marcel pura-pura ngga dengar, Ia tau jawaban Devilito itu hanya mengelak. Bukankah Devilito di rumah sakitnya ini sudah mendapat fasilitas VVIP ?.


"Bro, gue rencana dalam minggu depan mau ke Italia sama Lorena, lo mau ikut ngga ?", Devilito membeberkan rencananya, sekaligus untuk memutus pemikiran Lorena yang sedang curiga.


"Kan gue lagi persiapan pernikahan sob?, sebulan lagi, masa gue tinggalin?".


"Ngga lama sih, paling seminggu doang".


"Elo aja, sekalian Giring bawa balik, masa gue mau nikah dia ngga hadir, gue udah kasih kabar sama dia, tapi belum di jawab!".


"Jangan-jangan dia udah nikah kali yah ? diem-diem?", Devilito berspekulasi, karena Giring sahabatnya sudah hampir tiga bulan di Italia tanpa kabar berita. "Mungkin, bisa jadi..tapi masa ngga ngasih tau kita?", jawab Marcel ragu.


Lorena hanya diam dari awal, dia seperti tak peduli tentang rencana suaminya mau ke Italia, muka menggambarkan sesuatu.


"Sayang...tadi itu habis menebus obat, aku papasan sama dokter Hanna, trus ngobrol sebentar, dia menyarankan jika pergi ke eropa itu sebaiknya memakai jalur estafet", akhirnya Devilito berkata jujur bertemu dokter Hanna, tak mungkin menutupinya, sementara mata istri meminta jawaban sesungguhnya dari tadi.


"Maksudnya..?", tanya sang istri masih dengan raut kesal. "Misalnya, kita ke Belanda dulu, trus istirahat dan lanjut lagi ke Turki misalnya, baru ke Italia, jadi ngga pake penerbangan langsung, gunanya untuk kesehatan kehamilan kamu biar ngga capek".


Lorena memperhatikan intens mata suaminya, mencari kejujuran disitu. "Hanya itu yang aku minta yank, kejujuran kamu!".


-


-

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2