
Di Kantin
"Bro, ada kabar dari Giring ?", tanya Devilito pada Marcel. Ia akhirnya pergi ke kantin karena sang istri tak suka Ia berduaan dengan Shania. "Belum, mungkin sampe nikah kali dia disana", Marcel berkata acuh, "tapi, kapan lo rencana kesana ?", lanjutnya kemudian.
"Gue liat kondisi Lorena dulu, sekalian gue mau kenalin sama papa Luigi dan mama, tapi keadaan Lorena begitu, lagi hamil muda, resiko", jawab Devilito selanjutnya memesan minuman juice.
Marcel celingak - celinguk melihat hamparan makanan yang berjejer di antara ruangan etalase kantin, melihat yang kira - kira bisa Ia pesan. Kehadiran mereka berdua di kantin itu cukup mengundang perhatian mahasiswa lain, karena penampilan mereka memang terlihat berbeda. Terutama tatapan para cewek - cewek yang kecantikan mereka sangat terkenal dari kampus lain. Sarangnya para bidadari.
Terlihat serombongan mahasiswi memasuki kantin, berjumlah lima orang. Sepertinya dari kalangan berduit, terlihat dari cara mereka duduk memisahkan diri dari mahasiswa lainnya. Cantik - cantik semua. Mengambil tempat duduk tepat di meja sebelah Marcel dan Devilito, dengan posisi berhadapan.
"Ehh, Vin..gue tadi kayaknya ngeliat Lorena deh, tapi kayaknya lagi 'melendung', jadi bener kayaknya dia udah nikah dong yah ?", ucap gadis itu sambil membentuk tanda bulatan di perut. "Serius lo Rah ?, berarti si Alvin sekarang patah hati dong ?, kayak di Robby haha", gadis yang bernama Vinny tertawa, mukanya berseri. "Dan, itu pertanda kesempatan elo sekarang dekatin Alvin cuy..", ucap gadis yang bernama Sarah kembali pada Vinny.
Vinny mengerlingkan matanya sejenak, "Tapi, gue lebih tertarik ke Frederick nek !, secara tampangnya indo", jawab Vinny dengan muka mengkhayal. Vinny memang terlihat paling cantik diantara mereka berlima.
"Tapi kan, Erick juga mengejar Lorena loh, tapi waktu itu dia di gebukin sama Robby, ehh..si Robby malah sekarang cacat, kasian juga yah ?", gadis yang bernama Susan ikut andil bicara. "Iya, si Robby isu santer nya di gebukin sama suaminya Lorena, padahal bokapnya Robby itu gangster loh, dan Robby juga bos moge", ucap Sarah menimpali omongan Susan. Dia memang di juluki ratu gosip oleh kalangan mahasiswa.
Ya ampun bini gue di gibahin...batin Devilito, Ia pura - pura cuek padahal kupingnya terbuka. Marcel menahan ketawanya.
Per-gosipan itu masih berlanjut.
"Gue heran, setiap cowok disini yang gue sukai, pasti sukanya sama Lorena, herman gue !, pake apa sih dia ?", Vinny dengan muka kesel mengepalkan tangannya. "Udah..udah ngapain sih pada gosipin orang ?, kayak ngga ada kerjaan aja", satu orang cewek bernama Mona angkat suara, dia gadis paling kalem di antara mereka berlima.
Vinny melototkan matanya pada Mona yang duduk di depannya, tapi Ia tertegun, melalui gerakan matanya yang melihat ke arah Mona, Ia menangkap sosok dua orang pria berpenampilan eksekutif di arah kanan. "Ssttt..", Ia menyenggol tangan Sarah yang duduk di sebelahnya, wajahnya memberi kode ke arah Devilito dan Marcel.
Sarah pun memalingkan wajah kearah yang dimaksud Vinny, "Gantengnyaaa...", ucapnya berbisik. "Udah mapan kalo yang ini mah". Yang lain pun ikut menoleh. Mereka pun melanjutkan gosip dengan bisik - bisik.
Devilito dan Marcel, bukannya tak tahu juga dengan suasana yang tiba - tiba bersuara pelan di hadapan mereka itu. Tapi mereka berdua mengambil sikap tak peduli. Hidangan yang di pesan sudah tersedia di depan mereka, Marcel dan Devilito dengan pesanan yang sama, mie ayam.
"Oh iya, gue pengen ngajak lo kemping ke pulau tempat gue terdampar sama Lorena dulu, tadi nya sekalian sama Giring, tapi dia belum tahu kapan baliknya dari Italia", Devilito berkata pelan pada Marcel, ucapan untuk mengalihkan rasa kepo nya terhadap rumpian para gadis itu, dia mencari topik pembicaraan lain.
__ADS_1
Marcel yang sedang mengaduk mie ayamnya terhenti, "serius lo ?, kapan ?".
"Gue belum tahu, itu impiannya Lorena, gue takut anak gue ngeces kalo ngga di turutin, sekalian ajak Dita", Devilito kemudian mengaduk mie ayam nya juga. "Ayo jadiin, gue sekalian pengen tau tempat sejarah lo berdua haha", antusias Marcel kemudian. "Tapi kalo bisa setelah elo nikah sama Dita, jadi aman..soalnya tempatnya bagus buat bulan madu", Devilito mengerling nakal.
Tanpa sadar, pembicaraan samar mereka jadi perhatian kelima gadis tadi. "Ya ampun maak, senyumnya", Vinny mengkhayal.
"Kak, saos nya udah belom, pinjam dong ?", Vinny mencoba agresif, Ia meminta saos pada Devilito, tampangnya dibuat se-imut mungkin.
"Loh, kan elo pesannya nasi goreng Vin ?, lagian pesanan elo belum jadi", Mona yang polos, mencoba mengingatkan. Alih - alih ingin menarik perhatian, justru Vinny dibuat malu oleh polosnya ucapan Mona. Ia menendang kaki Mona dan mendelik. "Diem b**o !".
Devilito tetap cuek, Ia cuma melirik sekilas dan kembali melanjutkan aktifitas makannya. Marcel menunjuk ke meja sebelah yang lebih dekat dari jangkauan Vinny, "Itu ada saos di sebelah kamu!", ucapnya santai.
Vinny tak menyerah, kepalang tanggung katanya dalam hati, Ia berdiri dan berpindah tempat di sebelah Mona, yang otomatis jadi bersebelahan dengan Devilito. "Kak, ehh..bapak dosen baru di kampus ini yah ?".
Devilito melirik dengan muka datar, lalu melanjutkan makannya, cuek.
"Kok diam aja sih kak ?, boleh kenalan ngga ?", Vinny mencoba makin agresif, rasa penasarannya tertantang.
Devilito kembali melirik Vinny, kali ini dengan tatapan tajam, Ia merasa terganggu.
Tiba - tiba, "Ehh Vinny, lo ngapain ?", Dita masuk dan duduk di hadapan Marcel. Vinny terpana, melihat Dita duduk cuek di hadapan Marcel, berarti itu siapanya ?
"Ngga ngapa-ngapain, gue pengen kenalan sama kakak ini", jawabnya tanpa dosa.
"Kamu udah selesai Dit?, Lorena mana ?", tanya Devilito pada Dita yang datang sendirian.
Temannya Vinny semua melongo, mereka sudah menangkap aura tidak bagus sekitar situ.
Hah..? Lorena..berarti ? , kembali Vinny membatin dengan tampang seperti orang bodoh disitu.
__ADS_1
"Kakak ini, suaminya Lorena, ngerti ?", Dita seperti membaca pikiran Vinny, kemudian mengeja kalimat penegasan pada gadis itu.
"Hahh..?", Vinny kehilangan kosa kata nya. Ia menyesal tak belajar ilmu sulap. Ingin menghilang rasanya dari situ.
Ternyata,
Lorena muncul dari arah pintu, sekilas tadi ingin segera masuk, tapi berhenti karena ada Vinny cs di situ, dan Ia tahu siapa Vinny ini, seteru nya di kampus, karena para lelaki selalu tertuju pada Lorena. Vinny iri hati, walau sebenarnya dia bukan gadis nakal, Ia gadis baik. Cuma, setiap cowok yang dia sukai selalu berbenturan dengan Lorena, seperti kali ini...
"Hai...sayang, lama nunggunya yah ?", Lorena tanpa peduli sekitar, mencium pipi suaminya, seolah tidak tahu apa yang terjadi disitu. "Ngga kok, ini makanannya belum habis", jawab Devilito bergeser tempat duduk memberi ruang.
Vinny yang melihat adegan itu, seperti merasa runtuh atap kantin ini. Ia segera berpindah kembali ke tempat duduknya semula, dibawah cekikikan teman-temannya.
Lorena lagi..lorena lagi , gumam Sarah pelan.
"Udah beres semua yank?, ada kendala?", tanya Devilito ketika Lorena mengambil alih sumpit di tangan suaminya itu, dan memakan mie ayam yang tersisa di mangkok. Lorena hanya menggelengkan kepala. "Kamu pesan lagi aja", Devilito bersiap memanggil tukang mie ayam, "Ngga usah, yang ini aja", jawab Lorena di bawah tatapan iri sekelilingnya.
Lima belas menit kemudian, Devilito dan Marcel membawa para wanitanya keluar dari situ, "Lo habis ini kemana ?", tanyanya mengarah pada Marcel, "Gue ada perlu, mau ke rumah Dita...", jawab Marcel tersenyum penuh arti.
"Ciee..mau lamaran ya ?", tanya Lorena pada Dita. "Bukan lamaran, tapi mau ke tahap lebih serius, kalo lamaran kan elo harus ikut", jawab Marcel diplomatis.
"Iyalah, kan keluarga lo gue doang".
Kemudian mereka berpisah setiba di parkiran.
-
-
Bersambung
__ADS_1