
"Kak..kita nyari makanan diluar yuk, aku lapar deh", Devilito yang masih berkutat depan laptop nya menoleh ke arah jam dinding. "Oh iya, hari udah mulai sore, yaudah yuk", katanya sambil berdiri mengambil kontak mobil.
Mereka berjalan beriringan keluar dari ruangan melewati meja Indri, Devilito berhenti sebentar, "Indri, jadwal saya buat besok kamu kirimin ke WA saya aja ya".
"Oh ini baru mau saya antarkan ke ruangan pak Dev" Indri mengangkat note kertas berisi schedule yang biasanya dia letakkan di meja bos nya itu.
"Saya ada perlu keluar, ngga sempat untuk baca", tanpa menunggu jawaban Indri, Devilito merangkul bahu istrinya berlalu pergi menuju lift.
"Baik, pak Dev.." jawabnya walaupun orangnya sudah tidak ada.
"Kamu mau makan apa..?" tanya Devilito setelah di dalam lift.
"Pengen makan ikan bakar deh, yang di Muara Angke".
"Yuk, aku juga pengen" Devilito masih merangkul bahu istrinya keluar dari lift dan melewati lobi. Ia tak peduli tatapan mata yang memperhatikannya. Bagi karyawannya, ini pemandangan yang langka, sebab selama mereka bekerja di perusahaan itu belum pernah sekalipun melihat bos dingin mereka menggandeng wanita.
***
Di dalam mobil, Lorena mendapat kabar dari Dita, kalau malam ini dia tidak jadi menginap, ada acara keluarga.
"Kamu kenapa?" tanya Devilito melihat istri nya senyum - senyum sendiri.
"Si Dita ngga jadi nginep, dia mau di kenalin sama dokter ama orang tua nya"
"Ooh, trus kenapa kamu senyum² ?".
"Yaa lucu aja, jaman sekarang jodoh di tangan orang tua haha" Ia ingat dirinya juga hampir bernasib sama dengan Dita, dijodohkan, seperti kakaknya.
"Oh ya, tadi di kampus gimana, lancar?", tanya Devilito mengalihkan pikiran istrinya.
Degg...Ia baru ingat sang dosen! apa gue tanyain sekarang yah?
"Di tanya malah bengong?..di kampus tadi gimana?" Devilito mengulangi pertanyaannya.
"Eeh..ngga apa², cuma ada sedikit masalah dengan Robby"
"Robby ?" Devilito sampai pintu tol lalu menempelkan kartu pada mesin. "Siapa Robby?" Ia kemudian mengulang pertanyaannya.
"Kayaknya aku pernah cerita deh..yang di jodohin sama aku itu loh, trus aku mau di culik di kapal, ingat ngga?".
"Hah..? lupa aku, owhh.. dia satu kampus sama kamu?" wajah Devilito berubah dingin. "Dia mengganggu kamu, hm?" lanjutnya kemudian.
"Udah aku atasi sih...kamu ngga usah pikirin" ujar Lorena, Ia melihat aura menyeramkan dari wajah sang suami muncul. Salah deh gue cerita begini...
Setelah menempuh perjalanan lebih kurang 45 menit, mereka sampai di kawasan pasar ikan Muara Angke yang di penuhi rumah makan seafood yang juara.
"Kita cari ikan seger sendiri atau yang langsung di sajikan restoran?" tanya Devilito begitu turun dari mobil.
"Yang langsung di sajikan aja, ribet kalo kita beli sendiri ikannya".
__ADS_1
Di kawasan ini berjajar rumah makan yang masing - masing mempunyai ciri khas tersendiri dalam meracik seafood yang enak. Ikan bakar, cumi, udang hingga kerang bisa diolah dengan paduan rasa yang gurih dan enak.
Tempatnya ramai, Devilito dan Lorena harus berputar - putar mencari tempat yang kosong. Sampai akhirnya singgah di sebuah rumah makan yang bisa di bilang paling bersih dengan dekorasi mewah.
"Nah, ini lumayan ngga banyak orang, kita masuk situ yuk" Lorena menarik tangan suaminya masuk.
"O mungkin harga nya agak mahal kali kak, jadi pengunjungnya sedikit..kamu mau pesan apa?"
"Aku udang lobster dengan bumbu saos tiram" ucap Devilito, matanya celingak celinguk mencari sesuatu.
"Aku mau ke toilet dulu ya" lalu berjalan meninggalkan Lorena.
"Halo Rena, kita ketemu lagi disini..." seseorang langsung duduk di samping Lorena, di tempat duduk yang di tinggalkan Devilito.
"Ckk..Robby?..lo jangan duduk disitu!". Lorena protes karna itu tempat duduk suaminya. Ia menengok ke arah Devilito pergi tadi, berharap suaminya tidak melihat. Kacau urusan nanti ini mah! katanya dalam hati.
Tetapi Robby tetap memaksa duduk disitu, Ia melemparkan senyuman yang paling manis menurutnya. Lorena berdiri, Ia tidak ingin berada disitu lagi.
"Eh, kamu mau kemana??, kan mau makan, aku temani disini" Robby melirik nakal, tangannya mencekal lengan Lorena memaksa untuk duduk.
"Selera gue udah ilang ngeliat lo, lepasin tangan gue !.." Lorena menarik tangan nya dari cekalan Robby. Lalu berusaha lari dari situ, tiba - tiba Ia menubruk seseorang. Suami gue..!
"Ehhm..ada apa ini?" Devilito bertanya sopan pada Robby, matanya menyipit menatap.
"Bukan urusan lo..! lepasin calon bini gue!" tunjuknya mengarah ke Lorena yang di rangkul Devilito.
"Yakin ini calon bini lo..hm?" Devilito menghampiri Robby, mata elang nya menatap mematikan. Robby agak terkesiap melihat tatapan itu.
Pengunjung lain pada ketakutan, sepertinya akan ada sesuatu yang akan terjadi.
Lorena tidak mau ada keributan disitu, Ia menarik lengan suaminya pergi. "Ayo kak, jangan di ladenin, orang gila itu mah". tangan nya menarik suaminya yang hanya diam senyum sambil manggut² ke arah Robby.
"Oh itu calon kakak ipar gue yah?, halo kakak ipar" Robby meledek melambaikan tangannya pada Devilito.
"Itu si Robby kan?, nanti dia akan ganggu kamu terus loh!" tanya Devilito setelah sampai parkiran di tarik Lorena.
"Iya, udah biarin ngga usah diladeni aku bilang, ihh.."
"Yah batal kan makannya .?" sahut Devilito ketika sudah dalam mobil. "Nanti aja, di tempat lain" jawab Lorena kesel. kesal bukan sama suaminya, tapi memang ngga jadi makan, terutama karna Robby.
Devilito seperti mencari-cari sesuatu di kantong celananya,
"Yah, dompet aku ketinggalan di toilet, kamu tunggu dulu disini, jangan turun ya"
"Hah..? kok bisa ketinggalan?, jangan² di kantor?" Lorena ikut mencari di seputaran jok mobil, mungkin selip atau jatuh pas mereka turun.
"Aku liat di toilet dulu deh, keburu di ambil orang" katanya langsung turun dari mobil.
"Jangan lama - lama!" Lorena setengah berteriak dari kaca, dilihat sang suami berlari kecil kembali ke arah tempat tadi.
__ADS_1
Di dalam restoran, Robby dan ketiga temannya sedang bersiap makan sambil tertawa-tawa. Tiba - tiba seorang anak kecil datang berbisik ke telinga Robby. Mereka terhenti tertawa.
"Om, ada cewek memanggil om dekat toilet belakang, katanya cewek yang tadi" anak kecil itu lalu menadahkan tangan meminta upah.
"Wuihh kecil² udah pinter nyari duit ya" Robby kegirangan, Ia memberi uang 50 ribuan. Setelah bilang terima kasih, anak kecil itu berlari keluar, dapat double.
"Ada apa by?" tanya kawannya yang agak besar posturnya.
"Rena, cewek yang tadi, pengen ngomong ama gue dekat toilet"
"Hah..?, kok dekat toilet, kenapa ngga tempat lain?, disitu kan sepi woy.. hati² lo!" diliatnya Robby tidak mendengar pertanyaannya.
Robby celingak celinguk di samping toilet, setelah yang di cari tidak ada, Ia masuk ke dalam..
"Hai bro..." terdengar suara dari samping, tiba² sebuah hantaman bogem mengenai telak di rahangnya. Robby tidak siap sama sekali. Dia tersungkur di lantai, kepala pusing, belum sempat menarik nafas, lehernya pun sudah di tarik berdiri dan tubuhnya di dorong ke tembok dengan leher di cekik.
Bugg!...bugg! berlanjut, dua hantaman keras pukulan tepat di ulu hatinya. Perut Robby langsung mual, Ia muntah bercampur darah. Ia merasa tubuhnya melayang, tubuhnya di banting kembali ke lantai. Setelah itu Ia tidak ingat apa - apa lagi. Pingsan.
Orang itu, tadinya ingin mematikan, tapi dia pikir Ah ini cuma cacing ngga perlu dibunuh!
Lorena sedang menggerutu dalam mobil, menunggu suaminya sudah 20 menitan belum kembali, Ia ingin menyusul, tapi takut berselisih jalan dan bisa saling mencari nantinya.
Itu dia..Devilito sedang berlari - lari kecil dan masuk ke dalam mobil.
"Kok lama?, ketemu dompetnya..?" selisik Lorena kemudian.
"Ada nih, untung belum di ambil orang!"
"Kok baju kamu kusut dan basah sih kak?", katanya sambil mengibas-ngibaskan kemeja suaminya membersihkan.
"Ihh..kak, ini keringat bukan air ya?"
"Kamu jangan panggil aku kakak ah..nanti orang salah tanggap, kayak si Robby tadi tuh..ganti panggilannya"
"Xixixi...yaa, apa dong?..uwuuh sayang nya aku ngga mau di panggil kak lagii" Lorena mencubit pipi suaminya gemes.
"Nah..itu !, panggil aku 'sayang' mulai dari sekarang"
"Xixixi..."
"Jangan ketawa.."
"Iya sayang..haha"
"Kita makan apa nih..?"
"Kita makan pecel lele pinggir jalan aja yuk, mau ngga..?"
"Yaudah , hayuk" Devilito kemudian tancap gas meninggalkan kawasan Muara Angke.
__ADS_1
Bersambung..