
Ketika titah sang ratu sudah turun maka tiada satupun yang dapat menolaknya. Mungkin ini benar adanya.
Setelah 2 hari dirawat di rumah sakit, mami Lisa memboyong Dewi menuju kediaman mewahnya. Semua barang Dewi yang ada di kosannya sudah dipindahkan mami Lisa dibantu oleh orang suruhannya.
Sekali lagi, Dewi merasa sangat bersyukur akan apa yang terjadi dihidupnya saat ini. Diasuh dan diangkat oleh pasangan suami istri yang kaya raya, yang tak memandang rendah dirinya.
Tak tanggung-tanggung papi Arya langsung meminta pengacaranya untuk memasukkan nama Dewi di dalam daftar penerima warisannya. Tentu saja Dewi menolak ide itu awalnya. Dia merasa tidak pantas akan pemberian dari papi Arya. Setelah didesak dan diberi pengertian barulah Dewi bisa menerimanya.
Bagaimana tanggapan ibu Ratna dan ayah Bambang? Tentu mereka merasa sangat senang. Kedua anak perempuannya diterima dan disayang oleh keluarga kaya itu.
Terlebih untuk Dewi. Diusia remaja harus kehilangan kedua orangtuanya secara bersamaan. Bahkan ia tak bisa melihat bahkan ikut untuk mengantarkan kedua orangtua ke tempat peristirahatan terakhirnya. Dewi yang kala itu sedang menjalankan program pertukaran pelajar ke Jerman hanya bisa mengikuti semua prosesi pemakaman via ponsel. Walaupun dia tak ikut hadir disana, tapi dia tahu bahwa doa anak sholeh dan sholeha insyaAllah sampai dan menjadi amal untuk kedua orangtuanya.
Lanjut ke rumah mewah keluarga papi Arya. Kamar Dewi berada di lantai 2. Dewi sangat terpesona oleh desain kamarnya itu. Terdapat rak buku yang cukup tinggi yang bisa menampung semua koleksi-koleksi bukunya. Pas sesuai dengan impiannya selama ini.
“Mami liat buku-buku kamu banyak banget, ngalahin koleksinya tas Mami. Makanya Mami minta papi buat rak buku yang gede banget kayak gini,”kata mami Lisa.
Dewi tak henti-hentinya berdecak kagum melihat kamarnya itu. Kamar yang ukurannya mungkin bisa sebesar rumah yang dia tempati dulu bersama orangtuanya.
Dewi melanjutkan room tournya. Kali ini dia masuk ke dalam kamar mandi. Kamar mandinya ini bisa dikatakan lebih luas dibandingkan dengan kamar kosannya dulu. Didalamnya ada wastafel, kloset duduk, ada juga shower, dan tak ketinggalan ada bathup juga didalamnya.
Setelah melihat kamar mandi, kemudian dia melihat sebuah pintu yang entah tembus kemana. Dibukanya pintu tersebut,dan sekali lagi dia diperlihatkan dengan ruangan walk in closet. Sungguh tidak habis-habis Dewi bersyukur dari semenjak menginjakkan kaki di rumah ini.
“Balasan selama ini kerja lembur bagaikan kuda kali ya,” batin Dewi.
Dewi merasa ruangan walk in closet ini sepertinya terlalu besar untuk dirinya.
“Mi ini kayaknya besar banget deh. Banyak banget juga lemari-lemarinya. Mau diisi apaan Mi?” tanya Dewi.
“Perempuan kan biasanya gitu. Barang-barangnya banyak makanya perlu lemari yang banyak juga,” jawab mami Lisa.
*“*Perempuan pada umumnya Mi. Kalau Dewi kan bukan perempuan pada umumnya. Tapi terimakasih banyak ya Mi. Sepertinya ini terlalu berlebihan buat Dewi. But once again thankyou so much,” kata Dewi sambil memeluk erat ibu angkatnya itu.
“Sama-sama sayang. Semoga kamu betah ya tinggal di rumah ini. Rumah ini juga rumah kamu.”
————
Hari yang dinanti pun telah tiba. Tepat dihari ini Reza dan Rena akan melangsungkan pernikahan mereka. Akad nikah diadakan di masjid dekat rumah Rena di Bandung, sedangkan untuk resepsi akan diselenggarakan di salah satu hotel terbesar dan termewah di kota itu.
Resepsi diadakan dua sesi. Sesi pertama yaitu siang hari akan dihadiri oleh undangandari pihak perempuan. Sedangkan resepsi pada malam hari akan dihadiri oleh undangan dari pihak laki-laki.
Hari itu Reza terlihat sangat tampan dengan balutan jas berwarna hitam, sedangkan Rena terlihat begitu cantik dengan gaun berwarna gold dan crown mewah yang menghiasi kepalanya. Sungguh mereka bagaikan raja dan ratu.
Dewi pun tak kalah mempesona malam itu. Gadis itu menggunakan dress berwarna gold dan ada bunga-bunga kecil dipundak sebelah kirinya sampai bagian dada. Aksen tulle yang panjang memberikan ilusi dress yang tamoak ramping. Hijab yang digunakannya pun berwarna senada dengan gaunnya.
__ADS_1
Pada resepsi malam itu juga Dewi menyiapkan sebuah lagu untuk dinyanyikannya.
*“*Okeh Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat malam dan selamat datang untuk semua tamu undangan. Sebelumnya izinkanlah saya untuk take over sejenak panggung dan mic ini dari penyanyi ibu kota kita, Mas Afgan. Maaf ya Mas gantian sejenak. Saya pun pengen eksis juga hehehehe. Tenang setelah lagu ini kita berdua duet ya. Jangan takut jangan risau, suara saya tidak jauh berbeda dengan suara Raisa. Gak percaya,sebentar lagi saya buktikan.
Selanjutnya saya juga ingin mengucapkan selamat kepada kedua mempelai, Kak Reza dan Kak Rena. Doa saya semoga pernikahan ini membawa berkah untuk semuanya, dan semoga menjadi keluarga yang sakinah,mawaddah dan warahmah. Aamiin.
Terlihat ya wajah kedua mempelai mulai resah melihat saya disini. Hehehehe tenang Kak, Dewi tidak akan menghancurkan panggung ini. Pokoknya kalau memukau, Kak Reza uang jajan jangan lupa double-in ya bulan ini ya.”
Reza yang berada di atas pelaminan tampak mengacungkan jempolnya tanda setuju.
“Oke anggota drumband SD Suka-Suka sudah siap semuanya. Baik mari kita robohkan panggung ini.
Lagu ini saya persembahkan bukan untuk kedua mempelai. Melainkan untuk para pria dan wanita yang mungkin pernah menjadi masa lalu mereka, ataupun sedang menghayal ingin menjadi masa depan mereka. Saya cuma bilang jangan mimpi ya, perbanyak sabar juga. Karena didepan kita inilah pemenangnya,” ucap Dewi panjang lebar.
Musik mulai mengalun indah, dan Dewi pun mulai bernyanyi..
Lelahmu jadi lelahku juga
Bahagiamu bahagiaku pasti
Berbagi takdir kita selalu
Kecuali tiap kau jatuh hati
Kali ini hampir habis dayaku
Setia hadir setiap hari
Tak tega biarkan kau sendiri
Meski seringkali kau malah asyik sendiri
Karena kau tak lihat
Terkadang malaikat tak bersayap
Tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu
Siapa yang jadi juaranya
Hampamu tak kan hilang semalam
__ADS_1
Oleh pacar impian tetapi kesempatan
Untukku yang mungkin tak sempurna
Tapi siap untuk diuji
Ku percaya diri cintakulah yang sejati
Namun tak kau lihat
Terkadang malaikat tak bersayap
Tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu
Reza yang jadi juaranya
Kau selalu meminta terus kutemani
Dan kau slalu bercanda andai wajahku diganti
Melarangku pergi karena tak sanggup sendiri
Namun tak kau lihat
Terkadang malaikat tak bersayap
Tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu
Rena kan jadi juaranya
Terkadang malaikat tak bersayap
Tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu
__ADS_1
Mereka kan jadi juaranya