
Makan malam kali ini terasa berbeda bagi Dewi dan Bik Asih karena adanya anggota baru di rumah mereka. Bik Asih yang memang sejak awal makan bersama Dewi di meja makan merasa sungkan karena adanya Reza sehingga meminta izin untuk makan di dapur saja.
“Disini aja Bik makannya, kan emang biasa disini juga temanin Dewi,” kata Dewi.
“Ngga apa-apa Bik Asih, Bik Asih ngga perlu sungkan sama saya. Kalau cuma kami berdua disini saya ngerasa seperti lagi makan di kuburan,” ucap Reza yang langsung mendapatkan tatapan tajam dan wajah masam dari sang istri.
“Tuh Bik, belum apa-apa udah di pelototin saya,” ledek Reza.
“Tuan Reza juga, makan sama istri kok dibilang makan di kuburan. Gimana ngga marah Non Dewi.”
“Suasananya Bik, hening, dingin, menegangkan.”
“Kalau ngga suka silahkan pergi. Ngga ada yang ngelarang juga,” ketus Dewi.
“Aduh sayang, jangan gitu dong. Ini diam kok,” jawab Reza yang takut diusir oleh Dewi.
Dewi sebenarnya ingin tertawa melihat tingkah Reza, namun masih ia tahan sikap cueknya untuk melihat seberapa besar usaha Reza untuk membawanya pulang.
Usai makan, Dewi kemudian duduk di balkon lantai atas sambil membaca buku dengan ditemani oleh segelas teh chamomile hangat. Tak lama Reza bergabung sambil membawa laptopnya dan duduk di kursi sebelah Dewi.
“Wi, coba lihat ini dulu,” ucap Reza sambil menyerahkan laptopnya.
“Apaan ini?” tanya Dewi yang menerima laptop Reza.
“Coba kamu pilih.”
“Ini apa, Kak?”
“Calon rumah kita. Jadi cepat kamu pilih mau rumah yang mana.” Reza menggeserkan kursinya agar mendekat ke Dewi.
Dewi memperhatikan tiap slide gambar rumah yang ada di laptopnya Reza.
“Kalau rumah yang ini letaknya ditengah-tengah antara rumah sakit sama kantor, terdiri dari 2 lantai. Rumahnya luas, halamannya juga luas bisa buat abang sama kamu main basket,” kata Reza yang menunjukkan gambar rumah yang pertama.
“Kalau yang ini jaraknya lebih dekat ke kantor, kalau ke rumah sakit bisa 1 sampai 1,5 jam. Rumahnya 2 lantai, halamannya juga luas. Tapi aku kurang suka karena terlalu jauh nanti kamu ke rumah sakitnya,” lanjut Reza yang menunjukkan gambar rumah yang kedua.
“Emang Dewi masih boleh kerja?” tanya Dewi. Sejujurnya ia masih sangat ingin bekerja, tetapi jika seandainya Reza melarangnya untuk kembali ke rumah sakit ia akan terima.
“Boleh, asal kamu pandai mengatur waktunya. Aku ngga mungkin ngekang kamu karena aku tahu dari dulu profesi dokter ini sangat kamu impikan. Kalau aku boleh kasih saran, untuk yang di kampus kamu lepasin aja biar kamunya juga ngga kecapean,” jawab Reza.
Dewi mengangguk tanda setuju.
__ADS_1
“Eh tapi kenapa harus beli rumah baru? Kenapa ngga dengan rumah yang sekarang?” tanya Dewi lagi.
“Seperti yang aku bilang dari awal, aku mau memulai dari awal dengan kamu. Di rumah itu ada kenangan aku dan Rena. Aku ngga mau dikemudian hari kamu merasa terbebani atau merasa tidak enak karena tinggal di rumah itu. Jujur aku ngga mungkin menghilangkan Rena sepenuhnya dalam hati aku, karena bagaimanapun dia pernah menjadi bagian hidup aku dan juga ibu dari anak-anak. Tapi sekarang aku ingin melanjutkan hidup aku ke depan bersama kamu, Andra, Ara dan anak-anak kita kelak,” ucap Reza sambil menatap dalam ke mata Dewi.
Rasa hangat menjalar di hati Dewi. Meleyot adek Bang, batinnya.
Dewi berdehem untuk menghilangkan rasa malunya.
“Lalu rumah yang ketiga?” tanya Dewi untuk mengalihkan perhatian Reza yang sejak tadi masih saja menatapnya.
Reza tahu kalau istrinya ini sedang malu karena tatapannya tadi. Tidak ingin membuat mood Dewi berubah sehingga memutuskan untuk pura-pura tidak tahu dan melanjutkan penjelasannya mengenai calon rumah mereka.
“Nah yang terakhir rumahnya besar tapi halaman kurang luas. Letaknya juga ditengah-tengah antara kantor dan rumah sakit.”
Dewi tampak mengangguk anggukkan kepalanya.
“Jadi kamu pilih yang mana?” tanya Reza.
“Kalau mau lihat langsung boleh ngga?”
“Apa sih yang ngga boleh buat kamu.”
“Lebay. Udah ah pengen tidur.”
“Mau ngapain?” tanya Dewi.
“Ya mau masuklah, tidur.”
“Ngapain ke kamar Dewi. Sana tidur di kamar Kakak.”
“Dingin Wi,” rengek Reza dengan muka memelas.
“Ada selimut kok. Udah Kak Reza sana, Dewi ngantuk mau tidur.” Dewi membuka pintu kamarnya dan memandang Reza yang menghalanginya untuk menutup pintu.
“Mau apa lagi sih Kak?” tanya Dewi yang mulai kesal.
“Kiss dulu dong.”
“Ngga ada cerita. Udah ah sana Kak Rezanya.”
Tiba-tiba Reza mendorong pintu sedikit keras sehingga ia bisa masuk ke dalam. Di raihnya tengkuk Dewi dan dikecupnya bibir lembut sang istri.
__ADS_1
Cup
“Good night my wife,” bisik Reza di telinga Dewi.
Dewi yang kaget hanya bisa diam dan melongo ketika bibirnya di cium oleh Reza. Barulah ketika sadar ia langsung berteriak mengejar Reza yang ternyata sudah masuk ke dalam kamarnya yang berada di sebelah kamar Dewi.
“Kak Reza!”
——
Keesokan paginya Reza keluar dari kamar dan langsung menuju meja makan. Kemarin setelah drama sebelum tidur, Reza kembali ke luar kamar dan meminta Dewi untuk membuatkan sarapan sandwich tuna kesukaannya. Sungguh tak sabar rasanya bagi Reza untuk kembali mencicipi sandwich buatan Dewi yang sudah sangat lama tak ia rasakan.
Tiba di meja makan, wajah semangat yang daritadi dipancarkan oleh wajah Reza berubah menjadi kelam karena yang terhidang di meja makan bukannya sandwich tuna, melainkan nasi goreng, makanan lezat kedua di dunia.
Reza duduk di kursinya tanpa bicara. Dewi yang melihatnya berusaha menahan tawanya agar tidak keluar karena melihat wajah Reza seperti anak kecil yang tidak diperbolehkan makan coklat oleh orangtuanya.
“Ikan tunanya ngga ada, digondol kucing oren,” kata Dewi memecah keheningan.
“Hmm.” Mode asli Reza telah aktif kembali.
“Mau dimakan ngga nasi gorengnya?” tanya Dewi lagi.
“Hmm.”
Dewi yang tidak kuat lagi menahan ketawanya, akhirnya tertawa keras berbarengan dengan Bik Asih.
“Kenapa ketawa?”
“Kak Reza lucu.” Dewi berdiri dan mengambil sesuatu dari dapur.
“Ini pesanannya Papa Reza,” kata Dewi sambil meletakkan 2 potong sandwich tuna kesukaannya Reza.
“Udah senang, kan? Udah ngga usah masam lagi mukanya, jelek tau,” goda Dewi.
“Terimakasih ya, Bunda.”
Dewi hanya menunduk malu sambil terus memakan sarapannya.
“Lama-lama lemah juga ni jantung,” batin Dewi.
——
__ADS_1
Minta like dan komennya dong biar makin semangat nulisnya. Saranghae yeorobun 😍😍
Semoga lancar puasanya ya 🤲🏻👍👍