Izinkan Aku Untuk Bahagia

Izinkan Aku Untuk Bahagia
Bab 91


__ADS_3

"Oh iya, Dewi lupa."


"Lupa apa?" tanya Reza mengernyitkan dahinya.


"Lupa nyampein kalau aku diundang sama Autonomous University of Barcelona sebagai pembicara pada konferensi dokter saraf." Dewi sengaja berhenti sejenak untuk melihat perubahan pada wajah Reza. Ia sangat berharap supaya diizinkan dalam kegiatan ini. Namun ia sadar bahwa kondisinya yang tengah hamil bisa saja membuat suaminya tidak mengizinkannya.


Melihat wajah Reza yang biasa saja, akhirnya Dewi melanjutkan bicaranya. "Dewi boleh ikutan, ngga?" tanyanya pelan.


"Berangkat kapan?" tanya Reza.


"Bulan depan."


"Kalau bulan depan berarti kamu udah 4 bulanan bukan?"


"Iya, udah masuk trimester kedua. Sudah aman dan sudah kuat. Bulan depan juga anak-anak udah mulai libur sekolah. Jadi kita semua bisa sekalian pergi berlibur. Nanti kita juga bisa mampir ke Iseltwald sebentar, sekalian Dewi belum nyerahin kunci ke uncle Alex dan pamit yang benar ke nenek dan ibunya Briggita," jelas Dewi.


Reza masih diam saja, ia tampak memikirkan baik buruknya jika mengizinkan Dewi pergi kali ini.


Menjadi pembicara dalam sebuah komunitas, apalagi ini tingkat internasional pastilah susah untuk datang dua kali. Reza sadar bahwa wanita yang ia nikahi ini adalah seorang wanita yang cerdas dan berbakat di bidangnya.


Mungkin bagi orang-orang yang hanya berkecimpung di dunia bisnis tidak begitu menengalnya, namun bagi para dokter di dunia, nama Dewi begitu menggaung. Seorang dokter wanita muda, yang berbakat dan merupakan residen teladan di rumah sakit tempatnya bekerja dulu ketika di Korea. Bukankah masing-masing sudah punya porsinya?


"Kaaak," rengek Dewi yang membangunkan Reza dari lamunannya.


"Boleh, kan?"


Reza mengelus pelan kepala Dewi. "Kalau kamu merasa oke untuk fisik kamu, aku izinkan."


"Yeees. Makasih, Kak." Dewi yang senang berdiri dan langsung berhambur dalam pelukan Reza.


"Beneran boleh, ni?"


"Hmmm."


"Seriusan?" Dewi menggoyang-goyangkan lengan Reza tanda tak percaya.


"Iya."


"Beneran?"


"Sekali lagi nanya aku batalin," ancam Reza.


"Eh enak aja. Laki-laki kalau udah sekali terucap ngga boleh ditarik lagi."


"Kamu sih, cerewet banget," gerutu Reza.


"Hehehe kan, hanya ingin memastikan," jawab Dewi sambil cengengesan.


"Tapi ada syarat lagi?"


"Apa lagi?"

__ADS_1


"Ntar malam 2 kali ya," kata Reza sambil mengerlingkan mata nakal pada Dewi.


Sejak kehamilan Dewi, Reza berupaya untuk tidak terlalu sering dalam mengambil jatah karena ia khawatir pada kondisi kehamilan Dewi mengingat Dewi yang pernah keguguran. Walau Dewi sudah berkali-kali menjelaskan tidak ada masalah dalam kehamilannya kali ini, namun Reza tidak diam begitu saja. Ia begitu menjaga kehamilan Dewi kali ini, tidak mau hal-hal yang tidak ia inginkan terjadi kembali.


"Sakarepmu Mas. Asal kan kuat," jawab Dewi. Ia langsung melepaskan pegangan tangannya pada lengan Reza.


Reza mengambil lagi tangan Dewi, membawa Dewi untuk duduk dipinggiran meja yang ada di ruangan itu.


"Lho kenapa?" tanya Dewi heran.


"Sekalinya disini, yuk," ucap Reza yang langsung mencium bibir Dewi.


"HHmmmpt." Dewi berusaha memberontak dengan mendorong pelan dada Reza namun percuma saja. Reza terus saja melanjutkan aksinya yang akhirnya membuat Dewi ikut hanyut ke dalamnya.


Reza masih terus mencecap bibir Dewi tanpa henti sampai ketika sesuatu yang datang mengagetkannya.


"Pesanannya udah datang belum?" kata Candra yang tiba-tiba membuka pintu ruang praktik Dewi. Sontak saja pintu yang di buka oleh Candra membuat dua orang manusianya yang sedang saling menyecap itu saling melepaskan secara mendadak.


"Gilak kalian, mau nganu jangan disini," kata Candra dengan wajah tak senangnya. Untung saja ia masuk, kalau tidak mungkin sudah terjadi gempa lokal di ruangan itu.


"Kalau masuk ke ruangan orang juga ketuk dulu pintunya," jawab Reza dingin.


"Maaf ini ya Pak, ini masih tempat umum. Lagipula seharusnya kalian terimakasih sama gue, sebelum kalian menjadi tontonan gratis lebih auwooow sama orang maintenance," kata Candra sambil menunjuk CCTV yang ada di atas pojok sebelah kiri.


Dewi yang sadar dan baru saja teringat langsung menundukkan kepalanya mengingat betapa bodohnya ia yang melupakan hal itu. Ia juga merutuko dirinya yang dengan mudahnya terbuai dengan sang suami. Hampir saja ia dan Reza melakukan kebodohan dan menjadi berita besar dan heboh di rumah sakit.


"Semoga orang maintenance nya lagi pada makan siang semuanya," batin Dewi.


Dewi mengangkat wajahnya dan menatap tajam pada Candra.


"Udah jangan digangguin bini gue. Kita mau makan di luar," jawab Reza.


"Eh ngga bisa gitu, terus makanan yang udah terlanjur di pesan gimana?"


"Punya Dewi bisa lo yang makan."


"Wait, what? Mana bisa gue makan sebanyak itu," tolak Candra.


"Emang seberapa banyak makanan dia?"


"Asal lo tau ya bang, bini elu mesan ayam rica-rica 5 porsi buat dia sendiri."


Reza yang kaget langsung menatap istrinya yang kini sedang senyum malu-malu.


"Kamu pesan 5?" tanya Reza tak percaya.


"Tadinya pengen banget. Kita makan sama-sama mereka aja, ya. Mubadzir, Kak. Lagian ada dokter Jimmy juga kok ikutan gabung makan siang sama kita," kata Dewi.


"Ngapain Jimmy ikutan kalian?"


"Udah udah, sekalian jalan aja jawabnya. Ini Tania udah chat gue, mereka udah di ruangan elo katanya," kata Candra. Mereka bertiga akhirnya berjalan bersama menuju ruangan Dewi yang menjadi basecamp kelompok mereka.

__ADS_1


"Sering Jimmy gabung sama kalian? Yang lain emang ngga masalah?" tanya Reza ketika mereka sudah berada dalam lift. Kebetulan saat itu lift hanya diisi dengan mereka bertiga.


"Dokter Jimmy emang safari makan siang. Setiap Genk dia kunjungi," tutur Dewi.


"Ha?"


"Ngapain lo Bang, ha ho ha ho," ucap Candra.


Ting


Pintu lift terbuka dan tibalah mereka dilantai yang ingin dituju, yakni lantai 5. Mereka berjalan sedikit karena ruangan Dewi memang tak terlalu jauh.


Ceklek


"Kalian kemana aja sih? Lama amat?" tanya Jimmy yang menoleh ke arah pintu dimana Candra baru saja membuka pintu ruangan Dewi.


"Noh salahin laki binik, mesum di tempat yang tidak seharusnya," jelas Candra.


"Ngapain kalian di rumah sakit gue?" tanya Jimmy dengan pandangan menuntut pada Reza.


"Kita ngga ngapa-ngapain. Bawahan lo aja yang heboh sendiri," ucap Reza santai.


"Dokter bisa lihat sendiri di cctv, ngapain dua manusia ini."


"Udah ngapain sih ribut mulu. Makan," kata Dewi menengahi,


"Lo ngapain gabung makan siang sama mereka, Jim?" tanya Reza. "Kata mereka lo safari. Safari apaan?"


"Gue itu sengaja biar gue bisa dekat dengan orang-orang yang kerja sama gue. Gue juga jadinya tau apa aja nih kejadian ataupun harapan mereka dengan rumah sakit ini Gue bedo sama lo yang ngga mau dengar keluh kesah pegawai lo."


"Alasam lo aja. BIlang aja ada yang lo incar, kan? Biar ngga ketara kali lo jadi bikin semacam safari," ejek Reza yang memang tau segala modus yang dilakuakan oleh temannya sedari masa sekolah dulu.


"Nah, itu lo tau," ucap Jimmy tanpa dosa dan diiringi tawanya.


"Nah ini makan dulu," kata Tania yang ikut bergabung bersama dengan Dewi. 


"Nikah lo minggu depan gimana?" tanya Jimmy disela-sela makan mereka.


"Batal," jawab Reza.


"Apa?" kompak Jimmy, Tania, Candra dan Leo.


"Ceritanya panjang. Yang jelas pak Wira batalin nikahnya gue sama anaknya," ucap Reza.


"Alhamdulillah beb, ucap Tania yang langsung memeluk sahabatnya itu.


"Doaian rumah tangga gue, ya supaya bahagia selalu."


"Aamiin," ucap mereka kompak.


______

__ADS_1


__ADS_2