
Dewi kini berdiri di depan pintu kamar perawatan yang bertuliskan angka 714. Di dalamnya ada Rena yang ia rasa sudah bangun dari tidurnya. Ia ragu untuk masuk atau tidak. Selain itu ia juga bingung bagaimana cara menjelaskannya.
Ditengah kebingungannya, tampak Candra berjalan menghampiri Dewi. Sepertinya ia sedang melakukan visit di lantai itu.
“Woy … ngelamun aja,” kata Candra sambil menepuk bahu Dewi.
Dewi yang kaget langsung menoleh ke arah Candra yang berada disebelah kanannya.
“Kenapa ngga masuk? Siapa di dalam?” tanya Candra beruntun.
“Kak Rena di dalam,” lirih Dewi.
“Gue udah dengar tadi dari Kiki. Kak Reza udah lo kabari?” tanya Candra lagi.
Dewi hanya menggelengkan kepalanya.
“Lo harus kasih tau mereka Wi. Mereka harus tau keadaan Kak Rena yang sebenarnya, tanpa harus ada yang lo tutup-tutupi.”
“Gue ngerasa ngga berguna Can. Gue ngga bisa jaga keluarga gue.”
“Dewi Anggraini, sakit itu datang gak pandang bulu. Mau dia itu anak orang kaya, pejabat, artis, anak pemulung, anak dokter sekalipun. Kalau takdirnya dia harus sakit, ya sakit. Lo gak bisa nyalahin diri lo sendiri. Gue juga yakin kalau lo bisa nyembuhin Kak Rena. Lo harus tetap semangat Wi,” kata Candra sambil menepuk pundak Dewi.
“Thanks Can.”
“Yaudah buruan masuk. Apa perlu gue yang ketok nih pintu?”
“Gak perlu. Lo lanjut aja. Mau visit kan?”
“Iya. Yaudah gue lanjut dulu ya.”
Candra pun meninggalkan Dewi yang masih berdiri di depan pintu.
Bismillahirrahmanirrahim
Dibukanya pelan-pelan pintu yang berwarna coklat itu. Tampang di ranjang Rena yang sudah bangun duduk bersender di kepala ranjang pasien, sedangkan Reza duduk disebelahnya dengan tangan yang tak lepas dari genggaman Rena.
“Dewii,” panggil Rena.
Dewi melangkahkan kakinya menuju Rena dan berdiri di sisi Rena satu lagi.
“Hasilnya gimana Wi?” tanya Reza sambil menatap Dewi.
Dewi yang mendapat pertanyaan itu hanya menghela nafas panjang sambil memejamkan matanya. Mau tidak mau dia memang harus mengatakan yang sesungguhnya.
“Wi,” panggil Rena dengan nada lemah. Digenggamnya tangan sang adik seolah mengatakan tidak apa-apa katakan saja.
Sebelum berbicara, Dewi menghirup nafas panjang sekali lagi.
“Hasil CT Scan menunjukkan adanya benjolan di kepala Kak Rena, sehingga harus dilakukan tes MRI. Ada kemungkinan tumor ganas, jadi harus diperiksa lewat biopsi,” jelas Dewi.
Reza yang mendengar penjelasan Dewi langsung memeluk istrinya erat. Dia menangis sambil mengucapkan maaf maaf berulang kali.
“Posisi tumor tidak bagus, jadi akan sulit untuk dilakukan operasi. Kakak pasti merasakan sakit kepala yang luar biasa sejak lama. Bagaimana Kakak mampu menahannya selama ini?” tanya Dewi yang air matanya juga sudah jatuh tak bisa ditahannya.
__ADS_1
“Kenapa kamu ngga bilang Rena kalau selama ini kamu merasakan sakit?” tanya Reza yang masih memeluk erat istrinya.
“Rena gak mau Mas jadi risau. Apalagi Mas juga sedang sibuk-sibuknya sekarang,” kata Rena sambil menepuk pelan punggung suaminya.
“Maafin Mas ya Ren karena kurang memperhatikan kamu,” kata Reza yang telah melepaskan pelukannya. Ditangkupnya kedua pipi Rena dan diciumnya dalam kening istrinya itu.
“Apa Rena akan baik-baik saja jika dioperasi Wi?” tanya Reza sambil kembali menatap Dewi.
Dewi menghapus air matanya terlebih dahulu sebelum menjawab.
“Bukan operasi, melainkan kemoterapi atau radioterapi kak. Sebelumnya butuh hasil biopsi untuk memastikan diagnosisnya. Jika dugaan Dewi benar, kakak mengalami glioma. Pada glioma stadium awal peluang bertahannya tinggi, meski diobati dengan radioterapi. Tetapi bila sudah mencapai stadium akhir, kakak harus menjalani kemoterapi dan radioterapi, dengan kemungkinan kambuh tinggi, dan-“
“Dan apa?” tanya Reza tak sabar.
“Kemungkinan sehat rendah,” jawab Dewi pelan sambil menundukkan kepalanya.
Lagi-lagi tangis Reza tumpah. Dipeluk eratnya sang istri tercinta. Makin merasa bersalah ia karena merasa tak memperhatikan kondisi sang istri.
“Suami macam apa aku Ren yang tidak tau kesakitan kamu,” ucap Reza lirih.
“Sudah Mas, ngga usah nangis kayak gitu. Rena ngga apa-apa, Mas,” hibur Rena.
Aneh bukan. Seharusnya Rena yang harus dihibur bukan Reza. Tetapi ini malah sebaliknya. Tampak Rena jauh lebih tegar mengetahui tentang penyakitnya. “Apa Ka Rena sudah tau ya sebelumnya?” batin Dewi.
Baru kali ini juga Dewi melihat Reza menangis seperti itu. Orang yang mengenal Reza yang terkenal dingin dan cuek diluar, pasti tidak menyangka Reza bisa menangis seperti ini karena istrinya. Bisa dilihat betapa sungguh besarnya rasa cinta Reza kepada Rena.
“Kakak ngga perlu risau. Dewi akan mencoba sebisa Dewi untuk buat kakak sembuh,” janji Dewi.
“Semampu kamu saja Wi. Jangan hanya karena Kakak kamu jadi mengabaikan pasien kamu yang lain,” ucap Rena.
——
Ayah dan Ibu Rena yang di Bandung sudah dikabarkan. InsyaAllah besok pagi mereka akan berangkat ke Jakarta, sehingga malam ini Rena ditemani oleh Reza di rumah sakit.
Hasil pemeriksaan biopsi keluar hari ini. Hasilnya sesuai dengan perkiraan Dewi, Rena sudah memasuki stadium tiga.
Tentu saja kabar ini membuat seluruh keluarga sedih. Ibu tak henti-hentinya menangisi keadaan putrinya.
“Kenapa tidak Ibu saja yang sakit? Kenapa harus kamu nak? Oh anakku,” tangis Ibu.
Ungkapan kasih ibu sepanjang masa memang benar adanya. Tak peduli jika sang anak sudah menjadi orangtua dan memiliki anak.
Dewi juga sudah konsultasi dengan dokter spesialis senior di rumah sakit itu dan profesor pembimbingnya dulu di Yonsei University Hospital. Keputusan mereka sama, yakni Rena harus menjalani radioterapi. Prosedur ini dilakukan selama lima hari atau beberapa minggu.
Rena menerima dengan ikhlas keadaannya. Malah terkadang ia yang haru menghibur orang-orang yang bersedih atas keadaannya. Tak sekalipun tampak raut wajah sedih Rena perlihatkan. Itu dilakukannya agar keluarga tak terlalu mengkhawatirkannya.
Selama di rumah sakit Reza dan Ibu Ratna bergantian menjaga Rena. Ketika Reza harus pergi ke kantor di pagi hari, Ibu Ratna yang akan menjaga Rena. Mami Lisa akan membawa Ara dan Andra melihat mamanya di siang sampai sore hari. Sedangkan Dewi akan berkunjung di pagi hari ketika ia baru datang, di jam visit, dan juga di malam hari ketika ia akan pulang.
Rena sudah menjalani proseduk radioterapi dua kali. Perubahan pada kulit tubuhnya sudah tampak. Reza selalu menguatkan sang istri. Ia selalu meyakinkan Rena bahwa setelah sembuh semua akan kembali seperti semula. Rena hanya tersenyum. Ia tau bahwa sang suami sangat mencintainya dan ia sangat bersyukur akan hal itu.
Reza dan Rena tengah bercanda di atas ranjang Rena ketika terdengar ketukan pintu.
Tok tok tok
__ADS_1
“Permisi pakeeeeet,” teriak seseorang dari luar yang mereka sudah tau siapa pemilik suaranya.
Tanpa diizinkan seseorang itu langsung saja membuka dan masuk ke ruangan perawatan Rena.
“Eh eh ngga lagi ganggu ni kan?” tanya orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Dewi.
“Ganggu,” ketus Reza.
“Yaelah diganggu bentar doang kok gak lama,” jawab Dewi.
Dewi berjalan menuju Rena dan meletakkan bungkusan yang ia bawa ke arah nakas yang ada di samping tempat tidur Rena.
“Ini ada titipan cheese cake dari Tania. Dia ngga sempat naik soalnya mereka buru-buru mau fitting baju katanya,” kata Dewi.
“Iya tadi Leo sama Candra udah kesini juga kok,” jawab Rena.
“Udah mau pulang Wi?” tanya Reza.
“Iya udah Kak, udah selesai hari ini.”
“Maaf ya Wi kalaau anak-anak merepotkan kamu selama kakak di rumah sakit,” ucap Rena.
“Apaan sih Kak. Kalaupun merepotkan ya wajarlah namanya anak-anak ke tantenya. Udah ngga apa-apa, Kakak cuma perlu pikirin tentang sembuhnya Kakak dulu ya. Lagian kayak sama siapa aja,” jelas Dewi.
“Iya Kak tau. Anak-anak juga sayang banget sama kamu. Terimakasih ya.”
“Udah gak usah terimakasih mulu,” jawab Dewi.
Rena mengambil tangan Dewi menggunakan tangan kirinya.
“Wi kakak mau minta tolong sekali lagi bisa?” tanya Rena.
“Minta tolong apa?” tanya Dewi.
“Kakak titip Mas Reza ya.”
“Ren,” panggil Reza.
“Emang Kak Reza kemana? Kok dititipin?”
“Rena,” panggil Reza lagi.
Rena langsung melihat ke arah Reza dan mengambil tangannya.
“Mas, kamu nikahin Dewi ya.”
“Apaaa????”
“Ne????”
——
* Biopsi adalah salah satu tes yang biasanya dilakukan untuk mendeteksi dan memantapkan diagnosis penyakit kanker. Biopsi dilakukan sebagai prosedur mengambil jaringan atau sampel sel dari tubuh Anda. Kemudian, sampel sel tersebut akan diuji dalam sebuah laboratorium dan dilihat bentuknya di bawah mikroskop.
__ADS_1
* Glioma adalah Suatu jenis tumor yang terjadi di otak dan sumsum tulang belakang. Glioma dapat terjadi di otak dan di berbagai lokasi dalam sistem saraf, termasuk batang otak dan tulang belakang.