
Ara yang mendengar mengenai kehamilan dari Dewi tentu saja merasakan kebahagiaan. Gadis itu bahkan tak berhenti untuk terus mengelus elus perut Dewi. Bahkan malam ini ia memutuskan untuk tidur bersama dengan Dewi dan Reza dengan alasan ingin menjaga adik bayinya. Dan disinilah kini ia berada, tidur ditengah kasur kamar Reza dan Dewi dan diapit oleh kedua orangtuanya. Ara sudah tidur beberapa saat yang lalu setelah punggungnya dielus-elus pelan oleh Dewi.
"Kamu lihat, sekarang bahkan dia lebih protective sama kamu," ucap Reza setelah memastikan putrinya ini telah terlelap.
"Bentuk sayangnya sama calon adiknya, Kak. Syukur dia mau menerima, padahal tadi sempat takut Ara bakalan nolak, padahal anaknya sendiri yang udah minta dari dulu ya," tutur Dewi.
"Kamu hanya terlalu takut. Lagian Ara juga sudah besar, sudah bisa menjadi kakak."
"Iya sepertinya benar. Dimata Dewi Ara masih saja tetap kecil."
"Bagi orangtua anak tetap menjadi anak kecil."
Dewi tersenyum mengiyakan.
"Kak," bisik Dewi.
"Hmm." Reza yang sudah mulai terasa mengantuk menutup mata dan memeluk kedua wanitanya ini.
"Pernikahan Kakak dengan Siska, hmmm bagaimana?" tanya Dewi ragu.
"Kenapa emang?" Suara Reza mulai mengecil seiring kantuk yang datang.
Dewi yang tampak ragu-ragu hanya bisa diam tanpa menjawab pertanyaan Reza. Lama Dewi diam, akhirnya ia mulai berbicara lagi.
"Kakak jadi nikah sama Siska?"
Mulut Reza tak terlihat adanya pergerakan. Yang terdengar hanyalah hembusan nafas teratur yang menandakan bahwa pria ini sudah terlelap dengan tidurnya. Ternyata Dewi yang kelamaan berpikir tadi tak menyadari bahwa suaminya sudah tertidur.
"Kenapa makin kesini makin ngga rela Kak Reza nikah lagi, ya? Padahal kemarin perasaan baik-baik aja deh."
Mungkin karena bawaan hormon kehamilan, apalagi setelah mengetahui dirinya hamil, Dewi ingin selalu bersama dengan Reza. Dan sekarang ia merasakan ketidakrelaan atas keputusannya kemarin.
"Ah sudahlah, serahkan saja semuanya pada Tuhan," batinnya. Tak lama Dewi ikut menyusul Reza dan Ara ke alam mimpi.
Pagi hari, rumah sudah dihebohkan dengan suara menggelegar dari Mami Lisa. Setelah tadi subuh mendengar cerita dari suaminya bahwa Dewi yang telah hamil, ia langsung menarik sang suami untuk segera ke rumah Dewi, padahal waktu masih menunjukkan pukul setengah 6 pagi, dan tepat jam 6 pagi mereka sampai di istana Dewi dan juga Reza.
"Kamu kenapa ngga bilang sama Mami sih kalau kamu hamil?" cecar Mami Lisa. Mereka berdua kini berada di dapur untuk menyiapkan sarapan bagi penghuni rumah, tak lupa juga Bik Asih yang juga ikut membantu.
"Baru kemarin tahunya, Mi. Lagian Dewi kemarin juga sampai rumah udah malam banget, ada operasi mendadak juga jadi gimana mau ngasih tau. Ibu sama ayah di Bandung juga belum ada Dewi kasih kabari."
"Kamu jangan lupa kabari ibu Ratna," ingat Mami Lisa.
"Rencana mau langsung kesana aja, Mi. Lagipula udah lama juga ngga main kesana, anak-anak juga udah kangen sama kakek neneknya."
"Iya itu lebih bagus juga. Terus ini kapan kamu mau cuti?" tanya Mami Lisa yang langsung mendapat rengekan dari Dewi.
__ADS_1
"Aaaa baru juga hamilnya masa udah disuruh cuti," rengek Dewi.
"Kamu itu ngga boleh kecapean, apalagi kamu punya riwayat pernah keguguran, Wi," ucap Mami Lisa pelan.
"Tapi masih mau kerja, Mi." Kali ini tanpa diduga Dewi malah menangis. Reza dan Papi Arya yang berada di ruang tengah langsung berlari menuju dapur ketika mendengar tangisan Dewi. Ketika mereka sampai, mereka mendapati Dewi yang menangis, sedangkan Mami Lisa dan Bik Asih berdiri diam menatap heran ibu hamil itu.
"Kamu kenapa, sayang?" Reza langsung memeluk tubuh Dewi yang kemudian mendapatkan balasan erat dari istrinya.
"Mami jahaaat," kata Dewi yang masih saja menangis.
"Mami apain Dewi?" tanya Papi Arya pada istrinya.
"Mami ngga apa-apain Dewi, kok. Anaknya aja ini yang lebay," bela mami Lisa.
Bik Asih yang melihat dan mendengarkan pertengkaran kecil majikannya ini hanya tersenyum sambil menahan tawanya.
"Bik Asih kenapa senyum-senyum?" tanya Mami Lisa yang kebetulan melihat Bik Asih kesulitan menahan tawanya.
"Engga ada, Bu. Sepertinya Non Dewi jadi mudah sensitif sejak hamil."
"Iya, Bik Asih benar. Saya ngomong biasa aja dibilang jahat."
"Memang Tante bilang apa ke Dewi?" Reza sudah tak sabar ingin tahu hal apa yang membuat istrinya ini sampai menangis.
"Mami nyuruh Dewi berhenti kerja, Kak," rengek Dewi dalam pelukan Reza.
"Sama aja, kan nyuruh berhenti."
"Ssst udah-udah ngga usah dibahas lagi," kata Reza menengahi. "Terserah kamu mau cuti kapan. Kamu yang tahu dengan kondisi badan kamu sendiri. Kalau rasanya udah ngga sanggup, langsung ajukan cuti. Aku nanti juga ngomong sama Jimmy. Terus jangan juga kecapean, jangan banyak ambil jadwal untuk operasi. Ambil operasi yang gampang dan tidak melelahkan saja."
"Iya, aku udah atur kok jadwal operasi. Beberapa pasien juga udah aku oper ke yang lain."
"Yasudah, masalah sudah selesai, kan. Semuanya balik aja ke ruang tengah, biar Bik Asih aja yang lanjutin, ya," kata Papi Arya.
"Iya, Pak."
Sepanjang sarapan Dewi dan Mami Lisa terlibat perdebatan-perdebatan kecil. Padahal biasanya kedua wanita ini begitu akur, tetapi hari ini mereka seperti kutub Utara dan kutub Selatan, tidak bisa menyatu.
Usai sarapan, mereka semua berangkat menuju tujuan mereka masing-masing. Reza kini mengantar kedua buah hatinya bersekolah barulah setelah itu ia mengantarkan Dewi ke rumah sakit.
"Siang nanti sepertinya kita ngga bisa makan siang bareng. Anton tadi nelfon bilang kalau siang ini akan membicarakan tentang kerja sama itu bareng Tuan Chris," kata Reza sebelum Dewi turun dari mobil Audi hitam miliknya.
"Iya ngga apa-apa. Ada Tania, Leo, Candra juga kok nanti. Biar bareng mereka aja."
"Kamu jangan capek-capek, ya. Ngga perlu lari-lari juga kalau ada emergency. Ingat kalau sekarang kamu lagi hamil anak kita."
__ADS_1
"Iya, insya Allah diingat semuanya." Dewi mengulurkan tangannya, meminta tangan Reza untuk ia salim.
"Assalammualaikum."
"Waalaikumsalam."
Dewi keluar dari mobil Reza dengan senyum lebar yang terkembang di wajahnya.
"Senang banget kayaknya pagi ini ya, dok? Baru dapat energi dari suami ini," goda dokter Kiki yang juga baru datang. Wanita berambut pirang yang kini sedang tergerai panjang itu menyamakan langkahnya dengan Dewi.
"Iya dong. Emang situ, jomblo," ejek Dewi.
"Enakan jomblo, dok. Ngga ada yang larang mau dekat sama siapa. Lagian sekarang susah mau percaya sama cowok padahal mereka udah punya pasangan yang cantik, tapi masih aja selingkuh. Ada yg profesinya dokter, eh kabur sama mantan pacarnya. Ada juga yang polisi selingkuh sama teman sekantornya. Malah ini dok ada yang parah, oknum ASN jadi selingkuhan bawahan dia yang sudah bersuami, malah sampai punya anak lho dok dari hasil hubungan gelap mereka. Bayangin ya, dok, 7 tahun mereka jadi pasangan selingkuh. Terus si cowok ini ya dok baru aja nikah beberapa bulan lalu sama cewek, istrinya lagi hamil eh dianya malah ngurusin selingkuhannya. Sakit jiwa ngga sih dok."
"Ya ampun, kamu masih punya waktu ngikutin berita kayak begitu?" tanya Dewi sambil geleng-geleng.
"Saya ngikutin dok. Kasihan tau dok istrinya. Niat nikah untuk ibadah tapi ternyata hanya dijadikan tameng perselingkuhan suaminya. Tuh kan, jadi laki-laki macam apa yang harus saya percaya?"
Dewi menghentikan langkahnya dan kemudian menatap lekat ke mata dokter Kiki.
"Carilah pria yang takut dengan Allah. Kalau dia takut terhadap Tuhannya, pasti dia tidak akan macam-macam apalagi melanggar aturan agama."
"Noted, dok," mantap dokter Kiki.
"Yasudah ayo lanjut jalan."
Mereka kemudian melanjutkan langkahnya menuju lift. Berhubung lift yang telah penuh, mereka berdua terpaksa menunggu antrian untuk lift yang berikutnya.
"Oh iya dok saya baru ingat. Tadi dokter Ferdi ngasih kabar katanya anak pak tua itu udah sadar," kata dokter Kiki.
"Pak tua siapa?" tanya Dewi heran.
"Itu si pak tua, bapaknya Siska."
"Hus kamu, ngga boleh kayak begitu sama orangtua."
Dokter Kiki hanya mencebikkan bibirnya.
"Kita ke ruang PICU dulu kalau begitu, saya mau melihat anaknya."
"Gini nih jadi dokter, menyelamatkan tanpa pandang bulu, padahal pasiennya itu anak musuh, tapi karena sumpah tetap harus diselamatkan," gerutu dokter Kiki.
"Dalam perang, dokter itu harus bersikap netral. Walaupun yang terluka adalah musuh yang sudah mencelakakan teman kita, harus tetap kita tolong juga," ujar Dewi.
"Iya iya siap, dok."
__ADS_1
Ting
Pintu terbuka dan mereka berdua masuk ke dalam lift menuju ruang PICU yang ada di lantai 3.