
“Kita mau kemana, Kak?” tanya Dewi yang saat ini sudah berada di dalam mobil bersama dengan Reza.
“Hem.”
“Ini bukan jalan pulang ke rumah, Kak,” kata Dewi lagi.
“Hem.”
“Hem hem ha ho aja daritadi,” ketus Dewi.
“Hem.”
“Lama-lama ngeselin juga ni orang.” Dewi kemudian mengeluarkan ponsel, lebih baik melihat sosial media miliknya daripada mengajak manusia es sebelahnya yang cuma bisa jawab hem hem saja.
Sekitar 30 menit berkendara, Reza memarkirkan mobilnya di sebuah rumah besar yang terletak di dalam kompleks perumahan elit.
“Ini rumah siapa, Kak?” tanya Dewi yang merasa tidak asing dengan rumah yang ada di hadapannya.
“Turun aja dulu,” ucap Reza sambil turun dari mobil.
Dewi melihat Reza yang turun dan menghampiri seorang pria yang baru saja keluar dari dalam rumah itu. Mereka saling berjabat tangan. Samar Dewi mendengar suara Reza yang menyebut kata istri sambil menunjuk ke arah mobilnya.
Dewi turun dari mobil dan langsung menghampiri Reza.
“Nah ini dia istri saya, Dewi.” Reza memperkenalkan Dewi dengan pria itu.
“Halo, Bu. Perkenalkan saya Rahmad,” kata pria tadi yang bernama Rahmad memperkenalkan dirinya.
“Dewi.”
“Mari kita masuk dulu, Pak,” ajak Pak Rahmad
Pak Rahmad berjalan duluan di susul oleh Reza dibelakangnya. Reza yang melihat Dewi tidak kunjung melangkahkan kakinya akhirnya menggandeng tangan Dewi untuk masuk ke dalam rumah itu.
Rumah yang memiliki dua lantai ini memiliki warna netral dan bentuk yang simpel. Jendela-jendela yang besar menjadi pelengkap dan memungkinkan sinar matahari masuk ke tiap sudut ruangan di dalam rumah.
Rumah yang berdesain kontemporer ini bernuansa alami dengan aksen tumbuhan yang menjuntai di beberapa titik rumah. Selain itu terdapat juga kolam renang yang luas di bagian samping rumah, sedangkan halaman belakangnya ditumbuhi oleh rumput dan beberapa pohon yang menambah kesejukan rumah ini.
Reza membawa Dewi berkeliling rumah ini mulai dari lantai satu sampai ke lantai dua. Selama itu Dewi tak berhenti menatap kagum rumah yang ia pijaki saat ini.
“Jadi bagaimana, Pak Reza?” tanya Pak Rahmad yang membuat lamunan Dewi buyar.
“Gimana?” tanya Reza melihat Dewi.
Dewi mengernyitkan dahinya tanda tak paham. “Maksudnya?”
Pak Rahmad tampak tersenyum.
“Tidak perlu ditanya, Pak Reza. Daritadi istri anda tidak berhenti menatap kagum dengan rumah ini.”
__ADS_1
Reza yang melihat wajah bingung istrinya meminta izin untuk berbicara empat mata dulu dengan istrinya. Reza membawa Dewi ke halaman belakang karena ia tahu ada banyak hal yang ingin Dewi tanyakan padanya.
“Kak, maksudnya apa sih? Daritadi nanya gimana, gimana mulu. Apanya yang gimana?” tanya Dewi tak sabar ketika mereka sudah berada di halaman belakang.
“Kamu suka rumahnya?” tanya Reza.
“Ya suka, dong. Cantik, adem juga. Emang ini rumah siapa?”
“Rumah kita.”
“Ha?”
“Iya Dewi Anggraini istriku tersayang, ini rumah kita!” jelas Reza sambil memegang kedua bahu Dewi.
Dewi menatap ke dalam mata Reza mencari kebohongan, namun tak tampak sedikitpun disana. Ia kemudian mengedarkan pandangannya menatap ke sekeliling rumah yang baru saja dikatakan oleh suaminya bahwa rumah ini adalah rumah mereka.
“Tapi kenapa, Kak? Kita,kan masih bisa tinggal di rumah yang sekarang,” kata Dewi.
Reza menurunkan pegangannya dan meraih tangan Dewi.
“Seperti yang aku bilang sebelumnya kalau aku mau kita memulai hubungan baru kita ini di tempat yang baru. Kalau kamu tetap berada di rumah itu, aku khawatir kamu akan terus dibayang-bayangi rasa menjadi istri kedua padahal sekarang kamu adalah istri aku satu-satunya. Seperti yang Rena harapkan, dia ingin kita berdua hidup bahagia bersama anak-anak yang ia titipkan dengan aku dan kamu.”
Dewi tersentuh dengan ucapan Reza. Reza yang melihat mata istrinya berkaca-kaca membawa Dewi ke dalam pelukannya.
“Aku mau kamu bahagia, Wi. Jadi izinkan aku untuk membuatmu bahagia,” ucap Reza sambil mengecup puncak kepala Dewi yang berbalut hijab. Dewi menggangguk pelan di dada Reza.
“Udah yuk, kita di tunggu Pak Rahmad di dalam,” kata Reza yang segera melepas pelukannya itu. Ia kemudian menggandeng tangan Dewi kembali untuk dibawanya masuk ke dalam rumah.
“Pak Rahmad pintar saja ya mencari alasan,” ucap Reza tersenyum.
“Besok siang Pak Rahmad bisa ke kantor saya, sekalian bawa surat-suratnya. Tenang saja saya jadi membeli rumah ini. Tolong nanti dibuat atas nama istri saya, ya,” lanjut Reza.
“Kak?” lirih Dewi yang hanya mendapat anggukan lemah dari Reza.
“Baik, Pak besok saya akan menghubungi sebelum ke kantor Bapak.”
“Terimakasih, Pak Rahmad.”
Reza kemudian menggandeng tangan Dewi dan membawanya masuk kembali ke dalam mobil.
“Kita sekalian makan di luar, ya,” ajak Reza.
“Dirumah aja deh, Kak. Kasihan anak-anak lama ditinggalinnya,” tolak Dewi.
“Ngga apa-apa. Sesekali saja kita pergi berdua. Lagipula ada Ibu di rumah yang menemani anak-anak,” ucap Reza yang fokus dengan jalanan di depannya.
“Ha? Ibu kanjeng ratu datang? Kapan?”
Reza tertawa mendengar gelar yang diberi Dewi untuk ibu mertuanya itu. “Tadi siang.”
__ADS_1
“Kenapa tidak bilang?”
“Ini aku, kan bilang.”
“Iya bilangnya kalau udah ditanya. Ih nyebelin.”
“Jangan kesel-kesel gitu dong, sayang. Kita, kan mau pergi kencan,” bujuk Reza sambil sebelah tangannya memegang tangan Dewi.
“Kencan?”
“Iya kencan. Ya anggap aja seperti pacaran setelah menikah. Mau pegangan tangan, halal. Mau cium-ciuman juga halal.”
Dewi tertawa mendengar omongan Reza yang menurutnya sangat lucu. Entah sejak kapan suaminya ini mulai banyak bicara dibandingkan dengan yang ia kenal dulu.
“Kamu tu ya, Wi kalau kata orang kayak batu, keras. Tapi kalau udah di ‘krek’ ada mutiara di dalamnya.”
“Aduh meleyot adek, Bang,” kekeh Dewi.
Sekali lagi tawa Dewi memenuhi mobil Reza senja itu. Betul-betul hari yang indah bagi Reza.
“Kita cari masjid dulu ya ya, Kak. Sudah mau maghrib,” ajak Dewi.
“Siap, Bu Dokter.”
Reza kemudian membelokkan mobilnya ke sebuah masjid besar yang berada di tepi jalan. Dewi dan Reza melaksanakan ibadah solat maghrib berjamaah dengan umat muslim yang lain.
Setelah selesai solat, Reza dan Dewi melanjutkan perjalanannya menuju ke sebuah restoran.
“Beberapa hari yang lalu aku ada rapat sama klien di restoran ini. Makanannya enak, tempatnya juga nyaman,” ucap Reza.
“Percaya deh sama pilihannya Kak Reza ngga bakalan pernah mengecewakan.”
Dewi dan Reza masuk ke dalam restoran yang pada saat itu belum terlalu ramai. Reza menarik kursi dan mempersilahkan Dewi untuk duduk, sedangkan Reza memilih untuk duduk di depan Dewi.
“Kamu mau pesan apa?” tanya Reza ketika seorang pelayan sudah datang menghampiri mereka dengan membawa buku menunya.
“Karena Kak Reza yang sudah pernah datang kesini, jadi Kak Reza bisa pilihkan menu yang rasanya pas buat Dewi.”
“Oke kalau begitu.”
“Mbak saya pesan wagyu tenderloin steaknya medium rare 2 sama orange juicenya juga 2 ya,” kata Reza kepada pelayan wanita itu.
“Baik, Mas. Mohon ditunggu, terimakasih.”
Seperginya pelayan wanita tadi, Reza dan Dewi melanjutkan perbincangan mereka. Kali ini Reza menanyakan tentang hari pertama Dewi kerja kembali setelah libur enam bulan. Reza mendengar dengan seksama semua cerita Dewi, sampai akhirnya cerita itu terputus akibat seseorang yang memanggil nama Reza. Suara orang itu mampu membuat bulu kuduk Reza berdiri, takut akan ada pertumpahan darah malam ini.
“Dari sekian banyak restoran di Jakarta, kenapa harus berjumpa dengan dia disini?” keluh Reza dalam hatinya.
——
__ADS_1
Hayoo kira-kira siapa nih yang datang???