Izinkan Aku Untuk Bahagia

Izinkan Aku Untuk Bahagia
Bab 34


__ADS_3

“Mas Reza darimana saja,” tanya Rena yang melihat Reza yang baru masuk.


“Kamu sudah bangun Ren?”


Reza langsung menuju ranjang Rena, memeluk wanita itu.


“Kamu jangan kayak tadi lagi ya. Janji.”


“Maaf ya Mas, Rena gak bisa janji,” lirih Rena.


“Jangan tinggalin aku Ren.”


Reza makin memeluk erat Rena, tak ingin berpisah dengan istrinya itu. Ibu Ratna yang melihat pasangan suami istri yang saling berpelukan menangis terharu, ia sangat bersyukur anak perempuannya mendapatkan suami yang sangat mencintainya.


“Kamu sudah makan? Mas suapin ya, setelah itu minum obat terus kamu istirahat lagi.”


“Iya Mas.”


“Ibu juga makan dulu saja, Rena biar sama Reza dulu, Bu.”


“Yasudah Ibu makan dulu ya.” Ibu Ratna langsung menuju sofa dan memakan makanan yang sudah dibeli Reza tadi sebelum Rena mengalami serangan jantung.


Usai makan dan meminum obatnya, Rena diminta untuk istirahat kembali oleh Reza. Rena mulai memejamkan matanya mencoba untuk tidur. Setelah memastikan Rena sudah tidur, Reza pindah duduk di sofa yang masih ada Ibu Ratna disana.


“Dewi kemana Za? Ibu hari ini belum ada bertemu dengannya,” tanya Ibu Ratna. Setau ibu Ratna Dewi akan berkunjung untuk melihat kondisi Rena. Tapi hari ini ia belum melihat anak dari sahabatnya itu datang mengunjungi Rena.


“Dewi gak bisa kesini sekarang Bu,” lirih Reza.


“Kenapa?”


Reza mengusap kasar wajahnya dan sesekali menjambak rambutnya.


“Reza ada apa? Dewi kenapa?” tanya ibu Ratna tak sabar.


“Dewi sekarang dirawat Bu. Masih di lantai ini,” jawab Reza.


“Ya ampun. Kenapa bisa dirawat? Sakit apa Dewi?”


Reza menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.


“Dewi keguguran Bu.” Mata Reza mulai berkaca-kaca mengingat kondisi Dewi yang kini juga sedang tidak baik.


“Astaghfirullah. Keguguran? Kenapa bisa Za?”


“Dewi terjatuh di tangga tadi.”


“Astaghfirullah, Dewi pasti sedang tidak baik-baik saja sekarang. Reza kamu temani saja Dewi, Rena biar sama Ibu. Ayah juga sudah di jalan sama Dirga mau kesini.”


Reza menggeleng.


“Temani Dewi, Za. Dia butuh kamu sekarang. Kalian baru kehilangan calon anak kalian. Oh iya kamu kenapa gak cerita kalau Dewi hamil? Rena tau Dewi hamil?”

__ADS_1


Reza menggeleng lemah. “Reza juga baru tahu tadi Bu.”


“Kalian baru tahu tentang kehamilan Dewi hari ini?” tanya ibu lagi.


Reza hanya bisa menggeleng. Lidahnya terasa kelu tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan ibu Ratna.


“Ada apa Za? Kalian sedang ada masalah sebelumnya?”


“Maafkan Reza Bu.”


“Ada apa ini Za? Jangan buat Ibu bingung.”


Tak ada pilihan, akhirnya Reza menceritakan semuanya kepada ibu Ratna. Mulai dari ia dijebak oleh Siska sewaktu di Singapura, ia yang memaksa Dewi melepaskan pengaruh obat yang diberi Siska, sampai ia yang menghindari Dewi.


“Jadi kamu gak pernah pulang ke apartemen Dewi sejak dari Singapura?”


Reza kembali menggeleng.


“Jadi kamu kemana? Rena tau tentang masalah ini?”


“Reza tidur di kantor Bu. Rena tidak tahu sama sekali. Reza tidak bisa bertemu dengan Dewi. Bayangan-bayangan malam itu selalu muncul Bu. Reza udah mengkhianati cinta Rena dengan melakukannya dengan Dewi.”


“Ya ampun Reza. Dewi itu istri kamu juga. Dia juga berhak atas kamu. Dia juga berhak untuk mendapatkan nafkah batinnya. Ya Tuhaan Mitha, aku minta maaf Tuti, aku tidak bisa menjaga anak kamu dengan baik. Maafkan aku Ti.” Ibu Ratna mulai menangis, meminta maaf kepada mendiang sahabatnya, Tuti yang merupakan ibu kandung Dewi.


“Temui Dewi sekarang. Minta maaf dia, dampingi Dewi Za,” perintah ibu Ratna.


“Tidak Bu. Dewi tidak mau bertemu dengan Reza. Tadi setelah bangun dia histeris melihat Reza disana, akhirnya mereka memberikan obat penenang,” sesal Reza.


Tanpa mereka sadari, Rena yang sebenarnya belum tidur mendengarkan semuanya. Ia juga menangis dalam diamnya.


“Maafkan Kakak Dek. Maafkan Kakak.”


—-


Sementara itu Dewi yang masih berada satu lantai dengan Rena tampak duduk bersandar di ranjangnya. Pandangannya tak putus dari langit biru yang terdapat di jendela sebelah kanannya. Sejak bangun beberapa saat yang lalu Dewi tak mengeluarkan kata sedikitpun. Semua omongan mami Lisa dan papi Arya seakan tak menembus masuk ke dalam lobang telinganya. Tampak sesekali air mata menetes dari mata indahnya. Kini wanita cantik yang baru saja kehilangan calon anaknya itu bagaikan makhluk tak bernyawa.


“Pi, gimana ini Pi? Dewi Pi?” tangis mami Lisa.


“Sabar Mi, Mami ngga boleh sedih seperti ini. Kita harus kuat jangan pernah kita lihatkan wajah sedih kita ke Dewi. Semua ini pasti ada hikmahnya untuk kita semua Mi.”


“Mami ngga tega Pi lihat Dewi seperti itu. Papi lihatkan, sudah sejam Dewi duduk seperti itu aja Pi tanpa bersuara sama sekali. Mami ngga tega Pi.”


Tok tok tok


Leo, Tania dan Candra yang telah selesai bekerja langsung mengunjungi Dewi di ruangannya.


“Bagaimana Tante?” tanya Candra.


Mami Lisa menggeleng lemah.


“Sejak bangun Dewi ngga mau bicara sama sekali.”

__ADS_1


Tania berjalan menghampiri Dewi, menarik kursi untuk duduk di sebelahnya.


“Wi.” Tania meraih tangan Dewi untuk digenggamnya.


“Kita semua tahu lo wanita yang kuat. Lo pasti bisa lewati ini semua Wi. Kita semua juga selalu di samping lo.”


Dewi tetap diam tak bergeming. Pandangannya pun terus saja menatap langit di luar jendela.


Tania menghela nafas. “Lo udah makan? Gue suapin mau ya. Tadi Leo beli brownies dari toko kesukaan lo. Lo mau kan? Dimakan langsung ya, ntar browniesnya diambil sama Candra lho,” pancing Tania.


Biasanya Dewi akan berubah menjadi manusia super pelit kalau sudah berhubungan dengan brownies dari toko kesukaannya itu. Ia biasanya tak mau berbagi makanan itu termasuk kepada sahabat-sahabatnya, dan biasanya juga Candra yang akan sering mengganggunya dengan mengambil sepotong kue yang tentu saja akan mendapatkan amukan dari Dewi. Tapi kali ini Dewi benar-benar tidak bergerak sama sekali dan membiarkan Candra memakannya.


“Wi gue habisin ni kalau lo gak mau,” ancam Candra.


Mami Lisa yang melihat hal ini kembali meneteskan air matanya, papi Arya yang tak beranjak dari samping sang istri terus mengusap punggung tante Lisa untuk menenangkannya.


“Bisa tolong jelaskan Yo kenapa Dewi bisa seperti sekarang?” tanya papi Arya kepada Leo.


“Sebelumnya kami minta maaf sama Om dan Tante karena tidak mengabari tentang kehamilan Dewi sebelumnya. Ini semua permintaan Dewi yang tidak mau ada yang tahu kalau dia sedang hamil,” jelas Leo.


“Reza tahu kalau Dewi hamil?” tanya mami Lisa.


“Kak Reza baru tahu tadi juga Tante.”


“Ada apa ini sebenarnya Yo? Ada apa antara Dewi dan Reza?” tanya mami Lisa tak sabar.


Leo melihat ke arah istri dan sahabatnya yang duduk dekat Dewi. Mereka mengangguk tanda setuju kalau kekacauan ini harus diceritakan kepada mami Lisa dan papi Arya.


Leo akhirnya menceritakan kejadian di Singapura dan kejadian yang dialami Dewi setelah pulang dari negara itu. Papi Arya tampak geram dengan tingkah keponakannya yang dianggap tidak bertanggung jawab.


“Ini yang mami takutkan dulu Pi kalau mereka menikah. Pasti salah satu dari mereka akan ada yang terluka, dan sekarang Dewi yang harus mengalami luka yang begitu dalam,” kata mami Lisa.


Tok tok tok


Tampak Reza membuka pintu ruangan Dewi. Kedatangannya kali ini bersama dengan ibu Ratna. Pak Bambang dan Dirga sudah datang dari Bandung sehingga mereka bisa bergantian untuk menjaga Rena, apalagi setahu mereka kalau Rena sedang tidur ketika mereka keluar.


“Jeng bagaimana dengan Dewi?” tanya ibu Ratna menghampiri mami Lisa.


“Dewi seperti itu dari sejak bangun. Tidak mau berbicara sama sekali,” jawab mami Lisa.


“Gue keluar duluan,” kata Candra tiba-tiba. Ia masih belum mau melihat Reza saat ini. Marahnya terhadap pria itu masih saja besar ketika melihatnya.


“Kalau gitu kami permisi dulu Om, Tante. Leo nanti akan minta tolong sama psikiater terbaik rumah sakit ini. Kebetulan beliau adalah senior kami dulu waktu kuliah,” jelas Leo.


“Iya tolong bantu ya Leo, Tania.”


“Tentu Tante. Kalau gitu kami pamit. Permisi.”


Melihat sahabat-sahabatnya Dewi sudah pergi, Reza datang dan duduk di kursi yang tadi di duduki oleh Tania. Di genggamnya tangan Dewi dan dikecupnya tangan itu.


“Wi, maafkan kakak yang belum bisa jadi suami yang baik untuk kamu. Maaf karena tidak tahu kamu hamil, maaf tidak menjaga kamu selama hamil, dan maaf karena sekarang kamu harus kehilangan calon anak kita. Kakak minta maaf atas semua kebodohan kakak Wi.”

__ADS_1


__ADS_2