
Meskipun Ara sudah mau untuk ditinggal sendiri untuk tidur malamnya, Dewi masih belum mau untuk pergi dan tidur bersama Reza dikamarnya. Entahlah, dirinya masih merasa kamar itu adalah milik Rena, sehingga ia merasa tak pantas untuk tidur disana.
Reza tak terlalu mempermasalahkan karena ia juga mencoba untuk paham dan mengerti perasaan Dewi. Lagipula Dewi berjanji hanya sampai mereka pindah ke rumah barunya. Keputusan Reza untuk segera pindah dirasa sudah tepat agar mereka semua bisa memulai dan menata hidup lagi.
Setelah melalui proses renovasi pada kamar anak-anak dan kamar utama, sabtu ini mereka berencana akan pindah. Hari-hari sebelum pindah Dewi membantu Ara dan Andra mengemas barang-barang milik mereka. Setelah selesai dengan barang-barang milik kedua anaknya, baru ia lanjutkan membantu sang suami.
Reza yang memang akhir-akhir ini banyak pekerjaannya terpaksa membawa pulang agar bisa ia selesaikan di rumah. Ini semua pria itu lakukan agar bisa menjemput tepat waktu istrinya. Reza masih setia untuk mengantar dan menjemput istrinya agar memiliki sedikit waktu untuk mereka berkomunikasi.
Dewi pergi menyusul Reza ke ruang kerjanya sambil membawakan teh hangat beserta kue yang mereka beli sepulang kerja tadi.
“Diminum, Kak tehnya.” Dewi meletakkan teh dan kue di atas meja kerja Reza.
“Terimakasih, sayang. Tahu aja lagi butuh yang manis-manis,” ucap Reza yang langsung meneguk teh yang dibawakan istrinya.
“Sama-sama. Kak Reza mau dibantuin packing, ngga? Apa aja yang mau dibawa?” tanya Dewi yang ingin membantu suaminya mengemasi barangnya.
“Entaran aja itu. Sini dulu dong.” Reza menyuruh Dewi agar lebih mendekat padanya.
“Kenapa?”
Reza menarik lengan Dewi agar lebih mendekat dengannya. Kemudian Reza memeluk Dewi yang berdiri di sampingnya.
“Terimakasih ya, Wi.”
“Untuk apa?”
“Untuk semuanya.”
“Hem.” Dewi membelai rambut Reza yang berada tepat di perutnya.
“Gimana? Mau dibantuin ngga beresin barangnya?” tanya Dewi yang masih membelai kepala Reza.
“Boleh, ayuk.” Reza kemudian berdiri dan menggandeng tangan Dewi keluar menuju kamarnya.
“Besok Dewi bawa mobil sendiri aja ya, Kak biar Kak Reza ngga repot. Jadi Kak Reza ngga harus muter dulu buat jemput Dewi,” ucap Dewi ketika mereka sudah sampai di kamar Reza.
Reza tampak diam memikirkan permintaan Dewi. Sejujurnya ia memang sedikit ribet untuk menjemput Dewi tepat waktu karena pekerjaannnya yang sedang banyak saat ini.
“Beneran ngga apa-apa kamu sendirian berangkatnya?” tanya Reza memastikan.
“Iya ngga apa-apa biasanya juga berangkat sendiri, kan. Lagian besok kayaknya bisa pulang cepat, jadi mau mampir ke rumah baru dulu buat letakin barang sama beres-beres sebentar.”
“Yasudah, tapi kamu hati-hati bawa mobilnya.”
“Iya siap. Terus ini bajunya mau yang mana dibawa?”
——
Sesuai kesepakatan tadi malam, hari ini Dewi membawa mobil sendiri ke rumah sakit. Hari yang tidak begitu lelah sebab masih pada pukul 10.30 tetapi pasien Dewi di rawat jalan hanya tersisa dua orang.
“Saya panggil pasien berikutnya, dok?” tanya seorang perawat wanita yang menemani Dewi di ruang prakteknya.
__ADS_1
Dewi yang akan menjawab pertanyaan perawat tadi teralihkan perhatiannya dengan getaran ponsel yang ia letakkan di atas meja.
“Tunggu sebentar, sus.”
“Halo, Assalammualaikum, Kak.”
“Waalaikumsalam. Wi, kamu sibuk ngga? Bisa datang ke kantor sekarang?” tanya Reza diujung telepon.
“Mau ngapain di kantor?” tanya Dewi balik.
“Temanin aku mau meeting,” jawab Reza.
“Biasanya, kan ngga ditemanin Dewi. Ada sekretaris Kakak, Lia sama Anton asisten Kakak.”
“Mereka ngga bisa karena ada pertemuan dengan divisi lain. Yasudah kalau kamu ngga mau, soalnya aku nanti meetingnya sama Siska berdua aja,” ucap Reza yang langsung direspon cepat oleh Dewi.
“Aku ikut!”
“Tapi katanya ngga bisa. Ngga apa-apa aku berdua sama Siska aja nanti meetingnya,” ucap Reza sambil menahan ketawanya.
Ia tahu Dewi pasti tidak akan mau membiarkan dirinya hanya berdua saja dengan Siska. Harusnya Reza pergi bersama Lia, tetapi karena ada masalah di kantor membuat Lia harus menemani Anton untuk menyelesaikan permasalahannya.
Reza yang memang tidak mau jika hanya berdua saja dengan Siska akhirnya membawa Dewi ikut serta dirinya. Lumayan bisa makan siang bareng, pikirnya.
“Ngga ada cerita, pokoknya Dewi ikut!” tegas Dewi.
“Iya-iya sayang, kamu ikut. Aku jemput, ya. Kebetulan restorannya dekat dengan rumah sakit. Aku jalan sekarang,” ujar Reza yang masih saja tersenyum. Ia yakin Dewi disana pasti sedang cemberut mendengar dirinya harus meeting berdua dengan Siska.
“Yaudah kesini aja. Pasien Dewi juga tinggal 2. Nanti kalau udah sampai langsung kabari Dewi aja, ya biar Dewi yang turun.”
“Iya. Assalammualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
“Langsung panggil saja, sus pasien selanjutnya,” kata Dewi yang ingin segera menyelesaikan pekerjaannya.
Sedangkan disana Reza masih saja senyum-senyum sendiri membayangkan wajah Dewi yang kesal.
“Jadi ngga sabar,” gumam Reza.
Reza langsung beranjak dari kursinya, tak sabar untuk menemui kekasih halalnya. Hati Reza kembali berbunga-bunga seperti remaja ABG yang baru jatuh cinta. Rasa yang sama ketika ia tertarik dulu oleh Rena.
Di dalam mobilpun Reza tak henti-hentinya tersenyum sambil ikut bernyanyi lagu yang sedang diputar di dalam mobilnya.
Inikah namanya cinta, oh inikah cinta
Cinta pada jumpa pertama
Inikah rasanya cinta, oh inikah cinta
Terasa bahagia saat jumpa
__ADS_1
Dengan dirinya
Reza langsung menelepon Dewi untuk memberitahu bahwa dirinya sudah berada di parkiran. Tak lama Dewi muncul bersama dengan seorang pria yang mengenakan jas dokter.
“Itu siapa?” tanya Reza ketika Dewi sudah masuk ke dalam mobil.
“Ferdi, anak residen,” jawab Dewi singkat sambil melepaskan jas dokter miliknya. Wanita itu tidak sempat untuk kembali ke ruangannya karena Reza yang sudah menelepon mengabari bahwa ia telah sampai di rumah sakit.
“Kenapa dia ngantarin kamu ke parkiran?” tanya Reza lagi.
“Tadi itu Dewi ngasih instruksi buat pasien yang terakhir tadi, pasiennya langsung dirawat mulai hari ini buat biopsi. Dianya juga sekalian mau ke kantin, ya sudah diskusinya sambil jalan. Kenapa? Kak Reza cemburu?” goda Dewi yang baru menyadari perubahan pada wajah Reza.
“Engga, siapa yang cemburu,” jawab Reza cepat.
“Ya ngga asik, ah.” Dewi langsung mengambil beberapa alat make up yang ia simpan dalam tasnya.
“Tumben, biasanya ngga pernah pakai yang aneh-aneh,” kata Reza yang melihat Dewi berhias diri.
“Ngga mau kalah dong sama medusa. Nanti mata Kak Reza meleper ke arah dia aja,” jawab Dewi yang masih sibuk memakai eyeliner.
“Eh enak aja, emangnya aku pria jelalatan. Lagian kamu ngga make up juga cantik kok.”
“Sudah pandai menggombal dia saudara-saudara,” tukas Dewi.
“Dibilangin ngga percaya. Aku ngga suka kamu yang terlalu dandanannya. Kamu itu udah cantik tanpa make up, kalau pakai make up tambah cantik, aku ngga suka liat laki-laki lain lihatin kamu,” ucap Reza.
“Iya-iya, Dewi juga biasanya, kan dandanannya juga yang simpel no ribet juga. Ini cuma pake eyelinernya aja ditambahin kok, biar mata Dewi makin gede kelihatannya. Gimana? Udah?” Dewi menoleh ke arah Reza yang berada di sampingnya. Wanita ini ingin persetujuan suaminya akan make up nya siang ini.
Reza berhenti ketika lampu lalu lintas berwarna merah, kemudian ia menoleh menatap istrinya. “Udah cukup, segitu aja udah makin cantik.”
Sesampainya di restoran, Reza turun duluan dari mobil kemudian memutar untuk membuka pintu Dewi.
“Terimakasih,” ucap Dewi malu-malu.
Reza langsung mengapit tangan Dewi, mengajaknya masuk ke dalam restoran.
“Kita makan siang berdua dulu. Meetingnya sih nanti siap makan siang, aku lagi pengen makan siang berdua sama kamu,” kata Reza sambil berjalan masuk ke dalam restoran.
“Kak Reza duluan aja, Dewi mau ke toilet dulu, daritadi nahan. Pesanin aja yang sama dengan punya Kak Reza ya.
“Yasudah aku duluan ya.”
Reza langsung mencari meja yang kosong untuk mereka berdua. Tak lama kursi sebelah Reza di duduki oleh wanita yang sangat Reza hindari.
“Kenapa anda duduk disitu?” tanya Reza menatap tidak suka wanita yang seenaknya saja duduk di kursi yang seharusnya untuk Dewi.
“Ya ngga apa-apa juga kali, biar diskusi kita nanti makin enak,” jawab Siska santai.
“Itu kursi untuk orang yang datang bersama saya.”
“Siapa? Bukannya Mas Reza cuma datang sendirian?”
__ADS_1
“Saya datang sama is—“
“Sama istrinya,”