
Disinilah Dewi berada saat ini. Seperti permintaan Ara sewaktu masih di rumah sakit, gadis kecil itu meminta Dewi untuk tidur bersamanya ketika ia sudah pulang ke rumah mereka. Di kamar berukuran 4x5 meter yang di didominasi oleh warna pink dan putih itu terdapat sebuah ranjang ukuran 120x200. Diatas ranjang itu kini Dewi berbaring di tengah, sedangkan di sisi kirinya ada Ara dan di sisi kanannya ada Andra yang ikut ingin tidur dengan Dewi.
“Untung badan kalian masih kecil, coba kalau udh besar dikit aja, bakalan jatuh kita,” ucap Dewi.
“Bunda, kan memang janji mau tidur bareng Ara kalau udah di rumah. Abang nih kenapa tidur di kamar Ara juga, pergi sana ke kamar Abang,” usir Ara.
“Ngga mau. Abang, kan mau tidur bareng Bunda juga,” jawab Andra.
“Terus Papa gimana?” tanya Dewi.
“Papa biarin tidur sendiri aja, ngga apa-apa, kan, Bun?” tanya Ara balik.
“Iya ngga apa-apa. Udah yuk kita tidur. Bunda ngantuk banget.”
Tak berapa lama suara dengkuran halus terdengar bersahut-sahutan di kamar yang berciri khas anak perempuan itu.
Reza yang sedari siap makan malam tadi langsung menuju ruang kerjanya untuk melanjutkan pekerjaannya yang ia bawa pulang.
Pukul 11 malam, Reza masuk ke dalam kamarnya dan tidak mendapati Dewi di atas ranjang.
“Kemana pulak istri aku ini?“ Reza kemudian keluar dari kamarnya. Pertama ia masuk ke dalam kamar Andra, namun kamar itu kosong, ditinggalkan penghuninya. Selanjutnya ia melangkah masuk ke kamar Ara. Senyum Reza tertarik ketika melihat kedua anaknya tidur sambil berpelukan erat dengan Dewi. Reza mencium satu-satu kening mereka sebelum kemudian meninggalkan kamar itu untuk tidur sendiri di kamarnya.
Pagi hari Reza turun menuju meja makan untuk sarapan. Dilihatnya Ara, dan Andra
yang sudah duduk di kursi mereka masing-masing.
“Pagi sayang,” sapa Reza sembari mencium mereka gantian.
“Pagi juga, Papa,” jawab Ara.
Dewi datang dari dapur membawa nasi goreng pesanan dari Ara dan Andra.
“Buat aku nasi goreng juga, Wi? tanya Reza lesu karena berharap sarapannya masih sandwich tuna.
“Sabar, udah Dewi buatin kok,” jawab Dewi sambil menyendokkan nasi ke piring Ara dan Andra.
Setelah menyelesaikan urusan anak-anak, Dewi kemudian beranjak ke dapur lagi untuk membawa kopi dan sandwich untuk sarapan Reza.
“Terimakasih, Bunda,” kata Reza.
“Hem.”
__ADS_1
Usai sarapan, Ara dan Andra pamit meninggalakan kedua orangtuanya untuk memberi makan peliharaan mereka.
“Tas baju kamu kenapa diletak di kamarnya Ara, Wi? Kenapa ngga di pindahin ke lemari di kamar?” tanya Reza setelah kedua anaknya pergi.
“Mau di letakin di lemari mana? Ngga mungkin, kan Dewi singkirin baju dan barang-barangnya Kak Rena yang ada di lemari,” jawab Dewi yang membuat Reza mengernyitkan alisnya.
“Maksud kamu?” tanya Reza lagi.
“Iya, Dewi mau masukin baju Dewi di lemari yang mana? Lemarinya ngga cukup.”
Reza seketika ingat kalau baju dan barang-barang Rena yang ada di lemari belum sempat ia pindahkan.
“Si*l*n, kenapa sampai lupa sih,” batin Reza.
“Maaf ya, Wi. Nanti aku pindahin barangnya Rena,” kata Reza.
“Ngga perlu, Kak. Dewi nyaman kok di kamarnya Ara,” jawab Dewi cepat.
“Tapi ngga mungkin kamu selamanya disana, terus aku gimana?”
“Ngga gimana-mana. Udah deh berangkat lagi, ntar telat lho,” kata Dewi sembari membereskan meja makan.
“Aku harus cepat selesaikan pekerjaan ini biar bisa segera pindah ke rumah baru,” batin Reza.
Seminggu sudah Dewi berada di rumah itu, luka bekas operasi Ara juga sudah kering sehingga Dewi bisa kembali masuk bekerja lagi.
Hari pertama bekerja Dewi diantar oleh Reza. Ia tak diizinkan oleh Reza hari ini membawa mobil sendiri karena Reza berjanji sepulang kerja akan mengajak Dewi untuk melihat sesuatu.
Hari pertama bekerja kembali, Dewi tidak banyak melakukan apapun. Pasien rawat jalannya belum sebanyak sebelumnya dan pasien yang masuk lewat IGD juga tidak banyak.
Menjelang jam pulang, seperti biasa Dewi, dokter residen beserta dokter koas mengadakan rapat membahas pasien-pasien yang mereka tangani hari ini.
“Untuk kasus anak Nabila, silahkan Ferdi,” ucap Dewi menunjuk dokter Ferdi, dokter residen tahun kedua.
“Anak Nabila berumur 5 tahun. Dia masuk IGD karena pingsan saat meniup balon. Menurut hasil CT angio, diduga Sindrom Moyamoya. TFCA bisa dilakukan sore ini. Saat ini pasien sedang diberi oksigen dan infus, kondisinya juga stabil,” jelas dokter Ferdi.
“Apa penyebab penyakit ini?” tanya dokter koas yang bernama Mia.
“Keturunan?” kata dokter Ferdi sambil mengangkat kedua bahunya.
Dewi yang sedari tadi hanya diam mendengarkan, kini mulai angkat bicara untuk menjelaskan.
__ADS_1
“Kemungkinan orangtua menurunkan Sindrom Moyamoya kepada anak memang tinggi, tetapi tidak semua anak mengalaminya. Jadi tidak selalu karena keturunan. Lalu apa yang harus diwaspadai dari anak itu?“ tanya Dewi sambil menatap dokter Ferdi.
“Dia tidak boleh menangis. Menangis atau merajuk membuat pembuluh darah otak menyempit dan peredaran darah ke otak tidak lancar sehingga terjadi kejang otot dan Hemiplegia,” jawab dokter Ferdi.
“Benar, jadi jangan sampai kamu buat dia menangis,” kata Dewi.
“Baik, dok,” jawab dokter Ferdi lagi.
“Sulitnya,” lirih dokter Mia yang mendapat anggukan dari yang lain.
“Ingat, pasien harus rileks saat CT. Tenangkan dahulu sebelum mulai. Kalau memang susah lebih baik kamu berikan suntikan penenang agar pasien bisa dilakukan CT.”
“Baik, dok.”
“Oke hari ini cukup sampai disini, ya,” ucap Dewi mengakhiri.
“Baik, dok. Selamat istirahat,” ucap mereka dokter.
Ketika para dokter koas dan residen akan keluar dari ruangannya Dewi, mereka berpapasan dengan Reza yang baru saja tiba.
“Selamat sore, Pak,” sapa dokter Kiki.
“Sore. Istri saya ada?”
“Ada, Pak. Kami baru siap rapat.”
“Baiklah. Terimakasih.”
Reza kemudian masuk dan mendapati Dewi yang masih duduk di kursi sambil memainkan ponselnya.
“Lho Kak Reza udah datang? Kenapa ngga ngabarin?”
“Sengaja, yakin kalau kamu belum selesai, ternyata benar.”
“Udah selesai, kok. Tunggu bentar, ya, Dewi mandi dulu sebentar. Ngga mungkin bawa virus bakteri di badan pulang ke rumah,” ucap Dewi sambil berlalu meninggalkan Reza yang telah duduk di sofa yang ada di ruangan Dewi.
——
• Penyakit Moyamoya merupakan kelainan di pembuluh darah otak atau serebrovaskular. Sejenis penyakit langka disebabkan karena tersumbatnya arteri di dasar otak, di area yang disebut dengan basal ganglia. Hal ini menyebabkan aliran darah ke otak menjadi sangat terbatas.
• Hemiplegia adalah kondisi kelumpuhan atau hilangnya kemampuan otot untuk bergerak yang terjadi pada salah satu sisi tubuh. Sebagian besar kasus hemiplegia disebabkan oleh cedera saraf tulang belakang, cedera pada leher hingga patah, atau stroke.
__ADS_1