Izinkan Aku Untuk Bahagia

Izinkan Aku Untuk Bahagia
Bab 49


__ADS_3

Dewi terbangun ketika mendengar suara tangis Ara yang memanggil dirinya. Ketika ingin bangun, ia merasakan sebuh tangan yang berada diatas perutnya.


“Ini orang kapan tidurnya disini coba,” pikir Dewi yang melihat Reza masih tidur lelap disampingnya.


“Halo cantiknya bunda, Assalammualaikum,” salam Dewi yang langsung menuju ranjang Ara.


“BUNDA!” Pekik Ara yang langsung meminta dipeluk oleh Dewi.


Suara Ara yang besar membangunkan Reza dari tidur singkatnya.


“Sayang, kamu sudah bangun?” tanya Reza yang melihat putrinya dalam pelukan Dewi.


“Papa kemana? Adek cali-cali Papa tapi Papa ngga ada,” kata Ara.


“Maaf, sayang. Kan kemarin Papa udah bilang kalau Papa mau pergi kerja jauh dulu. Jangan nangis dong princessnya Papa,” ucap Reza yang membawa Ara ke dalam pelukannya.


“Lihat, Papa udah bawa Bunda lagi, kan. Jadi Ara ngga boleh nangis lagi, ya,” sambung Reza.


“Bunda ngga akan pelgi-pelgi lagi, kan?” tanya Ara setelah melepaskan pelukannya dari Reza.


“Iya, sayang. Bunda janji Bunda ngga akan pergi-pergi lagi. Bunda akan selalu bersama Ara dan abang,” kata Dewi sambil mengusap pucuk kepala Ara.


“Adek kangen sama Bunda.” Ara memeluk erat Dewi.


“Iya, sayang. Bunda juga kangen banget sama adek.”


Dikecupnya pipi putri sambungnya itu. Ara yang mendapat ciuman dari Dewi juga membalas mencium pipi bundanya. Reza yang tidak mau kalah juga ikutan mencium pipi Ara dan Dewi bergantian.


“Papa juga mau cium dong.”


Cup cup


Dewi kaget dengan gerakan cepat Reza yang mencium pipinya.


“Ih apaan sih Kak Reza cium-cium,” kesal Dewi.


“Ara aja boleh cium kamu, masa aku ngga boleh sih, Wi.”

__ADS_1


“Papa ngga boleh cium-cium Bunda. Yang boleh cium-cium Bunda cuma Adek aja. Teyus Papa juga ngga boleh malah-malah lagi sama Bunda, nanti Bunda Adek pelgi jauh lagi. Kalau Papa nakal sama Bunda, nanti Adek hukum Papa,” ucap Ara yang mulai posesif menjaga Bundanya dari kenakalan sang Papa.


“Asik, Bunda ada yang jagain sekarang, ya,” kata Dewi sambil memeletkan lidahnya ke Reza.


“Iya, tapi kalau malam anak-anak udah tidur kamu ngga ada yang jaga,” bisik Reza tepat di teling Dewi. Setelah itu Reza tertawa sambil berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya


“Gaje banget Kak Reza.”


🌸🌸🌸


Ara langsung tertidur setelah tak berapa lama selesai makan malam dan minum obatnya. Awalnya Ara merengek, meminta Dewi untuk tidur di sampingnya. Namun setelah diberi pengertian cukup lama kalau bekas operasinya nanti akan sakit kalau tidur dempet-dempetan akhirnya Ara mau tidur sendiri dengan syarat jika sudah pulang ke rumah nanti Dewi harus tidur bersamanya. Dewi menyetujui syarat Ara, karena ia sendiri juga belum siap untuk berbagi kamar dengan Reza.


“Alhamdulillah kondisi dada Ara ngga terlalu parah banget ya, Kak. Dewi sempat khawatir banget tadi, apalagi ngga dapat kabar sama sekali tentang perkembangan operasinya. Tapi setelah lihat Ara bangun tadi Dewi baru lega.”


“Jadi berapa hari kira-kira Ara akan dirawat?” tanya Reza.


“Dewi rasa sih paling lama lima hari atau seminggu. Tulang yang retak nanti juga akan pulih sendiri karena Ara juga masih dalam masa pertumbuhan,” jelas Dewi.


“Syukurlah.”


“Oh itu. Dia ngejar balonnya yang terbang. Karena terlalu asik melihat balon sampai dia nggak sadar kalau ada motor kencang yang udah dekat sama dia,” jelas Reza.


“Kalau dilihat dari CT scannya, sepertinya motornya kencang itu. Kok bisa di komplek rumah ada yang bawa motor kencang?”


“Kejadiannya bukan di rumah, tapi depan toko kue langganan kamu itu. Kamu tahu tidak, sekarang aku, Andra dan Ara jadi suka sama kue brownis dari toko itu,” jelas Reza.


“Padahal dulunya ngga terlalu suka ya,” kata Dewi.


“Sedikit cara bagi kami untuk menghilangkan rindu padamu, tapi bukannya reda malah semakin rindu,” ujar Reza.


“Ulu-ulu kasihan banget sih,” kata Dewi sambil mencubit gemas pipi Reza.


“Udah berani cubit-cubit ya kamu.”


“Emang siapa yang takut,” jawab Dewi sambil memelet Reza.


“Awas ya kamu,” kata Reza yang kemudian menggelitik tubuh Dewi. Dewi yang memang tak tahan geli tak sengaja mengeluarkan suaranya cukup keras. Mereka diam sejenak karena Ara yang sudah tidur tiba-tiba saja bergerak. Sepertinya gadis kecil itu sedikit terganggu dengan suara dari kedua orangtuanya.

__ADS_1


Dengan isyarat mata, Dewi mengajak Reza untuk duduk di sofa yang mana sebelumnya mereka masih duduk di samping ranjang Ara.


“Belum pulang aja kamu udah di kuasai sama Ara. Tapi kamu ngga beneran tidur di kamar Ara sampai pagi kan, Wi?” tanya Reza yang sedikit resah.


“Ya iya dong sampai pagi Dewi tidur sama Ara. Kenapa emang?” tanya Dewi balik.


“Terus aku gimana?” tanya Reza dengan wajah cemberut.


“Biasanya gimana? Udah biasa tidur sendiri juga, kan? Waktunya pulang ke apartemen tapi ngga pulang-pulang. Pulang ke rumah juga ngga. Yaudah berarti emang pengennya tidur sendiri, kan?”


“Yang itu jangan diingat-ingat dong. Aku selalu sedih tau ngingatnya.” Reza menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan bicaranya.


“Kayaknya rasa bersalah itu akan selalu ada seumur hidup aku, Wi,” lirih Reza.


Dewi yang tidak tega melihat wajah sedih Reza menepuk pelan pundak suaminya itu.


“Udah, Kak Reza jangan sedih lagi. Semua udah terjadi juga.”


Reza mengambil tangan Dewi yang berada di pundaknya dan kemudian menggenggamnya erat.


“Sekali lagi aku minta maaf ya, Wi. Aku benar-benar menyesal atas kebodohan aku itu. Aku janji ngga akan pernah buat kamu nangis seperti kemarin,” ucap Reza sambil menatap dalam ke mata Dewi.


“Yakin ngga akan buat Dewi nangis?” tanya Dewi.


“Hem. Kalaupun kamu nangis, aku pastikan itu adalah tangis bahagia,” yakin Reza.


“Dewi tunggu buktinya.”


“Terimakasih, sayang.” Reza mencium dalam kening Dewi.


“Hem.” Dewi menunduk malu.


“Tangannya udah ini lepasin, Kak. Kayak mau nyebrang jalan aja,” ucap Dewi sambil melepaskan genggaman tangannya dari Reza, namun gagal karena tangannya di tarik lagi oleh Reza.


“Aku akan selalu menggandeng tangan kamu, bersama-sama menjalani bahtera rumah tangga kita ini agar menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah. Dan tentunya untuk menuju surga-Nya,” ucap Reza yang mampu menggetarkan hati Dewi.


Dewi merasa sangat dicintai oleh Reza saat ini. Ia berharap bahwa laki-laki ini tidak akan pernah mengecewakannya lagi.

__ADS_1


__ADS_2