
“Hah.” Mata Dewi langsung terbuka lebar terbangun dari tidurnya. Dewi segera bangun dan duduk bersandar di sandaran ranjangnya. Nafasnya masih tersengal-sengal. Diminumnya air putih yang ada disamping tempat tidurnya. Hatinya mendadak gelisah. Ia tadi bermimpi Andra yang terluka ketika sedang latihan silat. Ia merindukan bocah laki-laki itu.
Dilihatnya jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Perbedaan waktu 5 jam dengan Indonesia berarti saat ini di Jakarta sekarang pukul 9 malam.
“Mami udah tidur belum ya,” lirih Dewi.
Dewi mengambil ponsel yang terletak di atas meja nakas, dan mencari kontak mami Lisa. Awalnya wanita itu ragu, takut mengganggu istirahat orangtua angkatnya itu.
“Kayaknya belum tidur deh, masih jam 9 juga disana.”
Pada deringan ketiga, panggilan itu dijawab oleh mami Lisa.
“Halo sayang.”
“Halo Mi. Udah tidur belum? Dewi ganggu ngga?”
“Ngga ganggu kok. Mami juga belum tidur. Ada apa?”
“Eem ngga kangen aja.”
“Kan baru tadi sore telponannya.”
“Eh iya lupa,” Dewi pura-pura tertawa.
“Jujur ada apa?” tanya mami Lisa.
“Heem Mami ada ketemu sama abang ngga?” tanya Dewi dengan suara yang kecil seperti berbisik sih.
“Kok bisik-bisik sih? Hem kenapa tanya abang? Tumben. Kangen ya?” selidik mami Lisa.
“Tadi ke mimpi abang Mi makanya kebangun,” jujur Dewi.
“Abang sehat kan Mi?”
“Alhamdulillah abang sehat, adek juga sehat,” jawab mami Lisa sambil tertawa.
“Kok ketawa sih Mi? Ada yang lucu emang?”
__ADS_1
“Iya kalian itu berjodoh tahu ngga. Setelah tadi kita telponan, ngga lama Andra telpon mami nanyain kamu. Katanya kapan bunda pulang dari liburan, terus kenapa ngga ada telpon abang, abang kangen. Gitu katanya.”
“Dewi juga kangen sama anak-anak.”
“Anak-anak aja? Papanya?” goda mami Lisa.
“Mii.”
“Sayang, mami mau tanya. Apa ngga ada sama sekali harapan untuk Reza?” Mami Lisa memberi jeda sejenak sebelum melanjutkan.
“Reza kacau ngga ada kamu Wi. Dia udah nyari-nyari kamu. Dia sendiri datang ke kampung dan menanyakan langsung sama paman kamu apa kamu ada disana. Paman kamu bilang kamu ngga ada di kampung, Reza mampir ke makamnya orangtua kamu. Kamu tahu Wi? Disana dia nangis minta maaf sama kedua orangtua kamu karena belum bisa jadi suami yang baik buat kamu. Dia juga coba cari kamu ke Korea, ngira kamu balik ke rumah sakit disana. Dan kamu tahu? Dia juga cari kamu di setiap desa yang pernah kamu datangi pas hiking dan camping. Reza ngga berani ketemu mami papi buat nanya langsung.”
Dewi yang mendengarkan cerita mami Lisa hanya diam tidak berkomentar, hanya tampak matanya yang berkaca-kaca.
“Reza lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mencari kamu daripada menemani Rena,” lanjut mami Lisa.
Dewi mulai menangis terisak mengingat kakaknya yang telah tiada itu. Sewaktu berangkat ke Swiss, ia tidak menemui Rena dulu untuk meminta maaf.
“Papi belum mengajukan gugatan perceraian kalian Wi. Mami dan papi berharap hubungan kalian masih bisa dilanjutkan lagi,” pinta mami Lisa.
Mami Lisa mengehala nafas pelan. “Yasudah kamu lanjut tidurnya lagi ya. Segera pulang, mami rindu banget sama kamu.”
“Iya Mi. Assalammualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Dewi memegang erat ponselnya. Dihapusnya air mata yang membasahi pipinya. Walau sudah dihapus, air mata itu masih juga turun tanpa permisi.
“Huh ngga boleh sedih lagi. Harus bisa!” Dewi menyemangati dirinya.
Pagi harinya seperti biasa Dewi sarapan bersama dengan bik Asih. Bik Asih menatap heran ke arah Dewi yang pagi ini raut wajahnya kembali muram, padahal kemarin sudah menunjukkan kemajuan dengan selalu tersenyum sepanjang hari.
“Non Dewi kenapa? Kok pagi ini bibik lihat lesu gitu? Batal ya janji dengan temannya?” tanya bibik yang mencoba menggali informasi dari Dewi.
Dewi menggeleng. “Jadi kok bi nanti agak siangan perginya.”
“Terus kenapa Non? Kok lesu gitu?”
__ADS_1
“Hem Dewi boleh cerita sama Bibik?” tanya Dewi ragu. Ia merasa mungkin dengan bercerita dengan masalahnya akan sedikit mengurangi sesak yang ia rasakan.
“Boleh atuh cerita aja Non.”
Dewi menghela nafas pelan sebelum bercerita.
“Tadi malam mami nelpon. Mami cerita tentang kondisi kak Reza sekarang. Kata mami kak Reza nyari-nyari Dewi, Bik. Menurut Bibik, Dewi harus gimana?”
“Jujur, kalau bibik yang diposisi Non Dewi pasti juga merasakan kecewa dan marah. Tapi melihat kondisi tuan Reza sekarang Bibik juga ngga tega. Yang bibik lihat tuan Reza sangat menyesali perbuatannya yang lalu Non. Memaafkan memang mudah tapi melupakannya yang susah. Tetapi kalau kita ikhlas, insyaAllah semua rasa kecewa dan amarah akan hilang secara perlahan Non.”
Dewi hanya mendengarkan omongan bik Asih tanpa menjawab. Ia mengiyakan dalam hatinya, kalau kita ikhlas menerima pasti semua rasa kecewa ini akan pudar perlahan. Tetapi dengan menerima Reza kembali apakah ia siap?
——
Menjelang pukul 11 malam, Briggita datang menjemput Dewi bersama Julian. Mereka menggunakan mobil milik Julian untuk berpetualang hari ini. Briggita dan Julian akan menjadi tour guide untuk Dewi untuk beberapa waktu ke depan.
Tujuan pertama mereka adalah Grindelwald. Tak jauh jaraknya dengan Iseltwald, hanya berjarak 27 Km dengan waktu tempuh 33 menit menggunakan mobil.
Grindelwald merupakan salah satu desa yang masuk dalam wilayah administratif Interlaken-Oberhasli, Swiss. Desa ini memiliki luas wilayah 171,3 km², dan dihuni lebih dari 3.800 penduduk. Desa ini terletak di kaki Gunung Eiger yang membuatnya memiliki pemandangan yang begitu cantik. Tidak hanya dikelilingi oleh pegunungan, ada juga laut biru yang semakin mempercantik pemandangan Grindelwald.
Grindelwald menjadi destinasi favorit bagi para wisatawan. Selain salah satu menjadi lokasi syuting drama korea yang sempat hits kala itu, disini terdapat berbagai aktivitas seru yang dapat dicoba. Kali ini Dewi, Briggita dan Julian akan mencoba melintasi pegunungan dengan cara terbang.
Inilah First Glider, tempat di mana wisatawan dapat melayang dan meluncur dengan kecepatan 83 km/jam di udara. Kendaraan yang digunakan berbentuk elang dan dapat dinaiki 4 orang. Dengan posisi badan menghadap ke bawah, wisatawan akan ditarik dahulu dengan kecepatan 72 km/jam bak bumerang.
Setelah puas bermain, mereka meneruskan petualangan mereka menuju danau Bachalpsee. Danau Bachalpsee merupakan sebuah danau yang terletak di puncak First. Air tenang danau ini memantulkan gambaran gunung Schreckhorn yang megah. Danau berwarna biru ini mendapat julukan blue jewel alias permata biru.
“Gimana? Masih betah di rumah aja?” ledek Briggita yang melihat senyum Dewi tak putus sejak mereka turun dari mobil tadi.
Dewi tertawa mendengar ledekan Briggita.
“Padahal aku tahu lho kalau disini itu tempatnya keren, bagus. Tapi kenapa ya 6 bulan waktu aku cuma dihabiskan di rumah aja.”
“Kebanyakan galau. Udah tinggalkan galaumu, sekarang waktunya bersenang-senang,” sambung Julian.
“Yuhuu let’s fun kita,” ajak Briggita.
Mereka bertiga menghabiskan waktu di desa ini hingga menjelan) malam hari.
__ADS_1