Izinkan Aku Untuk Bahagia

Izinkan Aku Untuk Bahagia
Bab 64


__ADS_3

Sudah sebulan Reza beserta keluarganya menempati rumah alam, sebutan yang disematkan oleh Andra melihat rumah ini banyak ditanami oleh tanaman-tanaman. Tidak dibutuhkan waktu yang lama bagi Andra dan Ara untuk beradaptasi dengan rumah baru mereka.


Setiap pagi, Reza akan menyempatkan diri untuk mengantarkan Andra yang kini sudah sekolah SD sedangkan Ara yang juga sudah mulai sekolah playgroup, baru setelah itu ia mengantarkan Dewi ke rumah sakit.


Terkadang Reza juga menyempatkan diri untuk makan siang di rumah sakit bersama Dewi dan sahabat-sahabatnya, bahkan jika jadwal Dewi dan Reza siang itu tidak padat Reza juga mengajak Dewi untuk makan siang di luar. Berkat dirinya yang terlampau rajin mengunjungi Dewi, hampir satu gedung rumah sakit Medical Jaya mengenal Reza.


"Sepertinya Kak Reza udah mulai bucin sama lo, Wi," ucap Tania saat mereka berada di dalam ruang istirahat di ruangan operasi. Kebetulan mereka berdua memiliki jadwal operasi yang bersamaan.


"Hem bucin akut," jawab Dewi tersenyum. ia meminum minuman boba miliknya sebelum masuk ke kamar operasi.


"Kak Reza juga kelihatan sayang banget sama lo sekarang. Gue senang, Wi akhirnya lo bener-bener bahagia sekarang," ucap Tania tulus.


"Thank's, Tan."


Obrolan mereka terputus ketika dokter Kiki masuk ke dalam ruangan untuk memberitahu bahwa persiapan untuk operasi sudah selesai sehingga operasi bisa dilaksanakan segera.


"Gue duluan," pamit Dewi.


"Hem selamat bekerja."


Operasi itu berlangsung selama empat jam, dan kini jam telah menunjukkan pukul 17.00.


"Kerja bagus semuanya," ucap Dewi untuk semua tim yang ikut dengan operasinya kala itu. Ia berjalan kembali ke ruangannya untuk bersiap-siap pulang. Sambil berjalan Dewi melihat pesan yang masuk di ponselnya ketika ia sedang operasi tadi.


Sayang maaf hari ini kamu pulang sendiri dulu, ya, aku masih ada pekerjaan. Pulang bareng Leo dan Tania aja, jangan bareng Candra. Love you.


Ternyata pesan dari Reza yang dikirimnya pada pukul 15 tadi. Di dalam lift masih menuju ruangannya Dewi membalas pesan suaminya itu.


"Dewi pulang naik taksi saja, Kak soalnya Tania masih ada operasi. Semangat kerja papanya anak-anak," balas Dewi pada pesan Reza.


Dewi memang masih belum mau secara gamblang menyatakan perasaanya seperti yang Reza lakukan padanya setiap hari. Reza sendiri juga tidak pernah memaksanya karena ia tahu tanpa harus dikatakan oleh Dewi bahwa wanita itu juga memiliki perasaan yang sama padanya.


Dewi tiba di rumah tepat pada azan maghrib. Kebiasaan yang Dewi terapkan bersama keluarganya ini adalah selalu solat berjamaah pada saat maghrib, dan setelahnya ia akan mengajarkan Ara untuk membaca iqro sedangkan pada Andra ia akan mencoba mengulang kembali hafalan-hafalan surah (murojaah) yang sebelumnya sudah di hafal oleh putra sambungnya itu.


Dewi berkomitmen untuk selalu pulang sebelum waktunya solat Maghrib karena ia ingin untuk bisa solat berjamaah dengan keluarganya. Dewi tidak bisa mengelak akan kewajiban utamanya sebagai seorang istri dan ibu yang mana utamanya adalah tetap keluarga. Dewi bahkan pernah bertanya langsung kepada Andra apakah ia harus berhenti dari pekerjaannya sebagai dokter agar ia bisa selalu bersama keluarganya. Lagi-lagi jawaban anak berumur 6 tahun itu membuat Dewi kagum.

__ADS_1


"Bunda bekerja sebagai dokter, Bunda menyelamatkan banyak orang-orang yang sakit jadi tidak sakit lagi. Abang bangga punya Bunda. Asalkan Bunda selalu pulang ke rumah ini Abang ngga apa-apa, adek juga gitu. Kami sayang sama Bunda," ucap Andra dulu.


Usai membaca Al-Quran saatnya mereka untuk makan malam. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, waktunya bagi mereka untuk makan malam. Namun Reza masih juga belum nampak pulang. Memang terkadang Reza pulang malam terutama ketika pekerjaannya sedang banyak-banyaknya.


"Kita makan duluan aja, ya, sepertinya Papa lagi banyak pekerjaannya," kata Dewi mengajak kedua anaknya untuk makan.


Selesai makan, Dewi membantu keduanya belajar secara bergantian. Andra tidak terlalu susah dalam hal belajar karena putranya itu mewarisi kepintaran dari sang ayah. Sedang pada Ara, Dewi membantu mengenalkan huruf dan angka pada putrinya itu.


Jam 9 kedua anaknya sudah mulai mengantuk sehingga Dewi menemani sebentar sampai mereka tertidur. Setelah memastikan mereka berdua sudah tidur, Dewi memutuskan kembali ke kamarnya. Ia mengecek ponselnya apakah ada kabar dari suaminya yang sampai saat ini belum juga pulang.


"Kak Reza kemana sih? Tumben ngga ngasih kabar. Apa aku telepon aja, ya?" gumam Dewi.


Dewi kemudian mencoba menghubungi Reza, namun hasilnya nihil. Ponsel pria tersebut tidak aktif.


"Habis baterai nya kali. Lindungi suamiku dimanapun dia berada ya Allah," dia Dewi.


Hingga jam sepuluh malam Reza belum juga pulang. Dewi yang memang sudah mengantuk akhirnya tertidur duluan.


Pagi harinya Dewi terbangun ia sudah berada di pelukan suaminya. Ia bisa melihat wajah lelah suaminya yang saat ini sedang tidur pulas. Diusap-usapnya wajah lelah sang suami. Reza yang merasa wajahnya dielus membuka kedua matanya. Bukannya bangun, Reza malah makin memeluk erat Dewi.


Reza melepaskan pelukannya dan merubah posisi tidurnya kini menjadi terlentang. Dewi beranjak dan langsung menuju kamar mandi. Di depan pintu kamar mandi ia teringat kalau pagi ini ia berniat untuk mencoba test peck yang sudah ia beli kemarin. Ia sudah telat 3 haril dan ia berharap hasilnya sesuai dengan keinginannya.


Setelah menampung urinnya, Dewi mencelupkan ujung dari test peck sesuai dengan petunjuk yang tertulis. Kemudian diangkatnya dan ditunggunya beberapa saat. Jantungnya kini deg-degan menunggu hasilnya. Hasil keluar yang membuat Dewi terduduk lemas, negatif.


Dewi menangis dalam diam. Memang baru sebulan mereka melakukan hubungan suami istri, namun kehadiran seorang anak lagi saat ini sangat diharapkan oleh Dewi. Dewi takut kalau kejadian tempo lalu membuat ia akan susah untuk hamil kembali.


Reza yang merasa Dewi terlalu lama di dalam kamar mandi kemudian menyusul. Kamar mandi yang tidak tertutup sempurna membuat Reza bisa langsung masuk. Reza yang melihat Dewi duduk di lantai langsung panik dan mendekati Dewi.


"Sayang ada apa? Kamu sakit?" tanya Reza. Reza mengangkat wajah Dewi yang saat ini ia tundukkan ke bawah. Dapat Reza lihat kalau istrinya itu sedang menangis karena air mata yang terus saja keluar.


"Maaf," lirih Dewi dalam tangisnya.


"Maaf kenapa, sayang?"


Dewi menyerahkan test peck yang masih ia pegang. Reza menerimanya dan melihat hasil yang ditunjukkan oleh test peck tersebut. Reza baru paham apa yang menyebabkan istrinya ini menjadi sedih.

__ADS_1


Dibawanya Dewi dalam pelukannya. Terus dielus-elusnya punggung sang istri agar wanitanya ini kembali tenang.


"Ngga apa-apa, sayang, masih banyak waktu buat kita, apalagi kan baru sebulan kita melakukannya. Jadi kamu ngga usah sedih seperti sekarang."


"Tapi bagaimana kalau Dewi ngga bisa lagi, Kak?" tanya Dewi yang masih saja menangis.


"Percaya sama rezeki dari Allah ya, sayang. Jangan pernah berprasangka buruk. Tania sendiri, kan juga bilang kalau kamu masih bisa hamil lagi, jadi jangan pernah berpikiran buruk, ya."


Terasa sudah sedikit lebih tenang, Reza mengendorkan pelukannya dan membawa wajah Dewi keatas menghadapnya.


"Jangan pernah merasa sedih lagi, ya. Nanti kita usaha lebih giat lagi biar berhasil," goda Reza sambil mengedipkan sebelah matanya.


" Itu maunya Kakak," jawab Dewi yang sudah bisa kembali tersenyum.


" Yasudah kamu ambil wudhu dulu setelah itu kita jamaah, keburu terbit nanti."


Setelah selesai solat subuh Reza pamit ke ruang kerjanya untuk kembali melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.


"Udah pulang larut kemarin emang belum selesai juga, Kak kerjanya?" tanya Dewi yang sedikit kesal. Sudah tadi malam pulang telat terus sekarang Reza harus kerja juga di hari libur.


"Iya maaf, ya. Ada sedikit kendala soalnya," jawab Reza.


"Ada masalah apa, Kak di kantor?" tanya Dewi sambil menyiapkan kopi pesanan Reza.


"Masalah kecil aja, makanya harus segera diselesaikan biar ngga jadi besar," jawab Reza. "Biar aku aja sekalian yang bawa kopinya."


"Yasudah nanti kalau sarapannya udah siap Dewi panggil, ya."


Reza hanya tersenyum sambil berlalu masuk ke dalam ruang kerjanya. Ia meletakkan kopi buatan istrinya diatas meja. Reza merasakan getaran pada ponsel yang ia simpan di saku celana rumahnya. Setelah dibuka ternyata itu adalah pesan dari Luar, sekretarisnya.


Kalau sampai Pak Reza menuruti permintaan gila Pak Wira, saya resign dari kantor bapak. Ingat, Pak, saya ada dikubu dokter Dewi!!


Reza mengernyitkan alisnya membaca pesan yang dikirim sekretarisnya itu.


"Bisa-bisanya dia mengancam atasannya sendiri. Lagian siapa yang mau ikutin permintaan gila si tua itu. Heran, anak sama bapak sama-sama licik dan pemaksa."

__ADS_1


__ADS_2