Izinkan Aku Untuk Bahagia

Izinkan Aku Untuk Bahagia
Bab 65


__ADS_3

"Papa dimana, Bun?" tanya Andra yang baru saja datang dari kamarnya. Ia kini duduk di kursi meja makan sambil melihat Dewi yang sedang menyiapkan sarapan untuk mereka dibantu oleh Bik Asih.


"Papa ada di ruang kerjanya. Abang ada apa? Adek mana? Udah bangun belum?"


"Adek masih tidur, Bun. Papa ngapain disana, Bun? Kemarin, kan papa janji mau ajak abang dan adek main ke mall, udah lama kita ngga main di mall Bunda," keluh Andra yang ingin menagih janji orangtuanya.


"Nanti Bunda coba tanya sama papa, ya semoga kerjaan papa cepat selesainya," jawab Dewi. "Abang tunggu sarapannya siap dulu, terus panggil papa diruang kerjanya. Bunda mau bangunkan adek dulu."


Dewi membangunkan Ara yang masih tidur di kamarnya. Ia juga membantu putrinya itu untuk mandi dan memakai baju pilihan Ara.


"Kita jadi pergi ke mall kan, Bun hari ini?" Ara juga menanyakan hal yang sama seperti Andra tadi.


"Kalau besok saja bagaimana? Hari ini papa sibuk masih ada kerjaannya," bujuk Dewi. Dewi yakin kalau hari ini Reza tidak akan bisa menepati janjinya terhadap anak-anak sehingga ia harus membujuk kedua anaknya ini agar mau jalan-jalannya untuk ditunda dahulu.


"Tapi papa udah janji, Bun," kata Ara dengan raut wajah yang sedih.


Dewi menghela nafas pendek, tak tega melihat wajah sedih di muka Ara.


"Kalau perginya bareng Bunda dan Abang aja mau? Kasihan papa Adek lagi banyak banget kerjaannya," tawar Dewi.


"Bole bole," jawab Ara mengangguk-anggukkan kepalanya.


Dewi mengajak Ara keluar kamar untuk bergabung dengan Andra di meja makan. Sampai di ruang makan, hanya ada Andra disana tanpa Reza.


"Abang udah jadi panggil papa?" tanya Dewi yang tidak melihat Reza di meja makan.


"Papa suruh kita makan duluan nanti papa nyusul," jawab Andra.


"Oh yasudah Abang sama Adek sarapan dulu, Bunda mau antar sarapan punya papa ke ruang kerjanya dulu, ya."


Dewi menyiapkan sandwich dan kopi kesukaan Reza. Diletaknya diatas nampan dan kini ia berjalan menuju ruang kerja Reza.


Tok tok tok


Pelan Dewi memutar knop pintu, terlihat Reza sedang berdiri menghadap jendela sambil menelepon seseorang dengan raut wajah yang tidak baik.

__ADS_1


"Siapkan tiket buat saya berangkat sekarang, paling lama siang ini," perintah Reza diujung telepon. Sepertinya Reza sedang melakukan telepon dengan Lia sekretarisnya atau Anton asistennya.


Reza mengakhiri teleponnya pas ketika Dewi sampai didepan meja kerjanya.


"Kak Reza mau pergi?" tanya Dewi sembari meletakkan sarapan Reza diatas meja.


"Iya, hari ini aku mau ke Singapura," jawab Reza yang masih menatap ponselnya.


"Apa ada masalah besar di kantor, Kak?" tanya Dewi hati-hati. Ia tahu kalau saat ini suasana hati Reza sedang tidak baik.


"Hanya masalah kecil saja, kamu ngga usah khawatir," jawab Reza. Pria itu menghampiri Dewi dan mencium kening istrinya.


Entah bagaimana tapi Dewi merasakan ada sesuatu yang disembunyikan oleh suaminya itu. Ia tidak akan memaksa jika Reza sendiri tidak mau bercerita kepadanya.


"Anak-anak tadi minta untuk diantarkan ke mall, kata mereka kita udah janji. Dewi ngga tega lihat muka sedih mereka. Boleh Dewi saja yang menemani mereka ke mall?"


Reza mengusap kasar wajahnya. Ia lupa kalau Minggu ini ia memang berjanji dengan anak-anaknya untuk membawa mereka bermain di mall.


"Kamu ngga apa-apa sendirian sama anak-anak?" tanya Reza dengan wajah tak enak.


"It's ok, kakak lagi sibuk tak mungkin dipaksakan. Anak-anak pasti paham, kok," ucap Dewi menenangkan.


"Mau dibantu nyiapin pakaiannya? Untuk berapa lama?"


"Aku juga belum tahu, mungkin selama seminggu, bahkan bisa lebih. Tapi aku janji setelah selesai akan langsung pulang."


"Kakak pergi sendiri?"


"Aku pergi sendiri. Lia dan Anton akan mengurus perusahaan disini selama aku pergi."


Dewi menganggukkan kepalanya. "Yasudah dimakan sarapannya, Dewi keluar dulu temanin Abang sama Adek." Dewi segera keluar dari ruangan kerja Reza.


"Maaf aku ngga bisa jujur tentang masalah ini. Aku janji akan menyelesaikan semuanya dengan cepat sehingga kita bisa berkumpul lagi seperti biasanya," batin Reza.


Pukul 11 Dewi mengajak Andra dan Ara pergi ke mall. Tujuan pertama mereka adalah toko buku. Ara minta untuk di belikan stiker-stiker seperti teman sekolahnya punya. Sedangkan Andra ia ingin mencari buku tentang angkasa. Setelah kemarin ia sempat melihat buku koleksi Dewi tentang luar angkasa, kini ia juga mulai tertarik dengan hal itu.

__ADS_1


Setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka kemudian makan siang di restoran cepat saji pilihan Ara.


"Papa kenapa hari libur masih kelja juga sih, Bun?" tanya Ara yang masih sedikit kesal karena Reza tidak bisa ikut bersama mereka saat ini.


"Papa kerja, kan untuk kita juga. Biar Ara bisa sekolah di tempat yang bagus, biar Ara bisa pergi ke tempat yang Ara mau, juga biar Ara bisa makan yang Ara mau makan."


"Tapi kan papa udah janji sama kita, Bunda," timpa Andra. Ternyata putra sambungnya ini juga memendam kekecewaan karena Reza yang harus bekerja di akhir pekan, dan pria itu kini malah harus pergi ke Singapura.


"Doakan saja pekerjaan papa cepat selesai, jadi papa bisa kumpul lagi sama Abang dan adek di hari libur." Dewi berusaha membuat kedua anaknya ini senang kembali. "Ayuk cepat dimakan, katanya mau main ke playground."


Usai makan mereka bertiga berjalan bergandengan menuju tempat bermain yang ada di lantai 3 mall tersebut. Langkah Dewi yang membawa kedua anaknya terhenti ketika suara seseorang yang ia kenal memanggil namanya.


"Halo dokter Dewi," sapa wanita itu.


Dewi menatap jengah perempuan yang kini berdiri di depannya.


"Ada puluhan mall di Jakarta dan kita berdua bertemu disini. Woow sangat sial sekali saya," ucap Dewi.


"Kamu sekarang masih bisa berkata seperti itu, tapi tidak untuk besok," jawab Siska sambil melihatkan senyuman smirk di wajahnya.


"Kalau begitu saya permisi dulu. Bye-bye calon anak-anak aku," kata Siska yang mendapat tatapan tajam dari Dewi.


Disisi lain, Reza yang telah mendarat di negara Singapura itu langsung menuju tempat dimana orang yang akan ia temui berada. Saat ini ia harus berjuang mempertahankan kestabilan perusahaannya dan juga keutuhan rumah tangganya.


Chris, orang yang ingin ia temui ini bukanlah orang biasa. Perusahaannya termasuk perusahaan terbesar nomor 2 di wilayah Asia Tenggara. Reza harus meyakinkan pemimpin perusahaan itu agar ia mau bekerja sama dengan perusahaan milik Reza.


Reza juga membawa serta Farel yang kebetulan mendiang adiknya itu pernah menjalin hubungan dengan sang pemimpin perusahaan.


"Gue ngga yakin dia mau nemuin kita sekarang," kata Farel. Saat ini mereka sedang berada di dalam mobil menuju lapangan golf tempat Chris berada."


"Ngga ada salahnya kita harus coba dulu," jawab Reza optimis.


"Lagian kenapa lo ngga terima aja tawaran Pak Wira? Lo juga, kan pernah menjalani pernikahan poligami juga."


"Karena gue pernah makanya gue ngga mau lagi. Lo pikir enak poligami? Lagian gue ngga akan pernah menduakan Dewi. Cukup Dewi yang jadi istri gue!"

__ADS_1


"Cie yang bucin," goda Farel.


"Terserah lo mau bilang gue apa, yang jelas gue sayang dan cinta sama Dewi. Ngga lagi gue nyakitin dia."


__ADS_2