
“Papa…,” pekik Ara.
“Papa lama banget, sih. Nanti kita telat,” sambung Ara.
Sudah lebih dari lima belas menit Ara memanggil Reza yang masih betah diruang kerjanya sejak selesai shalat subuh tadi. Reza baru saja tiba dari Singapura malam tadi setelah beberapa hari harus ke Singapura dalam rangka kerja sama yang sedang terjalin antara perusahaan miliknya dengan milik Chris.
Akhirnya Reza keluar dari ruang kerjanya, berjalan dengan santai, dan tentu saja apa yang ia lakukan saat ini mendapatkan pelototan tajam dari Dewi, Andra, dan Ara.
“Papa lama,” kata Ara.
“Ngga lama banget kok, sayang. Belum telat juga,” jawab Reza enteng. Ia melenggang santai menuju istri dan kedua anaknya yang kini tengah duduk di sofa ruang tengah.
Dewi yang melihat Reza berjalan ke arahnya sontak langsung berdiri diikuti oleh Andra.
“Berdoa aja ngga macet. Kalau sampai kita ketinggalan pesawat, Dewi pergi sama anak-anak aja nanti. Kak Reza tinggal!” kata Dewi sambil berjalan keluar.
“Awas aja kalau sampai kita telat," sambung Andra yang juga mengekori Dewi.
"Kamu ngga marah juga, kan sama Papa?" tanya Reza pada Ara yang masih duduk di sofa.
"Ara marah juga kayak Bunda dan Abang!" Ara berjalan meninggalkan Reza seorang diri di ruangan itu.
"CK, bisa-bisaan kompak begitu ibu dan anak," gerutu Reza. "Semoga aja nanti di adek yang lahir berpihak di gue." Reza kemudian menyusul ketiga kesayangannya yang telah lebih dulu keluar dan masuk ke dalam mobil.
"Bik, saya titip rumah, ya. Kalau ada hal yang mendesak jangan ragu buat hubungi saya ataupun Dewi," ucap Reza pada Bik Asih.
"Siap, Tuan. Semoga liburannya menyenangkan dan juga selamat sampai tujuan," doa Bik Asih tulus.
"Aamiin, terimakasih doanya, Bik."
Tiiin
Bunyi klakson yang sengaja di bunyikan oleh Dewi sebagai tanda bahwa Reza sudah harus masuk ke dalam mobil. Dewi begitu kesal karena tadi sudah menunggu Reza karena masih mengerjakan pekerjaannya sekarang harus menunggu Reza kembali karena mengobrol dengan Bik Asih.
Reza segera masuk ke dalam mobil Alphard hitam yang akan mengantarkan ia dan keluarga kecilnya ke bandara. Dibelakang sudah duduk Ara dan Andra yang sibuk bermain game di tab milik Andra, sedangkan di bangku tengah duduk sambil melipat tangan di dada sang istri tercintanya yang kini sedang menatapnya tajam.
"Papa, kan ngomong dulu buat nitipin rumah ke Bik Asih, Bun," jelas Reza pelan.
__ADS_1
"Ngga tau, ah," jawab Dewi yang langsung memalingkan wajahnya ke samping.
"Ini udah masuk semua, kan barangnya? Ngga ada yang tinggal?" tanya Reza memastikan.
"Baru tanya sekarang, daritadi sibuk sendirian," gerutu Dewi.
Tak mau ambil pusing, Reza menyuruh supirnya untuk segera jalan menuju bandara.
"Jangan cemberut-cemberut, dong. Kita, kan mau pergi liburan," bujuk Reza.
"Habis Kak Reza, udah tau jam keberangkatan mepet, masih juga sibuk kerja," protes Dewi.
Reza mengusap-usap pelan tangan Dewi agar wanitanya ini lebih tenang.
"Kan aku harus benar-benar menyiapkan pekerjaan aku dulu sebelum aku libur. Apalagi nanti selama 4 hari kamu bakalan seminar dari pagi sampai sore, otomatis aku yang bakalan ajak anak-anak untuk jalan-jalan dulu. Kan, ngga mungkin aku sama anak-anak cuma diam di hotel aja. Anak-anak pasti mau pergi keluar juga buat jalan-jalan di Spanyol," jelas Reza.
Dewi yang tadinya cemberut seketika berubah menjadi sedih. "Maaf ya, Kak Reza jadinya yang harus menemani anak-anak dulu selama Dewi seminar."
"Lho kenapa jadi sedih gini? Udah deh kita mau liburan, harusnya happy bukannya sedih-sedih gini. Aku juga ngga masalah kok. Kan kita saling kerja sama dalam hal mengasuh anak. Gantian, kemarin aku susah punya waktu yang banyak sama anak-anak, sekarang akan aku tebus waktu yang sempat hilang kemarin."
Beruntung pagi menjelang siang itu perjalanan mereka lancar. Tidak ada kemacetan berarti sehingga mereka bisa sampai tepat pada waktu yang ditentukan. Reza dibantu oleh supir dan juga seorang porter menurunkan barang bawaan keluarganya.
“Saya titip rumah, ya Pak,” ucap Reza sebelum sang supir pamit untuk pulang ke rumahnya.
Andra dan Ara sangat berantusias dalam liburan mereka kali ini, terutama bagi Ara ini adalah pengalaman pertama baginya untuk bepergian ke luar negeri. Mereka bertiga berjalan terlebih dahulu meninggalkan Reza yang tertinggal di belakang.
Brak
“Aduh,” pekik Ara. Gadis itu terjatuh karena tersenggol oleh seseorang yang berjalan setengah berlari dari belakang.
"Maaf, saya tidak sengaja. Kamu ngga apa-apa, dik?" tanya orang itu. Ia berjongkok menyamakan tingginya dengan tinggi Ara.
"Ara ngga apa-apa sayang?" tanya Dewi yang juga ikut berjongkok melihat kondisi putrinya.
Merasa saling mengenali suara, Dewi melihat ke arah si penabrak tadi.
"Kamu??"
__ADS_1
"Dokter Dewi?"
Dewi berdiri sambil menggendong Ara yang masih meringis kesakitan pada lututnya. Reza yang melihat kejadian itu menyegerakan langkahnya menyusul sang istri dan anak.
"Ara ngga apa-apa, sayang?" tanya Reza. Ia juga mengambil Ara dari gendongan Dewi.
"Ara ngga kenapa-napa kok, Kak," jawab Dewi.
"Maaf, tadi aku jalan sambil liat ponsel, terus ngga melihat ada Ara tadi," jelas si penabrak.
"Iya ngga apa-apa kok, Sis," jawab Dewi. Ya, seseorang yang tidak sengaja menabrak Ara tadi ialah Siska.
"Mas Reza apa kabar?" tanya Siska yang melihat Reza masih menenangkan Ara yang masih meringis.
"Hemm". Reza tidak terlalu mempedulikan kehadiran Siska. Ia masih merasa jengkel terhadap wanita itu.
"Dokter Dewi gimana kabarnya?" tanya Siska lagi. Ia cukup paham kenapa Reza tidak mau melihat dan mengacuhkan dirinya.
"Alhamdulillah kami semua baik-baik saja," jawab Dewi ramah. Senyum manisnya tak luntur walaupun kini yang berada di hadapannya adalah perempuan yang pernah akan menjadi madunya. "Kamu sudah sehat sekarang?"
"Alhamdulillah sudah baikan sekarang. Ngomong-ngomong kalian mau kemana?" tanya Siska yang melihat keluarga kecil itu lengkap anggotanya. Andra yang daritadi melihat hanya berdiri diam disamping Dewi.
"Kami mau ke Spanyol. Kamu sendiri mau kemana, Sis?" tanya Dewi balik.
"Aku mau Ake Jerman, dok. Oh iya, bisa kita bicara sebentar?" pinta Siska pada Dewi.
Dewi sejenak mengalihkan pandangannya pada Reza. Reza tak berekspresi sama sekali, namun seakan paham dengan maksud istrinya Reza pergi sambil membawa Ara dan Andra terlebih dahulu.
______
Hallo yeorobun, maaf banget kemarin2 menghilang ya. Ada sedikit banyak yang terjadi sama author beberapa waktu belakang.
Beberapa waktu lalu author sempat berada di titik rendah hidup, sempat juga putus asa dan gak henti2nya nangis. yah pokoknya emosi tidak stabil dan mental breakdance lah. Cukup lama buat author untuk bisa bangkit lagi.
Semangat buat nulis itu juga sempat hilang, kayak yang udah capek aja. Pas timbul rasa pengen nulis lagi tapi bingung mau nulis apa. Sekosong itu pikiran author kemarin.
Author mohon doanya semoga semangat author buat nulis kembali kencang seperti sedia kala ya. Author percaya setiap orang memiliki masalah masing2 dan tandanya Tuhan masih sayang sama kita makanya diberikan cobaan dan ujian.
__ADS_1