Izinkan Aku Untuk Bahagia

Izinkan Aku Untuk Bahagia
Bab 48


__ADS_3

Usai sarapan Reza pamit untuk memeriksa pekerjaannya di balkon rumah. Rumah yang langsung menghadap ke danau membuat Reza merasa nyaman untuk bekerja di luar, dan tentu saja suasananya tidak terlalu berisik.


Dewi datang dengan secangkir kopi untuk Reza.


“Kopinya, Kak,” kata Dewi setelah meletakkannya di atas meja.


“Terimakasih, sayang.”


Dewi yang masih belum terbiasa dengan panggilan sayang dari Reza hanya bisa menundukkan kepalanya. Reza tersenyum yang melihat tingkah malu-malu Dewi. Dewi yang akan kembali masuk ke dalam rumah terhenti karena melihat Briggita yang akan melewati rumahnya.


“Hai Bri,” sapa Dewi.


Briggita yang melihat Dewi bediri di depan rumahnya segera berlari menghampiri wanita itu.


“Kemarin pulangnya kenapa tidak menunggu aku dulu?” tanya Briggita.


“Kalau menunggu kamu dengan Julian pasti akan lama. Kalian bahkan sering pergi meninggalkan aku.”


“Maaf kalau soal itu.”


“Kamu mau ke rumah Julian?”


“Iya aku akan kesana. Julian dan Erkan sudah balik ke Zurich tadi malam.”


“Oh baiklah. Sampaikan salamku untuk aunty Maria dan Nenek. Aku tidak bisa ikut, ada si bos disini,” kata Dewi sambil menunjuk Reza yang sedang fokus menatap laptop di depannya.


“Halo Suami Dewi,” sapa Briggita yang hanya mendapatkan anggukan kepala dari Reza dengan mode datarnya.


“Itu suamimu?” tanya Briggita sedikit berbisik.


Dewi mengangguk kecil. “Kenapa memang?”


“Seperti robot. No ekspresi,” kata Briggita yang langsung cekikikan membayangkan Dewi bersuamikan sebuah robot.


“Sst gitu-gitu masih suami aku.”


“Masih dibelain nih suaminya,” goda Briggita.


Reza yang berada tak jauh dari tempat Dewi dan Briggita berbicara hanya bisa mendengar sedikit-sedikit saja, belum lagi Reza yang memang tidak terlalu fasih berbahasa Jerman.


(Disini percakapan Dewi dengan Briggita dan Julian itu memakai bahasa Jerman ya.)


Perhatian Reza beralih ke arah ponselnya yang ia letak tak jauh dari laptopnya. Dilihatnya nama ibu Ratna yang tertera di layar ponselnya itu. Tak menunggu lama Reza segera menggeser tombol hijaunya ke arah kanan.

__ADS_1


“Halo, Assalammualaikum, Bu.”


Dewi yang masih bercengkrama dengan Briggita terkejut karena suara Reza yang tiba-tiba berteriak.


“Apa? Baik, Bu, Reza akan segera pulang.”


“Ada apa, Kak?” tanya Dewi yang melihat wajah panik suaminya.


“Ara, Wi. Ara kecelakaan. Tadi ibu yang telepon,” ucap Reza dengan suara yang gemetar.


“Astaghfirullah.” Dewi yang terkejut menutup mulut dengan satu tangannya.


Reza langsung membereskan laptop beserta berkas-berkas yang ada di meja itu di bantu oleh Dewi.


“Aku akan langsung pulang ke Indonesia.”


“Aku ikut,” jawab Dewi cepat.


“Kamu serius?” tanya Reza yang tidak percaya Dewi akan ikut pulang bersamanya.


“Tentu saja. Anak aku sedang kesakitan dan aku tidak ada di sampingnya? Ibu macam apa aku,” jawab Dewi dengan matanya yang sudah memerah menahan tangis.


“Terimakasih ya, Wi,” ucap Reza.


“Dewi, apa yang terjadi?” tanya Briggita yang seakan dilupakan kehadirannya oleh Dewi dan Reza.


“Oh my God, Gute Besserung für Ihr Kind (Ya Tuhan, semoga anakmu lekas pulih).”


“Danke schon (terimakasih banyak), Bri.”


Dewi kemudian menyusul Reza yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah. Dewi memanggil Bik Asih untuk bersiap-siap karena mereka akan pulang dengan sore ini. Dewi kemudian masuk ke dalam kamar pribadinya, memasukkan baju-bajunya ke dalam tas kopee miliknya. Tak banyak yang ia bawa karena memang ia berencana akan membawa kedua anak sambungnya untuk berlibur kesini sekalian pamit dan menyerahkan kunci rumah pada uncle Alex.


Setelah semuanya siap, Reza, Dewi dan Bik Asih segera berangkat ke Zurich menggunakan taksi yang sebelumnya sudah dipesan oleh Reza. Sampai di bandara pada pukul 1 siang, mereka langsung melakukan proses check in karena keberangkatan mereka pukul 16.40 dan di perkirakan akan tiba di Jakarta pada pukul 15.25 keesokan harinya.


Selama perjalanan dimulai dari rumah sampai kini berada di dalam pesawat, Dewi selalu saja menangis. Ia yang juga belum mendapat kabar lagi mengenai kondisi Ara saat ini membuat dirinya gusar. Ia terus berdoa untuk kebaikan anak sambungnya itu.


Reza tak berhenti menenangkan istrinya itu. Rasa sayangnya semakin dalam melihat Dewi yang begitu mengkhawatirkan Ara. Tak tampak seperti ibu sambung, Dewi malah terlihat seperti ibu kandung yang begitu mengkhawatirkan anaknya. Bahkan di dalam kegelisahan dan tangisnya, Dewi masih sempat membantu Bik Asih yang beberapa kali kesulitan karena ini adalah pertama kalinya bagi Bik Asih duduk di kelas bisnis.


Sesampainya di Jakarta, mereka dijemput oleh supir yang dikirim oleh Mami Lisa. Walaupun lelah, mereka langsung menuju rumah sakit tempat dimana Ara dirawat yang juga tempat kerjanya dulu. Hanya Reza dan Dewi yang turun karena Bik Asih diminta langsung pulang ke rumah Mami Lisa.


Setibanya di rumah sakit, Reza dan Dewi segera menuju ke kamar perawatan Ara. Disana sudah ada Ibu Ratna, Mami Lisa, Papi Arya, Ayah Bambang, Dirga dan juga Leo yang memang menangani Ara. Ara saat ini baru saja tertidur karena sejak bangun setelah operasi ia selalu menanyakan keberadaan papa dan bundanya.


Dewi yang telah melihat langsung keadaan Ara langsung menghampiri Leo untuk menanyakan kondisi Ara.

__ADS_1


“Sewaktu datang ke IGD gue lihat dadanya ada memar, dan sewaktu gue coba tekan Ara merasa kesakitan. Akhirnya gue minta untuk di CT scan dan hasilnya ada beberapa tulang rusuk yang patah dan melukai pembuluh darah di dadanya,” jelas Leo.


Dewi yang mendengar penjelasan Leo langsung menangis dan Reza segera memeluknya.


“Lo ngga perlu khawatir, Wi. Walau sempat terjadi pendarahan yang cukup serius tapi alhamdulillah Ara udah lewatin masa kritisnya. Sekarang lo harus dampingi dia. Kasihan dia bangun tadi langsung nangis nyariin kalian berdua, makanya terpaksa gue kasih obat tidur,” lanjut Leo.


Dewi yang merasa cukup tenang melepaskan pelukannya pada Reza dan kemudian menatap Leo.


“Terimakasih, Yo,” ucap Dewi.


“Ngga perlu terimakasih. Gue juga minta maaf karena ngelarang Tania untuk ngga ngabarin lo karena kita ngga mau lo jadi makin khawatir dan ngga tenang di jalan, ya walaupun sebenarnya lo pasti khawatir juga kan.”


“Dia nangis terus selama di pesawat,” kata Reza yang membenarkan omongan Leo.


“Ini sebenarnya anak siapa sih, kok aku doang yang khawatir, bapaknya sendiri santai aja,” kata Dewi yang tidak terima diomongin oleh Reza.


“Bukannya aku ngga khawatir, yang. Kalau aku gelisah juga kayak kamu yang ada situasinya makin riweh,” jawab Reza.


“Cie udah ayang ayangan ni,” goda Dirga.


Dewi yang mendengar omongan Dirga langsung menatap tajam bagaikan busur panah yang siap melontar.


“Aku diam,” kata Dirga yang takut dan langsung bersembunyi dibalik badan ayah Bambang.


“Yasudah kalau gitu gue permisi dulu, Wi. Saya pamit dulu ya Om, Tante.” Leo langsung keluar dari kamar inap Ara.


“Kalian berdua lebih baik istirahat saja dulu. Pasti lelah karena perjalanan jauh,” kata Papi Arya.


“Dewi mau disini aja, Pi,” jawab Dewi.


“Om pulang aja sama Tante. Ibu juga sama Ayah dan Dirga pulang saja. Biar Reza dan Dewi yang menjaga Ara disini. Kami bisa bergantian untuk istirahat,” kata Reza. Ia pun akan menemani putrinya selama di rumah sakit.


Setelah yang lain pulang, Reza menghampiri Dewi yang duduk di samping ranjang Ara.


“Kamu tidur aja dulu, Wi. Mumpung Ara nya juga lagi tidur. Pasti capek, kan.”


“Iya, Dewi tidur disini aja, biar Kak Reza yang tidur di ranjang.”


“Kamu aja yang disana. Aku bisa tidur di sofa nanti. Kasihan badan kamu harus dilurusin.”


“Yasudah.”


Dewi kemudian berjalan menuju ranjang yang diperuntukkan untuk penunggu pasien. Masih ada waktu baginya untuk tidur sebelum salat maghrib. Tak membutuhkan waktu yang lama Dewi akhirnya tertidur juga.

__ADS_1


Reza yang melihat Dewi sudah tidur ikut membaringkan tubuhnya disamping Dewi. Di usapnya wajah lelah sang istri yang sedari tadi mengkhawatirkan putri kecilnya, kemudian Reza mencium kening Dewi.


“Terimakasih, sayang.” Reza tidur sambil memeluk tubuh Dewi.


__ADS_2