Izinkan Aku Untuk Bahagia

Izinkan Aku Untuk Bahagia
Bab 81


__ADS_3

Hanya butuh 3 hari bagi Siska untuk keluar dari rumah sakit yang awalnya harusnya seminggu. Alasannya tentu saja karena ia sudah tidak sabar untuk mempersiapkan pernikahannya. Belum lagi Reza belum pernah lagi datang untuk mengunjunginya, maka dengan itu ia berniat utnuk menemui Reza yang sudah ia cap sebagai calon suaminya itu ke kantornya.


Sesuai dengan janji Pak Wira juga, kini segala bentuk kerja sama antara perusahaan Reza dengan perusahaannya kembali berjalan. Tak peduli berapa kerugian baginya, karena bagi pria tua itu adalah kebahagiaan sang putri.


Lalu bagaimana hubungan antara Reza dan Dewi? Tak ada masalah, hubungan mereka malah bisa dikatakan semakin erat. Dewi semakin lengket dengan Reza ketika sudah berada di rumah. Dewi bersikap manja, makan minta disuapkan, bahkan juga sering mengajak Reza untuk mandi berdua. 


Reza awalnya juga heran dengan perubahan sikap Dewi. Tapi akhirnya ia menduga hal ini Dewi lakukan karena ia ingin menghabiskan waktu berdua sebelum hari pernikahan antara dirinya dengan Siska.


"Makanya, siapa suruh jodohin suami sendiri dengan wanita lain," kata Reza suatu hari.


Dewi mencebikkan bibirnya. "Jadi ngga mau nih kalau Dewi manja-manjaan sama Kakak. Maunya jutek-jutek aja, gitu?" timpal Dewi.


"Astaghfirullah, ya enggaklah. Enakan gini. Kalau kemarin harus aku yang ajak-ajak dulu, kalau sekarang banyakan kamu yang mulai duluan," goda Reza.


"IIIh Kak Reza." Dewi yang malu melemparkan bantal ke arah Reza.


_____


Di rumah sakit, Dewi kini membatasi jadwal praktiknya. Jika dulu jadwal praktiknya setiap Senin hingga Jumat, sekarang hanya di hari Senin hingga Rabu saja. Dokter Jimmy sebagai direktur juga mengizinkan karena mengira kalau Dewi kelelahan dengan banyaknya pasien.


Kabar pernikahan Reza dengan Siska juga sudah sampai ke telinga Tania, Leo dan Candra. Mereka sangat kecewa dengan keputusan Dewi. Namun Leo dan Candra mencoba mengerti dan mnegatakan kalau Dewi sudah dewasa dan sudah bisa memutuskan yang terbaik sehingga mendukung apapun keputusan Dewi. Tania yang sangat kecewa, bahkan ibu 1 anak itu mendiamkan Dewi sepanjang hari sebagai bentuk kekecewaannya.


Pagi itu di hari Rabu, Dewi tiba di rumah sakit pukul 8, bersamaan dengan Tania dan Leo. Mereka bersama berjalan sambil dan memasuki lift. Pintu yang hendak tertutup terbuka lagi karena dokter Jimmy yang juga ingin masuk.


Semua orang yang melihat sang direktur masuk menundukkan kepalanya sebagai bentuk hormat, tak terkecuali Dewi, Tania dan juga Leo. Pintu baru saja tertutup Dewi langsung merasakan perutnya bagaikan diaduk-aduk dan ia merasakan mual.


"IIh dokter Jimmy bauk banget, sih parfumnya. BIkin mual aja nih," kata Dewi sambil menahan mualnya.


Semua orang di dalam lift kaget karena Dewi berani mengatai direktur mereka. Dengan cepat Dewi menekan tombol lift sehingga pintu lift terbuka kembali. Dewi segera berlari keluar sambil menutupi mulutnya yang serasa segala isi perutmya ingin dikeluarkan.

__ADS_1


Tania dan Leo yang merasa khawatir juga ikut menyusul Dewi keluar. Leo juga meminta maaf kepada dokter Jimmy karena sikap Dewi.


"Memang saya bau?" tanya dokter Jimmy kepada orang-orang yang tersisa di dalam lift. Semua isi lift menggelengkan kepala tanda tak ada bau aneh yang keluar dari tubuh dokter Jimmy. Pria itu juga menyiumi bau badannya, dan ia merasa tak ada yang aneh dengan parfum yang ia pakai hari ini karena ini adalah parfum yang biasa ia pakai.


Hoeek hoeeek


Dewi memuntahkan semua isi perutnya yang baru saja ia isi penuh pagi tadi. Tania menyusul ke dalam dan membantu Dewi dengan memijit tekuk lehernya.


"Lo kenapa sih, Wi sampai bilang bau dokter Jimmy ngga enak gitu, padahal ngga ada bau-bau yang aneh deh," kata Tania setelah Dewi selesai dengan urusan muntahnya. Tania membantu Dewi untuk keluar dari toilet dan membawa sahabatnya itu untuk duduk di kursi yang ada di luar dekat dengan toilet. Leo juga memberikan air mineral yang baru saja ia beli agar bisa diminum oleh Dewi.


"Masa kalian ngga nyium sih. Bau banget lho tadi sampai bikin gue mual gini," kata Dewi.


Tania dan Leo saling bertatapan, berkode mata seakan tahu jawaban dari yang terjadi.


"Sebelum praktik nanti lo harus mampir ke ruang praktik gue dulu," kata Tania.


"Iya-iya. Udah yuk buruan ntar telat lagi." Dewi segera beranjak diikuti oleh Tabia dan Leo.


"Nah ini dia yang ditunggu-tunggu," kata Tania ketika melihat Dewi yang baru masuk. Dewi heran karena di dalam juga sudah ada Leo dan Candra.


"Kalian berdua ngapain disini?" tanya Dewi.


"Udah ngga usah pedulikan mereka. Cepat lo kesini." Tania menarik tangan Dewi dan menyuruh wanita itu untuk berbaring di ranjang.


Dewi awalnya menolak, namun ia kemudian terdiam sejenak.


"Jangan bilang kalau gue...."


"Kita coba lihat dulu," bujuk Tania.

__ADS_1


Tania mulai memasukkan data Dewi dalam alat USG, seperti tanggal hari pertama haid terakhir. Memang setelah dilihat ini Dewi sudah 10 hari telat datang bulan dan mereka semua berharap apa yang ada dipikiran mereka benar-benar terjadi.


Dibantu dengan perawat yang memang bertugas hari itu, Dewi mulai berbaring di ranjang. Bajunya disingkap sedikit keatas, dan kemudian perawat itu memberikan ultrasound gel yang berfungsi agar bagian ujung alat USG dapat bergerak dengan mudah diatas kulit sehingga mengurangi gesekan pada kulit.


Tania mulai menggerakkan transducer, dan menekan sedikit perut bawah Dewi.


"Nah ini dia yang kita cari-cari ketemu," kata Tania sedikit teriak. Ia terlalu senang mendapati hasil pemeriksaan sahabatnya.


Leo dan Candra yang memang terhalang gorden yang menjadi pembatas dengan tempat pemeriksaan Dewi bisa juga melihat melalui layar tv yang berada diatas, antara tempat periksa dan kursi tunggu yang ada di dalam ruangan itu. Mereka tampak senang dan bertos ria merayakannya.


Dewi menatap layar tv dengan mata berbinar, ia tak menyangka akan kehadiran calon buah hatinya sekarang.


"Tan, itu...."


"Calon anak lo dan laki lo." Tania menyudahi pemeriksaan dan mencetak hasil USG tadi.


"Usia sekarang masih 5 Minggu. Lo harus jaga baik-baik kali ini, ya."


"Selamat ya, dokter Dewi," kata perawat yang sambil membersihkan sisa gel yang ada di atas perut Dewi.


"Terimakasih, kak."


Dewi langsung memeluk Tania. Tangis bahagia keluar begitu saja tanpa permisi. Tania menepuk pelan punggung sahabatnya itu.


Gorden yang juga sudah dibuka membuat Leo dan Candra bergegas mendatangi Dewi dan Tania yang masih berpelukan. Leo dan Candra ikut menepuk pundak menenangkan sahabat mereka.


"Selamat, Wi."


"Thankyou, guys."

__ADS_1


"Kita kabari Papa kamu ya, Nak," kata Dewi sambil mengusap perutnya yang masih rata.


__ADS_2