Izinkan Aku Untuk Bahagia

Izinkan Aku Untuk Bahagia
Bab 92


__ADS_3

Hampir dua bulan sudah dibatalkannya pernikahan antara Siska dan juga Reza. Selama itu juga Siska dan juga Pak Wira tidak pernah bertemu dengan Dewi dan Reza. Bahkan ketika Putri pulang dari rumah sakit hanya didampingi oleh Ibu Meri, istri keduanya Pak Wira.


Semakin hari juga hubungan antara Dewi dan juga Reza semakin membaik dan juga romantis. Dewi sudah tidak merasakan mual-mual lagi, hanya saja sekarang nafsu makannya yang semakin meningkat, bahkan Reza terkadang sering geleng-geleng kepala melihat porsi makan istrinya yang bertambah menjadi tiga kali lipat.


"Kamu beneran bisa habisin semuanya?" tanya Reza pada suatu malam ketika mereka sedang makan malam disebuah restoran.


Malam itu Dewi memesan 1 porsi steak, spaghetti, salad, dan juga semacam eskrim sebagai penutup.


"Kalau ngga habis, kan ada Kak Reza yang bantuin buat habisin ini semua," jawab Dewi enteng.


"Ha?"


"Hahaha kenapa jadi kaget gitu, sih? Tenang aja bakalan habis semuanya tanpa sisa. Licin pokoknya. Tukang cuci piring ngga bakalan kesusahan buat nyuci piringnya Dewi."


Dan sesuai dengan ucapannya, semua makanan yang dipesan oleh Dewi habis tanpa sisa. Bahkan makanan Reza yang baru setengah dimakannya pun dihabiskan juga oleh Dewi.


"Aku udah kenyang walaupun cuma lihat kamu makan," ucap Reza ketika menyerahkan piringnya ke Dewi. Sebelumnya ia melihat Dewi yang menatap lapar ke arah piringnya.


Terkadang Dewi merasa kurang percaya diri terhadap tubuhnya yang mana bobotnya kini mulai naik, Berulang kali merasa tidak percaya diri, berulang kali juga Reza membangkitkan kembali rasa percaya diri Dewi.


"Kamu itu malah makin cantik tau. Aura positif kamu makin keluar, wajah kamu juga semakin cerah."


"Tapi Dewi gendut," rengek Dewi.


"Kan kamu lagi hamil. Tentu saja lebih berisi. Tapi tetap seksi kok," bujuk Reza.


"Nanti Kak Reza ngga suka lagi sama Dewi kalau Dewi gendut. Perempuan di sekitaran Kak Reza cantik-cantik. Entar gara-gara Dewi gendutan Kak Reza malah beralih ke wanita itu."


"Astaghfirullah, kata siapa? Siapa juga perempuan di sekitar aku? Asal kamu tahu, aku makin cinta dan makin sayang lho sama kamu setiap hari. Kamu wanita yang aku cintai, yang mau dan ikhlas hamil anak aku. Udah jangan dengerin kata orang. Kamu itu sehat, cantik, dan seksi," putus Reza mengakhiri perdebatan mereka.


Reza juga sering memuji tubuh Dewi ketika mereka melakukan hubungan suami istri yang bertujuan untuk membangkitkan rasa percaya diri istrinya itu.


Hampir dua bulan ini juga Dewi disibukkan dengan persiapannya untuk berangkat ke Spanyol yang mana ia akan menjadi pembicara untuk konferensi dokter saraf. Terakhir kali Dewi mengikuti kegiatan ini di Singapura dimana pada saat itu ia hanya sebagai peserta.


Pada hari itu juga sesuatu terjadi yang akhirnya membuat ia menjadi istri yang sesungguhnya dari Reza walaupun akhirnya ia harus menelan kekecewaan karena ditinggalkan sendirian di kamar. Tahun selanjutnya ia tidak mengikuti konferensi karena masih dalam proses pemulihan pasca keguguran. Untuk tahun ini ia akan mempersiapkan dirinya dengan baik.


"Bunda, kalau nanti Bunda kelja, Ala nanti gimana?" tanya Ara malam itu. Jadwal keberangkatan mereka Minggu depan, sehingga Dewi sudah mulai mempersiapkan perlengkapan jauh-jauh hari agar tidak ada yang tertinggal.


"Nanti kalau Bunda kerja, Ara sama Abang main sama Papa dulu, ya. Bunda ngga lama kok, cuma sampai sore aja. Lagian juga Bunda kerjanya cuma 3 hari. Setelah itu kita bisa jalan bareng-bareng, terus kita akan pergi ke Swiss, ke tempat tinggal Bunda dulu. Ara mau, kan?"

__ADS_1


"Iya-iya Ala mau. Ala mau lihat tempat Bunda tinggal dulu."


Si anak cantik ini bersorak gembira. Ia bahkan membantu Dewi memasukkan pakaiannya ke dalam koper miliknya yang bergambarkan Ana dan Elsa, tokoh utama dalam serial Disney, Frozen.


"Bun, Papa kenapa belum pulang?" tanya Andra yang baru saja masuk ke dalam kamar adiknya.


"Tadi Papa telepon Bunda, katanya ada kerjaan yang harus diselesaikan cepat. Biar ntar ngga ganggu kita pas liburan," tutur Dewi.


Andra berjalan dan duduk diatas ranjang Ara, memperhatikan kedua wanita beda generasi itu melipat dan memasukkan pakaian ke dalam koper.


"Rumah Bunda di Swiss dulu besar?" tanya Andra.


"Tidak terlalu besar, kamarnya cuma ada tiga. Satu dilantai bawah dan dua dikamar atas," jawab Dewi.


"Halamannya?" kini giliran Ara yang bertanya.


"Halaman kecil, pokoknya kalian jangan samakan dengan rumah kita ini."


"Yaah gak seru dong kalau mau lari-lari."


"Siapa bilang?" Dewi berhenti dengan kegiatannya. Ia mengeluarkan ponselnya yang ia simpan dalam saku celana rumahnya.




"Halaman rumahnya memang tidak terlalu besar, tetapi disekitar rumah itu pemandangannya baguuuuus banget. Ada taman bunga, ada juga sapi-sapi peliharaan masyarakat sana. Jalanannya juga sepi, tidak banyak kendaraan yang lewat jadi Ara dan Abang bisa lari-lari," jelas Dewi.


"Terus didepan rumah Bunda dulu langsung menghadap ke danau dan pegunungan. Jadi mata kita selalu dimanja," sambungnya.


Andra yang semula duduk di ranjang langsung turun dan bergabung dengan Dewi dan Ara duduk di lantai.


"Terus kenapa dulu Bunda lama pulangnya?" tanya Andra.


"Hmm Bunda dulu itu lagi belajar, makanya Bunda lama disana. Setelah Bunda selesai belajarnya, kan Bunda langsung pulang."


"Iya Bunda dulu pulang pas Adek masuk rumah sakit."


"Ih kok Adek lagi, sih. Kakak dong, kan sebentar lagi Ara mau jadi kakak."

__ADS_1


"Hehe iya, sekarang Ara udah mau jadi kakak," ucap Ara sambil ketawa.


"Bunda waktu dengar Ara sakit, langsung minta sama Papa untuk ikut pulang. Bunda khawatir banget sama Ara saat itu." Dewi langsung membawa Ara ke dalam pelukannya. "Ara jangan sakit-sakit lagi, ya seperti kemarin. Hati-hati juga biar ngga kecelakaan lagi. Bunda sedih kalau Ara ataupun Abang sakit."


"Iya, Ara janji nanti hati-hati," jawab Ara sambil mendongakkan kepalanya.


"Anak pintar," ucap Dewi sambil mencubit pelan pipi Ara.


"Bun, boleh berenang, Bun di danaunya?" tanya Andra. Ternyata daritadi Andra sangat penasaran dengan danau yang sebelumnya diceritakan oleh Dewi.


"Ternyata fokus Abang ke danaunya, ya. Jangan deh, soalnya danaunya dalam. Lagipula airnya juga dingin," jawab Dewi.


"Tapi nanti kita bisa keliling danau naik kapal. Mau?"


"Maauu," jawab Ara dan Andra kompak.


"Disini rupanya, Papa cariin di bawah ngga ada." Reza yang baru saja pulang langsung masuk ke dalam kamar Ara karena tidak mendapati anak serta istrinya di ruang tengah.


"Papaaaa." Ara langsung bangun dari duduknya dan berlari memeluk Reza.


"Lagi pada ngapain ngumpul semua disini?" tanya Reza. Ia kemudian menggendong Ara dan bergabung duduk dengan Dewi dan Andra.


"Tadi Bunda cerita tentang Swiss. Kata Bunda besok kalau Bunda udah selesai kerjanya kita jalan-jalan ke rumah Bunda dulu pas pergi lama-lama," tutur Ara.


"Iya nanti kita juga mampir ke Swiss tempat Bunda dulu, ya," jawab Reza.


"Pa, kita nanti naik kapal juga kata Bunda, keliling danaunya," kata Andra yang tidak kalah semangat.


"Papa udah pernah naik kapalnya, keliling sama Bunda. Iya ngga, Bun?"


"Papa jahat ngga ngajak-ngajak Ara," ucap Ara cemberut.


"Kan, waktu itu Ara harus sekolah."


"Sudah, Ara jangan merajuk gitu. Besok kita jalan-jalan sampai puas, mumpung Ara dan Abang libur sekolah."


______


Menjelang ending ya yeorobun. Mohon untuk tetap dukungannya 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2