Izinkan Aku Untuk Bahagia

Izinkan Aku Untuk Bahagia
Bab 46


__ADS_3

“Karena Kakak yang menyakiti hati kamu, maka kakak juga yang akan menyembuhkannya,” ucap Reza yang terus mengecup puncak kepala Dewi terus menerus.


“Kamu mau kan, Wi?”


Dewi masih diam memperhatikan wajah tampan suaminya. Dia sendiri masih gamang menerima ajakan suaminya itu.


“Wi?” panggil Reza lagi karena Dewi belum bersuara.


“Beri Dewi waktu, Kak.”


Reza menghela nafas pelan. Bagaimanapun ia tahu semua ini berasal dari dirinya. Ia cukup membuktikan keseriusannya kepada wanita di depannya ini.


“Baiklah, Kakak akan menunggu kamu. Tapi izinkan Kakak untuk untuk menemanimu disini.”


“Tap— tapi.”


“Ingat, seorang istri itu tidak baik meninggalkan suaminya terlalu lama.”


Dewi membenarkan dalam hati ucapan Reza, bahwa tidak seharusnya seorang istri pergi meninggalkan suaminya.


“Hem baiklah.”


“Masih mau duduk disini atau mau lanjut jalan?”


“Duduk disini aja.”


“Oke.” Reza kemudian duduk disamping Dewi dan merangkul pundak wanitanya.


“Kenapa mepet-mepet sih. Sana jauhan. Social distancing.”


“Ngga mau, emangnya Kakak virus apa harus social distancing segala. Orang masih kangen banget kok sama kamu.” Reza makin mengeratkan rangkulan di pundaknya Dewi, dan mencium pipi kanan Dewi.


“Ih apaan sih cium-cium.”


“Cium istri sendiri ngga ada salahnya. Yang salah itu kalau cium istri orang.”


“Kakak kenapa sih sekarang jadi makin banyak bicaranya. Kayaknya dulu cuma hem hem doang kalau ditanya.”


“Cuma sama kamu aja Kakak kayak gini, kalau sama orang lain tetap cuek kok.”


“Kenapa gitu?” Dewi menolehkan kepalanya melihat Reza yang ada di sampingnya.


“Cuek sama orang lain ngga masalah, ngga penting juga. Tapi kalau sama kamu cukup sekali aku cuek.” Reza langsung melihat Dewi yang masih menatapnya. Reza kemudian menangkup pipi kiri Dewi.


“Gara-gara aku cuek, kita jadi kehilangan calon anak kita dan aku juga hampir kehilangan kamu. Cukup sekali itu saja, dan itu akan menjadi penyesalan terbesar dalam hidup aku,” lirih Reza.


Dewi menatap mata Reza yang berkaca-kaca.


“Maaf Kak. Sebentar lagi, hanya sebentar lagi,” batin Dewi.


“Itu karena kesalahan Dewi sendiri yang ceroboh yang membuat Dewi jadi keguguran. Maaf.”

__ADS_1


“Sssst.” Reza langsung memeluk erat Dewi.


“Kalau ada yang harus disalahkan, itu salah Kakak, bukan kamu. Sudah ya, kita harus ikhlas.”


Dewi menganggukkan kepalanya dalam dekapan Reza. Sungguh terasa nyaman dalam pelukan suaminya ini.


——


Mereka mulai beranjak dan berjalan setelah cukup lama mereka duduk di tepi danau. Reza tidak pernah melepaskan genggaman tangannya membuat Dewi merasa aneh.


“Kenapa rasanya aneh gini ya di posesifin sama suami sendiri? Eh suami?” Dewi tertawa di dalam hatinya, ada rasa yang sulit ia jabarkan saat ini.


Dewi menundukkan kepalanya, melihat genggaman tangan Reza yang erat seakan tidak ingin Dewi lepas lagi dari dirinya. Rasa hangat mulai menjalar di dalam hatinya. Hati yang dulunya membeku karena pria ini dilelehkan lagi oleh pria yang sama. Ia mulai yakin bahwa Reza bersungguh-sungguh untuk memulai kehidupan baru dengannya.


“Kalau Kak Reza ngajak pulang lagi, fiks aku langsung jawab iya. Cepetan dong ajak lagi,” batin Dewi.


Dewi tidak mau mengajak Reza untuk pulang duluan karena ia tadi sudah beberapa kali menolak ajakan Reza. Gengsi dan malunya cukup tinggi. Ia juga tidak mau terlihat gampang memaafkan, takut kalau suatu saat Reza membuat kesalahan pria itu menganggap dengan minta maaf masalah akan selesai.


Tidak salah kan?


Dewi yang terus menunduk terkejut karena Reza tiba-tiba menghentikan langkahnya.


“Kamu dengar kan?” tanya Reza tiba-tiba yang membuat Dewi mengernyitkan alisnya.


“Ha gimana?”


“Iya menurut kamu gimana?” tanya Reza lagi.


“Apanya yang gimana?” tanya Dewi yang memang tidak mendengarkan Reza berbicara sejak tadi.


“Siapa yang melamun? Engga kok. Udah ih Kak Reza nyebelin,” kata Dewi yang langsung menghempaskan tangan Reza yang tadi menggenggam tangannya.


Dewi langsung berjalan tanpa menunggu Reza yang tertinggal di belakangnya. Ia malu dengan Reza kalau sampai ketahuan melamun sejak tadi.


“Sayang tunggu,” teriak Reza.


Dewi terus saja berjalan ke depan dan berhenti di sebuah dermaga kecil. Dermaga ini mendadak menjadi viral karena pernah dipakai syuting drama Korea Crash Landing on You, dimana adegannya Kapten Ri Jeong Hyuk memainkan piano sebelum pulang ke negaranya di Korea Utara.



Reza kembali memeluk erat Dewi dari belakang. Dewi yang masih belum terbiasa berusaha melepaskan pelukan itu.


“Diamlah. Kamu membangunkan yang lain,” ucap Reza tepat ditelinga Dewi.


Dewi yang tahu maksud terselubung dari ucapan Reza langsung diam membeku.


“Kamu bisa ya cari tempat buat nenangin diri yang bagus seperti ini. Kalau bahasa anak sekarang itu healing. Sekalian kita honeymoon kali ya Wi,” kata Reza.


“Siapa yang mau honeymoon sama Kakak?”


“Emang ngga mau?”

__ADS_1


“Ngga!” Ketus Dewi.


“Yakin?” goda Reza.


“Apaan sih, udah lepasin.” Dewi kembali berusaha melepaskan dirinya dari dekapan Reza.


Kring kring kring


“Tuh angkat dulu telfonnya, terus ini lepasin.”


“Ngga akan dilepaskan.” Reza mengambil ponsel disaku celananya dengan satu tangan sedang tangan yang lain tetap memeluk tubuh Dewi.


Ternyata itu adalah panggilan video dari putranya, Andra.


“Assalammualaikum,” salam Reza.


“Bunda …” pekik Ara.


Dewi yang kaget langsung melihat ke arah HP Reza yang menampilkan Ara dan Andra disana.


“Adek, Abang, Bunda kangen,” ucap Dewi yang mulai berkaca-kaca matanya melihat wajah anak-anak sambungnya yang sangat ia rindukan.


Dewi langsung merebut ponsel Reza dari tangannya.


“Adek kangen banget sama Bunda. Bunda kapan pulangnya?” tanya Ara.


“Abang juga kangen Bunda. Bunda pulang sama Papa ya,” pinta Andra.


“Iya, nanti Bunda pulang bareng Papa ya,” jawab Dewi.


“Abang dan Adek ngga nakal, kan? Sehat-sehat ya sayangnya Bunda,” sambung Dewi.


“Kita ngga nakal kok Bun. Abang sekarang udah baik sama Adek, ngga pernah usilin Adek lagi. Iyakan Dek?” tanya Andra.


“Iya Bunda. Abang udah baik sekarang, ngga pernah bikin Adek nangis lagi. Jadi Bunda pulang sekarang ya,” pinta Ara.


Dewi sesekali mengusap air matanya yang jatuh. Tak tinggal diam, Reza juga membantu sang istri menghapus air matanya sambil berbisik.


“Jangan nangis. Entar anak-anak pikir Kakak jahatin kamu.”


“Emang jahat!” ketus Dewi.


“Siapa yang jahat Bunda? Papa jahatin Bunda ya?” tanya Ara.


“Ngga kok sayang, Papa ngga jahatin Bunda,” jawab Dewi cepat. Ia tidak mau anak-anak sampai tahu masalah yang ia dan Reza alami.


“Terus gimana? Bunda jadi pulang, kan?” tanya Andra lagi.


“Iya, insyaAllah secepatnya Bunda pulang ya, nanti kita bisa kumpul sama-sama,” jawab Dewi sambil memberikan senyuman manisnya untuk kedua anak sambungnya itu.


Reza yang terhipnotis melihat senyuman manis Dewi dari samping tanpa sadar mencium pipi sang istri yang masih melakukan panggilan video dengan anak-anaknya.

__ADS_1


Cup


“Papa ….”


__ADS_2