Izinkan Aku Untuk Bahagia

Izinkan Aku Untuk Bahagia
Bab 89


__ADS_3

"SISKA!!" teriak Reza.


"Kamu keterlaluan, sudah mengacak-acak kantor saya!"


"Kamu yang keterlaluan, Mas. Kamu abaikan perasaan aku. Pernikahan kita sebentar lagi tapi kamu malah abai dengan semuanya," balas Siska yang juga berteriak.


"PERNIKAHAN KALIAN SAYA BATALKAN!!"


Suara yang berasal dari seseorang yang baru saja masuk ini sontak membuat semua yang berada di ruangan itu menoleh ke arah pintu.


"Maksudnya?" tanya Siska yang masih belum paham.


"Papa bilang, pernikahan kalian berdua batal!" ulang Pak Wira.


Siska tampak menegang mendengar kembali ucapan yang dilontarkan sang ayah. Ia menggeleng pelan dan mulai tertawa pelan. Sedangkan Reza hanya diam, menunggu waktu yang tepat untuk ikut berbicara, karena ia sendiri tahu bahwa saat ini emosi Siska sedang tidak baik. Namun jujur dalam hatinya kini ia sedang bersorak karena pembatalan pernikahannya diucapkan langsung oleh Pak Wira, dan itu berarti memang pernikahan ini batal.


"Maksud Papa apa? Kenapa Papa membatalkan pernikahan aku dengan Mas Reza begitu aja?"


"Papa tidak mau kamu sakit hati kalau pernikahan ini akan terus dilaksanakan, Siska," jelas Pak Wira.


"Kenapa aku harus sakit hati? Aku akan menikah dengan pria yang aku cinta selama ini!"


"Itu bukan cinta, Siska. Itu semua hanya obsesi kamu untuk bisa miliki saya," sambung Reza.


"Benar apa yang diucapkan Reza, sayang, kamu hanya terobsesi dengan Reza. Papa tahu kalau kamu juga sudah terlanjur ngomong ke teman-teman kamu kalau kamu bisa menaklukkan Reza, kamu bisa miliki Reza tanpa kamu sadar karena obsesi kamu itu kamu menyakiti hati orang lain. Ada Dewi, istri Reza yang tersakiti karena kamu, Nak," lanjut Pak Wira.


"Papa kenapa daritadi pagi belain Dewi terus!"


"Papa tidak bela Dewi. Tapi Papa tahu kalau tidak ada perempuan yang betul-betul ikhlas merelakan suaminya untuk menikah lagi."


"TAPI MAMA BISA!!" pekik Siska.

__ADS_1


Ucapan Siska ini sontak membuat Pak Wira diam tergugu.


"Ap_ apa maksud kamu, Siska?" tanya Pak Wira terbata.


"Papa pikir aku ngga tahu kalau Papa menikahi wanita lain. Papa punya wanita lain selain Mama. Papa pikir aku ngga tahu?"


"Papa punya anak dari wanita itu, papa kira aku juga ngga tahu?" lanjut Siska.


"Kamu tahu semuanya?" tanya Pak Wira memastikan.


"Ya, aku tahu semuanya. Wanita itu dulu kan wanita kesayangan Papa sampai-sampai Papa menolak untuk menikahi mama, tapi karena paksaan dan ancaman dari kakek makanya Papa akhirnya mau menerima mama," ucap Siska.


Anton dan Lia yang merasa tidak seharusnya berada di ruangan itu segera keluar secara perlahan. Mereka akan berjaga di luar sehingga tidak ada yang mengganggu perbincangan ketiga orang yang berada di dalam.


Sedangkan Reza cukup terkejut mendapati fakta baru dari keluarga Siska. Ia padahal cukup lama mengenal Pak Wira, sejak orangtuanya masih hidup, Reza sering dibawa untuk menemui Pak Wira dan membicarakan bisnis bersama. Dan sepengatahuan Reza juga ayahnya dan juuga Pak Wira dulunya sama-sama kuliah di satu universitas yang sama.


"Makanya Papa tidak mau kamu dan Dewi sama-sama tersakiti seperti kedua mama kamu itu."


"Meri juga ibu kamu!"


"Wanita si*lan itu bukan mama aku!"


"SISKA!" tangan kanan Pak Wira terangkat dan hendak ingin menampar pipi Siska. Namun, dengan cepat Reza menahan tangan Pak Wira sehingga tidak jadi mengenai pipi Siska.


"Papa nampar aku? Hanya karena itu Papa nampar aku?" tanya Siska yang matanya sudah terlihat berkaca-kaca. Laki-laki yang selama ini selalu membelanya, selalu menuruti permintaannya sejak ia kecil itu kini membentak bahkan ingin menamparnya.


Siska yang keinginannya selalu dituruti sejak kecil membuat ia tidak masalah Pak Wira menikah lagi asal sang ayah selalu berada disisinya dan membelanya.


"Maafkan Papa, Siska, Papa tidak bermaksud mau menampar kamu," ucap Pak Wira yang terlihat menyesal.


"Apa Papa tahu kalau tiap Papa ngga pulang Mama selalu nangis? Mama selalu mikirin Papa, tapi Papa ngga pernah mikirin aku dan Mama."

__ADS_1


"Papa tahu, makanya Papa tidak mau kamu seperti mama kamu. Papa mau kamu mendapatkan laki-laki yang tulus menyayangi kamu, yang selalu ada untuk kamu, dan hanya menjadikan kamu sebagai rumahnya."


"Tapi aku maunya Mas Reza, Pa," kata Siska yang akhirnya mulai menangis.


"Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa dari Reza. Papa tahu seberapa besar sayang Reza untuk keluarganya, untuk istrinya. Kalau kamu menikah dengan Reza kamu hanya mendapatkan raganya saja, tidak dengan hatinya. Apa kamu mau yang seperti itu?"


"Itu sudah cukup untuk aku, Pa."


"Itu tidak cukup, sayang. Dalam pernikahan harus ada rasa cinta dan sayang sehingga membuat rumah tangga kalian nantinya akan harmonis."


"Lalu apa Papa mencintai Mama?"


"Papa menyanyangi mama kamu, makanya sampai sekarang pernikahan kami masih berjalan, walaupun papa juga sudah menikah dengan Meri tapi Papa tidak berpisah dengan Mama kamu. Bukan hanya karena hadirnya kamu, tapi selain janji Papa dengan almarhum kakek kamu tetapi juga karena Papa menyayangi mama kamu."


"Papa egois."


"Maafkan Papa, Siska," ucap Pak Wira sesal.


Pak Wira mendekati Siska, dibawanya putri kesayangannya itu ke dalam pelukannya. Siska mulai menumpahkan segala rasa marah dan kecewa dalam pelukan sang ayah.


Pelukan yang sama seperti saat ia masih kecil. Raasanya tak berbeda walaupun sang ayah juga sudah memiliki wanita lain, Pak Wira tetap Pak Wira, ayahnya yang selalu ada untuknya.


Siska juga sadar dibalik ketegaran sang ibu yang mengingkhlaskan suaminya untuk menikahi wanita lain, ibunya juga kerap menangis. Ia juga mengingat bahwa sang ayah tiap malam juga pulang ke rumahnya. Hanya beberapa malam dalam sebulan Pak Wira tidak pulang dan bisa dipastikan saat itu sang ayah berada dirumah istrinya yang lain. Tak banyak, hanya beberapa hari dan pastinya istri keduanya juga merindukan kehadiran suaminya.


Ia tidak mau hidup dalam keadaan menyedihkan, mengharapkan suaminya malam ini pulang kerumahnya tidak ke rumah istrinya yang lain. Siska juga mulai membenarkan ucapan sang ayah bahwa ia seharusnya memilih pria yang hanya menjadikannya seorang menjadi rumah.


"Ayo kita pulang," ajak Pak Wira ketika melihat Siska sudah mulai tenang.


______


Maafkeun lama banget updatenya, kerjaanku banyak banget jadi susah membagi waktu. Terkadang bisa nulis, eh mataku udah tidak tahan untuk terlelap. hehehhe

__ADS_1


__ADS_2