Izinkan Aku Untuk Bahagia

Izinkan Aku Untuk Bahagia
Bab 59


__ADS_3

Seperti janjinya kemarin, Reza mengantar Dewi beserta kedua anaknya untuk kerumah Tania melihat bayi Tania yang belum sempat dijenguk oleh Dewi. Sebelum ke rumah Tania, mereka mampir sebentar ke toko yang menjual perlengkapan bayi dan anak untuk membeli kado bayinya Tania.


Ara terlihat sangat antusias melihat benda-benda mungil yang dipajang di toko itu.


“Bunda, Ara mau yang itu,” tunjuk Ara ke bando kecil yang dipajang.


“Itu untuk adik bayi sayang. Ara mau pakai bando seperti itu juga?” tanya Dewi.


“Iya, Ara mau.”


“Mbak, bando yang ini ada ukuran yang sedikit besar?“ tanya Dewi ke karyawan toko.


“Ada mbak, sebentar saya ambilkan,” jawabnya.


“Balangnya lucu-lucu ya, Bun. Adek suka “ ucap Ara yang senang melihat pernak pernik bayi.


“Punya Ara, kan masih ada disimpan di rumah. Dulu mama belikan Ara juga lucu-lucu seperti ini,” jelas Dewi sambil menunjukkan bando serta baju-baju bayi yang cantik.


“Benelan, Pa?” tanya Ara ke sang papa yang berada di belakang mereka bersama Andra. Reza dan Andra menunggu di kursi yang disediakan oleh pihak toko.


Reza tak menyahuti pertanyaan Ara karena saat ini pria itu sibuk menatap ponselnya.


“Papa.” Andra yang duduk di samping Reza menyadarkan Reza dengan menyenggol lengan Reza.


“Ha kenapa?” Reza yang terkejut menatap bergantian antara istri dan anaknya.


“Adek tanya Papa sama mama dulu belikan Adek barang-barang itu,” ujar Andra.


“Iya mama dulu beli banyak. Masih disimpan kok sama mama,” jawab Reza yang langsung memangku putrinya itu.


“Adek boleh lihat?”


“Boleh boleh.”


“Kak Reza liatin apaan sih? Daritadi perasaan liatin HP mulu,” tanya Dewi yang kesal karena suaminya ini hanya sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


“Lagi diskusiin masalah kerjaan buat besok sama Anton. Udah siap belum barangnya?”


“Itu lagi dibungkusin.” Dewi menunjuk hadiah yang ia beli sedang dibungkusin cantik okeh karyawan toko.


Diperjalanan menuju rumah Tania dan Leo, Ara sibuk bercerita tentang keinginannya dalam mendekor kamarnya dirumah baru.


“Pokoknya nanti kamar adek gambar little pony ya, Bun,” kata Ara antusias. Beberapa hari ini Ara sangat senang menonton kartun poni lucu dan cantik itu sehingga sangat ingin bila tokoh-tokoh kartunnya itu memenuhi kamarnya nanti.


“Boleh sayang. Nanti kita cari barang-barang yang ada gambar little pony nya, ya.”


“Horee telimakasih, Bunda,” Ara mencium pipi Dewi.


“Bunda aja yang dicium, Papa ngga dicium ni?” Reza mulai dalam posisi merajuk karena tidak mendapat ciuman spesial dari putrinya.


“Sini adek cium Papa juga.” Ara kemudian mencium pipi Reza.


“Abang mau kamarnya karakter apa?” tanya Dewi yang melirik Andra melalui spion diatasnya.


“Emang abang anak kecil, Bun. Abang udah besar jadi ngga usah pakai karakter. Diwarnain abu-abu aja nanti, Bunda,” jawab Andra tenang.


“Penerusnya Pak Reza ini. Kalem-kalem gimana gitu,” goda Dewi.


——


Kini Reza, Dewi dan kedua anaknya sudah sampai di rumah. Mereka langsung pulang ke rumah setelah dari rumah Tania. Ara yang terlalu senang bertemu dengan bayinya Tania sempat histeris tidak mau pulang. Setelah dibujuk rayu oleh Dewi dan Reza dengan banyak yang dijanjikan oleh mereka, akhirnya Ara mau untuk diajak pulang.


Ara juga berceloteh sepanjang perjalanan. Ia mengatakan ingin juga adik bayi seperti bayi milik Tania.


“Bunda, Adek mau adik bayi sepelti adik bayi onty Tania, boleh Bunda?” tanya Ara dengan tatapan memohon.


“Boleh banget dong sayang. Tapi ada syaratnya.” Reza langsung bersemangat karena anaknya sendiri yang mulai memintanya, jadi ia ada kesempatan membicarakan persoalan Ara yang harus tidur sendiri.


“Apa, Pa?” tanya Ara. Dewi kali ini tidak ikut menimpali pembicaraan papa dan anaknya itu. Ia jadi lebih banyak diam sejak kepulangan mereka dari rumah Tania.


“Ara harus mau tidur sendiri sekarang, jadi nanti di dalam perut Bunda ada adik bayinya. Lagipula kalau ada adik bayi, Ara akan jadi kakak, masa kakak tidurnya masih ditemanin sama Bunda,” jelas Reza pelan.

__ADS_1


“Emang begitu ya, Bun?” tanya Ara yang mendongakkan kepalanya menatap Dewi. Dewi hanya tersenyum mendengar pertanyaan Ara. Reza yang melihat istrinya hanya diam dan tersenyum dengan terpaksa itu merasa aneh karena sebelumnya Dewi sangat bersemangat untuk pergi ke rumah Tania. Di rumah nanti Reza akan mencoba bertanya dengan Dewi.


“Kalau gitu Ala mau tidur sendiri aja. Bunda nanti malam Ala mau tidur sendiri ya, bial nanti ada adik bayi di pelut Bunda,” ucap Ara yang sangat bersemangat ingin memili adik.


Sekali lagi Dewi hanya tersenyum dan sambil menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Ara.


Setelah membuat Ara dan Andra tidur siang, Dewi yang sebenarnya lelah namun tidak bisa tidur itu akhirnya memutuskan untuk pergi ke taman belakang. Di sebuah kursi yang ada dibawah pohon inilah Dewi duduk sambil membawa sebuah novel terjemahan yang baru saja tiba.


Pandangan Dewi lurus jauh ke depan. Ada rasa yang aneh di dalam dadanya membuat ia ingin sekali menangis kali ini.


Reza yang melihat Dewi duduk sendiri di taman akhirnya menyusul Dewi. Pelan-pelan ia duduk di samping Dewi dan memperhatikan istrinya itu sedang melamun.


“Kamu kenapa, Wi?” tanya Reza.


Dewi hanya diam beberapa saat sebelumnya akhirnya bersuara.


“Andai aja dulu Dewi bisa lebih berhati-hati, mau menunggu lift itu sebentar saja, pasti anak kita sekarang sudah lahir dan sebesar anaknya Tania ya, Kak,” lirih Dewi dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Ya sedari tadi ia kepikiran dengan calon bayinya yang harus pergi sebelum dilahirkan.


“Dewi belum bisa menjadi ibu yang baik, makanya Allah mengambil lagi anak itu dari Dewi.” Runtuh sudah pertahanan Dewi karena kini air matanya mulai turun membasahi pipinya.


Reza yang melihat itu langsung segera memeluk tubuh istrinya dengan erat. Di usap-usapnya punggung istrinya pelan-pelan untuk menenangkan Dewi.


“Kamu adalah ibu yang baik, Wi yang dikirimkan Allah untuk anak-anakku. Lagipula itu bukan salah kamu, itu salah aku yang seharusnya bisa menjaga kamu dan calon anak kita. Mungkin itu juga adalah hukuman buatku karena sudah tidak memperdulikanmu sejak malam itu.” Tak disangka Reza juga ikut menangis dalam pelukannya.


“Aku suami yang bodoh dan suami yang tidak peka. Gara-gara aku yang cuma sibuk dengan pekerjaan Rena telat tahu sakitnya dan telat juga penyembuhannya, jadinya dia harus mati muda. Aku yang bodoh, Wi.”


Dewi membalas pelukan Reza. Gantian kini ia yang menenangkan suaminya itu.


“Mati itu takdir, Kak. Manusia tidak ada satupun yang tahu kapan mereka akan mati dan bagaimana mereka mati.”


Reza melepaskan pelukannya pelan. Diangkatnya dagu Dewi ke atas agar ia bisa melihat wajah Dewi.


“Aku yakin nanti Allah akan memberikan kita anak lagi. Lagipula kita saat ini ada Andra dan Ara yang harus sama-sama kita besarkan. Kamu mau, kan bersama-sama denganku menjaga, merawat, dan mebesarkan mereka berdua?” tanya Reza sambil melihat mata Dewi dalam.

__ADS_1


Dewi mengangguk cepat, karena tanpa dimintapun ia akan menjaga dan merawat kedua anak sambungnya itu.


Reza dan Dewi sama-sama tersenyum. Pelan-pelan Reza mendekatkan wajahnya ke wajah Dewi, hingga bibir Reza yang hanya tinggal beberapa sentimeter lagi akan menempel dengan bibir Dewi, Dewi menutup matanya. Mendapatkan izin, Reza langsung mencium penuh sayang bibir Dewi, wanita yang sudah ia peristri hampir satu tahun ini.


__ADS_2