Izinkan Aku Untuk Bahagia

Izinkan Aku Untuk Bahagia
Bab 23


__ADS_3

Hari-hari berlalu. Akhir pekan ini Rena mengajak Reza dan kedua anaknya untuk berkunjung ke rumah Mami Lisa. Rena bermaksud untuk mengutarakan keinginannya tersebut kepada Mami Lisa dan Papi Arya.


Reza sudah pasrah. Saat ini ia hanya menuruti semua keinganan istrinya tersebut. Kalau dengan menikah lagi bisa membuat Rena sembuh maka akan ia lakukan.


Jam tujuh malam mereka sampai di kediaman Mami Lisa. Dewi juga telah tiba sejak sore. Ia dihubungi sang Mami tentang Rena yang akan datang bersama anak-anaknya. Dewi tau kalau Rena akan berbicara mengenai rencana pernikahannya itu. Ia ingin melihat bagaimana keseriusan Rena dengan rencana yang menurutnya konyol itu.


Setelah makan malam, mereka semua berkumpul di ruang tengah, sedangkan anak-anak telah duluan ke belakang untuk bermain dengan binatang peliharaan yang dibelikan oleh Omanya ketika mereka menginap saat Rena berada di rumah sakit kemarin.


“Om, Tante ada yang mau Rena bicarakan,” kata Rena membuka pembicaraan. Posisi duduk saat ini Papi Arya berada di sofa tunggal, disamping kirinya ada Reza dan Rena, sedangkan di kanannya ada Mami Lisa dan Dewi.


“Rena berencana ingin menikahkan Dewi dan Mas Reza,” ucapnya mantap tanpa ada keraguan.


Mami Lisa dan Papi Arya yang mendengar perkataan Rena kaget dan menatap Rena Reza dan Dewi bergantian.


“Apa maksud kamu Ren? Dewi apa maksudnya semua ini?” tanya Mami Lisa.


Dewi yang ditanya hanya mengangkat kedua bahunya.


“Reza apa kamu yang meminta untuk menikah dengan Dewi? Kamu mau ninggalin istri kamu karena dia sakit?” tanya Papi Arya yang sedikit emosi. Ia berfikir bahwa ini adalah keinginan Reza.


“Bukan maunya Reza semua ini,” jawabnya santai.


“Om, Tante jangan salahin Mas Reza. Ini semua keinginan Rena sendiri Om,” jelas Rena.


“Kenapa ini Ren?” tanya Mami Lisa.


“Rena hanya ingin agar anak-anak dan Mas Reza ada yang jagain ada yang ngerawat.”


“Rena kamu paham tidak dengan yang kamu bicarakan ini. Kamu mau suami kamu berpoligami?” tanya Papi Arya.


“Rena paham Om dan Rena yakin.”

__ADS_1


“Reza, kamu sendiri bagaimana?” tanya Papi Arya lagi.


“Kalau kata Rena iya, berarti iya, Om.”


“Ck,” decak Dewi sambil memalingkan wajahnya dari mereka berdua yang duduk di depannya.


“Rena, kamu dan Dewi sudah Tante anggap anak sendiri. Tante ngga mau kalian nantinya akan bersedih. Jadi tolong Rena hentikan omong kosong ini,” kata Mami Lisa yang mulai meneteskan air matanya.


“Biarin aja Mi. Dewi mau kok nikah sama Kak Reza,” jawab Dewi.


“Dewi!” tegur Mami Lisa.


“Ini bukan maunya Dewi, Mi. Kak Rena yang terus memaksa Dewi untuk jadi madunya. Oke Dewi terima sekarang. Tapi sebelumnya .…” kemudian Dewi mengarahkan pandangannya ke Rena.


“Karena pernikahan ini pernikahan yang sah, Dewi mau nanti Kak Reza harus adil. Tiga hari dalam seminggu Kak Reza harus tinggal sama Dewi, kalau akhir pekan ngga apa-apa kalau harus sama Kak Rena. Terus Kak Rena tidak boleh marah ataupun cemburu kalau Kak Reza jalan sama Dewi. Apalagi kalau nanti Dewi sampai hamil, Dewi tidak mau sekali aja lihat Kak Rena nangis karena menyesal sudah memberikan suaminya sama perempuan lain,” jelas Dewi menggebu-gebu. Tampak dadanya naik turun menahan emosi.


Reza yang mendengar omongan Dewi hanya diam bergeming. Ia tahu kalau itu semua sengaja Dewi lakukan untuk memancing Rena agar membatalkan pernikahan ini. Namun sayang kenyataan tak sesuai harapan.


“Diese Frau ist so verrückt (Perempuan ini benar-benar gila),” umpat Dewi.


“Pi,” kata Mami Lisa sambil menggoyangkan tangan suaminya, berharap sang suami bisa menghentikan kegilaan ini.


“Biarin aja, Mi. Mereka semua sudah dewasa. Mereka tau mana yang baik buat mereka,” kata Papi.


Dewi yang ponselnya bergetar meminta izin untuk mengangkat telepon yang disinyalir dari rumah sakit. Tak lama ia kembali dan pamit untuk pergi ke rumah sakit karena ada pasien yang harus operasi malam itu.


“Kamu mau acaranya yang seperti apa, Dek?” tanya Rena.


“Terserah Kak Rena saja,” jawab Dewi sambil berlalu. Tapi kemudian ia balik lagi ke ruang tengah dan menatap Rena.


“Acaranya akad saja. Tidak ada resepsi dan tidak ada tamu-tamu yang gak penting. Cukup keluarga dan teman terdekat saja,” ucapnya kemudian langsung pergi meninggalkan rumah.

__ADS_1


Reza yang sedari tadi diam menghela nafas panjang. Tak pernah disangka ia akan menjalani pernikahan poligami. Dilihatnya sang istri tercinta yang duduk di sampingnya. Ia teliti betul wajah Rena dan tak terlihat sama sekali raut kesedihan di wajahnya. Senyum manis ikhlas diberikan Rena untuk sang suami.


“Terbuat dari apa hati kamu Ren? Betapa bodohnya aku kalau sampai menyakiti hati kamu,” batin Reza.


———


Setelah pembicaraan malam itu, disepakati pernikahan akan dilaksanakan seminggu lagi. Awal mula Reza dan Dewi menolak diadakan begitu cepat. Namun sekali lagi Rena meminta agar mereka menyegarakannya.


“Bukankah lebih cepat lebih baik? Niat baik tidak boleh ditunda-tunda.”


Tak banyak yang harus dipersiapkan karena hanya akan diadakan akad saja, dan tempat pelaksanaannya adalah rumah Mami Lisa. Rena sudah berulang kali membujuk Dewi agar melaksanakan pernikahan sesuai keinginan Dewi, yaitu memakai adat Minang. Dewi yang memiliki keturunan Minang tentu saja ingin melakukannya sesuai adat. Tapi ia menolaknya.


“Kakak mau orang-orang tahu terus Dewi dicap pelakor?”


Akhirnya Rena pasrah. Dewi sudah mau menikah saja ia sudah bersyukur. Setidaknya jika umurnya tidak lama, orang-orang yang ia cintai akan dijaga dan dirawat di tangan yang tepat.


Hari yang ditunggu tiba. Reza telah mengucapkan ijab kabulnya kepada wali hakim karena Dewi yang sudah tidak punya orangtua lagi. Papi Arya dan Ayah Bambang menjadi saksi. Telah sah akhirnya Reza beristri dua, Dewi menjadi istri kedua, dan Rena si istri pertamanya.


Yang hadir benar-benar hanya sedikit saja. Keluarga dekat dari Reza, Rena dan Dewi. Kemudian ada ketiga sahabat Dewi, Tania, Leo dan Candra juga hadir.


“Tak sangka secepat ini lo nyusulin gue, Wi,” bisik Tania ketika mereka berpelukan usai ijab kabul. Tania dan Leo sudah melangsungkan pernikahannya minggu lalu.


“Iya, dan gue jadi istri kedua,” ketus Dewi.


“Gak usah cemberut gitu. Coba lo ikhlas, Wi. Semua ini pasti ada hikmahnya.”


“Serah lo.”


Kedua orangtua Rena juga memeluk Dewi bergantian. Ayah, Ibu, dan Dirga cukup kecewa awalnya dengan keputusan Rena. Namun mereka tidak bisa berbuat banyak karena ini sudah menjadi keputusan Rena. Mereka hanya bisa mendoakan kebaikan untuk anak-anaknya dan mereka juga sangat berharap agar Rena dan Dewi bisa hidup akur nantinya.


———

__ADS_1


Mohon dukungannya ya yeorobun. Jempol dan komentar positifnya ditunggu 😊😊


__ADS_2