
"Perusahaan kak Reza lagi ada masalah. Bisa balik lagi kalau kak Reza mau nikahin anak perempuan orang."
"APA??" Mereka bertiga sangat terkejut mendengar penuturan Dewi, sampai-sampai Candra menyemburkan minuman dan mengenai wajah Leo.
"Lo yang bener minumnya, Can," ucap Leo sambil membersihkan wajahnya dengan tisu.
"Sorry sorry," jawab Candra.
"Lo serius, Wi?" tanya Leo yang mengabaikan permintaan maaf Candra.
"Serius," jawab Dewi yang masih saja mengunyah dengan santai makanannya.
"Kok lo biasa aja laki lo mau nikah lagi?" tanya Leo lagi.
"Gue yakin kak Reza ngga bakalan mau sama tuh cewek. Kalau emang mau udah dari dulu kali mereka nikah," enteng Dewi.
"Tau darimana lo?" tanya Tania.
Dewi meletakkan sendok makannya dan meminum air mineral miliknya sebelum menjawab pertanyaan Tania.
"Kalian ingat gue pernah cerita tentang kak Reza yang dikasih obat dicampur dalam minumannya pas di Singapura?" tanya Dewi yang mendapat anggukan dari ketiga sahabatnya.
"Nah cewek itu yang obsesi banget sama laki gue," jelas Dewi.
"Buset gitu amat pengen kawin sama laki lo, Wi."
"Obsesi tingkat tinggi. Menghalalkan segala cara buat wujudkan kehaluan dia."
"Licik sih kalau kata gue." Komentar Tania, Candra, dan Leo.
__ADS_1
Dewi membenarkan komentar ketiga sahabatnya itu, karena memang menurutnya Siska terlalu egois dan licik agar mendapatkan sesuatu yang sesuai keinginannya.
"Gue cabut duluan, ada panggilan dari IGD," kata Candra setelah mendapatkan telepon dari IGD. "Lo harus kuat ngejaga keluarga lo ya, Wi," lanjutnya sebelum pergi dari ruangan itu.
"Terus kak Reza gimana nanggepinnya?", tanya Tania yang penasaran.
"Makanya kak Reza sekarang ke Singapura, kata sekretarisnya sih nemuin investor baru. Cuma gue ngga tahu hasilnya gimana, soalnya kak Reza sendiri belum ada cerita sama sekali tentang masalah ini ke gue," jawab Dewi sendu.
"Hidup gue kenapa ngga bisa lurus-lurus aja sih? Kayaknya gue ngga diizinin buat bahagia sama Tuhan."
"Hus ngga boleh ngomong gitu." Tania langsung pindah tempat duduk dari yang sebelumnya disamping Leo kini duduk disebelah Dewi.
"Tiap manusia itu punya masalah masing-masing, Wi. Itu ujian dari Allah. Allah ngasih lo ujian seperti ini karena Allah tahu lo bisa ngelewatinnya. Lo sendiri juga tahu kalau Allah ngga akan ngasih ujian hambaNya diatas kemampuan hambaNya itu sendiri. Ini juga ujian kenaikan kelas buat kalian, biar rumah tangga kalian tetap berdiri kokoh walaupun diterpa angin sekuat apapun," ucap Tania.
"Gue juga yakin kalau kak Reza pasti bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik. Lo harus percaya sama suami lo," sambung Leo.
Dewi menganggukkan kepalanya. Ia sendiri juga yakin ia dan Reza pasti bisa melalui semuanya. Saat ini ia harus bisa menghibur dan memberikan dukungannya untuk suami tercintanya itu.
Sebelum pulang ke rumah, Dewi mampir dulu ke minimarket membeli beberapa bahan makanan dan cemilan untuk kedua anaknya. Saat sedang memilih di rak makanan ringan, ia disapa oleh pria paruh baya yang tidak ia kenali sebelumnya.
"Dokter Dewi, istrinya Reza?"
"Iya, maaf Bapak siapa?"
"Saya Wira," jawab pria itu.
Dewi memikirkan Wira mana yang dimaksud dengan pria tua didepannya ini, karena ia sendiri merasa tidak asing dengan nama itu.
"Saya teman lama mertua anda,", lanjutnya ketika melihat wajah bingung Dewi.
__ADS_1
"Ayahnya nona Siska?" tanya Dewi.
"Sepertinya anda sudah mengenal putri saya."
"Kebetulan saya sudah bertemu beberapa kali dengan putri KESAYANGAN anda," jawab Dewi yang memberikan penekanan pada kata kesayangan. Ia tahu kalau keinginan Siska mendapatkan dukungan penuh dari pria di depannya itu.
"Dari wajah anda sepertinya anda sudah tahu tentang masalah ini. Lalu bagaimana? Anda tidak masalah, kan kalau Reza menikah lagi? Lagipula bukannya anda juga istri kedua Reza sebelumnya, jadi seharusnya tidak masalah kalau sekarang Reza juga menikah lagi," ucap Pak Wira santai.
Dewi tersenyum mendengar penuturan Pak Wira.
"Saya tidak pernah melarang suami saya untuk berpoligami. Semua saya serahkan kepada beliau. Beliau sendiri sudah tahu bagaimana hukumnya berpoligami dalam agama. Memang pernikahan poligami diperbolehkan dalam agama, itu kalau si laki-lakinya mampu, kalau tidak mampu, sebaiknya jangan karena akan membuatnya menuju ke pintu neraka. Suami yang berpoligami tidak boleh menyakiti hati istri-istrinya. Di kasus kita sekarang ini apakah anda yakin hati putri anda tidak akan pernah sakit? Anda sendiri tahu bagaimana suami saya menolak pernikahan ini bukan. Kalau anda tetap memaksa, menurut anda apakah kebahagiaan yang kelak akan didapat oleh putri anda?"
Pak Wira tampak mulai terpancing emosinya karena merasa digurui oleh orang yang usianya jauh dibawahnya.
"Kamu jangan sok mengajari saya. Kamu bukan apa-apa kalau tidak dipungut sama si Arya. Kamu tidak akan dikenal sebagai dokter saraf, paling orang hanya mengenalmu sebagai si pemilik tendangan maut. Lagian itu sudah sangat lama sekali kamu berhenti menjadi atlet pencak silat, orang-orang juga sudah lupa sama kamu."
"Wah saya tidak menyangka Tuan tahu kalau saya mendapatkan julukan itu dulu," ucap Dewi pura-pura kagum. "Tapi sayang sepertinya anda melewatkan informasi yang lain tentang saya."
Dewi maju selangkah mendekati Pak Wira.
"Seharusnya anda mencari tahu apakah saya masuk kuliah kedokteran di dalam dan luar negeri karena koneksi dan harta dari orangtua angkat saya? Sedikit informasi untuk anda, saya diterima kuliah dan bekerja di Korea karena saya mendapatkan beasiswa berprestasi. Bahkan kalau boleh saya sedikit menyombongkan diri, saya sebelumnya sudah bekerja di Yonsei Hospital, salah satu rumah sakit besar di Korea Selatan. Karena kehebatan dan keahlian yang saya miliki, saya di ajak pulang oleh Menteri Kesehatan negara kita untuk mengabdi pada negara. Memang kedua orangtua angkat saya selalu memberikan dukungannya terhadap saya, makanya saya bisa seperti saat ini. Tetapi apakah anda masih mengira saya bisa diposisi ini hanya karena saya memiliki orangtua angkat yang kaya raya? Jangan pernah meremehkan orang lain, karena bisa jadi dia jauh lebih tinggi daripada perkiraan anda," jelas Dewi.
Wajah Pak Wira mengeras, menahan emosinya. Saat ini ia tengah malu karena jawaban yang diberikan oleh Dewi yang dianggapnya masih anak kecil, belum lagi perdebatan mereka mendapatkan perhatian oleh orang-orang yang berada di dalam minimarket.
"Jangan pernah mengajari saya. Sekarang saya harap anda bisa menekankan ego anda, agar perusahaan Reza bisa berjalan seperti dulu. Jangan pernah melarang Reza untuk menikah dengan putri saya," kata Pak Wira setelah bisa meredam emosinya.
"Ego saya atau ego putri anda yang harus diturunkan? Haruskah Anda mewujudkan kebahagiaan putri anda dengan cara menghancurkan kebahagiaan orang lain?"
"Apapun akan saya lakukan asal anak-anak saya bahagia!" Usai mengucapkan itu, Pak Wira langsung berlalu dan keluar dari minimarket.
__ADS_1
Sedangkan Dewi yang masih berdiri di tempatnya berusaha meredam emosi yang sudah ia tahan daritadi. Dewi terus beristighfar, menghirup nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan.
"Kok ada orangtua seperti itu?"