Izinkan Aku Untuk Bahagia

Izinkan Aku Untuk Bahagia
Bab 36


__ADS_3

“Ceraikan Dewi.”


“Tidak Wi. Sampai kapanpun kakak tidak akan pernah ceraikan kamu!”


“Demi kebaikan kita semua Kak. Kakak ngga akan diterpa kebingungan memilih lagi antara kak Rena atau Dewi. Kakak juga bisa full untuk menemani kak Rena. Ngga akan ada lagi yang tersakiti Kak.”


“Ngga Wi. Kita mulai semuanya dari awal. Kakak sudah bisa menerima saat ini kamu sebagai istri kakak juga.”


“Dewi ngga bisa Kak. Dewi mohon tinggalkan Dewi.”


“Sampai kapanpun kakak ngga akan pernah ceraikan kamu!” pekik Reza yang sudah emosi.


Dewi terlonjak kaget mendengar Reza yang berteriak di depannya.


“Maaf Wi, Kakak minta maaf. Tolong kamu jangan perpisahan sama kakak. Apapun permintaan kamu akan kakak turuti. Tapi jangan minta perpisahan Wi.” Reza duduk berlutut di depan Dewi.


Mami Lisa dan papi Arya segera masuk ke dalam ruangan ketika mendengar teriakan Reza tadi. Mereka melihat Reza menangis dan berlutut di depan Dewi, sedangkan Dewi duduk di ranjang sambil menangis dengan tangan yang menutup wajahnya. Hari mereka terenyuh melihat pemandangan itu. Entah siapa yang harus disalahkan.


Pasangan paruh baya itu berjalan menghampiri sepasang suami istri yang sedang dilanda duka itu. Mami Lisa datang memeluk Dewi, sedangkan papi Arya membantu Reza untuk berdiri.


“Sudahlah Za. Biarkan Dewi tenang dulu saat ini,” kata Papi Arya.


“Om tolong kasih tahu Dewi, kalau sampai kapanpun Reza ngga akan ceraikan dia.”


Papi Arya membawa Reza untuk keluar dari ruangan inap Dewi.


“Iya Za. Sekarang kamu pulang aja dulu. Tenangkan juga diri kamu. Jangan kamu temui Rena dengan kondisi kamu yang seperti ini. Istirahatlah kamu dulu di rumah,” lanjut Papi Arya.


“Om, Reza mohon yakinkan Dewi Om. Reza udah bisa nerima keadaan saat ini. Reza juga sudah ikhlas menerima Dewi sebagai istri Reza selain Rena,” pinta Reza.


“Om akan bicara nanti dengan Dewi.”

__ADS_1


Reza berjalan gontai menuju parkiran rumah sakit. Dia membawa kereta besinya itu keluar dari rumah sakit menuju jalanan. Selama di jalan, Reza lebih banyak termenung sehingga beberapa kali ia mendapatkan makian dari pengendara lain.


Akhirnya Reza sampai di tempat tujuannya. Bukan rumah, melainkan apartemen yang Reza dan Dewi tempati dulu. Apartemen itu masih terlihat rapi. Reza kemudian masuk ke dalam kamar yang dulunya ditempati oleh Dewi dan duduk di ranjangnya. Selama tinggal disini, baru kali ini dirinya masuk ke dalam kamar Dewi. Masih tercium aroma parfum Dewi di kamar itu. Entah memang wanginya yang masih tersisa di ruangan itu, atau hanya pikiran Reza saja.


Selanjutnya pria itu keluar menuju meja makan. Biasanya di meja ini mereka lebih sering berinteraksi saat sarapan ataupun makan malam. Dewi yang memang terbiasa mandiri sejak SMA, bisa memanjakan lidahnya dengan masakan-masakan rumahan yang lezat. Masakan Rena dan Dewi sama-sama lezat, hanya saja untuk sandwich tuna menu kesukaan Reza, Reza lebih menyukai buatan Dewi yang memang benar-benar pas dilidahnya.


Di meja ini juga mereka sering bercanda dan berdiskusi. Pada saat itu Reza masih menganggap Dewi seperri adiknya saja, tetapi kali ini ia yakin akan menerima Dewi sebagai istrinya.


——


Meninggalkan kegalauan Reza di apartemen, Dewi sendiri masih terisak di pelukan mami Lisa. Ia mengadukan perbuatan Reza selama beberapa bulan ini yang mengacuhkannya sejak kejadian malam itu.


“Dewi yang maksa untuk nolong kak Reza malam itu karena Dewi pikir kak Reza sakit, kalau Dewi tahu saat itu kak Reza sedang dalam pengaruh obat Dewi ngga akan mau negur kak Reza.” Dewi bercerita sambil terisak sesekali.


“Kalau bukan sama kamu malam itu Reza melakukannya, ular busuk Siska itu akan terus mengganggu Reza dan akhirnya Reza melakukannya sama dia. Kamu mau? tanya Mami Lisa.


“Ngga mau Mi. Makanya waktu Dewi sadar kalau kak Reza suami Dewi, kak Reza berhak atas Dewi, Dewi ikhlas melakukannya. Pagi Dewi bangun lihat kak Reza ngga ada Dewi masih berpikir positif mungkin kak Reza sudah pergi bertemu kliennya. Dewi tunggu sampai besoknya kak Reza tetap ngga ada hubungi Dewi. Sampai akhirnya Dewi tanya ke resepsionis, disitu Dewi tahu ternyata kak Reza udah check out dari hotel itu, dan dia ngga ada ngomong sama sekali sama Dewi Mi,” Dewi kembali menangis menceritakan kejadian hari itu.


“Dewi ketemu di rumahnya karena Andra minta Dewi datang. Tapi kak Reza sama sekali tidak mau melihat Dewi. Apa dia jijik lihat Dewi, Mi? Dewi wanita murahankah Mi karena memberikannya kepada kak Reza padahal status istri kedua Dewi hanya untuk status saja,” lanjut Dewi.


“Cup cup cup sayang sudah. Kamu wanita mulia sayang. Kamu jangan pernah berpikir yang seperti itu. Sudah sudah sayang jangan diingat-ingat lagi ya.”


Lama Dewi menangis di pelukan Mami Lisa sampai akhirnya Dewi berbicara.


“Mi, Dewi boleh minta tolong?” ucap Dewi sembari melepaskan pelukannya.


“Boleh sayang. Bilang sama Mami kamu mau apa?”


“Tolong urus perceraian Dewi dan kak Reza.”


“Kamu yakin, Nak?” tanya papi Arya.

__ADS_1


“Yakin Pi.”


“Jangan terburu-buru mengambil keputusan Wi. Apalagi dalam kondisi emosi seperti sekarang.”


“Tapi Dewi ngga sanggup lagi Pi.”


“Bagaimana kalau kamu pergi berlibur dulu sebentar? Pulang berlibur baru kamu ambil keputusan seperti apa,” usul Mami Lisa.


Tampak Dewi berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk tanda setuju.


“Tapi Dewi pergi sendiri ya. Papi sama Mami jangan ikut.”


“No. Kalau kamu tidak mau Papi sama Mami ikut ngga apa-apa. Tapi Papi akan mengirim satu orang untuk bersama kamu,” ucap Papi Arya.


“Tapi Pi.”


“Take it or leave it.”


“Take it. Tapi jangan ada yang tahu kemana Dewi pergi,” pinta Dewi.


“Tidak masalah selama kamu nyaman. Memangnya kamu mau kemana?” tanya Mami Lisa.


Satu tempat yang langsung terlintas di benak Dewi, tempat yang sangat ingin ia kunjungi tapi tak pernah ia ceritakan sama sekali terhadap siapapun. Sepertinya di tempat itu tepat baginya untuk menenangkan diri tanpa dicari-cari oleh siapapun.


“Iseltweld.”


*Flashback off*


Briggita yang melihat Dewi menangis karena menceritakan kisahnya memeluk tubuh teman barunya itu.


“Kamu wanita hebat. Semua akan baik-baik saja. Sekarang kamu tidak sendiri, ada aku sekarang yang akan selalu bersama kamu,” ucap Briggita.

__ADS_1


“Aku juga akan bersama kalian,” kata Julian yang ternyata dari tadi berdiri dibelakang mereka dan mendengar semua cerita Dewi.


__ADS_2