Izinkan Aku Untuk Bahagia

Izinkan Aku Untuk Bahagia
Bab 85


__ADS_3

"Kak Reza, udah sampai ya." Dewi keluar dari lift dan berjalan menuju Reza. Dewi melihat ke arah samping dan baru menyadari kalau Chris juga berada disana.


"Pak Chris baru sampai dari hotel?" tanya Dewi. Ia tahu kalau Chris tadi balik ke hotel setelah diberitahu oleh Laura ketika ia mengunjungi kamar Ana.


"Iya, saya baru saja sampai," jawab Chris.


" Kalian saling kenal?" tanya Reza heran.


"Iya, Pak Chris ini orangtua pasien Dewi, Kak," jelas Dewi. "Kak Reza kok bisa kenal dengan Pak Chris?"


"Iya beliau--."


"Kita partner kerja, dok," sambung Chris. Reza yang kaget melihat ke arah Chris yang tampak tersenyum dengannya.


"Pak Reza, bisa atur waktu kapan kita bisa mulai membicarakan kerja sama kita?" tanya Chris yang berhasil membuat Reza bingung.


"Maksudnya bagaimana ya, Pak?"


"Sebaiknya kita harus segera membicarakan mengenai kerja sama kita agar bisa terlaksana secepatnya. Besok bisa saya berkunjung ke kantor anda?"


"Tunggu, berarti anda mau bekerja sama dengan saya?" Reza ingin memastikan bahwa apa yang ia dengar tidak salah. Sedangkan Dewi hanya menjadi pendengar saja karena ia sendiri juga tidak paham.


"Benar, sebenarnya sudah beberapa hari yang lalu saya berniat untuk menghubungi anda, tetapi karena saya yang disibukkan dengan kondisi anak saya yang kemarin sempat drop dan baru saja di operasi oleh dokter Dewi beberapa hari yang lalu. Lagipula saya juga berhutang dengan dokter Dewi, karena beliau sudah menyelamatkan anak saya 2 kali," jelas Chris.


"Pak Chris jangan seperti itu. Ini sudah menjadi kewajiban saya sebagai dokter untuk menyelamatkan pasien saya selagi saya mampu," jawab Dewi sungkan.


"Saya tahu, makanya saya jauh-jauh datang kesini langsung mengunjungi dokter."


Dewi dan Reza saling berpandangan dan menggenggam tangan dengan erat. Senyum bahagia juga terpancarkan dari wajah mereka berdua.


"Bagaimana jadi mau melihat anak saya?" tanya Chris yang langsung membuat pasangan itu sadar kalau masih ada Chris disana.


"Tentu saja jadi. Tidak apa, kan aku lihat anaknya Pak Chris dulu?" tanya Reza pada Dewi.


"Tentu saja, Dewi tadi juga cuma sebentar disana karena mepet waktunya."

__ADS_1


Akhirnya mereka semua kembali masuk ke kamar inap Anna. Disana terlihat Anna sedang makan buah yang disuapi oleh kakak laki-lakinya. Laura yang melihat sang suami kembali bersamaan dengan Dewi merasa kaget dan khawatir, takut ada sesuatu pada anaknya. Namun Laura mengernyitkan alisnya ketika melihat seorang pria yang wajahnya seperti tidak asing juga ikut masuk ke dala kamar inap anaknya.


"Kenapa bisa berbarengan?" tanya Laura ketika Chris bejalan mendekat ke arahnya.


"Sayang kenalin ini Pak Reza, yang kemarin Papa ceritain, dan ternyata Pak Reza ini suaminya dokter Dewi," jelas Chris pada istrinya.


"Oh benarkah? Akhirnya saya bisa mengenal suaminya Dewi. Halo, Pak, saya Laura." Laura mengulurkan tangannya yang kemudian disambut oleh Reza.


"Saya Reza. Istri saya beberapa kali bercerita tentang anda dan awal jumpa kalian di Korea dulu."


"Iya, Dewi juga bercerita pada saya tentang anda. Padahal dulu kita lumayan dekat, tapi dia tidak memberitahu tentang dia yang menikah ini."


"Kami memang belum mengadakan resepsi karena keadaannya tidak memungkinkan kala itu, tapi sepertinya saya harus membuatnya dalam waktu dekat, takut perut Dewi makin besar dan ia jadi makin gampang lelah."


"Tunggu, ini maksudnya?" Laura melirik Dewi yang terlihat senyum-senyum sendiri.


"Kamu hamil, Wi? Kenapa ngga cerita tadi? Kok kamu tega sih ngga cerita ke Kakak." Laura mencecar Dewi dengan berbagai pertanyaan.


"Sorry sorry, bukannya ngga mau bilang, tapi lihat sendiri, kan hari ini aku sibuk banget apalagi tadi siang ada pasien darurat. Tadi aja Dewi datang kesini cuma cek bentaran doang," kata Dewi.


Sepanjang jalan, tangan Dewi tak lepas dari genggaman Reza, bahkan pria ini menyetir hanya menggunakan satu tangan.


"Senang banget kayaknya hari ini. Kenapa?" tanya Dewi yang daritadi memerhatikan wajah suaminya itu tidak lepas dari senyuman yang terus ia torehkan.


"Siapa yang ngga senang. Alhamdulillah hari ini aku bertubi-tubi dapat berita baik," jawab Reza.


"Berita baik gimana?"


"Pertama tentang kehamilan kamu, terus sekarang aku bisa kerja sama dengan Tuan Chris. Kamu tau tidak, sewaktu aku sama Farel ke Singapura kemarin dia tolak mentah-mentah proposal kerja sama aku."


"Berarti Kakak bohong, kan?"


Reza yang baru tersadar kalau ia baru saja keceplosan langsung terdiam. Padahal sebelumnya ia mengaku pada Dewi kalau urusannya di Singapura berjalan lancar, tetapi sekarang ia malah mengatakan bahwa ajuan kerja samanya ditolak.


"Kenapa harus berbohong?" tanya Dewi.

__ADS_1


"Maaf."


"Jangan minta maaf dulu. Sekarang jujur, kenapa kemarin bilangnya semua urusan beres dan lancar?" desak Dewi.


"Aku cuma ngga mau kamu khawatir. Yang ada nanti aku cuma nambah beban pikiran kamu aja, sayang."


"Dengan Kakak ngga jujur malah nambah beban pikiran aku."


"Iya, maaf ya cantik." Reza mengelus pelan kepala Dewi.


"Tunggu, kenapa kamu ngga kaget? Kenapa responnya biasa aja pas tahu aku ngga berhasil di Singapura," tanya Reza.


"Dewi udah tahu juga kok kalau Kak Reza ngga berhasil meyakinkan calon investor untuk berinvestasi di perusahaan."


"Tahu dari mana?"


"Siapa lagi kalau bukan Lia."


"Emang dasar tu si Lia. Sebenarnya dia kerja sama siapa sih," kesal Reza.


"Dia ada di pihak Dewi. Makanya jangan macam-macam, awas aja. Ntar Dewi suruh tidur di luar baru tahu rasa!" ancam Dewi.


"Iih ngancem. Lagian siapa yang macam-macam. Aku juga, kan mau bobok bareng dedek. Iya ngga, Dek?" Reza kini mengelus pelan perut Dewi yang masih terlihat rata.


"Sehat-sehat, ya sayang Papa. Nanti kita main bareng sama abang Andra dan kakak Ara. Tapi nanti kamu di pihak Papa, ya. Abang sama kakak kamu selalu belain Bunda mulu, Papa jadi ngga punya teman."


Dewi tertawa mendengarkan curhatan suaminya pada sang calon anak mereka. Ia tak menyangka ternyata Reza juga sangat menantikan kehadiran buah cinta mereka ini.


Seketika Dewi teringat, bagaimana dengan Siska. Pernikahan mereka awalnya agar perusahaan masih bisa diselamatkan. Tetapi sekarang Chris sudah mau membantu, apakah tidak apa jika pernikahan ini dibatalkan saja? Apakah ia tega setelah sebelumnya memaksa Reza untuk menikahi Siska, kini ia meminta suaminya ini untuk membatalkan.


Tidak perlu ditanya, Reza pasti sangat setuju dan senang pernikahan nya dengan Siska batal, tetapi bagaimana dengan Siska? Bukankah ia akan dianggap ingkar janji?


_____


Maaf yeorobun baru bisa update lagi. Dari kemarin itu pekerjaan in real life lagi banyak banget. Belum lagi anak-anak pada sakit, terus sekarang mamaknya juga ikutan drop. Mohon doanya ya biar segera fit lagi..

__ADS_1


__ADS_2