Izinkan Aku Untuk Bahagia

Izinkan Aku Untuk Bahagia
Bab 25


__ADS_3

“Izin tidak ya?” gumam Dewi sambil menatap ponselnya.


“Ya harus izin dong. Ingat status lo sekarang istri. Jadi mau kemana-mana itu harus dengan izin suami.” Tania yang duduk di sebelah Dewi ternyata mendengarkan gumaman Dewi tadi.


“Kan pas hari itu dia nya juga lagi sama kak Rena, bukan sama gue, Tan?”


“Ya walaupun laki lo lagi sama istri pertamanya dia wajib lo kabari.”


“Gila enak banget ya jadi kak Reza punya bini dua. Nah gue satu aja belum,” gerutu Candra yang duduk di depan cewek-cewek ini. Saat ini mereka sedang makan malam bersama di Ayam Geprek Pakde Imam, langganan mereka dulu semasa koas.


“Ya tinggal kawin susah amat,” jawab Leo disebelahnya.


“Kawin sih udah, tinggal nikah doang ini lagi yang belum.”


Sontak jawaban Candra membuat ketiga sahabatnya menatap tajam ke arah Candra. Tak tanggung, Tania malah melemparkan sendok makannya ke arah Candra.


“Selow guys gue cuma bercanda. Iya kali gue nyolong start duluan,” jelas Candra.


“Ya mungkin aja karena tinggal lo sendiri yang belum kawin,” kata Leo.


“Emang lo udah kawin, Wi?” tanya Candra.


“Eh buset ngapain lo tanya-tanya gue udah apa belum,” jawab Dewi.


“Eh iya lo udah apa belum, Wi?” Kini giliran Tania yang bertanya.


“Lo ngapa ikut-ikutan dia juga sih, Tan?”


“Udah-udah ngapain bahas ginian. Makan dulu tuh,” potong Leo.

__ADS_1


Bukan Tania namanya yang tidak kepo perihal sahabatnya satu ini. Ia tentu saja ingin tau apakah Dewi sudah melakukannya bersama dengan Reza. Apalagi ia tahu Reza tak mungkin bisa melakukannya saat ini bersama Rena karena dikhawatirkan akan menyakiti Rena. Laki-laki mana yang tahan untuk tidak melakukannya apalagi didepannya ada seorang perempuan cantik dan manis seperti Dewi yang sah menjadi istrinya. Tania tahu dibalik hijab dan baju panjang yang selalu menutupi badan Dewi, Dewi memiliki kulit yang putih bersih.


“Lo serius belum nganu sama kak Reza?” bisik Tania.


“Kepo.”


“Ih orang serius juga. Lo gak boleh siksa laki lo kayak gitu, Wi. Ingat dia itu suami lo yang sah secara agama dan negara. Sebagai istri yg soleha lo harus memenuhi kewajiban lo sebagai seorang istri, temasuk mengenai haknya,” jelas Tania yang masih dengan suara kecil. Ia tak mau kedua laki-laki di hadapannya ini sampai tahu mengenai pembicaraan mereka.


Dewi yang mendengar ucapan Tania tadi hanya diam saja sambil memakan makanannya. Ia sendiri tahu mengenai hak dan kewajibannya sebagai seorang istri. Tapi untuk hal memenuhi haknya Reza, entah kenapa ia belum siap. Ada hati yang harus ia jaga, yakni Rena. Ia tidak mau kalau sampai Rena merasa dikhianati oleh Reza karena telah melakukan itu dengan dirinya. Dan sepertinya Reza juga memiliki pemikiran yang sama dengannya. Ia yakin sampai saat ini Reza masih belum bisa menerima dirinya sebagai istri keduanya.


Selesai makan malam yang kala itu dibayarin oleh Leo, Dewi langsung mengarahkan mobilnya menuju apartemen. Sampai apartemen, tidak tampak sepatu kerja milik Reza, yang artinya pria itu belum pulang. Tak ambil pusing Dewi langsung melangkah menuju kamarnya, bebersih diri kemudian menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa esok hari.


Pagi harinya seperti biasa Dewi menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Dewi tidak tahu tadi malam Reza pulang jam berapa. Walaupun statusnya sebagai istri, ia merasa tidak memiliki hak untuk bertanya kepada Reza. Sudah pukul 8, barulah Reza keluar dari kamarnya. Dewi sengaja menunggu Reza karena ingin memberitahukan sekaligus meminta izin untuk pergi ke Singapura sore ini.


“Lho tumben kamu belum berangkat, Wi?”


“Sengaja mau tunggu Kak Reza. Sarapan dulu, Kak?”


“Dewi mau izin nanti sore mau ke Singapura gantiin dokter senior untuk ikut seminar soalnya beliau lagi kurang sehat. Kebetulan pembicaranya ini dokter spesialis saraf ternama yang berasal dari Jerman,” ucap Dewi.


“Kakak juga mau ke Singapura hari ini, ketemu investor yang mau kerja sama di proyek Kakak sekarang. Kamu nginap dimana?”


“Belum tau Kak dimana. Ya paling di hotel tempat diadakan seminarnya. Tadi malam pas dikabari belum dikasih tau nama hotelnya,” jawab Dewi.


“Oh yasudah.” Reza melanjutkan menyarap sandwich tuna yang dibuat oleh Dewi. Sejak pertama kali menyicip sandwich buatan Dewi ini, Reza meminta jika Dewi sedang tidak terburu-buru untuk membuatkannya. Sandwich buatan istri keduanya ini sangat cocok di lidahnya.


“Oh iya ini,” kata Reza sambil menyerahkan sebuah kartu debit.


“Apa ini?”

__ADS_1


“Nafkah untuk kamu. Maaf baru Kakak kasih. Dari kemarin kelupaan terus. Kita juga jarang ketemu.”


“Gak perlu Kak. Dewi ada uang sendiri,” tolak Dewi.


“Bukannya kamu yang minta Kakak untuk adil? Rena dapat nafkah dari Kakak, ya kamu juga dapat. Lagipula kan ini tanggung jawab Kakak sebagai seorang suami,” jelas Reza.


“Suami,” batin Dewi. Kenapa terasa menggelitik ya.


“Hmm baiklah Dewi terima. Terimakasih.”


“Oke Kakak pergi dulu. Pinnya tanggal pernikahan kita,” ujar Reza yang sekalian beranjak dari kursinya.


“Kak Reza,” panggil Dewi.


Reza yang sudah berjalan menghentikan langkahnya dan memutar balik badannya. Dewi berjalan mendekat ke arah Reza dan mengulurkan tangannya. Reza yang melihat itu mengernyitkan alisnya tanda tak paham.


“Salim,” kata Dewi.


“Oh.” Kemudian Reza menerima uluran tangan Dewi dan Dewi membawa tangan Reza untuk ia cium dan diletakkan di keningnya.


“Hati-hati,” lanjutnya sambil tersenyum yang begitu cantik di mata Reza.


“Hmm. Assalammualaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Reza kemudian melanjutkan langkahnya keluar menuju parkiran mobil. Di dalam mobil Reza duduk terdiam sambil memegang dadanya yang sejak tadi bergemuruh hebat. Jantungnya memompa sangat cepat.


Tak berbeda jauh dari Reza, Dewi juga duduk di sofa ruang tengah. Sejak ia menciun tangan Reza tadi tak henti-hentinya ia memegang dadanya yang bergemuruh serasa jantungnya ingin keluar saking cepatnya berdetak. Tanpa mereka sadari, mereka berucap kalimat yang sama di dalam hati mereka.

__ADS_1


“Haruskah aku mulai menerimanya?”


__ADS_2