Izinkan Aku Untuk Bahagia

Izinkan Aku Untuk Bahagia
Bab 51


__ADS_3

Ara yang terus saja merengek untuk pulang ke rumah akhirnya diizinkan Leo untuk pulang di hari keempat dengan banyaknya hal yang harus diperhatikan oleh Dewi sebagai orangtua. Reza tidak bisa menjemput karena ada pekerjaan mendesak di kantornya sehingga Mami Lisa yang menjemput dan mengantar Dewi dan Ara pulang ke rumah. Sedangkan Ibu Ratna, Ayah Bambang dan Dirga sudah balik ke Bandung karena mereka ingin memberikan ruang dan waktu bagi Reza dan Dewi untuk mempererat hubungan mereka.


“Ara istirahat dulu ya, Bunda turun dulu nemanin Oma,” ucap Dewi yang mengantar Ara ke kamarnya.


“Tapi Bunda ngga pergi, kan?” tanya Ara.


“Ngga, Bunda cuma di bawah aja kok.”


“Okedeh.”


Setelah Dewi mengecup kening putri sambungnya itu, Dewi turun ke bawah menemui Mami Lisa yang saat itu sedang menemani Andra belajar menulis.


“Wah Abang sudah pintar sekarang nulis, ya,” puji Dewi.


“Iya dong, Bun. Kan Abang minggu depan udah masuk sekolah,” jawab Andra.


“Iyakah?” tanya Dewi.


“Reza belum cerita, ya sama kamu. Umur Andra kan sudah 6 tahun, sudah seharusnya SD tahun ini,” jelas Mami Lisa.


Dewi menggeleng lemah. “Bahkan Dewi lupa kalau Andra seharusnya sudah SD,” lirih Dewi.


Mami Lisa yang melihat Dewi sedikit murung mencoba menenangkan Dewi.


“Ngga apa-apa, kamu ngga usah terlalu fikirkan, ya. Mungkin Reza lupa cerita sama kamu. Baru pulang dari Swiss kalian harus jaga Ara di rumah sakit,” hibur Mami Lisa.


Dewi mengangguk.


Setelah puas bermain dengan sang cucu, Mami Lisa pamit pulang ke rumahnya dengan wejangan-wejangan yang tak lupa ia berikan untuk putrinya.


“Kamu yang baik-baik, ya sama Reza. Mami berterima kasih karena kamu mau maafin kebodohan Reza dan memulai kembali hubungan kalian. Mami doakan semoga keluarga kalian selalu diberikan keberkahan dan kebahagiaan.”


“Aamiin. Terimakasih, Mi.” Dewi memeluk erat Mami Lisa. Ia bersyukur dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayanginya sehingga ia bisa keluar dari keterpurukannya.


——


Hari itu Reza pulang sedikit terlambat. Kepergiannya ke Swiss melebihi waktu yang ditentutan sebelumnya dan ia yang harus menemani Ara di rumah sakit membuat pekerjaannya menumpuk.


“Assalammualaikum.”


“Waalaikumsalam,” jawab Dewi, Ara dan Andra kompak. Saat itu mereka sedang berada di ruang tv menonton film kartun disney kesukaan Ara.


“Papa lama pulangnya,” ucap Ara yang saat itu sedang dipangku oleh Dewi.


“Maaf ya, sayang. Tadi kerjaan Papa banyak banget ,” jawab Reza yang berjalan mendekati Dewi dan Ara.


Cup cup


Reza mencium kedua pipi gembul milik Ara dan kemudian mencium sebelah pipi Dewi. Dewi yang belum siap terperanjat karena tindakan Reza.


“Suka banget bikin orang kagetan,” keluh Dewi.

__ADS_1


“Biar ngga kaget harus sering-sering,” jawab Reza.


“Apaan sih, depan anak-anak juga.”


“Papa kok cium pipi Bunda sebelah doang. Nanti pipi yang satu laginya cemburu karena ngga dicium,” ucap Ara yang membuat Dewi gugup.


“Ngga usah, sayang. Satu aja udah kok,” jawab Dewi yang dadanya kian berdebar melihat Reza yang tersenyum.


“Betul kata Ara, nanti pipi satunya lagi cemburu karena ngga Papa cium, Bunda.” Reza tanpa aba-aba langsung mencium pipi Dewi sebelah lagi dan juga mencium bibir Dewi.


Lagi-lagi Dewi bergeming karena aksi Reza. Melihatnya Reza tertawa namun langsung berhenti ketika melihat Andra yang menatapnya tajam.


“Abang kenapa?”


“Jangan jahilin Bundanya Abang.”


“Cie yang jadi bodyguardnya Bunda sekarang,” goda Reza sambil mencubit gemas pipi putranya.


“Wi, tolong siapkan makan malam, ya. Siap mandi aku mau makan.”


“Lho Kak Reza belum makan?”


“Belum. Tadi fokus kerja aja biar bisa cepat pulang ngumpul bareng kayak gini,” kata Reza sambil berlalu masuk ke kamarnya.


Dewi memindahkan Ara untuk duduk sendiri di sofa karena ia akan menyiapkan makan malam untuk suaminya itu. Setelah 15 menit Reza keluar dengan pakaian santai dan wajah yang lebih segar. Dewi menemani dan melayani Reza makan, seperti saat mereka dulu tinggal di apartemen.


“Aku kangen lho, Wi kamu temani aku makan seperti ini,” kata Reza disela-sela makannya.


“Makan dulu, ngobrolnya nanti,” ucap Dewi yang mengundang senyum Reza.


“Jadi kapan kamu mulai masuk kerja?” tanya Reza usai makan malamnya kandas.


“Kak Reza serius izinin Dewi kerja lagi?”


“Menurut kamu? Direktur kamu sendiri yang datang langsung kemarin gimana aku mau nolaknya.”


Memang sehari sebelum pulang, direktur rumah sakit yang kebetulan adalah senior Reza di SMA dulu datang ke kamar inap Ara meminta Dewi untuk kembali bekerja.


“Seperti nama kamu, ternyata kamu juga dewi rumah sakit itu, ya.”


“Baru tahu nih Kak Reza kalau istrinya ini idola.”


“Iya, baru tahu aku. Beruntung sekali aku, ya punya istri kayak kamu. Sepertinya aku harus berterimakasih sama Rena karena memilih kamu untuk jadi istri aku.”


“Sekarang aja baru bersyukur. Kemaren kemana aja?”


“Yang itu jangan diungkit lagi dong. Aku suka sedih tahu,” ucap Reza sendu.


“Harus sering diungkit biar ingat, jadi ngga bikin kesal lagi,” jawab Dewi.


“Ngga aku ulangin lagi kok. Cukup sekali aku hampir kehilangan kamu, ngga mau lagi.”

__ADS_1


Dewi tersenyum mendengar jawaban yang Reza berikan.


“Eh kamu mau kemana?” tanya Reza yang melihat Dewi bangkit dari duduknya.


“Mau letak piring kotornya dulu, suamiku.”


“Ciee udah bisa manggil suamiku sekarang,” goda Reza.


“Lah, kan emang suamiku. Terus maunya apa? Dipanggil Uda?” tanya Dewi sambil berlalu membawa piring kotor dan lauk ke dapur.


“Kalau Uda ntar kayak rumah makan padang.”


“Eh jangan salah. Di minang istri panggil suaminya itu dengan panggilan Uda, sama seperti panggilan mas, atau abang,” jelas Dewi.


“Terus kamu mau panggil aku apa?” tanya Reza.


“Kak Reza maunya dipanggil apa?” tanya Dewi balik.


“Dipanggil sayang.”


“Itu maunya Kak Reza.”


“Emang maunya aku.”


Reza menahan tangan Dewi yang ingin pergi meninggalkannya di meja makan seorang diri.


“Lepasin, Kak. Dewi mau ke tempat anak-anak,” ronta Dewi.


“Panggil sayang dulu baru aku lepasin.”


“Udah ih, malu.”


“Malu kenapa? Cuma aku doang.”


Dewi memejamkan matanya dan menghembuskan pelan nafasnya.


“Sayang,” ucap Dewi pelan.


“Apa? Ngga kedengeran?” kata Reza yang sambil menahan tawa melihat wajah Dewi yang mulai merah karena malu.


“Udah ah, Kak Reza nyebelin,” kata Dewi sambil melepas paksa tangannya yang dipegang Reza.


Reza tersenyum gembira melihat Dewi yang pergi dengan wajah merahnya. Kini menggoda Dewi menjadi hobi baru bagi dirinya.


“Aku cinta kamu, Dewi Anggraini.”


——


Sudah hari Senin, jangan lupa berikan votenya ya sama author.


Like, komen, dan kembangnya juga jangan lupa ya yeorobun biar author tambah semangat nulisnya.

__ADS_1


Oh iya dengar-dengar hari ini bakalan ada demo besar-besaran lagi ya di tiap-tiap daerah? Tetap jaga kesehatan ya readers, kalau rasanya tidak ada kepentingan jgn keluar rumah dulu, daripada kena macet krn demo.


Sekali lagi author ingetin votenya ya heheee saranghaee 😍😍😍🥰


__ADS_2