
"Lo jangan sia-siain hidup lo, Siska hanya karena ditolak sama Kak Reza. Masih banyak pria-pria lain diluar sana yang mau sama lo," bujuk Dewi.
"TAPI YANG GUE MAU CUMA REZA!" teriak Siska. Siska kemudian mencoba melukai pergelangan tangannya yang kemarin terluka dengan cara menekannya dengan tangan yang satunya.
"SISKA!" teriak ibunya.
"Oke Sis, gue akan bantu lo buat bujuk kak Reza buat nikahin lo."
Siska yang mendengar ucapan dari Dewi segera menghentikan tindakannya dan melihat ke samping, tepat dimana Dewi berada.
"Lo serius mau bantuin gue biar laki lo mau nikahin gue?"
Dewi tersadar dengan ucapannya tadi sepertinya adalah kesalahan. Apa iya dia harus membantu wanita lain agar bisa menikah dengan suaminya sendiri.
"Kenapa lo ngga jawab? Lo ngga mau, kan?" tanya Siska sinis. "Udah, Ma biarin aja aku mati, untuk apa aku hidup kalau Reza ngga mau nikahin aku," teriak Siska lagi.
"Nak sadar kamu, sayang," kata mamanya Siska yang masih saja menangis dan satu tangannya menahan tangan Siska yang ingin melukai pergelangan tangannya yang masih belum sembuh dibantu oleh dokter Kiki.
"Siska sudah, apa yang kamu lihat dari Reza. Masih banyak pria lain di luar sana yang mau sama kamu," bentak Pak Wira.
"AKU CUMA MAU REZA!" balas Siska dengan nada tinggi.
Dewi yang diam saja daritadi akhirnya mulai kembali bersuara.
"Baik, gue akan bantu lo," kata Dewi.
"Ngga usah banyak bacot lo,", ketus Siska.
"Gue akan minta suami gue buat nikahin lo."
"Kalau lo bohong?"
"Gue bukan tipe orang yang pembual, lo bisa tanya seisi rumah sakit siapa gue dan apa pernah gue ngga pernah nepatin janji!" tegas Dewi.
"Oke gue pegang kata-kata lo."
"Kalau begitu saya permisi keluar dulu," pamit Dewi ke kedua orangtua Siska.
__ADS_1
Rita, mamanya Siska menatap iba kepergian Dewi. Jujur ia sendiri tidak setuju dengan tindakan yang dilakukan oleh anak dan suaminya yang memaksa bahkan menekan Reza untuk menikahi anaknya. Siska yang dibutakan oleh obsesi malah di dukung oleh sang papa sehingga semakin menjadi tingkah anaknya itu.
Selain Rita, dokter Kiki yang tadi juga ikut masuk dan menyaksikan dari bagaimana histerisnya Siska hingga Dewi yang akan membantu wanita itu agar bisa menikah dengan suaminya juga menatap iba atasannya itu. Sedikit banyak ia tahu bagaimana hubungan Dewi dan Reza dulunya dan sekarang mereka yang baru memulai kembali hubungan yang hampir kandas itu.
"Dok," panggil dokter Kiki.
Dewi menghentikan langkahnya, kemudian ia berkata tanpa memandang dokter Kiki yang berada di belakangnya.
"Tolong untuk fokus dengan pasien-pasien kita saat ini, jangan dulu membicarakan dan bertanya apapun mengenai tadi, dokter Kiki."
Dokter Kiki yang paham kalau Dewi tidak ingin membicarakan masalah tadi akhirnya diam. Mereka kemudian melanjutkan langkah menuju kamar Ana yang berada 3 kamar dari kamar Siska.
"Operasinya akan kita lakukan besok pagi sekitar jam 9. Prosedurnya masih sama seperti operasi yang pertama. Jangan khawatir, kita pasti bisa melawannya kali ini," ucap Dewi meyakinkan Ana beserta kedua orangtuanya.
"Kami percaya dengan anda, dok," jawab Chris.
Laura yang melihat ada sesuatu di raut wajah Dewi mengajak Dewi untuk duduk di sofa dan meminta Chris untuk menemani Ana dulu, sedangkan dokter Kiki diminta Dewi untuk duluan meninggalkan kamar Ana.
"Apa kamu punya masalah?" tanya Laura langsung ketika baru saja mereka duduk.
"Maksudnya?" tanya Dewi heran.
Dewi tercengang. Ia ingat dulu ketika masih residen di Korea ia pernah mendapatkan perlakuan rasis oleh pasien dan keluarganya Ia takut untuk bercerita kepada teman sesama residen maupun atasannya karena mereka sama-sama orang Korea sedangkan ia orang luar. Ia takut dianggap pembual sehingga ia hanya memendamnya sendiri, Dengan Laura ia hanya menceritakan kalau ia dimarahi oleh keluarga pasien tanpa mau menjelaskan dengan detail seperti apa perlakuan yang ia dapatkan. Saat inipun ia kembali juga mengalami kejadian buruk dari pasien dan keluarganya pasien.
Laura langsung dengan sigap memeluk Dewi. Dewi menangis dalam pelukan Laura. Dewi tidak menceritakan apapun. Cukuplah hanya dirinya saja yang memikul semua ini.
Dewi tiba dirumah pada pukul 6 sore. Hanya ada kedua anaknya yang seperti biasa sibuk dengan mainan mereka masing-masing tanpa ada Reza. Dewi melihat ponselnya takut-takut Reza ada menghubunginya. Dan ternyata benar saja, Reza mengirim pesan bahwa ia akan pulang terlambat karena ada rapat penting.
Hingga jam 10 malam Reza belum pulang juga. Dewi memutuskan untuk berbaring, dan malah langsung tertidur. Entah jam berapa Reza pulang, Dewi merasakan ranjangnya bergoyang pelan dan kemudian Dewi masuk ke dalam pelukan Reza. Dewi yang merasa terganggu membuka mata sedikit dan pandangannya langsung berhadapan dengan mata Reza.
"Maaf jadi kebangun, ya," ucap Reza. Reza menggosok pelan punggung Dewi sampai akhirnya Dewi tertidur kembali.
Keesokan paginya Dewi terbangun akibat Reza yang terus saja mencium wajahnya tanpa henti.
"Selamat pagi, cantik," sapa Reza.
"Udah jam berapa, Kak?" tanya Dewi. Wanita itu masih saja betah baring di dalam pelukan suaminya.
__ADS_1
"Sudah jam 5, bangun yuk subuh."
Kedua insan ini menjalankan ibadah subuh berjamaah.
"Hari ini kamu ada kegiatan apa?" tanya Reza setelah sebelumnya Dewi mencium takzim tangannya.
"Nanti jam 9 ada operasi, Kak. Kakak yang antar ke rumah sakit mau, kan?" tanya Dewi. Ia berencana sebelum operasi ia ingin mengajak Reza untuk menjenguk Siska. Sampai saat ini dirinya masih bingung bagaimana caranya meminta Reza agar mau menikah dengan Siska.
"Tentu mau, dong."
____
Dewi tiba di rumah sakit pukul 8, satu jam lebih awal dari jadwal operasinya. Dewi meminta Reza untuk turun terlebih dahulu dan mengikutinya ke ruangan Siska.
"Ngapain sih kita ke ruangan dia?" gerutu Reza. Sejak diberi tahu untuk mengunjungi wanita itu Reza sudah menolaknya daritadi karena dirasa tidak penting. Namun Dewi terus saja memaksa sambil mengatakan demi kemanusiaan, dan disinilah mereka berdua berakhir.
"Kemaren sewaktu dokter Romi masuk dan memeriksa, beliau mengatakan lukanya ada yang terbuka lagi akibat dari kejadian. itu, makanya di jahit lagi. Ini Siska baru tidur lagi setelah minum obat," jelas mamanya Siska. Saat ini hanya ada mamanya Siska, menurut beliau Pak Wira tadi malam pulang ke rumahnya untuk istirahat.
Dewi mengangguk. "Kalau begitu kami pamit dulu ya, Tante, soalnya sebentar lagi saya ada jadwal operasi," pamit Dewi.
"Iya tidak apa-apa, dok. Terimakasih dokter Dewi dan Tuan Reza sudah mau mengunjungi anak saya," ucap ibu Rita ramah.
Dewi dan Reza berjalan beriringan untuk turun ke bawah, ke ruangannya Dewi. Reza memutuskan akan pulang setelah Dewi masuk ke dalam ruang operasi.
"Kalau diam seperti itu, Siskanya cantik juga ya, Kak," ucap Dewi ketika mereka sedang dalam lift.
"Masih cantikan kamu."
"Eleh. Kalau sama kak Rena?"
"Hmm." Reza tampak berfikir. "Cantik kalian itu berbeda, masing-masing punya kecantikan tersendiri."
"Bisa banget ngejawabnya." Dewi mengerucutkan bibirnya.
"Bibirnya bisa dikondisikan, ngga?" tanya Reza yang melihat ke arah bibir Dewi.
"Takut khilaf, ya?" goda Dewi.
__ADS_1
"Tunggu kita sampai di ruangan kamu."