Izinkan Aku Untuk Bahagia

Izinkan Aku Untuk Bahagia
Bab 62


__ADS_3

Sabtu pagi-pagi sekali Reza, Dewi, Andra dan Ara sudah bersiap untuk berangkat ke rumah barunya. Dewi juga telah menghubungi Mami Lisa meminta Bik Asih yang memanh bekerja di rumah mami Lisa untuk ikut bersama Dewi di rumah baru kelak. Dewi merasa sudah nyaman dengan Bik Asih. Selama dulu ketika Dewi masih tinggal di rumah Mami Lisa dan juga ketika mereka berada di Swiss, Bik Asih sangat banyak membantu Dewi.


“Sebenarnya Mami kurang setuju kehilangan bik Asih lagi, tetapi asalkan anak Mami senang, ngga apa-apa Bik Asih kamu bawa,” ucap Mami Lisa kala itu ketika Dewi datang berkunjung ke rumahnya.


Mami Lisa senang dan setuju dengan keputusan Reza untuk pindah dari rumah. Beliau paham pasti akan ada rasa tidak nyaman dengan Dewi kelak jika terus tinggal di rumah lama.


Setelah seharian menata rumah baru, malam harinya diadakan makan malam sederhana karena Papi Arya dan Mami Lisa juga telah hadir di rumah mereka itu.


“Besok rencananya Tante sama Om mau ke Jogyakarta, ada urusan sekalian reunian. Kami bawa Ara dan Andra ikut, ya Za,” ucap Papi Arya. Saat ini mereka tengah bersantai di ruang keluarga ditemani oleh teh dan kue yang tadi sore dibeli oleh Dewi.


“Kenapa mereka harus dibawa?” tanya Reza yang sepertinya kurang berkenan anaknya dibawa oleh Mami Lisa dan Papi Arya.


“Kami tahu kalau kamu butuh waktu untuk berdua dengan Dewi. Selama ini, kan kalian terlalu sibuk sama kerjaan, belum lagi kalau di rumah Dewi yang pasti terus dikuasai oleh Ara. Lagipula tadi Tante udah bilang sama Andra dan dia mau,” terang mami Lisa. Reza menganggukan kepalanya tanda setuju. Memang waktunya berdua dengan Dewi masih terbilang sedikit karena Ara yang mendominasi Dewi.


Mami Lisa dan Papi Arya ingin Reza dan Dewi bisa memperbaiki dan mempererat hubungan mereka, salah satunya cara adalah mendekatkan mereka tanpa ada halangan dari Ara dan Andra. Lagipula anak-anak belum pernah liburan bareng oma dan opanya.


“Reza coba diskusikan dulu sama Dewi,” ucap Reza. Saat itu Dewi beserta kedua anaknya sedang berada di kamar karena tadi Ara yang mengeluh ngantuk karena kecapean, seharian membantu berbenah di rumah barunya.


“Dewi pasti setuju. Sudah, mumpung anak-anak belum tidur biar bisa langsung kami bawa pulang,” kekeh Papi Arya.


“Tapi tadi Ara udah ngantuk, Om,” jawab Reza yang memang melihat Ara sudah menguap daritadi.


“Coba kita susul ke kamar.” Akhirnya mereka bertiga menyusul Dewi ke kamar anak-anaknya. Tiba di kamar Ara, mereka melihat Ara dan Dewi yang baru saja keluar dari kamar mandi, sedangkan Andra duduk di tepi ranjang dengan buku ceritanya.


“Cucu oma udah mau tidur?” tanya Mami Lisa yang menghampiri Ara. Digendongnya cucunya itu dengan sesekali mencium pipi bulatnya.


Ara mengangguk-anggukkan kepalanya. “Iya, Adek ngantuk dalitadi bantu Bunda beles-beles.”


“Ara bobok di rumah Oma malam ini, yuk. Besok ikut sama Opa dan Oma ke Jogya, kita jalan-jalan terus beli mainan yang banyak,” ucap Mami Lisa sambil merayu. Biasanya anak kecil jika diiming-imingi dengan mainan pasti akan luluh dan mau ikut.


“Mainan yang banak-banak, Oma?” tanya Ara.

__ADS_1


“Iya yang banyak. Tapi yang pergi cuma Ara dan Abang aja. Papa sama Bunda tinggal untuk jaga rumah. Ara mau, kan?” tanya Mami Lisa.


Dewi yang kaget melirik Reza menanyakan perihal anak-anak yang akan dibawa, tetapi Reza hanya mengangkat kedua bahunya. Sedangkan Andra yang sudah dikasih tahu sebelumnya oleh Papi Arya terus saja membaca buku ceritanya.


“Tapi kenapa anak-anak harus dibawa, Mi?” tanya Dewi. Wanita ini kebingungan apa yang harus ia lakukan jika ditinggalkan berdua dengan Reza. Pasti akan timbul kecanggungan pikirnya.


“Mami kamu lagi pengen jalan-jalan bareng cucunya, mumpung Papi juga cuti lumayan lama. Ngga apa-apa lagian kami belum pernah liburan bareng sama anak-anak kamu,” kata Papi Arya.


“Tapi Pi….”


“Ngga apa-apa, Wi. Sesekali anak-anak liburan. Aku belum bisa ngajak mereka liburan karena pekerjaan masih banyak. Mumpung Om sama Tante mau liburan ya ngga ada salahnya,” terang Reza. Jangan sampai rencananya yang dadakan untuk berduaan dengan Dewi sampai gagal malam ini.


“Yasudah kalau anak-anak mau ikut,” kata Dewi yang pasrah. Ia sendiri membenarkan perkataan Reza bahwa anak-anaknya mungkin butuh liburan, sedangkan mereka berdua belum bisa untuk pergi berlibur.


Setelah mengantarkan mereka hingga semuanya masuk ke dalam mobil, Dewi masuk kembali ke dalam rumahnya. Kini hanya tinggal Dewi dan Reza saja di rumah itu. Bik Asih ikut pulang ke rumah Mami Lisa, dengan alasan ada beberapa pekerjaan yang belum ia selesaikan dirumah besar itu. Dewi tidak bodoh, pasti ada unsur kesengajaan dari orangtua angkatnya itu untuk membuatnya berdua dengan Reza.


“Dewi ke kamar dulu, Kak,” pamit Dewi. Ia mulai merasa canggung sejak Reza menutup pintu rumah.


Reza paham kalau Dewi merasa canggung dengan keberadaan mereka yang tinggal berdua saja. Ia pun memberikan Dewi waktu sejenak dengan masuk ke ruang kerjanya dulu.


Reza yang telah selesai mengecek beberapa pekerjaannya kemudian masuk ke dalam kamar dan mendapati Dewi yang sedang duduk di meja rias tengah membersihkan wajahnya. Ia yang juga belum solat isya akhirnya masuk ke dalam kamar mandi dan berwudhu.


Dewi yang masih canggung memilih untuk berbaring membelakangi Reza. Ia merasakan goyangan kuat di ranjang ketika Reza mulai membaringkan tubuhnya.


“Wi, kamu udah tidur?” tanya Reza yang berbaring menghadap punggung Dewi.


Dewi bergeming dan masih saja pura-pura tidur. Memang ini bukan yang pertama bagi mereka berbagi ranjang mengingat sewaktu di rumah sakit menjaga Ara mereka juga tidur di ranjang yang sama. Tetapi kali ini berbeda, hanya berdua tanpa ada orang lain di kamar maupun rumah besar itu.


“Udah berhenti pura-pura tidur, Wi. Ngobrol dulu,” ucap Reza sambil menggoyang bahu Dewi. Dewi yang ketahuan karena pura-pura tidur akhirnya berpindah posisi yang tadinya membelakangi Reza kini menghadap keatas.


“Kenapa sih, Kak?” tanya Dewi. Jantungnya kini berdetak lebih cepat dan ia berharap semoga Reza tidak mendengarnya.

__ADS_1


“Mau ngobrol aja. Emang kamu udah ngantuk?”


“Udah!” jawab Dewi cepat.


Reza yang tidak percaya dengan cepat merubah posisi dan kini dia berada diatas menghimpit tubuh Dewi.


“Ka- kakak ma- mau ap- apa?” Dewi yang terkejut dengan sikap Reza hanya bisa membuka lebar kelopak matanya dan berucap terbata-bata.


Reza tersenyum melihat kegugupan Dewi. Ia juga melihat dada Dewi yang naik turun.


“Hanya ingin melihat kamu jujur apa enggak, dan ternyata kamu bohong.”


“Bob- bohong apa?”


“Kamu ngga bisa tidur, kan?”


Dewi yang malu mengalihkan pandangannya dari mata Reza. Namun Reza kembali menarik dagu Dewi agar menatapnya lagi.


“Aku ngga tahu, seberapa banyak kata maaf yang harus aku ucapkan seumur hidup aku atas kebodohan yang pernah aku lakukan. Mengabaikanmu hingga kita kehilangan anak kita adalah kesalahan terbesar dalam hidupku dan itu akan menjadi catatan terburuk terbesar dalam hidupku setelah aku yang mengabaikan kesehatan Rena. Maafkan aku,” ucap Reza tulus. Mata pria itu tampak mulai berkaca-kaca dan untuk menutupinya ia memeluk erat Dewi yang ada dibawahnya.


Dewi hanya bisa membalas pelukan Reza dan sesekali mengelus punggung pria itu. Dapat ia lihat ketulusan Reza dalam permintaan maafnya.


“Sudah, Kak, semua sudah menjadi takdir kita. Semoga dia nanti yang bisa menyelamatkan kita di hari akhir.”


“Terimakasih ya, Wi.”


Dewi menganggukkan kepalanya sambil memberikan senyuman manisnya untuk sang suami.


“Aku ngga tahu kapan pastinya rasa ini hadir, tapi yang jelas kini aku cinta sama kamu!”


Reza mencium penuh kelembutan bibir Dewi yang kini menjadi candunya, dan malam itu menjadi malam kedua yang indah dan penuh cinta bagi kedua insan manusia itu.

__ADS_1


——


Jempol like dan komentarnya jangan lupa dong. Butuh asupan nih 😥😥


__ADS_2