Izinkan Aku Untuk Bahagia

Izinkan Aku Untuk Bahagia
Bab 74


__ADS_3

Dewi setengah berlari menuju sebuah ruangan yang ada di ruang IGD. Tampak seorang dokter jaga dan beberapa perawat sedang menangani Siska.


"Kenapa dengan pasien?" Dewi berdiri di samping brankar setelah sebelumnya menggunakan hand sanitizer untuk membersihkan tangannya.


"Pasien mencoba melakukan bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangannya, dok." Dewi melihat darah yang masih saja keluar dari sayatan yang dibuat oleh Siska di tangannya.


Dewi dan dokter jaga berusaha untuk menghentikan darah yang terus saja keluar.


"Dok, tekanan darahnya semakin turun," ujar perawat yang melihat dari monitor.


"Siapkan transfusi darah, cepat!" perintah Dewi. Dewi dan dokter jaga terus berusaha untuk menghentikan pendarahan.


"Darahnya tidak berhenti keluar, terlalu dalam sayatannya dan pembuluh darahnya juga tidak terlihat. Hubungi kamar operasi, suruh mereka siapkan semua kebutuhan dan juga hubungi dokter anastesi dan dokter bedah. Saya akan keluar untuk mengabari keluarga pasien," ujar Dewi.


Dewi berjalan keluar ruang IGD. Semuanya masih menunggu kabar tentang Siska, maka ketika melihat Dewi keluar dari ruang IGD, mereka semua menghampiri Dewi.


"Bagaimana keadaan anak saya?" tanya Pak Wira. Terlihat jelas raut wajah cemas di wajah paruh baya itu.


Dewi melepas masker yang sedari tadi menutup area hidung dan mulutnya.


"Sayatannya terlalu dalam dan mengenai pembuluh darah. Pasien juga kehilangan banyak darah, sehingga kita melakukan transfusi. Tetapi pembuluh darahnya tidak terlihat sehingga saat ini pasien dibawa keruang operasi untuk tindakan lanjutannya. Saat ini pasien sedang di siapkan dan sebentar lagi akan dibawa oleh petugas kami ke ruang operasi," jelas Dewi.


Tak di duga Pak Wira maju ke depan Dewi dan memegang kuat baju dan hijab depan perempuan itu sehingga kepala Dewi terangkat sedikit ke depan.


"Karena kamu dan suami kamu anak saya jadi seperti ini. Kamu ingat ya, kalau sampai terjadi apa-apa dengan anak saya, saya akan menghancurkan kalian!" ancam Pak Wira.


Reza tak tinggal diam, ia langsung melepaskan dengan kasar tangan Pak Wira yang memegang baju dan hijab istrinya.


"Jangan pernah anda sentuh istri saya!" teriak Reza.


Kembali terjadi keributan di depan ruang IGD. Dewi segera menarik tangan Reza untuk pergi dari tempat itu dan diikuti oleh Anton di belakangnya.

__ADS_1


"Pak Reza dan dokter Dewi silahkan pulang dulu, biar saya yang menunggu di rumah sakit," kata Anton. Pria berkacamata itu tidak ingin bosnya kembali membuat keributan di rumah sakit sehingga meminta ia dan istrinya untuk pulang terlebih dahulu, sedangkan ia akan tetap berada di rumah sakit untuk memantau dan mengabari jika ada kabar dari Siska.


Dewi segera membawa Reza ke mobilnya yang berada di parkiran khusus dokter. Reza membawa mobil istrinya itu ke arah pulang. Di sepanjang jalan mereka hanya diam dengan pikiran mereka masing-masing.


Reza masih saja emosi jika mengingat bagaimana Pak Wira terus saja menyalahkan dirinya dan Dewi atas apa yang telah dilakukan oleh Siska sendiri.


Reza memukul kuat stir mobil ketika emosinya sudah memuncak. Dewi terkejut melihat apa yang diperbuat suaminya itu. Dewi menggenggam tangan Reza yang masih saja mencekram kuat stir mobil.


"Menepi dulu, yuk sampai kondisi hati membaik. Ngga bagus emosi-emosi sambil bawa mobil, nanti nabrak orang lain gimana." Suara halus sang istri seolah menghipnotis Reza sehingga ia menuruti permintaan Dewi untuk menepikan mobilnya.


Setelah berhenti Reza menyenderkan kepalanya di atas stir mobil. Dewi mengelus pelan punggung suaminya yang saat ini sedang berusaha meredam emosinya.


"Kalau dia mau ngatain aku, aku ngga masalah, asal jangan istri aku juga ikut dikata-katainnya. Jelas anaknya yang salah, anaknya sendiri yang nekad menyayat tangannya dan itu dilakukan persis di depan dia, kenapa bisa-bisanya pak tua itu menyalahkan kita." Reza mengungkapkan semua kekesalannya, sedangkan Dewi hanya menjadi pendengar.


"Tadi mereka datang, nanya bagaimana keputusan aku, apakah setuju untuk menikahi Siska. Aku jawab aku tidak akan pernah menikahi anaknya karena aku tidak akan pernah menduakan istri aku." Tanpa diminta Reza mulai menceritakan kronologi kejadian hingga berujung Siska yang menyayat pergelangan tangannya.


"Siska tidak terima, dia mengamuk dan memecahkan vas bunga yang ada di meja kerjaku. Lalu ia mengambil pecahan kacanya dan menyayat tangannya."


Reza mengangkat kepalanya dan menarik tubuh Dewi untuk dipeluknya. Dihirupnya dalam aroma tubuh sang istri sehingga ia merasakan kedamaian.


"Kenapa mereka sangat ingin mengganggu kebahagiaan kita," lirih Reza.


Jujur Dewi sendiri merasa heran, kenapa Siska begitu besar obsesinya terhadap suaminya ini, sehingga nekad dengan melukai dirinya sendiri.


"Apapun yang terjadi, kamu janji harus berada di samping aku, ya," pinta Reza yang kemudian mendapat anggukan dari Dewi yang masih berada dalam pelukan Reza.


_____


Keesokan harinya seperti biasa setelah selesai dengan praktiknya, Dewi akan berkeliling mengunjungi kamar-kamar pasiennya. Ketika sudah berada di lantai khusus untuk kamar VVIP, Dewi melihat ramai orang berkumpul di depan sebuah kamar. Ada beberapa orang perawat dan ada juga beberapa keluarga pasien berkumpul.


"Ada apa?" yg tanya Dewi ke salah seorang perawat.

__ADS_1


"Oh anu dok, pasien kamar ini mengamuk," jawab perawat itu.


"Ini pasien siapa?" tanya Dewi lagi.


"Pasien dokter Romi, dok. Pasien ini kemarin masuk karena percobaan bunuh diri dengan menyayat pergelangannya."


"Namanya Siska?"


"Benar, dok."


Dewi mencoba masuk ke kamar Siska untuk menenangkannya. Selain mengganggu pasien yang lain, keadaan Siska juga belum pulih sehingga harus banyak beristirahat.


Ketika Dewi mendorong pintu, terlihat Pak Wira sedang menahan tangan Siska yang terlihat sedang memegang pisau bedah, sedangkan ibunya menangis sambil memeluk Siska.


Dewi berlari dan mencoba mengambil pisau dari tangannya Siska.


"Kembalikan pisau itu, wanita k*mpung," hardik Siska.


"Siska, tolong kamu sadar. Apa kamu tidak kasihan lihat orangtua kamu!" kata Dewi.


"Apa peduli lo ha? Terserah gue mau gue apain hidup gue sendiri. Lo ngga usah sok peduli sama hidup gue, lo senang, kan karena Mas Reza nolak buat nikah sama gue? Jadi lo jangan pernah halang-halangi gue. Untuk apa lagi gue hidup kalau Mas Reza ngga mau nikah sama gue? Kenapa dia harus nikah sama wanita k*mpung kayak lo? Gue lebih cantik, gue lebih kaya dari lo, lo cuma dipungut sama om Arya, kalau lo ngga dipungut lo paling cuma dokter biasa. Apa istimewanya lo dari gue?"


"Lo jangan sia-siain hidup lo, Siska hanya karena ditolak sama Kak Reza. Masih banyak pria-pria lain diluar sana yang mau sama lo," bujuk Dewi.


"TAPI YANG GUE MAU CUMA REZA!" teriak Siska. Siska kemudian mencoba melukai pergelangan tangannya yang kemarin terluka dengan cara menekannya dengan tangan yang satunya.


"SISKA!" teriak ibunya.


"Oke Sis, gue akan bantu lo buat bujuk kak Reza buat nikahin lo."


_____

__ADS_1


Hai hai hari Senin jangan lupa untuk vote nya ya. Jempol dan kembangnya juga dong biar author semakin semangat buat nulisnya 😍😍


__ADS_2