Izinkan Aku Untuk Bahagia

Izinkan Aku Untuk Bahagia
Bab 50


__ADS_3

Pagi harinya Andra tiba bersama dengan Ibu Ratna, Ayah Bambang dan juga Dirga. Andra yang senang melihat kehadiran Dewi terus saja mengekor Dewi kemana pergi selain ke toilet.


“Abang ngga perlu ngikutin Bunda mulu, Bunda ngga akan pergi lagi kok,” kata Dewi.


“Janji?” pinta Andra. Anak laki-laki itu memberikan jari kelingkingnya agar ditautkan oleh Dewi.


“Janji!” Dewi menautkan jari kelingkingnya yang membuat Andra tersenyum dan langsung memeluknya.


“Adek kan mau dipeluk Bunda juga,” kata Ara yang cemburu melihat hanya Abangnya saja yang dipeluk.


“Adek sama Papa aja dipeluk sini,” ucap Reza yang langsung menghampiri ranjang putrinya.


“Ngga mau. Papa jahat suka bikin Bunda sedih,” tolak Ara yang mendapatkan gelak tawa dari yang lain.


“Ya ampun kasihan banget Mas Reza ditolak sama anak sendiri,” ejek Dirga.


“Kamu diam aja ya, Dir. Ngga usah ikut-ikutan ngompor,” kata Dewi yang memolototi Dirga.


“Cie yang ngebelain ayangnya.” Dirga kembali menggoda Dewi dan Reza yang sudah akur.


“Kamu daripada merusak suasana, mending kebawah deh, Dir. Tolong belikan Mas kopi yang seperti biasa,” ucap Reza sambil memberikan kartu kredit miliknya.


“Aku boleh jajan juga dong, Mas?” tanya Dirga sambil menerima kartu kredit Reza dengan senyum yang tak berhenti mengembang.


“Boleh. Sekalian belikan untuk Ibu sama Ayah. Kamu mau juga, Wi?”


“Mau dong. Kakak titip hot chocolate ya, Dek, sama cheese cake juga deh. Udah lama banget soalnya ngga makan cheese cake cafe yang dibawah,” kata Dewi.


“Kalau Ibu ngga usah, Ayah aja tuh,” sambung Ibu Ratna.


“Ayah seperti biasa saja kopinya.”


“Siap. Andra yuk, temanin Om Dirga,” ajak Dirga.


“Iya, Bang, temanin Om Dirga . Nanti ngga tau kemana dia,” kata Dewi.


“Tapi Bun ….”


“Bunda ngga akan kemana-mana, sayang.”


“Nenek yang akan jagain Bundanya Abang.”


Akhirnya setelah dibujuk sedemikian rupa, Andra mau pergi bersama Dirga. Ibu Ratna mengajak Dewi untuk duduk di pojokan sofa karena banyak hal yang ingin dia bicarakan dengan anak sahabatnya itu.


“Kamu baik-baik saja, kan?” Ibu Ratna menggenggam tangan Dewi.


“Baik kok, Bu, alhamdulillah.”


“Ibu minta maaf, Ibu ngga tahu dengan kondisi kamu kemarin sampai-sampai kamu menderita kemarin. Ibu malu sama mama kamu, Nak karena tidak bisa menjaga kamu.”


“Dewi ngga apa-apa kok, Bu, Ibu ngga perlu minta maaf. Mungkin memang belum rezekinya, Dewi juga sudah ikhlas kok, Bu. Lagipula Dewi juga salah karena ngga cerita ke siapa-siapa tentang kehamilan Dewi.”


“Kamu maafin Rena juga ya, Nak. Sedikit banyak Rena punya andil terhadap kondisi kamu kemarin karena memaksa kamu menikah dengan Reza.”


“Ngga, Bu, Kak Rena ngga salah. Dewi yang belum dewasa saat itu. Dewi juga minta maaf karena tidak hadir waktu Kak Rena pergi,” sesal Dewi, matanya mulai tampak berkaca-kaca.


“Tidak apa-apa, kami semua sangat paham. Ibu juga sudah tahu kondisi kamu selama di Swiss, tadi malam mami kamu cerita.”


“Maaf, Bu.”


Ibu Ratna mengusap-usap tangan Dewi. “Tidak ada yang perlu dimaafkan karena memang tidak ada yang salah. Kalau jadi kamu, mungkin Ibu akan melakukan hal yang sama. Tapi Ibu bersyukur akhirnya kamu mau pulang dan menemani anak-anak. Kasihan mereka, Wi, hampir setiap malam selalu nanyain kapan kamu pulang. Mereka terlalu rindu sama kamu.”


Dewi tersenyum mendengan cerita Ibu Ratna.

__ADS_1


“Ibu mau nanya sesuatu boleh?”


“Ya, Bu. Kenapa?”


“Apa kamu sudah bisa menerima Reza sekarang?”


Dewi menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Ibu Ratna.


“InsyaAllah, Bu. Kak Reza juga sudah minta maaf dan minta kami untuk memulai dari awal lagi,” jawab Dewi mantap setelah diam beberapa saat.


“Alhamdulillah, Ibu senang, Nak. Semoga rumah tangga kalian sakinah, mawaddah, dan warahmah. Amiin,” doa Ibu.


“Amiin.” Kompak Dewi dan Ayah yang ternyata mendengarkan daritadi obrolah dua wanita beda generasi itu.


“Ih Ayah nguping,” kata Dewi.


“Bukan nguping, kalian ngobrolnya di dekat Ayah, ya Ayah dengarlah.”


“Emang ngomongin apaan sih mereka, Yah?“ tanya Reza yang duduk di samping ranjang Ara. Ia sedari tadi menemani putri kecilnya menggambar di papan tulis LCD miliknya.


“Mau tahu aja urusan wanita,” jawab Dewi.


“Mending kamu ngga usah tahu, Za. Masalah wanita ini bikin kita para pria selalu salah dimata mereka,” kata Ayah.


“Emang apa, Yah?” tanya Reza lagi.


“Dibilang ngga perlu tahu, masih tanya juga lagi.”


——


Hari itu kamar rawat Ara sangat ramai. Mami Lisa dan Papi Arya datang bersamaan dengan Dirga dan Andra yang selesai berbelanja. Dirga yang mendapat lampu hijau dari Reza untuk menggunakan kartu kreditnya tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.


“Kamu mau jualan disini, Dek? Sebanyak ini kamu belanjanya,” kata Dewi saat itu yang melihat banyaknya belanjaan Dirga, mulai dari roti dan minuman.


“Iya, kamu yang habisin ya semuanya.”


Tak berapa lama, ruangan itu kedatangan Leo, Candra, dan Tania yang baru saja lahiran bulan lalu. Kepergian Dewi ke Swiss kemarin membuatnya kehilangan banyak momen. Dimulai dari Rena yang meninggal dan ia tidak berada disampingnya, Candra yang akhirnya menikah dengan kekasihnya, Viona, sampai kelahiran bayi Tania.


“Maaf ya beb, gue ngga ada pas lo lahiran,” sesal Dewi ketika ia dan Tania berpelukan.


“Iya ngga apa-apa, Wi. Gue malah bersyukur dan senang banget lo akhirnya pulang juga. Lo kenapa sih ngga pernah hubungi kita?” tanya Tania.


“Gue, kan pengen healing. Kalau di teleponin mulu sama kalian gimana gue healingnya.”


“Lo juga ngga hadir gue nikahan,” kata Candra.


“Eh maaf, tenang aja kado buat lo sama Tania ada kok di rumah. Gue doain semoga lo sama Vania langgeng sampai kakek nenek.”


“Thankyou doanya.”


Setelah beberapa lama mereka berbincang dan Leo melihat kondisi Ara semakin membaik, akhirnya mereka pamit karena Candra dan Leo akan melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Tania yang masih cuti akan langsung pulang.


“Kami titip sahabat kami ini ya, Kak Reza. Maaf kalau selama ini kami terkesan menghindar,” ucap Tania sebelum pergi.


“Saya pasti akan jaga istri saya,” yakin Reza.


Tak lama setelah mereka keluar, selanjutnya tim dari bedah saraf yang diketuai dokter Kiki, yang pernah bekerja sama dengan Dewi yang datang menjenguk Ara.


“Kami senang akhirnya dokter Dewi kembali,” ucap dokter Kiki.


“Siapa yang bilang saya kembali bekerja? Saya kesini karena anak saya sakit,” jawab Dewi yang membuat wajah mereka kecewa.


“Tapi dok, tanpa dokter Dewi bedah saraf mati suri, bagai sayur tanpa garam kurang enak kurang sedap,” kata Ferdi, residen bedah saraf tingkat dua.

__ADS_1


Semuanya tampak menggangguk.


“Kan ada dokter Saiful yang lebih senior dari saya.”


“Dokter Saiful bukan senior, tapi tua, dok. Kita hidup bagaikan zaman megalitikum kalau sama beliau. Kalau dokter Dewi masih mau mendengarkan pendapat kami, kalau beliau ngga pernah mau,” sambung dokter Kiki.


“Bukannya saya galak ya daripada beliau.”


“Dokter galak karena sayang sama kami. Setelah kami dimarahi, ujung-ujungnya ditraktir.”


“Dasar kalian itu mah emang minta ditraktir. Saya ngga tahu. Silahkan tanya sama Pak Bos yang disebelah saya,” kata Dewi menunjuk Reza yang duduk di sebelahnya.


“Boleh, kan, Pak?”


Reza yang diam saja sambil serius menatap ponselnya tidak mendengar pembicaraan mereka tadi, akhirnya di senggol lengannya oleh Dewi.


“Maaf, tadi saya cek pekerjaan sebentar. Ada apa?” tanya Reza.


“Mohon izinkan dokter Dewi bekerja kembali, Pak. Saya sendiri nanti yang memastikan dokter Dewi tidak akan terlalu lelah dan makannya tidak telat. Sewaktu hamil kemarin saya juga sudah memastikan itu semua kok, Pak,” jelas dokter Kiki.


Reza diam sejenak. Dilihatnya Dewi yang masih setia menunggu jawabannya.


“Baik, setelah putri saya pulih, Dewi bisa kembali bekerja,” kata Reza yang membuat pasukan tim bedah saraf senang.


“Terimakasih banyak, Pak. Kalau gitu kami permisi dulu.” Mereka semua pamit untuk kembali bekerja.


Ibu Ratna, Ayah Bambang, Dirga dan Andra akhirnya pulang ketika sudah sore hari. Mami Lisa dan Papi Arya sudah pulang semenjak siang. Kini tinggallah Dewi dan Reza yang menemani putri kecilnya.


Ara yang lelah seharian bermain dengan Abang dan tamu-tamu yang datang melihatnya sudah tidur setelah makan dan minum obat. Dewi menghampiri Reza yang duduk sendiri di sofa yang masih setia menatap ponselnya untuk mengecek pekerjaan.


“Kakak kenapa sih? Kok Dewi perhatiin mukanya lesu gitu?” tanya Dewi.


“Ngga apa-apa.”


“Oh yaudah kalau ngga mau jujur. Dewi juga bakalan gitu nanti, jadi jangan maksa Dewi buat cerita kalau ada apa-apa.”


Reza yang diancam seperti itu langsung saja mengutarakan hal yang membuatnya tidak tenang daritadi.


“Berarti cuma aku, ya yang ngga tahu tentang kehamilan kamu?” tanya Reza.


“Maksudnya Kak Reza?” tanya Dewi balik yang bingung dengan pertanyaan Reza.


“Iya cuma aku aja yang ngga tahu kalau kamu hamil?” ulang Reza.


“Semuanya kan juga ngga tahu kalau Dewi hamil, Kak.”


“Sahabat-sahabat kamu tahu, bahkan dokter residen kamu juga tahu kalau kamu hamil.”


“Ya gimana mereka ngga tahu. 12 jam bahkan lebih kadang Dewi bareng mereka dalam sehari. Mereka juga kadang yang sering Dewi repotin. Baik ya mereka.”


“Kenapa ngga repotin aku aja?”


“Kak Reza, kan jahat kemarin.”


“Maaf,” ucap Reza sambil menunduk.


“Yaudah lupain aja. Semuanya sudah berlalu, anggap saja itu sebagai pembelajaran buat kita menjadi makin dewasa dalam menghadapi masalah,” kata Dewi sambil tersenyum.


“Terimakasih ya, sayang.”


“Hem. Bukannya kita sekarang kayak SPBU?”


“Apaan SPBU?” tanya Reza yang tidak paham kaitannya hubungan mereka dengan SPBU.

__ADS_1


“Iya SPBU. Dimulai dari nol, ya,” kata Dewi sambil tersenyum.


__ADS_2