Izinkan Aku Untuk Bahagia

Izinkan Aku Untuk Bahagia
Bab 57


__ADS_3

“Maafin Dewi, Kak,” kata Dewi yang masih dalam dekapan Reza.


“Maaf kenapa?” tanya Reza bingung.


“Maaf, karena selama ini Dewi belum bisa menjadi istri yang baik, Dewi masih susah berdamai dengan keadaan, masih terasa sulit untuk ikhlas sehingga hati ini masih saja tidak merasa damai.”


Reza mendekap erat tubuh Dewi.


“Awal mula memang terasa sulit. Kita terbiasa bersama sebelumnya dengan status kakak adik, dan semuanya berubah menjadi suami istri, terasa aneh memang tapi itulah kenyataannya,” ucap Reza.


“Apa Kak Reza udah cinta sama Dewi?” tanya Dewi penasaran.


Reza memejamkan matanya sembari menghela nafas.


“Entah ini bisa disebut cinta atau bukan. Yang aku tahu, aku benar-benar merasa kehilangan pas kamu pergi. Bahkan sebelum kamu pergi, sewaktu aku yang menghindari kamu, aku rindu dengan canda tawa dan obrolan kita pada saat makan malam ataupun sewaktu sarapan. Aku sangat berharap kita masih bisa mengulanginya, dan alhamdulillah kamu kembali padaku. Jujur aku juga merasa tidak tenang ketika kamu meminta izin untuk pergi bersama Candra, karena yang aku dengar dari cerita Rena kalau Candra pernah suka sama kamu. Aku ngga mau kalau tiba-tiba kamu oleng terus membalas perasaan dia.” Reza melepaskan pelukannya.


“Ngga akan mungkin. Dia hanya sahabatku, sama seperti Tania dan Leo dan dia paham itu kok,” jawab Dewi.


“Aku percaya sama kamu. Lalu….”


“Ya?”


“Perasaan kamu sendiri bagaimana?” tanya Reza.


Dewi diam seperti befikir membuat Reza sedikit gugup.


“Dewi ngga tahu, Kak. Kalau dibilang sayang, dari dulu Dewi udah sayang sama Kakak karena udah Dewi anggap seperti abang sendiri, kan. Kalau sekarang ditanya, Dewi juga ngga tahu,” kata Dewi.


“Ngga apa-apa, pelan-pelan saja, kita nikmati saja prosesnya. Yang penting ada niatan dan usaha kita untuk membuat hubungan ini menjadi lebih baik untuk ke depannya,” ucap Reza yang mendapat anggukan dari Dewi.


“Yasudah kita pulang, yuk. Abang dan adek pasti udah nungguin kita,” ajak Reza.


Sepanjang jalan dari ruangan Dewi yang berada di lantai 5 sampi ke parkiran, tangan Reza tidak pernah melepaskan genggamannya dari tangan Dewi. Dewi tidak protes kali ini, walaupun banyak orang yang melihatnya. Tak sedikit banyak juga rekan sejawat, perawat, ataupun pasien yang mengenal Dewi menggoda wanita itu.


“Iya-iya yang lagi jatuh cinta, yang lain cuma ngontrak,” ucap Jimmy, Ditektur rumah sakit yang kebetulan bertemu di dalam lift.


“Iri bos?” timpal Reza.


“Enggak tuh. Gue senang, Za akhirnya lo ngga galau lagi. Dokter Dewi, saya ikut senang juga. Semoga ngga kabur-kaburan lagi, ya. Bagian bedah saraf terombang ambing tanpa anda, Dok,” kata Jimmy.


“Dokter Jimmy jangan ikut-ikutan lebay kayak anak magang dan residen. Saya hanya anak baru disini,” kata Dewi merendah.


“Dokter Dewi memang anak baru, tapi pasiennya ngalahin yang anak lama.”


“Lo jangan buat bini gue ngga nyaman. Sayang, kalau dia ada macam-macam kasih tahu aku, ya biar nanti aku yang balas,” kata Reza.


Dewi yang mendengar pertama kalinya Reza memanggilnya sayang di depan orang menunduk malu.


“Idih bucin,” ejek Jimmy.


“Kalau begitu kami permisi dulu, dokter Jimmy,” pamit Dewi. Ia langsung menyeret Reza keluar lift ketika pintu itu terbuka.


“Kamu kenapa narik aku sih, Wi. Aku belum selesai ngomong sama Jimmynya,” kata Reza.


“Udah malu ah, banyak orang juga tadi, Kak.”


“Yaudah ayuk kita pulang.”

__ADS_1


Selama dalam perjalanan, hanya ada suara dari radio yang mengisi kekosongan suara. baik Reza maupun Dewi sama-sama diam dengan pikirannya masing-masing. Hanya ada suara dari radio yang sedang memutarkan lagu yang rilis tahun 2013 kini viral kembali di tahun ini.


Aku sungguh sangat bermimpi
Untuk mendampingi hatimu
Ku masih terus bermimpi
Sangat besar harapanku
Tuk hidup berdua denganmu


“Ini lagu siapa?” tanya Reza yang rupanya mendengarkan lagu yang diputar.


“Ha?” Dewi yang daritadi sibuk dengan ponsel pintarnya diam sejenak mendengar lagu yang diputar sambil mengingat nama penyanyi dan judul lagu yang dinyanyikan.


Aku sempurna denganmu
Ku ingin habiskan sisa umurku
Tuhan jadikanlah dia jodohku
Hanya dia yang membuat aku terpukau


“Oh ini, aduh siapa ya. Tunggu bentar diujung lidah ini,” ucap Dewi sambil terus berusaha mengingat judul lagu.


“Ayo siapa ayo,” goda Reza.


“Judulnya Terpukau. Penyanyinya aduh siapa, ya.”


“Ayo waktunya tinggal sedikit lagi.”


“Terry. Eh bukan, siapa ya. Astrid Tiar, eh salah lagi.”


“Tiga, dua, sat-.”


“Astrid. Iya, Astrid.” Akhirnya Dewi bisa menjawabnya.


Denganmu aku sempurna
Denganmu ku ingin habiskan sisa umurku
Tuhan jadikanlah dia jodohku
Hanya dia yang membuat aku terpukau


Dewi ikut menyanyikan part terakhir lagu tersebut.


“Cocok juga liriknya,” kata Reza.


“Cocok bagaimana, Kak?”


“Berdua dengan siapa?”


“Ya dengan istri aku.”


“Istrinya siapa namanya?”


“Namanya Dewi Anggraini. Profesinya dokter saraf, hobinya banyak tanya, makanan kesukaannya brownies di toko kue Hiya, musik kesukaan lagu kpop.”


Dewi tertawa mendapatkan jawaban dari Reza yang cukup lengkap tentang dirinya.


“Ngomongin brownies ntar mampir dulu ya di tokonya,” pinta Dewi.


“Siap Ibu Komandan.”


“Terimakasih, Bapak Jendral.”


Sore hari biasanya jalanan macet karena banyaknya penghuni bumi beredar di jalanan menuju rumah masing-masing setelah bekerja mengais rezki seharian. Banyak orang yang menggerutu karena lagi-lagi harus kena macet.


Tetapi bagi dua insan yang sama-sama telah membuka hatinya ini menghabiskan waktu di macetnya perjalanan dengan obrolan-obrolan unfaedah yang nantinya akan membuat mereka menjadi rindu bila tidak bertemu, dan dari rindu timbullah cinta itu.


Reza memarkirkan mobil mewahnya tepat di depan toko kue langganan Dewi. Dewi kemudian turun, dan berbelok ke belakang dekat mobilnya terparkir.


“Lho mau kemana?” tanya Reza yang heran. Bukannya masuk ke toko kue malah menuju lapak kebab pinggir jalan.


“Bentar doang, Kak.”

__ADS_1


Reza hanya menunggu Dewi di dekat mobilnya. Ia memperhatikan istrinya yang seperti tengah memesan kebab dengan si penjual.


“Katanya mau brownies, kenapa malah beli kebab?”


“Pengen, Kak.” Dewi mendorong punggung Reza untuk segera masuk ke dalam toko kue.


“Mbak saya pesan browniesnya seperti biasa, ya 4 kotak,” ucap Dewi ke karyawan toko kue.


“Baik, Mbak Dewi. Ditunggu sebentar ya.” Karyawan tersebut pergi menyiapkan pesanannya Dewi.


“Kenapa sampai pesan 4 kotak?” tanya Reza setelah mereka duduk di kursi yang disediakan.


“3 untuk di rumah, 1 besok mau Dewi bawa ke rumah sakit. Kadang pengen ngemil di ruangan, jadi ya buat stok aja,” jawab Dewi.


Setelah pesanan kue browniesnya siap, Dewi dan Reza keluar dari toko. Reza langsung masuk ke dalam mobil, sedangkan Dewi mengambil pesanan kebab yang sudah ia pesan sebelumnya.


Setelah mendapatkan kebabnya, Dewi langsung menuju mobil Reza. Tak sabar, Dewi langsung membuka dan memakan kebab miliknya.


“Lapar banget? Ngga nunggu sampai rumah buat makannya,” ucap Reza yang melihat Dewi makan kebab miliknya dengan lahap.


“Ngga juga, cuma udah pengen kebab aja dari kemaren,” jawab Dewi sambil mengunyah.


“Eh maaf lupa pesanin buat Kak Reza juga. Kak Reza ngga mau, kan?”


“Kamu niat nawarin ngga sih? Itu pertanyaan begimana?”


“Hehehe maaf, soalnya kalau nawarin ntar jatahnya Dewi jadi berkurang.”


“Kamu kayak orang lagi ngidam gitu makannya,” ucap Reza spontan yang membuat Dewi diam seketika.


“Kenapa?” tanya Reza yang melihat Dewi berhenti mengunyah.


“Kira-kira Dewi masih dikasih izin sama Allah buat hamil lagi tidak, ya?” tanya Dewi lirih.


Reza yang melihat wajah sedih di muka Dewi merasa bersalah karena ucapannya tadi. Diraihnya tangan Dewi yang masih memegang kebab itu untuk digenggamnya.


“Kita berdoa terus ya, minta supaya Allah kasih kita rezeki anak lagi,” ucap Reza.


Dewi hanya mengangguk lemah.


“Kalau doanya udah kencang, tinggal ikhtiarnya lagi yang juga harus dikencengin,” lanjut Reza sambil tersenyum smirk.


“Ikhtiar?” tanya Dewi yang masih belum paham.


“Iya ikhtiar. Jadi kapan kamu mau pindah dari kamarnya Ara?”


“Kenapa harus pindah?”


“Tapi mau hamil lagi. Gimana mau hamil kalau kamunya tidur sama Ara terus. Ara harus dibiasakan tidur sendiri mulai sekarang, Wi. Biar bagaimanapun dia akan menjadi kakak nantinya.”


“Nanti aja deh pindahnya, masih mau tidur bareng Ara,” ujar Dewi yang langsung membuat Reza lemas.


“Terus aku tidur sendiri lagi?”


“Udah biasa sendiri juga, kan. Ngga apa-apa. Yang sabar ya sebentar lagi,” ucap Dewi sambil menepuk pelan pundak Reza.


——

__ADS_1


Sabar uda Reza, malam ini boboknya sendiri lagi ya. Atau mau ditemani sama mamak mamak online ini???


Votenya jangan lupa ya yeorobun, kembang dan jempolnya juga.. terimakasih saranghaee 😍😍😍🥰


__ADS_2