
Berita mengenai Rena yang harus dirawat telah sampai di telinga Dewi. Jujur ia sangat ingin saat ini untuk mengunjungi sosok yang selalu ada di saat kesusahannya dulu. Tapi ketakutannya untuk bertemu Reza yang membuatnya enggan menginjakkan kaki di ruang inap Rena. Walau demikian ia harus tetap mengunjungi Rena karena Rena masuk dalam daftar pasien yang dalam penanganannya. Candra semulanya menawarkan diri untuk menemaninya masuk, tapi Dewi menolak karena khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Diantara ketiga sahabatnya, Candralah yang paling emosi setelah mendengarkan ceritanya.
Dewi kini sudah berada di depan pintu rawat Rena. Ia tak sendiri, melainkan bersama Kiki dan seorang perawat wanita yang bertugas di lantai VVIP itu.
Tok tok tok
Dewi memutar knop pintu dan mendorongnya perlahan. Di langkah pertamanya, Dewi beradu pandang beberapa saat dengan Reza yang saat itu sedang membantu Rena untuk minum. Dewi yang pertama kali memutus pandangan itu. Di tarik nafasnya pelan untuk menstabilkan getaran yang ada di dadanya. Tak bisa selamanya menghindari Reza, cepat atau lambat ia harus terbiasa berhadapan dengan ayah dari calon anaknya ini.
Dewi berjalan mendekati ranjang Rena.
“Bagaimana Kak? Ada keluhan sekarang?”
“Alhamdulillah gak ada Wi. Kemarin emang pusing aja sama mual terus. Mereka terlalu lebay sampai dibawa ke rumah sakit,” jawab Rena sambil tersenyum ke arah Dewi dan Reza bergantian.
“Itu tandanya mereka sangat menyayangi kakak,” kata Dewi.
“Kamu kelihatan makin berisi sekarang ya Wi. Lagi banyak porsi makannya sekarang?” tanya Rena yang sedari tadi memang memperhatikan kalau ada perbedaan dengan badan Dewi sekarang.
“Gendut banget ya Kak? Iya nih lagi pengen ngemil terus sekarang, butuh energi yang banyak untuk melanjutkan hidup di dunia tipu-tipu,” seloroh Dewi. Rena yang mendengarnya ikut tertawa dengan penjelasan Dewi.
“Kamu juga kenapa jarang banget ke rumah sekarang kalau libur? Anak-anak selalu tanyain kamu, terutama Andra. Anak itu sepertinya lebih sayang sama kamu daripada sama aku yang ibu kandungnya,” tanya Rena.
“Apaan sih. Paling si abang minta diajarin main basket lagi kan sama silat. Udah dimasukkan ke perguruan silat aja si abang biar bisa belajar bela diri dia.” Rena menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, menandakan setuju dengan pendapat Dewi.
__ADS_1
“Untuk masalah jarang ke rumah, maaf ya Kak. Dewi sekarang lagi sibuk lagi buat jurnal gitu. Sampein salam dan maaf Dewi sama Andra dan Ara ya Kak.”
“Oh berarti benar ya yang dibilang Mas Reza kalau kamu hari libur ke rumah sakit juga. Lagi buat jurnal rupanya,” tutur Rena dan berhasil membuat dokter Kiki dan perawat wanita tadi saling berpandangan. Setau mereka memang Dewi sedang mengerjakan jurnal, tetapi Dewi tidak pernah berada di rumah sakit di hari libur kecuali ada keadaan darurat.
“Hem iya Kak,” singkat Dewi.
Dewi melirik sekilas ke Reza dan tampak pria itu sedang gelisah.
“Ren Mas keluar sebentar ya mau telepon Farel soal kantor.” Reza keluar dari kamar tanpa pamitan juga dengan Dewi, dan itu tidak lepas dari pandangan Rena.
Dewi yang merasa tidak dianggap keberadaannya oleh Reza mencoba menahan sesak yang ia rasakan. Di tariknya nafasnya dalam menghembuskannya pelan-pelan.
“Dokter Kiki nanti kamu koordinasikan dengan bagian gizi ya tentang makanan yang harus dimakan oleh kakak saya.” Dewi memberikan instruksi kepada dokter Kiki agar ia bisa secepatnya bisa keluar dari ruangan itu.
“Baik dok.”
Dewi segera meninggalkan ruangan Rena. Di luar ruangan, Reza terlihat sedang menelepon dengan seseorang. Dewi mencuri dengar dan memang sepertinya sedang membicarakan pekerjaan. Dewi berjalan di samping Reza dengan muka datar. Sesaat mereka beradu pandang. Sampai akhirnya pandangan Dewi terputus oleh panggilan Candra yang ada dibelakangnya.
“Ayok buruan, Leo Tania sudah memesan makanan. Mereka lagi jalan ke ruangan lo,” ucap Candra.
“Dokter Kiki dan perawat hits bangsal VVIP kita ini bisa sekalian ikut juga. Tenang makanan yang kita pesan banyak, takut ntar bumilnya kekurangan,” sambung Candra yang mendapatkan pelototan dari Dewi, takut Reza mendengar ucapan Candra tentang bumil.
“Can?”
__ADS_1
“Apa? Tania kan emang bumil?”
“Iish,” sungut Dewi.
Mereka berempat berlalu meninggalkan Reza yang masih berdiri di belakang mereka.
“Haloo Za lo dengar gue kan?” Farel yang berada diujung telepon mengira kalau telepon mereka terputus.
“Nanti gue telepon lagi, Rel.” Reza langsung memutuskan sambungan telepon Farel. Pandangannya tak berhenti pada punggung Dewi. Ada rasa yang mengganggunya setelah mendengar ucapan Candra tadi.
“Bumil? Tania hamil? Apa Dewi yang hamil? Tapi gak mungkin Dewi hamil, baru sekali belum tentu jadi kan.”
Reza tak ingin ambil pusing. Ia kembali masuk ke ruangan Rena.
——
Keesokan harinya kegiatan Dewi seperti biasa yakni mulai dari jam 8 sampai 11 siang Dewi akan praktek di lantai 2. Biasanya ia ditemani oleh seorang dokter koas atau dokter residen dan seorang perawat yang akan membantunya. Dokter residen bertugas untuk mencatat hal-hal penting sebagai catatannya. Bisa juga ia akan mendiskusikan dan bertanya apabila ada yang kurang dipahaminya tentang kasus seorang pasien. Jam 11 lewat 15 Dewi selesai dengan pasien terakhirnya. Tak lama dari pasien terakhir itu selesai terdengar suara pengumuman dari pengeras suara rumah sakit.
“Code blue code blue ruangan 8112. Code blue code blue ruangan 8112. Code blue code blue ruangan 8112.”
Code blue adalah isyarat yang digunakan atau diberikan dalam lingkungan rumah sakit yang menandakan adanya seorang sedang mengalami serangan jantung (Cardiac Arrest) atau seseorang yang mengalami gagal nafas akut (Respiratory Arrest) dan situasi lainnya yang menyakut nyawa seseorang di lingkungan rumah sakit. Biasanya, akan ada petugas medis khusus untuk merespon arti blue code pada rumah sakit setiap harinya. Tim ini terdiri dari dokter, suster, dokter spesialis, dan ahli farmasi.
Rena yang menyadari ruangan yang disebutkan adalah ruangan tempat Rena dirawat langsung berlari meninggalakan ruang prakteknya. Ia berlari menuju lift. Lift yang baru saja tertutup dan mengarah keatas akan membuatnya terlalu lama menunggu, hingga akhirnya ia memutuskan menggunakan tangga untuk bisa segera ke ruangan Rena.
__ADS_1
Di pembelokkan tangga, kaki Dewi tersandung oleh anak tangga sehingga perutnya tidak sengaja terbentuk oleh ujung pegangan tangga. Dewi terjatuh, kemudian ia terguling sampai anak tangga terakhir. Ia merasakan sakit yang teramat di sekujur tubuhnya, terutama di bagian perutnya. Dewi merasakan basah di bawahnya, dirabanya bokongnya yang terasa basah, tangan yang basah itu ia bawa ke hadapannya. Terlihat ada darah ditelapak tangannya. Dewi terkejut dan langsung bersuara meminta tolong.
“Toloooong.”