
"Kak, coba dulu Kakak fikirkan. Ada berapa banyak karyawan Kakak yang sudah berumur, yang setia sama Kakak, bahkan sejak perusahaan masih di pegang oleh mendiang papa dulu. Kakak yakin mereka-mereka itu masih akan tetap dipakai oleh pemimpin baru nanti di sisa usia mereka menjelang usia pensiun mereka ini? Mereka pasti juga masih punya tanggungan."
"Selain menyelamatkan mereka, Kakak juga menyelamatkan nyawa Siska. Dia sangat mencintai Kakak. Mungkin benar cara mencintainya salah, tapi Dewi yakin nanti Kakak bisa mengarahkan dia ke yang lebih baik."
Dewi menghampiri Reza yang kini berdiri menghadap jendela.
"Terakhir, Kakak juga bisa menyelamatkan perusahaan yang dulu mendiang papa bangun dengan jerih payahnya." Dewi berusaha menjelaskan dan membujuk Reza. Reza kemudian membalikkan badannya, menatap tajam ke arah Dewi.
"Lalu apa untungnya buat kamu?"
"Kakak," jawab Dewi mantap.
"Maksud kamu?"
"Kakak tidak akan kehilangan perusahaan."
"Aku bisa membangun usaha aku kembali."
"Iya memang. Kakak bisa membangun usaha Kakak yang lain. Bukan hanya satu, seratus pun Dewi yakin Kakak bisa. Tapi apa Kakak rela harus kehilangan perusahaan yang mendiang Papa Kakak bangun dari keringatnya?"
Reza mengalihkan pandangannya dari Dewi. Ia kembali membelakangi Dewi dan menghadap ke jendela. Dewi sendiri yakin kalau suaminya ini juga tidak rela harus kehilangan perusahaan miliknya itu.
Dewi berjalan perlahan menghampiri Reza. Ia memeluk Reza erat dari belakang.
"Banyak yang bisa Kakak selamatkan dari pernikahan ini. Walaupun Siska tidak pernah bersikap baik dengan Dewi, tapi ketika lihat dia kemarin, bagaimana frustasinya dia karena ditolak sama Kakak, Dewi jadi tidak tega."
Reza menghela nafasnya sebelum membalikkan badannya dan membalas pelukan Dewi.
"Kenapa kamu hanya memikirkan orang saja. Bagaimana dengan kamu sendiri?" tanya Reza yang sesekali mencium pucuk kepala Dewi.
"I'm fine, asal Kak Reza jangan pernah tinggalkan Dewi."
Reza semakin mengeratkan pelukannya pada Dewi. "Hanya orang bod*h yang akan meninggalkan wanita hebat seperti kamu."
Reza melonggarkan pelukannya, ia miringkan kepalanya dan meraup bibir tipis Dewi.
"Kenapa kamu terlalu baik, sayang?" tanya Reza setelah melepaskan pagutan mereka.
__ADS_1
"Entahlah, Dewi juga tidak tahu. Ingin jadi jahat, tapi tidak tahu caranya gimana."
Reza tertawa pelan mendengar jawaban Dewi.
"Jadi, Kakak mau menikahi Siska?" tanya Dewi pelan.
Reza tidak menjawab pertanyaan Dewi. Pria itu malah beranjak pergi meninggalkan Dewi di kamarnya itu.
"Kak Reza mau kemana?"
"Menemui pak tua itu. Aku menolak menikahi anaknya!"
Reza berlari menuruni tangga. Ia menghiraukan teriakan Dewi yang memanggil namanya. Papi Arya dan Mami Lisa yang sedang duduk di ruang tengah menatap heran melihat Reza berlari sedangkan Dewi yang teriak.
Reza terus berlari keluar rumah menuju mobilnya. Ia kemudian melajukan mobilnya meninggalkan kediaman mewah milik Papi Arya.
"KAK REZA...."
____
POV Reza
Aku tidak membutuhkan wanita lain selain istriku saat ini. Dia benar-benar paket lengkap untuk hidupku. Dia bisa mengurus dan memberi cintanya untukku dan anak-anakku. Terimakasih untuk kamu Ren, karena telah memilihkan Dewi untuk aku dan anak-anak. Tenang saja, aku tidak melupakan kamu. Kamu tetap berada di ruang hatiku.
Terimakasih juga Tuhan karena Engkau telah mengirim dua bidadari dalam hidupku, wanita-wanita yang super hebat dan luar biasa yang menjadi pendampingku.
Aku menolak keras menikahi Siska. Memang dia cantik dan pintar, tapi tak pernah membuatku tertarik sama sekali. Hanya Dewi yang cantik dimataku saat ini. Dan aku juga tahu mereka memaksa dan meminta Dewi untuk membujukku menikahi wanita itu.
Aku melajukan dengan cepat mobilku ke rumah sakit. Beruntung tadi pagi aku ikut Dewi menemui dia jadi aku tidak perlu bertanya ke bagian informasi lagi tentang ruangannya.
30 menit aku sampai. Aku langsung berlari ke dalam rumah sakit, aku menuju lift yang kebetulan tidak padat pada saat itu. Aku langsung menekan angka 7 tempat ruangan VVIP.
Sampai di lantai 7, aku segera berjalan menuju kamar inap Siska. Tiba di depan pintu, tanpa permisi aku langsung mendorong daun pintu dan mendapati wanita itu tengah berbincang dengan kedua orangtuanya. Sepertinya sebelum aku datang mereka tengah bersitegang karena terlihat raut wajah masing-masing mereka yang masih menegang, namun aku tidak peduli. Yang jelas aku menolak keras pernikahan si*l*n itu.
POV REZA END
"Tolong jangan memaksa istri saya untuk membujuk saya. Sudah saya katakan, saya tidak bisa dan tidak akan menikahi putri anda."
__ADS_1
"Maka kamu akan kehilangan perusahaan kamu saat ini," kata Pak Wira angkuh.
"Kedua mendiang orangtua saya pasti juga setuju dengan pilihan saya. Mereka juga pasti tidak mau kalau saya sampai menyakiti hati dan perasaan menantu mereka."
"Apa kamu yakin melepaskan hasil kerja keras orangtua kamu hanya demi wanita yang sebenarnya jauh di bawah kita kalau saja dia tidak dipungut sama Arya."
"Jangan pernah mengatai istri saya! Dia jauh lebih berharga daripada kalian," ucap Reza dengan nada suara yang tinggi.
"Apa yang kamu lihat dari wanita itu? Apa kurangnya aku, Mas?" tanya Siska yang daritadi diam akhirnya ikut bicara.
"Wanitaku tidak pernah menggunakan cara kotor untuk mendapatkan perhatianku," kata Reza dengan seringainya.
"Itu karena aku cinta sama kamu, Mas. Aku rela melakukan apapun asal kamu bersamaku."
"KAMU GILA SISKA!"
"JANGAN MEMBENTAK ANAKKU!"
"SUDAH CUKUP...." Ibu Rita, mamanya Siska berusaha menghentikan perdebatan antara putri,suami, dan pria yang digilai oleh putrinya itu.
"Mas sudah, jangan memaksa Reza untuk menikahi putri kita. Ini salah, Mas."
"Kamu...." Pak Wira menatap tajam istrinya.
Praaang...
Siska membenturkan gelas yang berada di atas nakas disampingnya. Ia mengambil pecahan itu dan meletakkannya kembali di pergelangan tangannya yang masih terluka.
Reza, Pak Wira dan Ibu Rita terkejut dan melihat ke arah Siska.
"Nak, jangan sayang."
"Siska turunkan!" kata Pak Wira dan Ibu Rita bersahut-sahutan.
"Kalau kamu tidak mau menikahi aku, berarti kamu siap melihat kematian ku hari ini," kata Siska yang melihat tajam ke arah Reza.
"Kamu gila, Siska."
__ADS_1
"Ya, aku gila karena kamu, Mas. Selamat tinggal."
Sreeeet