
Dewi berjalan cepat menuju IGD. Di pertengahan ia bertemu dengan dokter Kiki yang memang sudah menunggu kedatangannya sejak tadi.
"Saya sudah melakukan CT Scan. Hasilnya batang otak tertekan karena banyak pendarahan," jelas dokter Kiki.
"Berapa umurnya?" tanya Dewi.
"13 tahun, dok." Dewi langsung tiba-tiba berhenti dan menatap ke arah dokter Kiki.
"13 tahun?" tanya Dewi lagi untuk memastikan.
"Iya, dok. Perempuan."
Kemudian mereka melanjutkan langkah mereka menuju ruang IGD. Saat ini mereka langsung menuju nurse station untuk melihat hasil dari CT Scan.
Dewi melihat secara seksama hasil dari CT Scan pasiennya itu.
"Kamu melihat AVM?" tanya Dewi ke dokter Kiki, dan ia pun mengangguk.
Malformasi arteri vena atau arteriovenous malformations (AVM) adalah jalinan pembuluh darah tidak normal yang menghubungkan arteri dan vena. Malformasi arteri vena umumnya merupakan kondisi bawaan, yang berarti kondisi ini terjadi sejak lahir.
"Saya rasa AVMnya pecah, kemudian terjadi perdarahan intraserbum di serebelum sehingga hilang kesadaran lalu pingsan. Ini harus segera operasi," kata Dewi.
"Orangtua pasien dimana?"
"Sedang bersama pasien, dok di bilik."
"Kamu langsung urus ke anestesiologi lalu bawa pasien langsung ke ruang operasi. Jangan lupa siapkan juga surat izin walinya. Biar saya saja yang menjelaskan ke orangtuanya," lanjut Dewi.
"Baik, dok."
Dokter Kiki berlari menyiapkan segala kebutuhan untuk operasi sedangkan Dewi langsung menuju ke bilik pasien. Tampak seorang wanita yang menangis sambil memegang tangan anak perempuan yang kini tengah berbaring di brankar.
Dewi menjelaskan dengan detail mengenai kondisi pasien menurut hasil CT Scan. Tampak wanita itu sedikit goyang dan ketika hampir saja terjatuh Dewi dengan sigap langsung memegang tubuh ibu dari pasiennya ini.
"Sepertinya anda juga sedang tidak sehat. Suami anda dimana?" tanya Dewi.
"Saya belum menghubungi suami saya, dok. Beliau juga sedang sibuk dikantornya, selain itu dia juga sedang mempersiapkan pesta pernikahan putri sulungnya," jelas ibu pasien.
"Menurut saya anda harus segera memberi tahu keadaan putrinya ini dan minta ia atau si kakak menemani anda. Anda sedang tidak sehat, saya takut nantinya malah anda juga harus dirawat di rumah sakit."
"Iya, dok nanti akan saya hubungi suami saya."
"Saya sudah membawa surat izinnya, Bu," kata dokter Kiki langsung ketika baru tiba.
"Anda bisa menandatangi surat ini jadi putri anda bisa langsung kami operasi."
Tanpa waktu lama sang ibu langsung membubuhkan tanda tangannya dikertas izin itu. Tak lama para perawat dibantu dengan dokter Kiki segera mendorong brankar menuju ruang operasi.
"Saya mohon, tolong selamatkan anak saya, dok," pinta ibu itu sambil memegang tangan Dewi.
"Ibu tidak perlu cemas. Saya hanya minta doanya sekarang. Kalau begitu saya permisi."
__ADS_1
_____
Ibu dari pasien gadis kecil yang bernama Putri itu duduk dengan cemas menunggu kabar dari dokter yang sedang mengoperasi anaknya. Ia duduk sendirian di ruang tunggu yang tersedia tepat di depan pintu yang bertuliskan Ruang Operasi (OK). Ia berdoa kepada Tuhan untuk kesehatan anak perempuannya.
Meri, sang ibu sudah menghubungi suaminya sejak Putri dibawa masuk ke dalam kamar operasi, namun hingga kini sang suami belum saja tiba. Tak lama ia dihampiri oleh seorang pria paruh baya yang masih gagah di usianya yang hampir menginjak setengah abad itu.
"Putri bagaimana?" kata pria itu.
Meri memeluk suaminya, menangis dalam pelukan laki-laki itu.
"Mas kemana saja? Udah dari tadi aku telepon kenapa baru datang? Aku takut sendirian. Dokter belum ada keluar dari tadi," adunya yang berbicara dengan terisak-isak.
"Maaf, maaf ya aku baru datang. Ada banyak pekerjaan tadi di kantor. Anak itu juga datang-datang bikin onar. Maafkan aku," jawabnya sambil mengelus lembut punggung sang istri.
Tring
Pintu ruangan operasi terbuka. Dewi dan dokter Kiki berjalan berdampingan keluar menuju Meri berada. Tetapi ketika baru saja sampai, Dewi dan dokter Kiki diam terkejut dengan orang yang ada di depannya.
Meri yang masih berada dalam pelukan suaminya, langsung melepaskan pelukan itu setelah melihat Dewi yang sudah berdiri didekat mereka.
"Bagaimana anak saya, dok?"
Dewi tidak langsung menjawab. Ia sempat melirik ke arah sebelah Ibu Meri dimana suaminya itu berada. Meri yang menyadarinya langsung memberitahu bahwa pria itu adalah suaminya.
Dengan cepat Dewi bisa berhasil mengendalikan dirinya dari rasa terkejutnya sehingga kini ekspresi wajahnya sudah biasa.
"Operasi berhasil dan lancar. Kami sudah usahakan segalanya semaksimal mungkin. Perdarahan dan Malformasi Arteri Vena sudah kami atasi, tetapi pembengkakan ya parah dan lokasi perdarahan dalam serta kurang baik, sehingga harus dipantau lebih lanjut. Kami akan pantau Putri di ICU dan diberi obat untuk mengurangi tekanan otak.
"Untuk saat ini belum tahu. Sekarang bukan saatnya memikirkan kesadaran karena saat ini kondisinya kritis dan harus dipantau lebih jauh," jawab Dewi.
Kedua orangtua itu mengangguk tanda mengerti dengan penjelasan dari Dewi.
"Kalau begitu kami permisi."
"Terimakasih, dok."
Dewi dan dokter Kiki berjalan meninggalkan pasangan suami istri itu. Dokter Kiki akhirnya bisa berbicara setelah daritadi menahan omongannya ketika berdiri di depan pria tua itu.
"Pantas saja dia memaksa Pak Reza untuk berpoligami dan mengizinkan anaknya sendiri untuk jadi yang kedua, ternyata dia sendiri melakukan poligami."
Dewi tidak menanggapi omongan dokter Kiki, kini ia sibuk dengan pikirannya sendiri sampai deringan ponselnya membuatnya tersadar.
"Assalammualaikum, Kak."
"Waalaikumsalam. Sudah pulang, belum?"
"Belum, Kak. Ini Dewi baru selesai operasi. Mau keliling sebentar baru setelah itu pulang," jelas Dewi. "Kak Reza udah pulang?"
"Belum, ini masih ada kerjaan sedikit lagi. Aku jemput, mau?" tawar Reza.
" Mau," jawab Dewi dengan nada manjanya.
__ADS_1
"Yasudah nanti aku jemput."
"Iya, Dewi tunggu. Sudah ya, Assalammualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Ciee dijemput suami," goda dokter Kiki setelah Dewi mengakhiri teleponnya.
"Ssst diam."
_____
Reza tiba di rumah sakit pukul 8 malam. Ketika ia mengabari akan pergi ke rumah sakit ternyata Dewi masih harus berkunjung ke 3 kamar pasien lagi, sehingga Reza memutuskan untuk masuk dan menunggu Dewi di ruang kerjanya.
Saat sedang berjalan menuju lift, Reza dikagetkan dengan seseorang yang menepuk pundaknya dari arah belakang.
"Tuan Reza."
Reza menoleh ke belakang dan terkejut melihat pria yang kini berada di depannya.
"Ternyata benar, saya kira tadi saya salah melihat," ucap pria itu.
"Tuan Chris."
"Iya, Tuan Reza. Anda apa kabar?" Chris mengulurkan tangannya dan langsung disambut oleh Reza.
"Saya baik. Anda sendiri bagaimana?" tanya Reza balik.
"Saya juga baik. Kenapa anda ada di rumah sakit malam-malam begini? Apa ada yang sakit?"
"Oh tidak, saya ingin menjemput istri saya, kebetulan dia dokter di rumah sakit ini. Kalau anda sendiri kenapa ada disini?"
"Anak saya dirawat di rumah sakit ini."
"Oh maaf, saya tidak tahu Tuan. Boleh saya melihat anak anda?"
"Tentu saja, mari ikut saya."
Mereka berdua bejalan beriringan menuju lift. Reza menekan tombol naik. Tidak banyak orang saat itu, hanya ada mereka berdua yang sedang menunggu lift.
"Kalau boleh tahu istri anda dokter apa disini, Tuan?"
"Istri saya dokter spesialis saraf."
"Benarkah? Namanya siapa?"
"Namanya --."
Ting
Pintu lift terbuka.
__ADS_1
"Kak Reza."