Izinkan Aku Untuk Bahagia

Izinkan Aku Untuk Bahagia
Bab 40


__ADS_3

Hari ini Dewi berencana dengan Briggita untuk berkeliling danau Brienz menggunakan kapal wisata. Julian tidak bisa ikut karena harus kembali ke Zurich karena ada pekerjaan yang mendesak. Dewi memanfaatkan waktunya sebaik mungkin selama ia masih ada disini. Tadi malam ia sudah memutuskan akan segera kembali ke tanah air.


“Kau serius akan pulang ke negaramu?” tanya Briggita ketika mereka sudah berada di atas kapal.


“Tentu saja. Aku sudah lama menghabiskan waktu disini. Aku juga sudah rindu dengan anak-anak,” jawab Dewi.


“Bagaimana dengan papanya?” tanya Briggita penasaran.


“Hem. Entahlah.”


“Bagaimana perasaanmu sekarang padanya?”


“Jujur, rasa kecewa masih ada. Tapi bukankah masalah itu harusnya dihadapi bukannya dihindari?”


“Woow. ich bin stolz auf dich (aku bangga padamu),” puji Briggita.


Dewi tersenyum mendengar pujian Briggita.


“Tolong ambilkan beberapa gambar aku dulu, Bri. Aku tidak tahu kapan akan kembali lagi kesini.” Dewi meminta Briggita mengambil fotonya dengan latar danau Brienz dan pegunungan Alpen.


Layaknya wisatawan yang lain, mereka menaiki kapal wisata ini dari dermaga yang berada di Interlaken.


“Kau akan kembali lagi kesini, kan?” tanya Briggita.


Dewi yang sedang melihat hasil potret dirinya di ponsel mengalihkan pandangan ke aras Briggita.


“Tentu saja. Aku pasti akan kembali kesini bersama dengan anak-anak. Mereka pasti senang,” jawab Dewi sambil tersenyum.


“Hanya dengan anak-anak?”


“Bri please.”


“Hahaha leider habe ich nur ein Scherz (maaf aku hanya bercanda).”


Triing triing triing


Ponsel Briggita berbunyi.


“Julian meneleponku. Aku terima dulu ya.”

__ADS_1


Dewi menganggukkan kepalanya.


Dewi kemudian berdiri menyederkan dirinya di badan kapal. Ia menetap sekelilingnya. Banyak turis yang berada di atas kapal ini yang berpasangan, meski ada juga beberapa orang yang hanya sendirian. Diujung kapal, Dewi melihat sepasang paruh baya yang sedang duduk sambil berpegangan tangan menikmati pemandangan danau Brienz. Sang pria tampak mengusap punggung wanitanya sesekali. Begitu romantis dimata Dewi.


“Semoga aku bisa seperti itu, romantis sampai tua bersama pasangan aku kelak nanti,” batin Dewi.


Ia sudah tidak mau terlalu memikirkan lagi hubungannya dengan Reza akan seperti apa. Ia hanya mencoba menjalani dan mengikuti alur yang ada.


Briggita yang telah selesai bertelepon dengan Julian menghampiri Dewi yang masih memandang pasangan paruh baya itu.


“Kau ingin seperti mereka?” tanya Briggita yang melihat arah pandang Dewi tak terputus dari pasangan itu.


“Tentu saja. Memangnya kau tak ingin? Tua bersama orang tersayang?” tanya Dewi balik.


“Hanya orang bodoh yang tidak mau Wi.”


Dewi kemudian membalikkan badannya dan menghadap ke arah danau lagi. Saat ini kapal telah memasuki desa Iseltwald.


“Julian memintaku membawamu untuk datang ke Zurich 3 hari lagi. Katanya kita jalan-jalan di sekitar Zurich nanti. Apa kau mau?”


“Tentu saja mau. Aku belum pernah berkeliling Zurich. Kemarin setelah landing aku langsung menuju Iseltwald.”


“Hem.”


——


Tok tok tok


“Masuk


“Permisi Pak. Ini laporan dari tim audit di lapangan. Menurut laporan memang ada penggelapan dana yang dilakukan oleh manager pabrik.” Lia, sekretaris Reza itu memberikan laporan yang diminta oleh Reza sebelumnya.


“Minta manager auditnya untuk usut tuntas masalah itu. Suruh juga mereka laporkan ke polisi orang-orang yang terlibat dalam penggelapan dana itu,” perintah Reza.


“Baik Pak. Oh iya Pak, visa dan tiket Bapak sudah siap. Jadi lusa Bapak sudah bisa berangkat.” Lia menyerahkan pasport dan tiket pesawat milik Reza.


“Hem. Terimakasih.”


“Sama-sama Pak. Berarti nanti Bapak akan menghadiri pernikahan anak Mr.Cho sendirian?”

__ADS_1


Reza yang semula sedang membaca laporan yang dibawa oleh Lia tadi mengalihkan pandangannya ke arah sang sekretaris yang masih setia berdiri di depan mejanya.


“Kenapa? Kamu mau menemani saya?”


“Kalau saya sedang tidak hamil lalu suami saya bisa cuti ya saya mau Pak.”


“Lalu kalian berdua honeymoon terus saya jadi pengawal kalian? Gitu?” ketus Reza.


“Yah tadi kan Bapak yang nanya.”


“Yasudah sekarang kamu keluar, lanjutkan pekerjaan kamu.”


“Baik Pak.” Lia berbalik dan melangkah keluar. Namun baru beberapa langkah wanita itu berbalik lagi menuju meja Reza.


“Oh iya Pak 1 lagi kelupaan saya.”


“Apalagi Lia,” geram Reza.


“Saya serius ini Pak. Peringatan keras dari saya, demi kebaikan Bapak juga,” ucap Lia serius.


“Yasudah apa?”


“Bapak nanti disana hati-hati. Buk Siska pasti akan datang juga karena dia turut diundang. Bapak harus bisa jaga jarak dengan wanita licik itu. Jangan sampai usaha Bapak mencari dokter Dewi selama ini akan menjadi sia-sia karena siluman ular itu.”


“Istilah kamu itu Lia. Ingat dia itu anak dari rekan bisnis saya.”


“Maaf Pak. Tapi memang dia siluman ular. Dia itu pasti akan melakukan cara apapun untuk bisa miliki Bapak. Obsesinya terhadap Bapak luar biasa sekali lho Pak. Ingat apa yang dia lakukan terhadap Bapak dulu di Singapura. Saya tidak mau itu terjadi lagi Pak. Cukup Bu Rena dan dokter Dewi saja yang jadi istri Bapak. Mereka berdua cocok mendampingi Bapak, beda sama ular itu,” kata Lia.


Reza yang mendengarkan ucapan Lia hanya diam. Dia sendiri juga setuju bahwa dia harus menjauhi Siska karena obsesi wanita itu terhadap dirinya. Reza juga tidak mau usahanya mencari Dewi akan sia-sia gara-gara wanita ular itu.


“Baik terimakasih. Sekarang kamu boleh pergi.”


“Baik Pak, permisi.” Lia berjalan keluar dari ruangan Reza.


Reza mengambil lembaran tiket pesawat yang dibawakan Lia tadi. Ia mendapatkan undangan pernikahan anak dari kliennya yang akan diselenggarakan di negara Eropa. Penerbangannya lusa pada pukul 17.55 dan akan tiba esok harinya pukul 07.55. Pasti akan melelahkan perjalanannya kali ini.


Reza juga berencana setelah dari acara pernikahan anak kliennya itu ia akan mengunjungi Jerman untuk mencari jejak Dewi. Barangkali wanita itu ada berada disana mengingat ia pernah menjalani program pertukaran pelajar kala itu. Pastinya ia juga memiliki banyak teman disana.


“Zurich Airport,” lirih Reza yang membaca nama bandara yang akan menjadi tempat mendarat pesawatnya esok. Tiba-tiba Reza merasakan dadanya bergetar setelah membaca nama itu.

__ADS_1


“Ada apa ini? Apa aku akan ketemu dengan Dewi kali ini?”


__ADS_2