
“Kamu wanita hebat. Semua akan baik-baik saja. Sekarang kamu tidak sendiri, ada aku sekarang yang akan selalu bersama kamu,” ucap Briggita.
“Aku juga akan bersama kalian,” kata Julian yang ternyata daritadi berdiri dibelakang mereka dan mendengar semua cerita Dewi.
Mereka bertiga saling memandang dan tersenyum bahagia. Dewi bersyukur, di negara orang pun ia mendapatkan teman yang baik dan akan selalu membantunya.
“Besok kita berkeliling lagi, gimana?” tanya Julian.
“Boleh dong. Kamu mau kan Dewi?”, tanya Briggita.
“Of course i do.”
Mereka bertiga kemudian melanjutkan perjalanan mereka menikmati keindahan Giessbach-See. Dewi benar-benar memanfaatkan waktunya berlibur kali ini. Enam bulan lamanya ia di Swiss tak pernah berkeliling selain hanya mengelilingi sekitaran rumahnya saja. Bahkan mengelilingi danau Brientz menggunakan kapal seperti Yoon Se-Ri diserial Crash Landing on You saja belum pernah sama sekali ia lakukan, padahal dermaganya cukup dekat dari tempat tinggalnya.
Malam hari ketika Dewi sedang duduk membaca buku, ponsel Dewi yang terletak tak jauh dengannya berdering, tertulis nama mami Lisa di layarnya. Di liriknya jam yang tergantung dan menunjukkan pukul 07.32 pm saat ini yang berarti di Indonesia masih jam setengah 3 sore.
“Assalammualaikum,” salam Dewi.
“Waalaikumsalam. Malam sayang,” jawab Mami Lisa.
“Sore Mi,” jawab Dewi tersenyum.
“Tadi Mami telepon kamu kenapa ngga angkat?”
“Tadi pagi Dewi jalan-jalan Mi sama teman.”
__ADS_1
“Sama siapa sayang?”
“Sama teman baru disini Mi, namanya Briggita. Sebenarnya sudah lama dia ngajak untuk pergi, cuma Dewi masih malas pada saat itu. Jadi kemarin Briggita dan kekasihnya ngajak Dewi yasudah Dewi ikut. Masa udah lama disini cuma mendem di rumah aja.”
“Memang harus seperti itu. Kalau kata anak sekarang healing. Benar kan keputusan Mami buat nyuruh kamu jalan-jalan dulu?”
“Iya bener Mi. Terimakasih ya Mi,” tulus Dewi.
“Iya sayang. Oh iya tadi Mami antar Papi untuk kontrol ke rumah sakit, terus ketemu sama teman-teman kamu. Tania bilang kamu ngga mau angkat teleponnya. Kenapa?”
“Ah malas Mi. Ribut nyuruh pulang mulu mereka. Kan Dewi masih pengen disini. Oh iya tau ngga Mi tadi Dewi tracking sama Briggita dan Julian,” cerita Dewi.
Dewi menceritakan keseruannya hari ini bersama teman barunya. Mami Lisa yang mendengarkan Dewi bercerita mulai berkaca-kaca matanya. Akhirnya wanita yang sudah ia anggap seperti putri kandungnya sendiri itu sudah mulai ceria lagi seperti dulu. Sebelum menelepon Dewi, Mami Lisa sudah terlebih dahulu menelepon Bik Asih menanyakan kabar Dewi. Menurut penuturan Bik Asih sejak pagi tadi Dewi tak terlihat murung seperti biasa. Apalagi setelah pulang bermain dengan Briggita dan Julian tadi, wajah Dewi memang tampak lelah, namun tetap semangat dan tidak ada sama sekali raut kesedihan seperti yang lalu-lalu. Mami Lisa berharap semoga luka di hati Dewi cepat terobati sehingga wanita itu bisa kembali ceria seperti sedia kala.
Siang menjelang sore itu juga, gedung tinggi Hutama grup mendapatkan tamu seorang wanita cantik,tinggi bak model, kulitnya putih seputih seragam anak SD. Wanita itu didampingi oleh asistennya menuju ruangan direktur utama.
Mereka membahas urusan sebuah proyek lanjutan yang sebelumnya sedang terlaksana proyek lain mereka. Mencoba untuk profesional yang dilakukan direktur tersebut karena hubungan kerja lama yang sudah terjalin jauh sebelum dirinya yang menjabat.
Setelah usai rapat, si tamu wanita meminta waktu untuk berbicara empat mata dengan sang direktur. Awalnya direktur menolak, namun karena terus didesak oleh wanita itu, akhirnya ia mengizinkannya berbicara empat mata hanya 5 menit saja. Sekretaris direktur dan asisten wanita itu pamit undur diri karena diminta keluar oleh si wanita.
“Mas Reza, ada yang mau aku omongin,” ucap wanita itu kepada direktur yang tak lain adalah Reza.
“Silahkan Bu Siska. Waktu anda hanya 5 menit saja karena saya masih ada pekerjaan penting yang lain,” tegas Reza.
“Mengenai masalah yang lalu… aku mau minta maaf.”
__ADS_1
“Saya sudah melupakan peristiwa itu jadi anda sudah tidak perlu membahas hal memalukan itu lagi.”
“Mas, aku itu cinta sama kamu. Aku bisa dan pantas menjadi ibu sambung buat anak-anak kamu. Lagian istri kedua kamu juga kabur kan ngga tau kemana, padahal anak-anak kamu sekarang lagi butuh sosok ibu pengganti setelah Rena yang udah meninggal. Ibu macam apa dia meninggalkan anaknya.”
“Stop Siska!” hardik Reza.
“Jangan pernah kamu ikut campur dengan urusan keluarga aku. Dan jangan sekali-kali kamu menjelek-jelekan Dewi. Kamu bilang kamu pantas menjadi ibu sambung anak-anakku? Jangan mimpi kamu Siska. Cuma Dewi yang pantas untuk menjadi istri dan ibu untuk anak-anakku,” tegas Reza.
“Dan ini terakhir kalinya saya bicara sama kamu. Jangan pernah berbicara yang tidak penting sama saya kecuali urusan bisnis. Anda tahu kan proyek ini yang sangat ditunggu-tunggu oleh ayah anda? Bisa anda bayangkan kemarahan ayah anda jika saya membatalkan proyek ini?” tekan Reza.
“Tapi Mas….”
“Pintu keluarnya di sebelah sana.” Reza menunjuk ke arah pintu.
Siska keluar dari ruangan Reza dengan raut muka merahnya menahan emosi.
“Liat saja aku pasti akan mendapatkan kamu Reza,” batin Siska.
Reza yang setelah mengusir Siska dari ruangannya tampak mengusap kasar wajahnya dan menyugarkan rambutnya asal. Dilonggarkannya ikatan dasi di leher. Ia berdiri menghadap jendela yang memperlihatkan jalanan ibukota yang ramai. Terbayang kembali diingatannya kejadian malam itu, dimana ia dan Dewi melakukannya hingga ternyata Dewi hamil. Selanjutnya Dewi yang dinyatakan keguguran, dan meminta cerai kepadanya. Semuanya bagai video yang disiarkan di dalam otaknya. Pria itu kembali meneteskan air matanya mengingat wanita yang kini entah dimana posisinya.
“Kamu ada dimana sekarang Wi? Sampai kapanpun kamu tetap istri kakak Wi. Aku cinta sama kamu.”
——
Hai hai yeorobun. Mian kemaren gak bisa update, kepalaku pusing banget, tak enak badan. Anak juga sedang sakit. InsyaAllah hari ini kita double up ya. Sebelum itu kembangnya dulu dong biar tetap semangat otor nulisnya 🤗😊
__ADS_1
Saranghaeee 🥰🥰🥰😍