Izinkan Aku Untuk Bahagia

Izinkan Aku Untuk Bahagia
Bab 29


__ADS_3

“Mas Reza kenapa lebih banyak diam ya sejak pulang dari apartemen kamu kemarin?”


“Apartemen?”


“Iya apartemen. Kan senin sampai rabu Mas Reza jadwalnya tempat kamu.”


“Ternyata kak Reza gak pulang ke rumahnya. Lalu kemana dia?” batin Dewi.


“Wii.”


“Ah iya Kak. Hmm Dewi gak tau Kak. Kemarin masih baik-baik saja. Mungkin ada masalah dengan pekerjaannya.”


“Iya sih sepertinya. Mas Reza kemarin juga cerita kurang berjalan lancar pekerjaannya di Singapura. Oh iya Mas Reza juga cerita kalian tidak bisa bertemu di Singapura ya, katanya hotel kamu dan hotel mas Reza berjauhan lokasinya.”


Dewi tidak kaget mendengar penuturan Rena. Ia telah menduga sebelumnya kalau Reza pasti akan menutupi pertemuan mereka di Singapura beberapa waktu lalu.


“Iya Kak, kami tidak sempat bertemu. Jadwal seminar sih cuma sampai sore, malamnya Dewi lanjut sharing dan konsultasi sama yang lain. Kapan lagi kan ketemu sama dokter-dokter saraf hebat dari penjuru dunia.”


“Iya bener juga sih. Mumpung kamu belum hamil Wi. Entar kalau kamu udah hamil trus punya anak bakalan susah. Oh iya jangan lupa untuk izin sama mas Reza ya supaya tetap ngebolehin kamu kerja. Kakak tahu kamu pasti pengen untuk terus kerja kan. Ntar bujuk aja mas Reza, pasti mau kok.”


“Ngomong apaan sih Kak jauh amat pembicaraannya.”


“Dewi adiknya Kak Rena tersayang, pasti nanti kamu bakalan punya anak sama mas Reza. Pembicaraan seperti ini harus segera kalian diskusikan berdua. Ntar kakak juga bakalan bantu kamu buat bicara sama mas Reza.”


“Gak usah ngomongin anak-anak an dulu lah. Masih jauh banget itu.”


“Kok jauh sih. Kalian udah melakukannya kan?”


“Melakukan apa?” Dewi tahu arah pembicaraan Rena kali ini. Sungguh pertanyaan ini membuatnya tidak nyaman.


“Jangan pura-pura polos deh. Udah berapa bulan juga ini kalian menikah masa belum nganu-nganu,” seloroh Rena.


Untung saja Dewi tidak harus menjawab pertanyaan Rena ini karena Andra memanggil dirinya.


“Bunda ayok kita main basket dulu,” ajak Andra.

__ADS_1


“Ayuk bang.” Dewi berdiri dan langsung berjalan menuju tempat Andra di lapangan basket yang ada dibelakang rumahnya.


——


Sebulan berlalu tanpa adanya komunikasi antara Dewi dan Reza. Reza juga tak pernah pulang sama sekali ke apartemen. Minggu lalu akhirnya Dewi memilih untuk keluar dari apartemen itu dan kembali ke apartemen kecil miliknya. Tidak ada yang tahu mengenai kepindahannya ini. Mami Lisa dan papi Arya juga kebetulan sedang berada di Malaysia mengurus kantor cabang perusahaannya.


Hari itu Dewi beserta sahabat-sahabatnya berencana makan siang di ruang kerja Dewi. Mereka telah memesan makanan online dan akan memakannya di ruangan Dewi yang dijadikan basecamp oleh mereka. Ini semua karena keinginan bumil Tania yang lagi ngidam makanan seafood dari langganan mereka kuliah dulu. Tania yang lebih dulu datang ke ruangan karena sudah selesai dengan pasiennya, sedangkan Leo dan Candra masih berada di ruang operasi.


“Yeeeeay udah datang pesanan gue. Kita makan duluan aja yok Wi,” ajak Tania.


“Lo gak nunggu laki lo dulu?” Dewi yang tadinya duduk di kursi meja kerjanya pindah ke sofa yang ada diruangannya itu.


“Gak ah mereka masih lama. Gue udah lapar banget ini.” Tania membuka bungkusan makanan dan mulai memakannya. Saat bungkusan terbuka tampak Dewi langsung menutup hidungnya dan perutnya langsung terasa diaduk-aduk. Dewi berlari ke kamar mandi di ruangannya dan memuntahkan seluruh isi perutnya. Tania yang melihat langsung menyusul Dewi ke kamar mandi. Dipijatnya tengkuk Dewi yang masih aja muntah.


“Lo kenapa sih Wi. Masuk angin?”


Setelah selesai mengeluarkan isi perutnya, Dewi mencuci dan berkumur-kumur di wastafel. Dibantu Tania ia kembali duduk di sofa tempatnya duduk tadi.


“Makanannya bau banget sih. Buang aja. Udah basi kayaknya,” kata Dewi yang membuat Tania keheranan.


“Bau banget Tan. Buang aja doong. Hueeek,” ujar Dewi yang masih merasakan mual di perutnya.


“Yaudah gue makan diruangan gue aja entar. Aneh lo Wi. Perasaan gue yang hamil kok lo yang muntah sih,” ucap Tania sambil membungkus kembali makanan yang sudah ia buka tadi. Ucapan Tania tadi membuat Dewi terdiam beberapa saat. Ia kembali mengingat kapan terakhir kali ia datang bulan.


“Tan, bukannya datang bulan kita barengan ya? Gue duluan 3 hari,” ucap Dewi dengan pandangannya lurus ke depan.


“Iya. Emang kenapa? Eh lo kenapa Wi?” tanya Tania yang melihat Dewi melongo. Tania pindah duduknya ke samping Dewi, dan di usap-usapnya bahu Dewi.


“Wi loe kenapa?”


“Tan kalau gue hamil gimana?”


“Lo hamil Wi?”


Bukannya menjawab Dewi malah menangis sesegukan. Tania yang melihat sahabatnya menangis itu langsung menarik bahu Dewi, dipeluknya erat Dewi sambil terus mengelus punggung Dewi. Cukup lama posisi mereka seperti ini sampai akhirnya Dewi cukup tenang. Dirasa sudah tenang, Tania melepaskan pelukannya dan meminta Dewi bercerita tentang masalahnya.

__ADS_1


Dewi menceritakan semuanya dengan Tania bagaimana keadaan pernikahannya. Dimulai dari yang mereka pisah kamar sampai peristiwa yang terjadi di Singapura yang masih membuat Dewi sakit hati hingga saat ini.


“Ya ampun Wi.. Kenapa lo gak cerita dari kemaren sama gue? Lo gak harus mendamnya sendiri Wi.”


“Gue gak mau orang-orang tahu Tan.”


“Oke kalau lo gak mau orang tau. Terus kak Reza, lo gak ada hubungi dia sama sekali?”


Dewi menggeleng lemah.


“Dia juga gak ada hubungi sama sekali?”


Lagi Dewi menggeleng.


“Br*ngs*k tu cowok,” umpat Tania.


“Gue ngerasa jadi j*l*ng yang udah siap dipake terus ditinggalin Tan. Sampai hari ini dia gak ada sama sekali hubungi gue. Kemarin ketemu di rumah dia gak ada ngeliat gue sama sekali. Gue bodoh Tan, gue bodoh,” ucap Dewi yang kemudian menangis kembali di pelukan Tania.


“Mungkin ini karma buat gue Tan karena udah berani-beraninya melakukan hal itudengan suami kak Rena,” lanjut Dewi yang masih terisak.


“Ssssst lo gak boleh ngomong gitu Wi. Lo cuma berusaha untuk jadi istri yang baik buat laki lo dengan memenuhi haknya Wi. Lo gak jahat Wi dan lo gak bodoh.”


“Yaudah sekarang lo ikut gue ya. Kita coba periksa apa benar disini ada calon anak lo,” ajak Tania.


“Gue takut Tan.”


“Lo gak perlu takut. Pun kalau lo hamil, lo punya suami. Bahkan banyak yang datang ke tempat gue hamil tapi gak punya suami. Lo rileks aja ya Wi,” bujuk Tania.


Akhirnya Dewi setuju untuk diperiksa oleh Tania. Ketika Tania akan membuka pintu ruangan Dewi, pintu itu terbuka dan muncullah Leo dan Candra disebaliknya.


“Kalian mau kemana?”


——


Hai hai hai yeorobun, tinggalin jejak kalian dong dengan kasih otor jempol dan komentarnya 😊 gomawoo sarangeeee 😘😘😘😍

__ADS_1


__ADS_2