
Nabbayo cham geudaeraneun saram
(Jahat… orang seperti dirimu)
Heorakdo eopsi wae naemam gajyeoyo
(Mengapa kau mencuri hatiku tanpa seizinku?)
Geu dae ddaemune nan himgyeoge salgoman itneun de
(Karenamu aku hidup dalam kesulitan)
Geu daen moreujanayo
(Tidakkah kau tahu itu?)
Alayo naneun aniran geol
(Aku tahu, itu bukan diriku)
Nungiljulmankeum bojalgeot eobdangeol
(Sebanyak apapun aku memandang, takkan ada gunanya)
Daman gaggeumssik geujeo geumiso
(Namun terkadang, senyum itu)
Yeogi naegedo nanwojul sun eobnayo
(Tak bisakah kau memberikan senyum untukku juga?)
Birok sarangeun anirado
(Meskipun ini bukanlah cinta)
Eonjenga hanbeonjjeumeun dolahbwajugetjyo
(Suatu saat nanti, kau akan kembali padaku sekali saja)
Haneopsi dwieseo gidarimyeon
(Jika aku menunggumu di belakangmu sampai akhir)
Oneuldo chama motan gaseumsok hanmadi
(Hingga hari inipun ada satu kata dalam hatiku yang tak dapat ku simpan)
Geudae saranghamnida
(Aku mencintaimu)
Tim Hwang \~ Saranghamnida
——
“Dewi tunggu Wi. Dewi!” teriak Reza.
Dewi terus saja berlari menjauhi Reza yang semakin dekat dengannya. Ia sama sekali tidak menoleh kebelakang walaupun mendengar dengan jelas teriakan Reza yang memanggil namanya.
Dewi yang terus berlari hampir saja tertabrak oleh mobil jika saja Reza tidak langsung datang dan memeluknya dari belakang.
“Lepas Kak. Lepasin,” Dewi memberontak dalam pelukan Reza.
__ADS_1
“Ngga bakalan pernah kakak lepasin kamu Wi.”
Dewi terus saja meronta, bahkan beberapa kali ia mencoba untuk menyikut perut Reza. Bukannya melonggar, Reza malah makin memeluk erat tubuh istrinya itu.
“Sampai kapanpun Kakak ngga akan lepasin kamu Wi. Kamu harus ingat itu baik-baik,” bisik Reza.
Dewi yang lelah akhirnya mulai berhenti memberontak.
“Yaudah, lepasin dulu ini malu diliatin orang,” kata Dewi.
“Mereka disini udah biasa lihat orang pelukan. Malah ada yang lebih dari ini mereka juga biasa aja,” jelas Reza.
“Iih tapi engap ini. Lepasin dong,” pinta Dewi.
“Oke Kakak lepasin. Tapi janji ya ngga bakalan kabur.“
“Iya iya.”
Akhirnya Reza melepaskan pelukannya itu. Dibalikkannya badan Dewi untuk menghadap ke arahnya. Dewi yang masih belum siap untuk bertemu Reza menundukkan pandangannya. Reza meraih dagu Dewi dan mengangkatnya keatas agar ia bisa melihat wajah wanitanya yang sudah terlalu lama pergi meninggalkannya dan anak-anak.
“Kamu kemana aja selama ini?” tanya Reza sambil memperhatikan wajah Dewi.
“Ngga kemana mana.” Dewi tidak mau menatap mata Reza.
“Kakak dan anak-anak nungguin kamu di rumah.”
“Iya nanti Dewi pulang untuk anak-anak.”
“Anak-anak aja? Terus Kakak gimana?” tanya Reza.
“Kan ada ayang nya tuh. Minta ditemenin aja sana,” jawab Dewi ketus. Dewi langsung balik kanan dan jalan meninggalkan Reza yang masih bingung dengan jawaban Dewi.
“Eh Dewi kok ditinggalin.” Reza menyusul Dewi.
“Pura-pura bego.”
“Serius kakak engga tahu.”
“Itu tadi kan ayangnya.”
Reza yang akhirnya paham langsung mencoba menggoda Dewi.
“Cemburu ya.”
“Idih ngapain cemburu.”
Reza memegang dan menarik tangan Dewi agar wanita itu berhenti berjalan. Kemudian Reza memegang kedua pundak Dewi agar ia lebih gampang menjelaskan semuanya dengan wanita yang telah menjadi istri satu-satunya itu.
“Kakak datang ke Swiss itu karena dapat undangan nikahan dari kliennya Kakak dan kebetulan dia juga diundang. Kamu tahu ngga, Kakak ninggalin acara yang baru dimulai itu buat ngindarin dia. Eh ngga taunya dia ngikutin Kakak terus dari tempat acara sampai ke cafe tadi. Kakak udah cape banget, nyampe pagi tadi, daripada buang-buang tenaga ngusir dia yang emang ngga punya malu jadinya Kakak biarin aja dia asal dia ngga buat yang aneh lagi,” jelas Reza.
“Kak Reza mungkin lupa kalau dia pernah nyampurin minuman Kakak sama obat,” ingat Dewi yang masih tidak terima adanya Siska di dekat Reza.
Reza menarik Dewi ke dalam pelukannya.
“Kakak ngga lupa. Karena gara-gara dia juga kakak nyakitin kamu malam itu. Maafin Kakak ya sayang,” bisik Reza. Reza mengecup puncak kepala Dewi berkali kali.
Dewi hanya diam tidak membalas pelukan Reza. Kepalanya ia sandarkan di dada pria itu. Ia sempat berdesir ketika mendengar panggilan sayang dari pria itu. Pria yang membuat hatinya terluka, tetapi pria ini juga yang berusaha menyembuhkan luka itu.
“Dewi ngga tahu Kak,” lirih Dewi.
“Wi.” Reza melepaskan pelukannya dan menatap mata Dewi.
Bisa Dewi lihat ketulusan di mata Reza. Tetapi entah kenapa masih susah baginya untuk memaafkan pria itu.
__ADS_1
Kriing kriing kriing
“Hp Kakak bunyi,” kata Dewi yang mendengar dering ponsel Reza.
“Biarin aja.”
“Angkat aja dulu siapa tahu penting.”
Reza mengambil ponsel miliknya dari dalam saku celananya.
“Klien Kakak Wi. Boleh Kakak angkat sebentar?” tanya Reza sambil memperlihatkan ponselnya yang memang bernama salah satu kliennya.
“Silahkan,” jawab Dewi.
Reza berbincang dengan orang yang ada di telepon itu cukup lama. Melihat Reza yang sedang tidak memperhatikannya membuat Dewi mencoba untuk pergi lagi dari Reza. Dewi berlari sekencang mungkin. Reza yang melihat Dewi tidak ada lagi di dekatnya mengakhiri telepon itu.
Reza mencoba mencari Dewi di sekitar tempat mereka berdiri tadi. Ia berkeliling dan kunjung melihat Dewi kembali. Reza memukul udara karena kesal Dewi yang pergi lagi darinya.
“Aaaargh kamu kenapa pergi lagi sih Wi?”
Reza memutuskan kembali ke hotel. Besok ia akan mencari Dewi lagi. Sebelum itu ia harus pindah dari hotel itu agar kesalahpahaman tidak terus berlanjut karena Siska yang juga menginap di hotel yang sama dengannya.
Setiba di hotel yang baru Reza langsung merebahkan tubuhnya di ranjang. Ia memijat kepalanya yang sedikit pusing.
“Tante Lisa dan om Arya pasti tahu dimana Dewi. Iya aku harus tanya mereka.” Reza langsung mengambil ponselnya yang sebelumnya ia letakkan di atas nakas.
Telepon tersambung, tetapi tidak diangkat oleh mami Lisa. Reza kembali mencoba menghubungi mami Lisa namun masih belum dijawab. Akhirnya Reza mencoba menghubungi papi Arya dan di deringan ketiga teleponnya diangkat.
“Halo Za.”
“Halo Om. Om, Reza mohon kasih tau Reza Dewi ada dimana. Reza mohon sekali.”
“Om dengar sekarang kamu ada di Swiss.”
“Iya Reza memang sedang di Swiss. Reza tadi sudah bertemu dengan Dewi, tapi dia pergi lagi ketika Reza mengangkat telepon dari klien.”
Papi Arya menghela nafas sebelum melanjutkan bicaranya.
“Iseltweld.”
“Ya?”
“Dewi tinggal di Iseltwald.” Papi Arya menjelaskan dengan detail tempat tinggal Dewi selama ini. Sejujurnya ia juga tidak ingin rumah tangga keponakan dan putri angkatnya itu harus kandas. Semuanya masih bisa diperbaiki apalagi ini mengenai ego mereka saja.
Reza berterimakasih kepada papi Arya.
“Reza, bawa Dewi pulang,” pinta papi Arya.
“InsyaAllah Om. Reza akan pulang bersama Dewi.”
——
Setelah lepas dari Reza, Dewi langsung meluncur ke penginapannya. Ia memutuskan untuk kembali ke Iseltwald malam ini juga, khawatir akan kembali bertemu dengan Reza kalau ia masih berada di kota ini. Dewi akan akan diantar pulang oleh pemilik penginapan yang ternyata merupakan kerabat dari uncle Robert, pemilik rumah yang ia sewa di Iseltwald. Dewi segera merapikan barang-barangnya. Tak lupa ia mengabari Briggita agar wanita itu tidak khawatir setelah mendapati dirinya yang pulang ke Iseltwald secara mendadak.
Selama perjalanan Dewi hanya melihat ke arah luar jendela. Ia masih memikirkan pertemuan mendadaknya tadi dengan Reza. Kalau boleh jujur ia sebetulnya juga rindu dengan pria itu. Namun mengingat Reza yang meninggalkannya malam itu membuat rasa rindu itu hilang menjadi rasa kesal.
Setiba di rumah Dewi langsung mengistirahatkan tubuhnya setelah sebelumnya ia mandi terlebih dahulu. Rasa capek karena seharian bepergian dan kemudian ada adegan berlari membuat tubuhnya sangat lelah sehingga tak membutuhkan waktu yang lama akhirnya ia tertidur juga.
Pagi harinya ketika akan sarapan, Dewi mendengar ketukan di pintu rumahnya.
“Siapa ya pagi-pagi yang bertamu,” kata bik Asih.
“Sudah Bik, biar Dewi saja yang buka. Palingan itu Briggita karena tadi malam Dewi langsung pulang.”
__ADS_1
Dewi berjalan ke depan dan membuka pintu. Setelah pintu terbuka, Dewi terdiam melihat sosok yang ada di depannya kini.