Izinkan Aku Untuk Bahagia

Izinkan Aku Untuk Bahagia
Bab 71


__ADS_3

⚠️⚠️ PLEASE JANGAN DI BOOM LIKE DONG, APALAGI SESAMA AUTHOR SALIMG MENDUKUNG KARENA DENGAN BOOMLIKE KARYA AKAN KEHILANGAN KESEMPATAN UNTUK DIPROMISIKAN OLEH NT KARENA DIANGGAP CURANG. KALAU TAK MAU DI BACA CUKUP LIKENYA 1 AJA. TERIMAKASIH


Reza tiba di rumah sakit Harapan Bunda pada pukul 11. Masih ada tersisa waktu 1 jam lagi Dewi bisa untuk istirahat siang. Ketegangan di ruang rapat membuat Reza menjadi tidak bersemangat untuk bekerja sehingga ia memutuskan untuk menemui istri tersayangnya.


Reza mencoba telepon Dewi untuk mengabarkan dirinya yang telah tiba.


"Dewi masih ada 2 pasien lagi. Kakak tunggu di ruangan Dewi aja, ya," pinta Dewi di telepon.


"Iya aku ke ruangan kamu aja nunggunya," jawab Reza.


Reza melangkahkan kakinya menuju lift yang ada di sebalik tiang besar. Dari kejauhan ada juga Chris yang baru saja datang bersama Laura, istrinya dari hotel tempat mereka menginap. Tadi pagi setelah Ana tidur mereka menitipkan Ana dengan perawat sehingga mereka bisa pulang ke hotel terlebih dahulu karena ingin membersihkan badan.


"Bukannya itu Tuan Reza" gumam Chris yang masih bisa didengar oleh Laura.


"Ada apa, Pa?" yg tanya Laura yang juga heran melihat Chris tiba-tiba saja berhenti.


"Papa seperti melihat Tuan Reza."


"Siapa Tuan Reza? Klien Papa!" tanya Laura yang memang tidak tahu hal-hal yang terjadi di kantor.


"Bukan, dia temannya Farel. Minggu lalu mereka datang ke kantor minta Papa buat berinvestasi di perusahaannya yang saat ini sedang goyang," jelas Chris.


"Lalu, Papa tolong?" tanya Laura lagi.


"Tidak, perusahaannya hampir collaps, kalau Papa investasi disana yang ada kita akan rugi, Ma."


Laura yang mendengar jawaban suaminya itu langsung memasang muka tidak senang dan berjalan duluan meninggalkan Chris di belakangnya.


"Lho Mama kok tinggalin Papa." Chris berlari mengejar Laura.


Laura menghentikan langkahnya dan berputar ke belakang menghadap Chris. Chris kaget melihat muka marah yang ditunjukkan istrinya itu.

__ADS_1


"Mama kenapa marah?"


"Papa lupa bagaimana kita dulu? Kita memulai ini semua dari nol ketika Papa ditinggalkan oleh orangtua Papa. Kita sama-sama bersusah payah membangun perusahaan kita sehingga sekarang bisa seperti saat ini. Lalu sekarang kok tega Papa tidak mau membantu orang lain?"


"Tapi ini berbeda, Ma."


"Beda gimana? Sama aja, Pa. Coba Papa bayangin, ada berapa perut yang akan Papa selamatkan kalau Papa bekerja sama dengan perusahaannya Tuan Reza. Anggap saja mereka cuma punya 500 karyawan, 1 orang karyawan mempunyai tanggungan 2 orang, berarti 500 dikali 3 ada 1500 perut ditambah dengan Pak Reza yang pastinya juga memiliki keluarga. Ada banyak orang yang saat ini menggantungkan hidupnya di tangan Tuan Reza, dan Tuan Reza berharap bantuan dari Papa. Apa Papa masih terlalu memikirkan untung rugi? Kalau Papa tidak mau, yasudah Papa pulang saja sendiri sekarang ke Singapura, biar Mama sendiri aja yang jaga Ana disini," ancam Laura. Laura bersiap melangkah lagi namun tangannya langsung dicekal oleh Chris.


"Panjang banget, sih penjelasannya. Iya-iya Papa bantuin mereka. Nanti Papa hubungi Farel lagi untuk atur waktu bertemu dengan Tuan Reza-nya," kata Chris. Ia juga jadi teringat tentang kesusahannya lalu saat merintis dari awal perusahaannya berdua dengan istri karena keluarganya yang menentang pernikahan mereka.


"Gitu dong, baru namanya suami aku," ucap Laura yang langsung melingkarkan tangannya di lengan Chris.


"Eh tunggu, tadi Papa bilang Farel. Kenapa kayaknya ngga asing, yah ditelinga Mama nama itu. Oh apa Farel yang Papa maksud itu Farel kakaknya mantan kamu, Pa?" tanya Laura.


"Iya, Farel kakaknya Dini," jawab Chris.


"Ooh."


"Apaan sih Papa. Orangnya udah tenang disana, jangan diganggu-ganggu. Nanti datang ke mimpi Papa baru tahu rasa."


"Ya bagus kalau datang ke mimpi, jadi aku bisa kangen-kangenan sama dia," jawab Chris sambil tersenyum. Lengannya langsung di lepas paksa oleh Laura, dan Laura langsung masuk ke dalam lift yang kebetulan pintunya sudah terbuka. Ia langsung menutup pintu sehingga meninggalkan Chris yang masih terkejut melihat istrinya pergi meninggalkan nya.


"Yah, ngambeknya lama kalau udah kayak gini."


_____


Reza langsung duduk di sofa ruangan Dewi. Ia menatap ke sekeliling ruangan istrinya itu. Ada dispenser dan mini kulkas, juga ada mesin pembuat kopi di ruangan itu. Diatas meja juga ada dua tumpukan kertas yang sepertinya itu adalah thesis ataupun laporan dari dokter koas dan dokter residen.


Reza berdiri melangkahkan kakinya menuju meja kerja Dewi. Diatas meja ada layar komputer, dan disebelahnya ada beberapa foto yang dipajang oleh Dewi. Ada foto mendiang kedua orang tua Dewi, ada juga foto Dewi bersama kedua anaknya dan papi Arya serta mami Lisa, dan terakhir yang mendapat perhatian Reza adalah foto pernikahan mereka. Di foto itu ada dirinya yang berdiri ditengah diapit oleh Dewi di sebelah kiri dan Rena disebalah kanan. Di foto itu hanya Rena yang tersenyum lebar yang jelas menampakkan kebahagiaan, sedangkan Reza dan Dewi hanya tersenyum tipis.


"Semoga kamu tenang disana ya, Ren. Sesuai permintaan kamu, aku akan menjaga dan menyayangi Dewi. Ngga apa-apa, kan kalau aku juga mencintai dia, karena sepertinya aku sudah benar-benar cinta padanya," gumam Reza yang masih memegang foto mereka bertiga.

__ADS_1


Lamunan Reza dibuyarkan oleh pintu yang terbuka. Reza berfikir kalau yang masuk adalah Dewi, namun ternyata Candra-lah yang masuk.


"Ngapain kamu kesini?" tanya Reza yang kurang senang. Semenjak tahu kalau Candra pernah memiliki rasa dengan Dewi, Reza selalu menatap kesal pria itu walaupun kini ia juga sudah menikah dengan pacarnya Vanya.


"Dewi kemana?"


"Ngapain cari bini orang?"


"Yaelah posesif banget jadi suami," jawab Candra yang langsung duduk di sofa.


Reza meletakkan foto tadi di tempatnya dan duduk bergabung dengan Candra di sofa.


"Sering banget ngajak Dewi makan siang diluar, biarin sesekali Dewi bareng sama kita," kata Candra.


"Sama kalian dia udah terlalu sering, sekarang biar dia sama gue. Lagian suka-suka gue dong ngajak bini sendiri juga. Makanya sana ngajak istri sendiri buat makan siang bareng," ejek Reza.


"Kalau butiknya dekat gue jemput tiap hari juga," gerutu Candra.


"Gue mau ngomong serius," kata Candra yang langsung memasang wajah serius.


"Mau ngomong apaan lo?"


"Jangan pernah lagi menyakiti hati Dewi, apalagi sampai menikah dan memiliki istri lagi. Hatinya terlalu rapuh untuk terus saja disakiti walaupun diluar kita melihat dia wanita yang kuat tetapi dalam hatinya ia menangis," ucap Candra yang menatap tajam ke arah Reza.


"Apa maksud lo?"


"Lo sendiri yang tahu, Kak maksud gue apa. Gue, Leo dan Tania ngga akan biarin kalau lo sampai bikin sahabat kita nangis lagi!" tegas Candra. Candra bangkit dari duduknya dan berjalan hendak keluar.


"Gue pergi dulu, selamat makan siang berdua dengan istri."


Reza menatap punggung Candra yang pergi meninggalkannya.

__ADS_1


"Apa mereka tahu masalah Siska? Apa sebaiknya aku cerita aja sama Dewi tentang masalah ini?" gumamnya.


__ADS_2